
Kelar mandi, Raksa langsung masuk ke dalam kamar. Dengan santainya dia berganti pakaian, seolah hanya dia saja yang berada di ruangan itu. Meskipun sudah suami istri, nyatanya Kalin masih kikuk saat Raksa udha mulai atraksinya. Dia nggak habis pikir dengan suaminya yang bisa sesantai itu ganti pakaian di depannya.
Sekarang Raksa cuma pakai celana pendek dan kaos yang nggak bisa menyembunyikan badannya yang padat dan berkotak-kotak.
"Kamu mau makan apa? biar aku bikinin..."
"Apa aja!" kata Kalin yang lagi memainkan hapenya.
"Jangan terserah!"
"Ya yang bisa dimasak aja!" kata Kalin.
"Kok jadi bete sama aku, sih?" Raksa kemudian meninggalkan Kalin di dalam kamar.
Ketika suaminya keluar,kalin baru ngerasa aneh dengan dirinya sendiri,
"Apa aku keterlaluan, ya?" gumamnya.
Kalin yang badannya lagi nggak karuan pun tiduran dan semakin menaikkan selimutnya. Suasana hatinya lagi nggak baik.
Sedangkan Raksa masak seperti biasa, padahal dia juga capek tapi ngeliat wajah Kalin yang pucet tadi, dia juga ngak tega biarin istrinya tidur dengan perut yang kelaparan.
Dengan bahan seadanya karena memabg mereka mau mengosongkan kulkas, biar pas mereka mau pulang ke Indo nggak banyak bahan makanan yang terbuang. Kalau cemilan kan mereka bisa masukin ke koper, lah kalau bahan makanan kayak sayur-sayuran kan susah.
Raksa ini bukan tipe orang yang suka buang-buang sesuatu, makanya dia lebih milih belanja seperlunya dan menimalisir sampah yang dihasilkan.
Raksa lagi-lagi masak nasi goreng, menu andalan yang rasanya udah pasti di terima di lidah Kalin.
Dengan nampan yang ada di tangannya, Raksa mencoba masuk ke dalam kamar. Dan melihat Kalin audah trtidurbdengan rambut yang masih sengah kering.
"Gimana nggak masuk angin? habis keramas langsung tidur," ucap Raksa.
Dia meletakkan nampannya di atas nakas dan mengelus kepala Kalin, Raksa mulai membangunkan Kalin.
"Kalin bangun, Kalin..."
Tapi Kalin seakan nggak mau bangun, akhirnya Raksa masuk ke dalam selimut dan membangunkan Kalin dengan cara yang lain.
Raksa mencium Kalin.
Ngerasa kalau ada yang sedang mendekapnya, wanita itu pun membuka matanya. Dan betapa te kejutnya saat dia melihat suaminya dalam jarak yang begitu dekat, bahkan sangat dekat tanpa ada sekat.
Melihat Kalin yang udah bangun, Raksa melepaskan Kalin dan mengusap pipinya, "Makanannya udaj jadi. Mending makan dulu!" kata Raksa.
"Nanti aja..."
"Jangan nanti. Nasi goreng kalau makannya nggak lagi panas-panas tuh nggak enak. Aku juga laper pengen makan!" kata Raksa.
"Ya udah dimakan Mamang aja!"
"Yeeee, gimana sih? aku kan masak buat kita berdua. Lagian jangan suka tidur dengan perut kosong, nanti sakit. Ini aja wajah kamu pucet banget!" ucap Raksa.
__ADS_1
"Iyaaa,"
Raksa ngambil piring dan makan bareng dengan Kalin, sampai makanan habis. Bukan karena makananya yang nggak enak, tapi lidah Kalin yang rasanya hambar.
"Kenapa? kurang enak ya?" tanya Raksa, karena Kalin nggak selahap biasanya.
"Enak, tapi kan badanku lagi nggak enak. Lagi sakit, teryama pinggang," kata Kalin.
"Apa karena ngadon keseringan?" tanya Raksa.
"Iya kali,"
"Dih kok jawabnya gitu sih? aku awalnya bisa menahan lho. Kamu sendiri yang memulai--"
"Iya, Maaaass!" Kalin memotong supaya Raksa nggak ngomong ke arah situ lagi. Karena dia tau akab berakhir seperti apa kalau pembicaraan itu dilanjutkan.
"Ya udah kamu istirahat aja!" kata Raksa yang mengambil piring yang udah kosong dan keluar pergi ke dapur. Sedangkan Kalin yang baru meneguk minumannya ikutan pergi juga, bukan ke dapur tapi ke kamar mandi. Dia mau sikat gigi dulu, sebelum badannya nagih buat merem lagi.
Kalin sempet ngelirik ke dapur, ternyata suaminya itu lagi bikin kopi. Tapi Kalin nggak ambil pusing karena dia udah pusing beneran. Kalin masuk ke kamar dan tiduran dengan tenang.
Bukannya enak tidur tanpa pengganggu, Kalin malah merasa gelisah. Suhu ruangan membuat Kalin merasa dingin, dia menarik batal buat dia peluk saking dinginnya.
Sedangkan Raksa enak-enakan ngopi sambil telfon Farid. Emang suka nggak mikir, Faid yang lagi ngantuk-ngantuk harus nanggepin bapak rumah tangga yang lagi galau.
"Ya lo kasih apa gitu! mungkin dia nggam sreg ama kelakuan lo yang suka garuk-garuk bokong!" Farid ngelantur.
"Sembarangan?! mana ada gue garuk-garuk bokong! gue gibeng baru tau rasa, lo!"
"Seneng lo ya kalau gue lagi susah!"
"Akhirnya lo tau apa yang gue rasain! emang lo doang yang kayak gitu? gara-gara mulut lo yang kayak comberan bocor, si Nova kan jadi ngambek sama gue. Dia marah karena gue pernah ngedukung lo sama Rahmi! coba deh kalau lo jadi gue!"
"Nggak mau gue!" serobot Raksa.
"Udah ah, gue mau tidur!" Farid pundung.
"Dih ambekan banget sih, lo?" ledek Raksa.
"Nih ya gue kasih tau! nggak ada di dunia ini cewek yang suka sama cowok yang klemar-klemer dan suka ngambekan! apalagi adek gue! kesabaran lo harus melebihi gue,"
"Sabar dari maneeeeee??? lo berdua kan berantem mulu!"
"Ya itu kan berantem kakak adek wajar! masih ada kasih sayangnya!" Raksa bela diri.
"Gue keder, gue beliin tas dia nya malah bete semaleman ini..."
"Ya lo kasih apa kek yang dia suka. Kan lo udah nikah bertaun-taun, masa iya lo nggak tau apa yang istri lo pengen?" ucap Farid.
"Betenya itu kayak sakit,"
"Ya lo bawa ke dokter! cek kesehatan dia, cek juga kesehatan mental dia. Kali aja dia itu sebenernya tertekan hidup sama lo!"
__ADS_1
"Bahlul lo! gue cukup membahagiakan ya, asal lo tau aja!" Raksa nggak mau kalah.
"Stress gue lama-lama ngobrol sama lo!" lanjutnya.
"Gue juga ngantuk! gue masih kerja woy besok!" kata Farid.
"Oh ya, besok gue mau sowan ke calon mertua. Enaknya bawa apa ya, Sa?"
"Tanya Nova lah! kok tanya gue!"
"Ya kan sekalian nanya sama lo! kan lo kakaknya Nova yang itu artinya lo juga anaknya bu Selvy. Masa lo nggak tau makanan kesukaan nyokap lo?"
"Jangan coba-coba pedekate sama emak gue. Gue nggak mau punya bapak tiri macam lo!"
"Siapeee juga yang mau jadi bapak tiri lo, asbak warkop?!!! gue mau ngambil hati ibuk lo supaya, ngerestuin hubungan gue sama Nova!" Farid gemes.
"Ibu gue nggak butuh calon mantu yang suka carmuk!" kata Raksa.
"Gue bukan mau carmuk, anying!" Farid udah diubun-ubun. Emosinya hampir meledak.
"Ya itu! mau bawa makanan buat apa coba kalau bukan mau carmuk?"
"Itu adab bertamu, Raksa. Lo kayaknya harus belajar sama gue!"
"Salah! lo yang harus belajar sama gue karena gue lebih pro dari pada lo. Paling nggak image gue udah memijat calon mertua gue tanpa gue harus bawa ini itu yang kesannya nyogok!" ucap Raksa bangga.
"Berarti besok gue nggak usah bawa apa-apa?"
"Ya bawa lah! beliin makanan yang lagi Viral! pasti---"
"Ibuk lo suka?"
"Bukan! tapi Nova yang bakal girang!" sahut Raksa.
"Bawain aja buah! ibuk gue lagi ngurangin makan-makanan berminyak kecuali seblak viral punya Idolanya. Mamang Rafael!" kata Raksa yang pernah dapet laporan dari Nova.
"Oke, sip! udah ye! gue mau lanjut merem, masih ngantuk. Besok gue ada meeting!" Farid yang kemudian menutup teleponnya secara sepihak.
Sementara Raksa yang kopinya udah habis pun lanjut nyuci cangkir dan pergi ke kamar mandi sebelum dia periksa rumah, memastikan semuanya udah terkunci.
Pria itu lalu mematikan sebagian lampu dan masuk ke dalam kamar.
Dia melihat Kalin sedang tidur, dengan langkah perlahan Raksa masuk ke dalam selimut.
Srekkkk!!!
Namun dia begitu kaget, saat dengan secepat kilat Kalin memeluknya dengan sangat erat.
"Ngelindur nih bocah, tapi tunggu-tunggu!!!" Raksa menempelkan punggung tangannya di kening istrinya.
"Astagaaa!" pekiknya.
__ADS_1