Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Malam Ini Dan Malam-Malam Selanjutnya


__ADS_3

Nggak seperti malam sebelumnya, dimana Raksa akan merusak pembatas dan merengkuh Kalin dalam dekapannya. Malam ini dan malam-malam selanjutnya Raksa tetap patuh pada batasannya.


Jujur aja, Kalin merindukannya. Raksa ada di sampingnya namun pria itu seperti orang lain.


'Dia udah bilang maaf, apa gue harus maafin?' tanya Kalin dalam hatinya.


Sekarang dia sudah bersiap untuk ngampus, rapi sepertinya Raksa masih sibuk mengurus dapur mereka yang sangat kinclong.


"Gue mau ngampus!"


"Hem, ya hati-hati!" ucap Raksa dingin, dia masih sibuk mengecek bahan makanan yang disimpan di kulkas.


Raksa menyodorkan tangannya, Kalin dengan patuh menempelkan punggung tangan suaminya itu ke jidatnya sendiri.


"Berangkat," ucap Kalin.


"Hem," sahut Raksa dengan deheman.


Kalin yang udah siap pun memakai sepatunya dari batas rak sepatu. Dia memakai jeans dan kemeja berwarna yang dia lapisi demgan coat.


Gadis itu menutup pintunya. Dan secepat Kilat Raksa menyambar mantelnya dan segera pergi keluar. Dia pakai sepatu aja sampai terburu-buru. Sekarang Raksa masih mengikuti gadisnya.


Ya, dia seperti seorang ayah yang nggak mau melewatkan hari pertama mengantar anak sekolah, tapi kini yang diantar bukan anak melainkan istri. Dan mengantarnya pun secara diam-diam.


Pria itu sengaja menjaga jarak aman, memantau dengan seksama. Dengan masker yang menutupi sebagian wajah, Raksa bisa ngeliat Kalin yang dengan langkah cerianya masuk ke dalam universitas yang diidam-idamkannya.


"Selamat hari pertama masuk kuliah, istriku!" gumam Raksa yang melihat Kalin masuk ke dalam area kampusnya.


Raksa kemudian pergi dari sana dan dia mulai mencari pekerjaan part time. Ya, dia nggak bisa bekerja full time. Karena yang ada dia nggak bisa mengawasi Kalin dengan baik.


Lumayan lama dia berkeliling dan dia melihat sebuah lowongan kerja.


"Jasa pengantar susu?" gumamnya saat melihat sebuah papan yang ditempel di sebuah kedai susu murni.


Dia masuk ke dalam sana, dan bertanya apakah lowongan kerja yang dimaksud masih ada atau nggak. Dan entah dewi fortuna mana yang menempel padanya, Raksa bisa mendapatkan pekerjaan itu. Dia punya tugas untuk mengantarkan susu di satu komplek perumahan, dan kalau dilihat di google map, jarak antara kedai daan juga perumahan itu lumayan jauh. Tapi kalau diukur dari jarak rumahnya, malah sangat dekat.

__ADS_1


"Oke, I take this job, Madam! (Oke, saya ambil pekerjaan ini, Nyonya!)" ucapnya.


Wanita itu mulai menjelaskan bagaimana sistem pengantaran susu ini. Dia akan diberi sepeda untuk mempermudah membawa susu 20 liter susu setiap harinya.


'Ini mah gue bekerja bagaikan kuda! Nganterin susu pake sepeda!' batin Raksa, dia kira akan diberi fasilitas motor. Ternyata dia salah. Untuk menunjang pekerjaan ini dia bis amembawa sepeda yang sudah di design khusus dengan di bagian bonceng belakang terdapat kantong yang akan membantunya membawa 20 liter susu yang dikemas dalam botol kaca.


Besok dia bisa mulai bekerja. Raksa pikir ini awal yang baik untuk seorang pendatang, yang penting ada pemasukan dulu dan honornya ini minimal bisa buat bertahan hidup bareng Kalin. Sambil menunggu uang asuransinya bisa cair.


Pulang dari situ, Raksa kembali ke rumah. Dia membersihkan rumah dan juga membuat sup daging. Dia sempat mampir di toko yang menjual bahan-bahan makanan Asia. Dan dia pengen bikin sup daging. Sengaja dia minta resep ibunya.


"Loh? memangnya nggak ada yang jual?"


"Kalin atau kamu yang masak?" tanya ibu.


"Kalin! cuma dia malu buat nanya langsung sama ibu,.." jawab pria yang kini setia dengan celemek berwarna cokelat.


Dia memasukkan baju yang akan di loundry.


'Dimana dia menyimpan baju kotornya?' batinnya, sedangkan di telinganya masih nempel hape dengerin sang ibuk ngasih instruksi soal gimana caranya bikin sup daging yang guyih dan enyoy.


"Itu gampang bumbunya---" Bu Selvy mulai nyerocos sedangkan Raksa mijit keningnya. Ibunya ngomong cepet banget kayak kreta api ekspress yang ujung-ujungnya Raksa minta dicatetin.


"Takut lupa, mending ibuk catetin aja, Bu..." ucap Raksa.


"Astagaaa, ngomong dong kalau mau dicatetin jadi kan ibuk nggak usah ngomong panjang lebar. Mana udah malem. Ibu belum nyiapin makan malam buat bapak!" ucap Bu Selvy.


"Ya sudah, nanti Nova yang kirim. Ibu nggak tau soal begitu..."


 ucap lanjut bu Selvy.


"Makasih ya, Bu?" ucap Raksa yang tiba-tiba kangen dengan ibunya yang super bawel itu.


"Kamu gimana? uang kamu cukup? atau mau ibu kirim?" tanya bu Selvy yang beberapa hari ini kepikiran soal anaknya. Karena dia nggak bekalin Raksa sepeserpun.


"Ada, Buk! tenang aja. Anakmu ini laki-laki, kalau pun dilepas di hutan atau di gua sekalipun, aku pasti bisa bertahan hidup!" kata Raksa.

__ADS_1


"Ya, ibuk tau. Ibu hanya khawatir kamu kekurangan uang disana dan melakukan tidnakan kriminal!" kata bu Selvy.


"Ya ampun, pikiran ibu kejauhan, Bu!" Raksa ketawa. Dia memasukkan cucian ke dalam mesin.


Sambil nunggu mesin itu mencuci pakaiannya, Raksa pun mengakhiri teleponnya dengan sang ibu.


"Katanya mau nyiapin makan malam?" tanya Raksa.


"Oh iya yah! aiishhh, gara-gara kamu sih! ibuk jadi kelupaan, mana bapak udah ribut laper terus daritadi. Ya sudah, ibu tutup dulu, ya? nanti biar Nova yang kirim resepnya! assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," jawab Raksa dan panggilan itu pun berakhir.


Dia kemudian meninggalkan ruang laundry dan lanjut bersantai di ruang tivi.


"Apa aku rebus dagingnya dulu, ya?" gumamnya.


"Ah, nanti aja lah. Tunggu Nova kirim resep, kalau salah kan mubadzir!" ucapnya yang kemudian menyeruput kopi. Rasanya nyaman melihat rumah sangat bersih dan wangi. Hidup terasa ringan dan hari pun terasa lebih cerah.


"Apa aku udah cocok jadi bapak rumah tangga?" gumamnya geli.


Kalau pasangan lain si istri jadi si paling riweuh di rumah buat nyiapin keperluan anak dan suami, beda dengan Raksa yang udah mengorbankan segalanya, pekerjaan dan waktu buat nemenin istrinya melanjutkan pendidikan. Bukan hanya nemenin tapi dia juga ngurusin dan nggak ngebebanin Kalin soal kerjaan rumah.


Sedangkan Kalin merasa kurang bersemangat di hari pertamanya. Dia pikir dia akan senang, tapi nyatanya itu hanya sesaat. Nyatanya selama perkuliahan, Kalin banyak bengongnya. Sampai suatu ketukan di mejanya membuatnya tersentak kaget.


"Aku dengar kamu dari Indonesia?" tanya orang itu dengan bahasa yang lancar.


"Iya?"


"Sama! aku juga dari Indonesia, gue Arvin..." ucapnya.


Kalin tersenyum ramah, dia ragu untuk menjabat tangan Arvin.


"Sepertinya dosen itu perhatiin lo daritadi. Kayaknya dia tau kalau ada satu mahasiswanya yang nggak merhatiin dia!" ucapnya yang bikin Kalin seketika menghadap ke depan.


'Astaga, lucu banget dia! kenapa ada makhluk sepolos ini?' batin Arvin.

__ADS_1


__ADS_2