
Hari ini, dokumen nikah sudah siap. Semuanya memang sudah dipersiapkan Raksa dengan baik. Apapun halangan rintangannya, dia dan Kalin harus menikah besok.
Sengaja hari ini dia masuk siang, karena rencananya dia akan membawa Kalin ke KUA. Sekalian buat foto juga buat kebutuhan di buku nikah mereka.
Nova yang sudah bangun, pun bingung dengan Kalin yang sudah rapi sedari pagi.
"Gue kira gue di rumah gue sendiri. Ternyata gue di rumah lo?" ucap Nova.
"Lo tidur kayak kebo. Mana mungkin ada yang mau mindahin lo dari kamar ini ke dalam mobil? inget lo bukan bocah!" kata Kalin sok dewasa.
"Iya iya deh yang mau nikah, udah dewasa ya sekarang?" sindir Nova.
Disindir begitu, wajah Kalin langsung merona.
"Mau kemana sih lo?" Nova masih penasaran.
"KUA!"
"Oh ya udah gue mandi dulu. Gue nggak mau ditinggal sendirian," Nova beranjak dan pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Kalin lagi sibuk berkaca.
"Keliatan masih bocah banget nggak sih gue? atau gue tebelin dikit alis gue ini? ntar di KUA jadi bahan gunjingan orang lagi karena nikah muda!" gumam Kalin.
Tapi sesaat dia keinget sama kejadian sewaktu dia datang ke kantor Raksa. Kalin pun menggeleng.
"Nggak nggak! ntar kalau gue dandan, yang ada kayak tante girang!" ucapnya sambil mengoleskan pelembab di wajahnya.
Gadis itu pun akhirnya berdandan seperti biasanya. Dia hanya mengoleskan sedikit eyeshadow pink salem di area kelopak matanya. Dan nggk lupa buat membingkai matanya dengan eye linner. Terakhir, dia mengoleskan lipgloss super glossy pink di bibirnya.
"Perfect?!" pujinya sendiri.
Menurutnya dia lebih cocok dengan tampilan wajah yang soft, daripada harus berdandan supaya mirip orang dewasa.
Nggak lama, Nova keluar, "Widiihhhh calon kakak ipar gue!"
"Ihhhh, apaan siiih? jangan gituuuu, "
"Emang lo calon kakak ipar gue, kan? jadi gimana? calon pengantin yang besok mau nikah dan nggak sempet dipingit?" tanya Nova.
"Dipingit? dipingit apaan?"
"Dipingit itu ya intinya dilarang ketemuan sama calon suami. Kalau di keluarga ibuk kayak gitu soalnya. Kalau ada yang mau nikah dipingit dulu," jelas Nova.
"Tapi gue lain,"
"Ya lah lo lain, orang nikah lo dadakan! lo beruntung bisa kuliah di LN, ditemenin suami! dijagain lo disana!" kata Nova.
"Gue minta pelembabnya!" Nova pun mengambil make up ala anak SMA di meja rias Kalin.
Setelah dua gadis itu sudah siap, mereka turun ke bawah buat sarapan. Dan disana ternyata sudah ada Mamang yang lagi ngopi-ngopi ngganteng.
"Cepet amat kesininya?" gumam Kalin.
"Gue tebak dia nggak bisa tidur semaleman!" umbisik Nova saat mereka berdua baru saja duduk.
__ADS_1
"Pagi, Tante..." Nova menyapa bunda Lia.
"Eh Nova udah bangun? nyenyak semalam?" tanya bunda.
"Banget, Tan!"
"Muka Tante kok pucet? kenapa? tante lagi sakit?"
"Oh, ehm nggak sakit. Cuma kurang tidur!" bunda Lia yang kikuk.
"Emang kenapa sampai kurang tidur, Bun?" kini Kalin yang malah nanya.
Raksa yang udah paham urusan orang deqasa pum segera mengalihkan pembicaraan, "Tan, hari seleaai sarapan. Saya mau ajak Kalin pergi, sudah ijin sama Om Diki juga!"
"Oh iya, Raksa! boleh boleh,"
"Ayah kemana, Bun?" tanya Kalin yang nggak ngeliat ayahnya sama sekali.
"Ayah tadi berangkat pagi-pagi. Katanya ada urusan penting," jawab bunda.
"Sudah, sudah. Kalian sarapan dulu, bunda tinggal dulu ya? kepala bunda agak pusing..."
"Iya, Bun! Kalin nanti ijin ya, Hin?" Kalin menyalami bundanya begitu juga sengan dua orang yang lain, yang pagi itu numpang sarapan.
"Deuuh yang mau nikah! gercep banget nyamperin calon istri!" ucap Nova.
"Abang harus kerja, makanya kesini pagi-pagi. Kelar urusan, abang harus pergi ngantor, ngerti?" ucap Raksa yang menikmati nasi kuning yang semalem nggak habis dan dimasukkan ke majicom sama bunda Lia. Sayang kalau dibuang ceunah.
"Terus gue gimana? gue ikut yak?"
Raksa menggeleng, "Nggak! lo pulang ke rumah karena lo udah ditunggu ibuk, katanya suruh nyiapin buat acara besok. Jadi buat hari ini lo ngendon dulu di rumah," kata Raksa.
"Sehari aja kalian nggak ribut, bisa nggak?" Kalin nyeletuk.
"Ntar kalau lo serumah sama dia, ntar lu tau sendiri, gimana dongkolnya jadi gue, Lin?!"
"Kebalik, Novaaa! lo yang bikin gue dongkol mulu tiap hari,"
"Kayaknya kalian berdua sama-sama bikin dongkol deh!" kata Kalin.
"Ya termasuk lo juga!" Raksa menimpali.
Dan mereka pun ketawa bareng disitu, nggak akan kebayang kalau keluarga Raksa bertambah satu personil yang juga sama kayak adeknya. Itu rumah dijamin nggak akan ada damainya, semuanya riweuh.
"Kalau lo udah selesai, kita pergi sekarang!"
"Buru-buru amat?! tungguin, lah! gue belum selesai nelen ini!" Nova protes, padahal bukan dia yang lagi ditanya.
Akhirnya Kalin dan Raksa nungguin Nova selesai makan, baru mereka pergi dari sana. Nova diantar pak Abdul buat dipulangin ke rumahnya, sedangkan Raksa membawa Kalin mengurus acara pernikahannya besok.
"Tumben nggak minta ngebut?" tanya Raksa saat berdua di jalan sama Kalin.
"Kan nggak ada alasan juga buat ngebut?! gue nggak lagi buru-buru!" kata Kalin.
Raksa menarik tangan Kalin yang pegangan pahanya sendiri buat melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Eh!" pekik Kalin, dia kaget badannya memeluk pria itu dari belakang.
"Pernikahan kita ibarat naik motor ini. Gue yang nyetir dan lo yabg ngebonceng. Gimanapun jalannya yang perlu lo lakuin cuma percaya sama gue, kalau gue ini akan bawa lo sesuai dengan tujuan yang udah kita sepakati. Lo harus percaya kalau gue akan melindungi lo," ucap Raksa.
Kalin pun tersentuh dengan ucapan iti, dia menyatukan kedua tangannya, mengeratkan pelukannya.
Sedangkan Raksa merasakan pelukan itu seperti buah simalakama. Badan depan Kalin yang menempel di punggungnya menghantarkan sengatan aneh dalam dirinya, membangunkan sesuatu dalam dirinya.
'Ya ampun bahaya juga nih bocah!' batin Raksa.
Dia yang menyuruh dia juga yang belingsatan sendiri.
Raksa pun mencoba terus fokus melihat ke arah jalanan, sementara Kalin yang terlanjur nyaman, sama sekali nggak berniat melepaskan pelukan itu.
'Kok gue jadi pengen pekuk dia terus?' batinnya.
Sesekali tangan Raksa mengusap punggung tangan Kalin yang mengunci perutnya. Dia nggak akan menyangka kalau sebentar lagi dia akan memiliki gadis kecil itu sepenuhnya.
Sementara di sebuah gedung perkantoran.
Farid bekerja seperti biasa, dia udah duduk dengan setumpuk pekerjaan yang entah kapan habisnya.
"Rid?!" seorang wanuta memanggil namanya.
"Rahmi? tumben lo kesini? ada apaan?" Farid mebghentikan aktivitasnya aejenak, lalu dia melanjutkan bekerja. Seolah bicara dengan Rahmi hanya menyita waktunya yang sangat berharga.
"Lo tau Raksa kemana? dia masuk atau nggak hari ini?" tanya Rahmi.
"Nggak tau gue! kan dia atasan lo? kenapa lo nanya nya kesini? Raksa udah nggak disini, Mi..." Farid tau kalau Rahmi lagi cari info tentang temannya itu.
"Tapi kan lo temennya..."
"Tapi kan gue nggak serumah sama dia, jadi dia berangkat atau nggak ya gue nggak tau, Mi!" kata Farid.
"Gue ke sana dulu, ya?" Farid membawa dokumen di tangannya dan berjalan masuk ke dalam ruangannya pak Tomi.
"Astaga, nyebelin banget Farid! gue kan cuma mau nanya doang," gumam Rahmi.
Sedangkan di ruangan pak Tomi, Farid mengintip Rahmi dari dalam sana.
"Ada apa, Farid?" tanya seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya.
"Nggak ada apa-apa, Pak?! cuma lagi ngehindar dari para betina!" sahut Farid, matanya masih memantau Rahmi.
"Lalu kamu datang keaini hanya unruk bersembunyi?" tanya orangitu lagi.
Farid pun menyadari sesuatu, dia menoleh ke belakang.
"Eh, pak Tomi? apakabar, Pak?"
"Baik! Sudah selesai ijin sakitnya?" tanya pak Tomi.
"S-sudah, Pak! sudah sembuh saya!"
"Kembali ke meja kamu, dan bekerjalah dengan baik!" suruh pak Tomi.
__ADS_1
Farid pun menarik handle, "Iya, Pak. Permisi..." dia keluar dari ruangan bosnya.
Dan beruntung Rahmi udah nggak ada disana, "Selamet gue hari ini!" Farid lega.