
"KENAPA???" Kali ini Raksa ngerasin suaranya.
"KARENAAA, GUE BACKSTREET DARI ORTU!" sahut Kalin.
Dan mendengar penuturan dari mulut Kalin, Raksa cuma bisa geleng kepala doang.
"Jadi, please jangan ke rumah! kemanapun ... asal jangan ke rumah...." Kalin yang disertai sesenggukan.
Raksa yang nyetir pengen banget ngusek rambut sendiri, bisa-bisanya dia kejebak seharian ini momong bocil yang nggak kebagian gerbang sekolah ditambah baru aja putus dari cinta monyetnya.
'Hadeeewwhhhh, sial banget gue hari ini!' Raksa ngedumel dalam hatinya.
Meskipun dalam hati dongkol, tapi di dalam hatinya bisa ngerasain kecewanya Kalin. Raksa memang nggak tau berapa lama cinta monyet itu dijalani, tapi yang namanya dibohongi pastilah bikin orang kecewa.
Akhirnya, Raksa membelokkan motornya di sebuah cafe. Kalin mau nangis-nangis juga kan nggak begitu jadi perhatian orang.
"Kenapa kesini?" tanya Kalin yang mata dan hidungnya udah merah.
"Katanya kemana aja? gimana sih? laper gue!" Raksa ketus. dia turun dari motornya dan jalan mendahului Kalin.
Ya udah, Kalin nurut aja. Dia ikutan masuk ke dalam cafe itu. Raksa kemudian pesen sedangkan Kalin duduk di kursi yang masih kosong.
Kebetulan pengunjung siang itu nggak terlalu banyak, jadi dia bisa milih dimana dia pengen duduk. Dan pojokan menjadi tempat yang dipilihnya, biar tambah merana gitu.
Nggak lama, Raksa dateng.
"Udah sih, ngapain nangisin cowok nggak modal kayak gitu? ngabis-ngabisin tenanga doang!" Raksa dengan nada ketusnya.
"Mata-mata gue, mau gue nangis kek mau nggak terserah gue. Kenapa lo ngelarang-larang?" Kalin yang tadinya udah berhenti nangisnya sekarang mewek lagi. Bukan karena Reno tapi karena Raksa yang menurutnya nggak berperasaan sama sekali.
"ya udah, gue tinggal!" kata raksa yang mau bangkit.
"Jangan! hiks, nanti siapa yang bayar makanan dan minuman ini?" Kalin mencekal tangan Raksa.
"Cih, lo nyegah gue cuma karena takut nggak bisa bayar ini semua?" Raksa naikin satu sudut bibirnya.
"Hiksss, ya selain itu, gue juga butuh temen...."
"Kalau lo pengen gue temenin, ya udah berhenti nangisnya. Visual lo jelek kalau nangis!" Raksa yang duduk kembali.
"Permisi, Kak..." seorang pelayan datang dengan dua minuman dan dua spagetti.
"Makasih," raksa melihat si pelayan wanita sekilas.
__ADS_1
Setelah pelayan itu pergi, Raksa kembali melanjutkan ucapannya.
"Sekarang lo minum es nya, minimal biar otak dan perasaan lo jadi adem. Nggak inget mantan sepersekian detik lo itu lagi," Raksa nyodorin chocholatte float.
kalin pun menerimanya, dia menyedot minumannya perlahan.
"Gue kasih tau, ya? cowok kayak gitu tuh nggak berbobot, nggak usah lo tangisin. Nggak penting! lagian lo masih bocil. Masa depan lo masih panjang. Masih untung keliatan boroknya sekarang, daripada nnati saat lo udah ngasih banyak hal sama dia?! " Raksa mencoba memberi Kalin masukan.
"Tapi tunggu. Lo sempet bilang kalau lo udah ngasih banyak hal sama tuh cowok, ehm .. maksud gue, lo nggak memberikan hal lain selain duit, kan? sesuatu yang sangat berharga buat wanita," Raksa menatap Kalin serius.
"EMANGNYA APA LAGIIIII? LO PIKIR GUE CEWEK APAAN, HAH?" tiba-tiba Kalin teriak. Dan semua pengunjung ngeliat ke arah mereka.
"Astagaaa, Kalin! lo tuh ya, bener-bener! bikin gue shock tau nggak?" Raksa ngelus dadanya.
"Ya kan lo nangisnya begitu amat, sampe nggak terima diputusin sama Reno. dan tadi kan gue cuma nanya, bukan nuduh! makanya kalau ada orang ngomong tuh diperhatiin baik-baik, jangan asal nyamber aja!"
"Gue nangis tuh, karena gue udah tulus sayang sama dia. tapi ternyata gue cuma dimanfaatin doang. Om-Om kayak lo mungkin nggak tau rasanya patah hati," kata Kalin.
"Izhhh, manggil gue Om lagi. Gue tinggal nih!" ancam Raksa.
Kalin ngusap mulutnya pakai tisu dan mulai minum lagi, begitu juga dengan Raksa.
"Makan! jangan sampe lo pingsan gara-gara nangis tapi nggak punya tenaga!" ucap pria itu.
Raksa mulai menyantap spagetti yang ada di hadapannya. Sesekali Kalin ngeliat ke arah abang dari teman baiknya itu yang lagi fokus sama makanannya.
"Jangan liatin gue mulu! ntar naksir," Raksa nyeletuk.
"Dih, siapa juga yang naksir. Gue juga naksir orang milih-milih kali,"
"Iya milihnya yang suka morotin dan suka ngibulin, ya?" sindir Raksa.
Dan Kalin murung lagi.
"Habisin makanan lo, gue nggak mau ya? makanan ini mubadzir kayak makanan tadi," kata Raksa.
Kalin pun menurut, dia makan dengan lahap. Dia singkirin dulu bayangan Reno dari pikirannya, dan berusaha berpikir apa yang harus dilakuin saat ini. Raksa pun nggak banyak nanya, dia menyeruput es kopinya sembari nungguin kalin makan.
"Gue bisa pesen satu porsi lagi?" tanya Kalin, malu.
"Dua porsi juga boleh, asal perut lo muat!"
Raksa pun melambaikan tangan, dia mesen satu spagetti lagi buat Kalin yang masih kelaperan.
__ADS_1
"Abis ini gue anterin ke rumah lo,"
Kalin menggeleng.
"Terus lo mau ngelayab kemana lagi bociiil???!!!" Raksa gemas.
"Ke rumah Nova..."
"Maksudnya? ke rumah gue gitu?!" mata Raksa membulat.
"Ke rumah Nova..." ucap Kalin lagi.
"Ya ke rumah Nova berarti kan ke rumah gue juga! Nova itu kan adek gue!"
"Ya, pokoknya ke rumah Nova. Gue lagi patah hati, gue butuh temen," Kalin menyeruput minumannya.
Sedangkan Raksa nggak tau harus ngomong apa lagi, kelakuan Kalin bikin dia nyut-nyutan. Beberapa WA dari farid aja belum dia bales perkara ditempelin bocil yang satu ini.
Lumayan lama Raksa mandengin bocah yang sekarang makan spagetti yang baru aja dianter sama pelayan di cafe itu.
'Ini cewek tulus apa bego nya kebangetan sih? masa iya dia sampe rela jual cincin cuma buat minjemin duit buat pacarnya? nggak habis pikri gue!' batin Raksa.
Habis ribut sama Reno, rasanya kalin butuh asupan banyak makanan buat ngembaliin lagi tenaga yang dia keluarin.
'Gue harus buktiin sama Reno. Kalau dia juga nggak ada artinya buat gue, nggak apa-apa gue putus. Karena gue yakin, nggak akan ada cewek yang lebih tulus sayang sama dia seperti gue,' Kalin terus makan, sedangkan hatinya bergumam terus-terusan.
Kalin menarik napasnya berkali-kali, dia makan tapi berasa kayak lagi marathon.
Glek
Glek
Glek
Kalin merebut es kopi milik Raksa, dia butuh cafein supaya bikin dia bersemangat lagi.
Brukk!!
Kalin menaruh gelas panjang itu di atas meja sampe menimbulkan bunyi, dia mengelap mulutnya dengan tisu, "Gue udah kenyang!" ucapnya.
"Okey!" Raksa bangun dari duduknya dan menuju kasir. Sedangkan Kalin berdiri dan menunggu Raksa sambil matanya terus mengawasi pria yang sekarang lagi ngebuka dompetnya.
Setelah transaksinya selesai, Raksa pun menghampiri gadis yang seharian ini ngerepotin dia dan ngajak tuh bocah pergi dari sana dengan perut yang kenyang.
__ADS_1