
Rahmi pun menceritakan, kalau Raksa baru-baru ini dipromosikan dan menempati jabatan baru yang lebih tinggi. Dan tentunya jabatan itu lebih baik dan sangat cocok untuk Raksa yang memang cerdas. Nggak semua orang punya kesempatan yang sama.
"Apa ini karena dia mau pergi? makanya Raksa nggak mau aku mengetahui semua ini?" gumam bu Selvy, yang samar terdengar oleh Rahmi.
'Pergi? pergi kemana?' batin Rahmi yang membaca sekilas dari raut wajah bu Selvy yang udah campur aduk dari tadi.
"Jadi, pak Raksanya ada, Bu?"
"Dia sudah tidak disini, dia ehm..." bu Selvy pun ragu untuk menjawab. Karena pernikahan Raksa dan Kalin kan sengaja disembunyikan untuk kepentingan tertentu.
"Sebentar ya? saya hubungi anak saya dulu," kata bu Selvy yang masuk ke dalam dan meninggalkan Rahmi sendirian.
Rahmi yang semalam kaget mendengar kalau Raksa sudah resign pun semalaman nggak bisa tidur. Dia berpikir keras, bagaimana dia bisa menemui Raksa. Dia akan membujuk pria itu untuk kembali. Jika kepergiannya karena satu divisi dengannya, maka dia akan minta dimutasi. Asalkan Raksa masih mau menempati kursinya yang sekarang. Sulit untuk mencapai posisi yang sekarang, rahmi nggak rela kalau posisi itu ditempati oleh orang lain.
Jadi hari ini dia nekat datang ke rumah Raksa buat bicara empat mata, sayangnya semuanya di luar prediksi Rahmi/
Sedangkan di dalam, Bu Selvy menelepon anaknya. Dia menanyakan soal kabar raksa yang naik jabatan. Raksa yang lagi catur pun ijin buat ngangkat telepon dari ibunya. Dia sengaja nelpon agak menjauh, lebih tepatnya di dapur.
"Ada apa, Bu?" tanya Raksa.
Namun disaat yang sama, kalin keluar buat bikin es milk tea. Mau mundur nggak bisa, dia udah kterlanjur keluar. Kalin pun pura-pura nggakl melihat Raksa yang lagi nempelin hape di kupingnya.
"Raksa, kenapa kamu nggak jujur soal kenaikan jabatan yang kamu terima beberapa waktu yang lalu? bu Selvy to the point.
"Darimana ibu tau? soal itu, Raksa punya alasannya, Bu..." ucap Raksa heran dengan kebenaran yang sudah sekuat tenaga dia sembunyikan.
'Dia lagi ngomong sama siapa? sama bu Selvy?' Kalin dalam hatinya. Dia masih sibuk milih gelas yang sama sekali nggak penting. Dia ngelakuin itu hanya untuk berlama-lama mendengarkan percakapan Raksa dengan seseorang.
"Kenapa kamu nggak cerita sama ibuk? kenapa? apa kamu sudah merasa kalau ibu ini bukan orang yang penting buat kamu, raksa? jadi ibu udah nggak berhak mengetahui apa saja yang anak ibu dapatkan di kantornya. Terutama kabar yang harusnya membahagiakan ini, malah berakhir membuat ibu kecewa sama kamu, raksa! ibu kecewa..." ucap Bu Selvy menggebu.
"Ibu tau darimana kalau Raksa naik jabatan? dari Nova?" tanya Raksa.
"Nova? jadi Nova sudah tau? Bapak juga? iya?" Bu Selvy malah tambah merepet.
Sedangkan suara bu Selvy sayup-sayup bisa Kalin denger, karena saking kencengnya suara mertuanya itu.
"Bukan begitu maksud Raksa, Bu. Nova memang tau, tapi hanya Nova. Bapak sama sekali belum tau, Bu. lagian ibu tau darimana?"
"Dari staff kantor, namanya Rahmi. Dia datang kesini buat minta tanda tangan kamu. Ibu kira dia salah alamat. Tapi ternyata nggak. Yang dia cari beneran kamu," jelas bu Selvy.
"Rahmi? ngapain dia kesitu? terus dia masih ada disana?" tanya Raksa kepo.
__ADS_1
Sedangkan Kalin masih saja terus menguping sambil terus membuat minuman favoritnya. Dia sengaja bikin lama, biar bisa tetep ngedengerin pembicaraan suaminya dengan ibu mertua.
'Rahmi? kayaknya aku pernah denger nama itu! tapi dimana?' Kalin mencoba mengingat.
"Kenapa kamu merahasiakan inin dari ibu? karena kamu pengen pergi, iya?" tanya bu Selvy.
"Iya, Bu..." ucap Raksa.
Dan Kalin yang mendengar bu Selvy begitu emosi, seketika merasa bersalah. Dia kini sibuk dengan pikirannya sendiri. Milk tea sudah jadi. Kalin membawa gelas itu ke kamar bunda. Sengaja dia tiduran disana, menghindar dari suaminya yang menyebalkan.
Sedangkan Raksa mencoba menjelaskan pada ibunya.
"Jadi dia masih ada disana?" tanya Raksa
"masih. Kan dia nungguin kamu!"
"Suruh pulang aja, Buk! karena semuanya sudah aku selesaikan. Nggak mungkin ada yang tertinggal!" kata raksa.
"Ngusir gimana? orang tadi ibu sudah suruh masuk! kamu saja yang kesini sebentar," suruh ibu.
"Nggak bisa, Buuu!" ucap Raksa.
"Terus masa iya ibu usir gitu aja? ini masalah kantor, Raksa! ya barangkali memang ada yang kelupaan sama kamu. Nanti susah lagi kalau kamu sudah ke luar negeri," ucap bu Selvy.
'Mau apa lagi dia? astagaaaa, bisa nggak sih dia biarin gue hidup tenang?' batin Raksa kesal.
Akhirnya Raksa mengantongi kembali hapenya dan minta ijin dulu pada mertuanya yang lagi nungguin pergerakan bidak catur darinya.
'Ya udahlah sekalian bilang sama ibu juga besok aku harus berangkat, huufhhh kenapa semuanya kayak berjalan diluar prediksi gue, sih?' Raksa kembali menggerutu dalam hati.
Raksa pun mengantongi hapenya kembali, dia menemui mertuanya di ruang tengah.
"Ada apa, Sa?" tanya ayah Diki saat melihat Raksa kembali.
"Disuruh ke rumah sama ibuk, Yah! Sekalian nanti aku mau bilang kalau keberangkatan Raksa dan Kalin dipercepat besok sore. Ibu dan bapak kan belum tau soal itu,"
"Oh ya sudah. Ini biarin aja kayak gini. Ayah masih penasaran, "Ayah Diki menunjuk bidak catur yang masih dia ingin mainkan.
"Kalau begitu, Raksa pergi dulu..."Raksa menyalami mertuanya.
"Nggak pamit sekalian sama Kalin?"
__ADS_1
"Iya, ini mau ngomong sama Kalin..."
Namun saat sudah di kamar Kalin yang diatas, dia sama sekali nggak menemukan bocah itu.
"Oh ya ya, dia kan daritadi sama bundanya!" gumamnya.
Raksa turun lagi, dan menuju kamar bunda Lia. Dia mengetuk perlahan.
Ceklek!
Wajah Kalin nampak setelah pintu dibuka sepertiga.
"Gue mau pergi ke rumah Ibu dulu,"
"Hem!" Kalin hanya menjawab dengan deheman.
"Gue nggak akan lama, kok!" Raksa menyentuh kepala Kalin sebelum akhirnya dia pergi.
Setelah mengingat dimana dia mendengar nama Rahmi, Kalin pun memutuskan buat ngikutin Raksa. Namun dia kaget saat menyalakan hape, ternyata ada chat dari Nova.
Dia mengajak Kalin ketemuan. Kebetuolan banget, itu bisa jadi alasan Kalin buat pergi dari rumah.
"Bun? Kalin pergi dulu, ya? mau ketemuan sama Nova.." ucap Bunda.
"Jangan kesorean, ya? besok kan kamu mau berangkat!" bunda ngingetin.
"Iya, Bun..."
"Loh kamu mau kemana?" tanya ayah mendengar Kalin mau pergi.
"Ketemuan dulu sama NOva. Sekalian jalan-jalan terakhir, Yah sebelum Kalin berangkat!' ucap Kalin.
"Oh ya sudah! diantar pak Abdul?"
"Pak Abdul kan lagi sakit, Yah! nanti Kalin bis anaik taksi, pulangnyananti sama Nova, biasa..."
"Nggak bareng Raksa aja tadi? kan dia mau ke rumahnya,"
"Nggak, Yah! Kalin sama Nova ketemunya di tempat lain, jadi nggak bisa bareng. Kalin pamit, Yah ... Bun..." Kalin menyalami kedua orangtuanya, sebelum naik ke atas dan mengambil tas dan juga dompet. Dia turun setelah taksi yang dipesannya sudah mendekat.
"Jalan, Mas!" ucap Kalin saat sudah masuk ke dalam taksi online yang dipesannya.
__ADS_1
'Berani sekali mereka ketemuannya di rumah! wow! dia lebih berani dari yang gue duga...' batin Kalin. Dia sedang menyiapkan mentalnya untuk melihat sesuatu yang akan membuatnya terluka.