Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Orang dari Masa Lalu


__ADS_3

Paginya Kalin udah riweuh sendiri.


"Ini siapa yang hamil, gue jadi yang ikutan repot!" gumam Kalin saat memburu bahan-bahan di supermarket.


"Siapa suruh bales pesan orang!" celetuk Raksa adari belakang Kalin.


"Udah jangan ngadi-ngadi, seadaanya aja!" lanjut pria itu. lalu dia ngajak Kalin buat pergi ke kasir. Setelah membayar belanjaan, mereka berdua balik lagi ke rumah dan segera mengerjalan apa yang mereka janjikan pada Rahmi. Sebenernya Kalin yang janji atas nama Raksa, karena Rahmi minta toloingnya kan sama Raksa.


Lagi riweuh goreng tahu yang bukan walaupun bukan tahu sumedang, tapi okelah buat gantiin tahu yang seharusnya dia pakai, ada telepon video call masuk. Itu dari tante Atha yang bilang kalau Oma kangen sama Kalin.


"Kamu lagi dimana?" tanya Oma Nilam.


"Lagi di dapur, Oma!"


"Iya tau di dapur. Maksudnya kamu itu udah pulang ke Indonesia atau belum?" tanya Oma lagi.


"Belum pulang, Oma. Kita masih di Inggris!"


"kalin masih betah disini, Oma!" tambah Raksa.


"Bukannya kamu sudah lulus?sudah wisuda? kenapa malah belum pulang-pulang? apa kamu mau menghianati negaramu sendiri?" tanya Oma, dia nggak nyadar kalau dia juga lama tinggal di luar negeri.


"Ya nggak gitu juga, Oma! jangan dengerin mas Raksa, dia cuma asal ngomong aja!" mata Kalin melirik suaminya yang berseliweran di depannya.


"3 tahun nggak pulang itu namanya apa?"


"Nanti kita pasti akan pulang kalau urusan disini udah selesai, Oma Kita masih banyak hal yang mau dilakuin. Mas Raksa juga harus menyelesesaikan kontraknya di sini, dia kan kerja juga Oma..." ucap kalin kasih alesan.


"Kalin pengen bulan madu, Oma! jadi dia pengen kita stay bneberapa bulan dulu disini," kata Raksa, dia mengambil hape yang senderin saat Kalin sedang menyiapkan bahan-bahan buat bikin tahu gejrot.


Hape itu kini berpindah ke tangan Raksa, "Merasa ditagih cucu terus, Kalin jadi males pulang, Oma!" Raksa ngomporin.


"Loh kenapa males? nggak boleh kayak gitu, Kalin?!" Oma udah nunjukin jari telunjuk yang dia gerakin ke kanan dan ke kiri.


"Kamu ini mesti mikirin kuliah. Oma kan sudah bilang, kalau sudah menikah itu harus siap kapan pun punya anak!"


"Oma, kasian bocah dimarahin terus," kata tante Atha, suaranya lembut banget, beda sama Oma Nilanm yang cenderung keras dan tegas, mungkin karena sifat itulah yang membuatnya nggak cocok dengan kakek Rangga yang juga sama-sama keras.


"Oma ini sudah tua. Pengen melihat anak cucu itu bahagia," kata Oma Nilam.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin , Oma! Oma jangan khawatir!" kata Raksa.


Plakk!


Reflek Kalin menabok lengan suaminya.


"Hehhhh, bener itu kata suami mu!" kata Oma Nilam.


"Atha, bilang pada Galang supaya kirimkan tiket pesawat buat dua cucu ku ini. Biar mereka bisa pulang ke Indonesia," suruh Oma.

__ADS_1


"Iya nanti Atha bilang pada mas Galang..."


"Ehm, Raksa Kalin. Tante mau nganterin Oma cek up ke rumah sakit. Kalian baik-baik disana," kata tante Atha.


"Ya, Tante. Dadah Oma..." Kalin dan Raksa melambaikan tangan.


Dengan secepat kilat tangan Kalin menyambar hapenya yang digenggam Raksa. Dia menaruhnya di saku jeans nya.


"Sekarang kita selesaikan ini dan..."


"Dan apa?" tanya Raksa dengan tatapan yanga nggak biasa.


"Dan nganterin si tahu gejrot, pesanan mantan!" ucap Kalin.


"Kita nggak usah bikinin juga nggak apa-apa. Nanti aku bilang aja kita nggak nemu bahannya, mereka juga bakalan ngerti kok! lebih baik kita mikirin bayi kita sendiri,"


Muka Kalin langsung merah, dia gugup.


Namun sayangnya aksi Raksa terhenti saat ada telepon dari boss nya. Dia bilang kalau minta tolong Raks amasuk buat menggantikan salah satu teman yang sakit. Mereka kekurangan pegawai.


"Kenapa?" tanya Kalin saat raksa udah kembali.


"Biasa disuruh nggantiin temen,"


"terus gimana?" tanya kalin.


"Gimana apanya?" Raksa naik turunin alis.


"Oh itu...."


Raksa ngasih bawang merah, putih dan juga garam buat kalin ulek. Sedangkan Raksa sendiri bikin kuah asam manisnya. Singkatnya mereka racik makanan itu ke dalam satu wadah dan mulai bersiap-siap.


Raksa sengaja memesan sebuah taksi buat nganterin mereka ke hotel tempat Rahmi dan sumainya menginap. Selain repot bawa makanan, dia juga kasian sama Kalin kalau harus jalan dan pakai kenmdaraan umum yang lainnya.


Dan akhirnya mereka pun sampai di hotel tujuan. Raksa langsung nelfon Rahmi dan bilang kalau mereka udah nyampe. Rahmi bilang nanti Zaki dan dia akan turun ke bawah.


"Nanti mereka bakal kesini," ucap Raka.


"Kenapa?" tanya Raksa pada istrinya, saat melihat raut wajah yang berbeda.


"Nggak ada apa-apa..."


"Jangan bohong..."


"Nggak apa-apa. Aku cuma agak canggung aja mesti. Kan aku nggak akrab sama dia, jadi pasti bakalan canggung..." kata Kalin.


"Ya nggak usah akrab. Kita kesini kan karena kamu yang mengiyakan permintaan Rahmi, iya kan?" ucap Raksa.


Dan bersamaan dengan itu ada sepasang suami istri yang datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Hai..." ucap Zaki pada Raksa dan Kalin.


"Gimana kalau kita ngobrol di resto nya..." ajak Zaki yang diiyakan oleh Raksa.


Dua pasangan itu bergerak menuju retoran yang ada di lantai 5. Setelah memesan minuman mereka pun duduk di salah satu meja.


"Kenalkan ini istriku, Kalin..." ucap raksa mengenalkan Kalin pada Zaki.


"Hai Kalin, aku Zaki. Aku suami Rahmi..."


Sedangkan Rahmi sendiri terlalu malu buat menatap wajah Kalin.


"Oh ya ini tahu gejrot buatan Kalin. Meskipun bukan tahu gejrot yang asli karena kita nggak bisa nemuin tahu yang pas, tapi ya mirip-mirip lah rasanya..." ucap Raks ayang menyodorkan sebuah tempat makanan sekali pakai yang dia berikan pada Rahmi.


"Makasih, maaf ya istriku ngerepotin kalian..." kata Zaki.


Zaki menatapa wajah Rahmi, dia mengangguk.


"Maaf, Kalin..." ucap Rahmi dengan wajah penuh ketulusan, dia berharap Kalin bisa melupakan kejadian di masa lalu.


"Aku kesini bukan untuk mengganggu hubungan kalian berdua. Aku datang kemari dengan Zaki, selain ingin liburan, aku juga pengen minta maaf sama kamu, Kalin. Aku sudah menghapus vidio itu dan memang aku yang menjebak Raksa saat itu. Aku kira dia masih bis aku dapatkan ternyata nggak. Dia terlalu cinta sama kamu, Kalin. Dan aku minta maaf..." ucap Rahmi.


"Sekarang aku sedang mengandung anak Zaki, aku ingin hidup dengan tennag tanpa dibayangi rasa bersalah..." lanjutnya.


Kalin langsung meraih tangan Rahmi dan menggenggamnya, "Iya, Kak. Aku udah maafin kok..."


Raksa dan Zaki pun bisa bernafas lega saat ,melihat kedua wanita yang pernah bersitegang itu akhirnya bisa berbaikan.


"Dia mengira bayi yang ada di perut istrimu itu bayiku, Zaki!" celetuk Raksa.


"Hahhahaha, bukan bukan. Itu milikku dan nggak akan ada yang bisa merebutnya!" kata Zaki, dia mengelus perut Rahmi.


Celetukan Raksa itu sontak membuat kalin sangat malu. Dia mencupit paha suaminya.


"Aaaa aaawww!" Raksa memekik saat merasakan sakit akibat cubitan Kalin.


"Bukan, Kalin. Ini anakku, apakah kita perlu tes DNA?" ucap Zaki.


"Kamu kira aku apa? pakai tes DNA segala? apa kamu meragukan aku?" ucap Rahmi.


"Hahha, maaf, sayang!" ucap Zaki yang mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Iya iya aku percaya...." Klain nggak pengen Rahmi marah karena dituduh punya anak dengan Raksa.


"Nggak Kalin. Ini anakku 100 persen dengan Zaki!" ucap Rahmi dengan melirik kesal pada suaminya yang cengar-cengir.


"Iya iya, Kak. Aku percaya..."


"Syukurlah. Buang jauh-jauh pikiran itu. Aku kemari hanya ingin minta maaf, dan jangan sampai kedatangan kami malah membuat situasi rumah kalian menjadi buruk..." ucap Rahmi.

__ADS_1


Kalin tersenyum dan mengangguk. Berita itu pun sangat melegakan hati Kalin.


'Alhamdulillah, ternyata suami gue itu emang setia. Sarange Mamang!"


__ADS_2