Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Letoy


__ADS_3

Sampai di rumah, Kalin minta tolong pak Abdul buat bukain bagasi.


"Udah, Pak. Biar Kalin ajah yang bawa," Kalin menyambar  beberapa kantong belanjaan dan cepetan masuk ke dalam rumah.


Karena hari udah sore, pak Abdul balik ke rumahnya yang nggak jauh dari rumah sang majikan sama dengan istrinya yang juga ikut jadi asisten rumah tangga yang jatah kerjanya sampai sore, tapi kalau ada keperluan tertentu mereka siap ditelpun 24 jam.


Bunda Lia bukan tipe majikan apa-apa serba diladenin, pokoknya rumah udah bersih aja, ya udah nggak ada kerjaan lain. Sama juga dengan Kalin yang juga nggak biasa dimanjain.


"Bun, belanjaannya, Bun..." Kalin letoy, dia kelaperan.


Bunda yang lagi di meja yang menyatu dengan kompor tanam pun ngeliat ke arah anaknya yang lemes banget. Dia naruh belanjaan di atas meja makan yang bersih dari barang-barang lalu dia taruh kepalanya di atas meja.


"Lemes banget? kenapa?" tanya bunda.


"Pengen mie kedelai hitam, Buuuun. Pakai kimchi, telor keju leleh sama daun bawang..." Kalin lemes.


Gimana nggak lemes, lha di sekolah nggak jajan. Sekalinya jajan minum es coklat doang, kenyang kagak kembung iya.


"Ini berarti belanja pakai uang kamu, ya? maaf ya, bunda lupa transfer! tadi bu Joko kesini, nganterin nasi kuning, jadi keasikan ngobrol sampe lupa belum transferin duit buat kamu," kata bunda.


'Yeuuuh, Bundaaa! harusnya tadi jangan lupa transfer! kalau kayak gitu kan gue nggak akan maksa tu mas-mas galak bayarin belanjaan gue,' batin Kalin ngenes.


Bunda yang ngeliat anaknya mrengut ajah, mulai bikinin makanan yang di request sama kalin. Mungkin saking capek dan kelaparannya, Kalin yang makin kurus ketiduran dengan posisi duduk sedangkan sebagian badannya ngeglosor di meja dengan tangan sebagai bantalnya.


"Kalin, Kalin ... ini loh mie nya udah jadi..." kata bunda yang menyajikan mie di piring yang besar, karena saking banyaknya isinya.


Kalin yang mencium mie jjajang pun bangun, "Hemmmm ... wangi banget," katanya dengan suara serak.


Emang dasar Kalin yang didalam perutnya udah mengeluarkan suara kukuruyuk pun langsung menyambar makanannya.


"Makannya pelan-pelan," bunda naruh lemon squash yang bkin seger mata.


Bunda balik lagi ngeluarin belanjaan yang Kalin beli, "Loh beli cemilan juga?"

__ADS_1


Kalin ngangguk, dengan mulut yang penuh dengan saos berwarna hitam, "Hu'um, abisnya pengen!" dia menyeruput lemon squash nya.


"Makan yang banyak, biar badan kamu jangan makin kurus. Sibuk sekolah boleh, tapi jangan lupa asupan makananya. kalau perlu mulai besok, kamu bawa bekal aja dari rumah, biar gizinya jelas..." kata bunda.


"Iya, Bun..."


Kalin yang nggak mau bunda nya tanya-tanya lagi, fokus aja sama makanannya. Dia makan dengan lahap, dan alhamdulillahnya nih si bunda sibuk nata belanjaan.


Setelah selesai makan, Kalin nyuci bekas piringnya dan pamit naik ke atas, "kalin ke kamar ya, Bun...." ucap Kalin yang diiyakan sama bunda Lia.


Kalin naik ke lantai dua dengan badan yang masih lemes aja, dia tadi ambil cemilan dan juga botol air putih yang super gede. Biar nggak bolak balik turun ke bawah.


"Emang bener-bener yak si Reno, gue tungguin malah nggak dateng?!" Kalin ngelempar tasnya ke kasur saking keselnya.


Sementara Reno sang ayang embe, dia lagi di rumah Melody. Dari siang, cekikikan hahah hihi sambil nonton tivi di ruang tengah.


Melody yang tadi ya terkilir minta tolong Reno buat nganterin dia pulang ke rumah, sampai di rumah cuma ada dua orang pembantu di rumah Melody. Tau anak majikannya kakinya sakit, salah satu dari mereka bilang kalau mendingan kakinya Melody diurut gitu sama kang urut.


Reno takjub dengan kemewahan rumah Melody pun setuju dengan saran itu dia bilang 'Mendingan emang diurut, daripada nanti malah bengkak dan sakit buat dipakai jalan,' dengan nada yang lembut.


Dipanggilah itu nenek-nenek dari kampung sebelah, buat ngurutin kakinya neng Melody.


Sementara Melody yang jejeritan sampai mencengkram tangan Reno, tuh cowok malah sibuk ngeliatin setiap sudut di ruangan.


'Kenapa gue nggak tau kalau Melody ini anak horang kaya? malah lebih kaya dari pacar gue si Kalin!' batin Reno.


'Astagaaaa, Kalinnnn??? gue kan janji ketemuan sama dia di sekolahnyaaa?!!' lanjut Reno ngeliat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore.


Reno yang tau kalau dia melupakan hal yang penting, segera menghampiri Melody, "Mel? gue pulang yaaa?"


"Ntar aja sih, gue bahkan belum nawarin lo minum!" kata Melody.


"Nggak usaah,"

__ADS_1


"Aaawkkh!" Melody mnejerit saat kakinya di pijet si nenek.


Tangan Melody mencengkram kuat lengan Reno, jadilah pemuda itu tetep disana. Sampai adegan jerit menjerit itu selesai. Dan bukannya ngabarin Kalin, Reno malah lupa lagi dan lanjut ngobrol sama Melody saat. minuman dan camilan datang.


"Bik? bibik ngapain? mau nguping? mendingan bawa ini ke belakang," ucap Melody yang menunjuk pisin yang berisi minyak habis buat ngurut.


"T-tapi," kata si bibik.


Si bibik nggak jadi ngomong dan segera pergi ke dapur lagi.


"Rumah lo sepi? bokap nyokap kemana?" tanya Reno, lagi-lagi dianlupa dengan Kalin.


"Bokap? hmm, bokap gue ada urusan ke luar negeri! biasalah, bisnis! kebetulan perginya sama nyokap gue juga," Melody ngambil gelas yang berisi minuman dingin, dan meneguknya.


"Berarti lo disini cuma sama asisten rumah tangga?" Reno ikutan meneguk minuman yang nyegerin tenggorokan.


Melody mengangguk.


"Nggak kesepian?" Reno malah tanya inih onoh inih onoh.


"Ya gitu lah, resiko..." kata Melody.


Reno ngangguk paham, sementara Reno pamit pulang setelah melewati jam 5.


"Gue pulang ya?"


"Makasih ya, udah nganterin dan nemenin gue," Melody yang mau bangkit.


"Udah lo duduk aja, gue bisa pake depan sendiri kok!" Reno mencegah gadis itu untuk mengikutinya.


"Gue pamit!" lanjutnya.


Reno pun perlahan berjalan menjauh, menuju pintu depan. Pemuda itu pun nengok ke bangunan rumah yang megah dan mewah itu, "Coba gue ketemu dia duluan!" gumam Reno yang kemudian menyalakan mesin dan pergi dari sana.

__ADS_1


Ada senyuman yang tersirat di bibir pemuda tampan itu, entah apa yang direncakannya hanya dia dan Tuhan yang tau.


__ADS_2