
Banyak tempat yang ingin mereka kunjungi, lebih tepatnya yang pengen Kalin datangi. Soalnya yang ngebet jalan-jalan ya Kalin. Kalau Raksa mah kayak cowok-cowok lainnya, yang lebih prefer ngendon di rumah atau sekalinya pergi ya ke fasilitas kebugaran biar tetap joss kalau ngadon anak sama istrinya. Biar tuh bocah bisa dilabeli made in England, gitu.
Tapi mau gimana lagi, setelah seminggu yang lalu Kalin ngajak ke perpustakaan dan menjejali otaknya yang udah pinter itu dengan berbagai buku yang jujur Raksa aja ogah banget bacanya, sekarang Kalin udah ngrengek lagi minta jalan ke stadion.
Beneran dia minta ke stadion bola. Raksa aja nggak habis pikir, mau ngapain si bocil ke stadion sedangkan dia pertandingan bola aja nggak tau. Setiap kali diminta nemenin nonton bola, Kalin selalu ketiduran. Dan pagi ini dia ngotot pengen ke jalan-jalan katanya pengen foto-foto di bangku-bangku penonton.
"Aneh banget kamu, Cil!" ucap Raksa yang diem di meja makan, ngeliatin Kalin nyiapin roti bakar.
Ya emang mentok Kalin bikin roti bakar sengan telor rebus plua kopi yang gulanya ditakar banget sama dia, katanya biar nggak over konsumsi gula. Kalin begitu karena saran dari mertuanya yang minta Kalin buat perhatiin apa yang dimakan Raksa.
"Kaliiin?" pangil Raksa karena Kalin nggak nangepin pertanyaannya tadi.
"Lagian sekalian Mas mau bilang nggak mau perpanjang kontrak, kan?" Kalin balik nanya.
"Kupingku ngak salah nih? tumben manggilnya bener?!"
Kalin bawa sepiring roti bakar dan telur rebus yang belum di kupas, dia taruh di depan Raksa, "Manggil Mamang aja kalau gitu!"
Raksa menarik istrinya yang lagi ngambek, dia sengaja
"Emang kamu ngak capek? kamu kan baru tidur jam 3 pagi lho," Raksa naik turunin alisnya.
Sudut bibir Kalin naik ke atas, "Ya emang pegel, capek. Tapi aku pengen kesana. Lagian kepulangan kita kan tinggal menghitung hari. Aku udah punya list nih, tempat-tempat yabg mau aku kunjungi!"
"Kalau masih banyak ya udah kita perpanjang liburannya, sampai kamu gumoh kalau perlu. Abang jabanin dah!" kata Raksa menepuk dadanya.
"Halah, jabanin jabanin. Yang minta pulang terus kan situ!"
"Ya gimana, udah lebih dari 3 kali puasa, 3 kali lebaran kita nggak pulang-pulang. Dan beberapa hari ini kan kita diteror terus sama Oma kamu, disuruh balik. Ini kita udah bolak-balik refund tiket pesawat lho. Noh, Om kamu galak yang ngirimin kita tiket, udah nanya. Ini kapan jadi pulangnya? Oma nanyain terooooos! kamu mah enak nggak pernah disemprot, tiap dia telpon. Kuping aku tuh pengeng banget rasanya" Raksa kali ini merepet.
"Hahahahhaha..." Klain ketawa.
"Lah, kamu malah ketawa, sih?"
__ADS_1
Kali ini Kalin menangkup wajah Raksa, dia membuat pria itu sedikit mendongak, "Aku bukan ngetawain kamu, Mas. Tapi aku ngetawain gimana stressnya Om Galang. Secara dia kan yang serumah sama Oma NIlam. Pasti dia stress tuh ditanyain mulu, hahhahaha...."
Raksa memeluk pinggang istrinya, "Ya itu kan gara-gara kamu yang ngubah jadwal terus!"
Cup!
Raksa menarik Kalin untuk mengikis jarak diantara mereka, dia melepaskan istrinya saat memberi kesempatan buat dia untuk bernafas.
"Kalau kayak gini aku males banget buat berangkat!" ucap Raksa yang mengusap bibir kalin dengan jarinya.
"Ikuuuut!"
"Aneh kamu, Kalin! dulu aja ogah banget diikutin, tapi sekarang aku mau resign malah pengen ngikut. Dasar bocil!" Raksa mencubit hidung mancung wanita yang kini bangun dari pangkuannya.
"Sarapan dulu. Aku udah bikinin kamu roti kalau dingin kan nggak enak," Kalin berdiri dan menajuah dari suaminya sebelum kejadian lain terjadi lagi.
"Kalin?!! tanggungb jawab, Kalin?!! ini gimana urusannya?!!" seru Raksa.
"Hadeeuuh! tolong dong pikiran jangan jalan-jalan mulu!" gumamnya.
"Kenapaaaa? nggak mau jalan-jalaaaan?!!!" teriak Kalin dari dalam kamarnya.
"B-bukan ituuuuu!! maksudku kita kalau bisa jalan-jalan terus seminggu ini, gituuu!" sahut raksa.
Namun nggak ada sahutan lagi dari kamar.
"Selamet gue! lagian tajem amat itu kupng, bisa denger aja orang lagi ngedumel!" gumam Raksa, dia mengambil satu helai roti bakarnya dan dia mulai makan bersama dengan telur rebus yang masih hangat.
Jadi pagi itu, Raksa bersama dengan Kalin pergi menuju tempat kerja Raksa. Pria itu datang dengan baik-baik dan keluar pun harus dengan baik-baik, pikirnya. Meskpun bukan di negara sendiri, tapi Raksa selalu menjunjung tinggi adab kesopanan yang menjadi budaya di negaranya, dan ini sangat diapresiasi bosnya. Karena kebanyakan kalau para staff mau resign, nggak jarang diantara mereka yang memilih buat kabur dan ngilang gitu aja bagaikan di telan bumi.
Raksa bilang kalau dia memutuskan untuk nggak memperpanjang kontrak bukan karena dia nggka betah, melainkan dia harus balik ke negara asalnya. Pak Manager oke-oke aja, bahkan dia kasih reward karena selama Raksa bekerja disitu dia selalu on time dan nggak pernah nolak jika diminta buat gantiin temannya ataupun diminta untuk lembur extra.
"Good luck for you!" ucap mr. Thomas.
__ADS_1
"Thanks you!" Raksa menjabat tangan pria itu dan keluar dari ruangan. Dia menyapa teman-teman nya yang lain, sekaligus ingin berpamitan.
Banyak dari mereka yang sedih dengan kepergian Raksa yang tiba-tiba, secara mereka udah kerja bareng-bareng, ngalamin susah senang ngadepin berbagai macam customer yang suka banget nguji kesabaran. Kalin melihat dari kejauhan suaminya memeluk beberapa temannya, kecuali yang perempuan. Raksa hanya menjabat tangannya saja.
"Kok gue jadi melow liat Mamang mau pisah sama temen-temennya!" gumam Kalin, ada setets air yang keluar dari sudut matanya, dia langsung menyekanya supaya nggak kebablasan jadi tangisan.
Raksa berbalik dan menghampiri istrinya yang daritadi nungguin dia.
"Byeeee!!!" Raksa melambaikan tangan pada teman-temannya sebelum akhirnya dia mengajak Kalin buat pergi dari situ.
Tapi Raksa menghentikan lngkah mereka saat udah berada di luar, "Kenapa? ada yang jahat sama kamu tadi pas aku tinggal?"
Kalin menggeleng.
"Terus kenapa kamu nangis?"
"Aku terharuuuuu. Aku cuma nggak nyangka aja, kalau pertemuan dan perpisahan itu snagat dekat. Aku jadi takut.."
"Takut kenapa? aku kan emang harus berpisah sama maereka karena au harus balik ke negaraku sendiri..."
"Iya tapi tetep aja, aku nggak bisa nahan buat nggak terharu melihat mereka kayak kehilangan kamu banget. Padahal aku yakin kamua salah satu karyawan yang paling nyebelin!"
"Eiits, jangan salah! biasanya yang nyebelin yang ngangenin. Udah ah, jangan nangis! nanti dikira orang aku ngapa-ngapain kamu lagi..." Raksa mengusap air mata yang mengalir dari kedua sudut mata istrinya. Dia heran, dia yang berpisah tapi Kalin yang nangis.
"Aku barusan dapet reward! nggak banyak sih, cuma kalau kamu pengen beli sesuatu, hayuklah abang bayarin! Itung-itung negbelanjain istri sbeelum balik ke indo!"
"Huaaaaaa!!!" kalin nangis lagi, kali ini lebih kenceng.
"Loh loh loh, kok nangis lagi? ya udah ya udah kalau nggak mau, nggak harus hri ini juga kok, Kalin! hari ini mah kit ke stadion!"
"Huaaaa, hiks! Ini yang aku tunggu selama iniiiiiii, akhirnya aku ditawarin belanja jugaaaa..." ucap Kalin, sedangkan Raksa reflek mencapit pelan bibir Kalin supaya tuh bibir nggak mangap lagi.
"Astagaaa, aku kira kenapaaaa!" Raksa sendiri sampai deg-degan saat melihat Kalin udah bleweran air mata.
__ADS_1