Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Ketiduran


__ADS_3

Kalin menelepon ayahnya, dan kata ayah diki, Kalin akan di jemput seseorang yang bernama Michael. kalin nunggu tanpa ngomong dulu ke resepsionis.


dan nggak lama ada seseorang yang keluar dari lift dan bilang kalau dia Michael.


"Nona Kalin?"


"Iya?"


"Saya Michael, saya diperintahkan untuk menjemput anda!" kata orang itu.


"Baik!" kata Kalin.


"Mari saya tunjukkan dimana ruangannya..." ucap orang itu.


Michael membawa Kalin menuju ruangan milik Diki Cayapata.


Tok tok tok!


"Silakan," Michael membuka pintu dan mempersilakan Kalin buat masuk. Dia nggak menyangka kalau ini pertama kalinya dia datang ke kantor ayahnya yang dirintis beberapa tahun yang lalu, sebelum dia pergi ke sekolah di luar negeri.


"Masuk, sayang!" ucap ayah Diki.


Kalin menyalami ayahnya dulu lalu ayah Diki menyuruh anaknya untuk duduk.


"Begini, kalin. Rasanya ayah butuh bantuan kamu di perusahaan ayah. Kamu kan kebetulan udah  lulus, jadi udah bisalah bantuin ayah..." kata Ayah Diki.


"Iya, tapi kan.."


"Apa Raksa melarang?" tanya ayah.


"Bukan masalah melarang, tapi kan aku itu pengen kerja sama orang lain. Pengen dapet pengalaman,"


"Kalau ayah punya, kenapa kamu mesti kerja sama orang lain, kan? apalagi anak ayah cuma kamu, Kalin. Perusahaan ini juga ayahbsiapin buat kamu," kata ayah Diki.


Jujur aja, Kalin bingung. Dia pengen kerja, tapi nggak diperusahaan keluarga juga.


"Kalau kamu pengen kerja, disini tempatnya...." lanjut ayah.


"Kamu nggak akan menyesal. Karema ayah langsung akan mengangkat kamu jadi direktur utama!" kata ayah Kalin.


Ya dari dulu memang Kalin itu anak baik, dia nurut banget sama orangtua. Jadi, sekarang dia bimbang buat harus gimana dia ngadepin ayahnya. Masalah jamu aja belum kelar, ini lagi ayahnya nyuruh dia kerja di perusahaan, kepala Kalin serasa cekot-cekot.

__ADS_1


Saat ini dia duduk di ruangan direktur utama.


"Huufhhh, kursinya aja empuk banget. Tapi iya gue yang baru aja menetas suruh duduk di kursi panas ini? oh ya, gimana mas Raksa? dia udah selesai interview belum ya?" Kalin bergumam, dia mengetukkan jari nya di atas meja.


Dia mengeluarkan hapenya, rasanya aneh mau menghubungi suaminya, mereka lagi nggak akur seperti biasa.


"Kayaknya gue emang kebangetan! nggak seharusnya gue marah sama Mamang!" Kalin menyaNdarkan bahunya di sandaran kursi, dia cosplay jadi bos sekarang.


"Tau sendiri ayah suka maksa , ck kalau kayak gini aku mau telfon aja rasanya nggak berani. Aku udah bentak-bentak semalem..." Kalin terus berpikir.


Sementara Raksa sudah selesai mengerjakan psikotest, dia lanjut interview, sampai akhirnya nggak kearasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Dia ngeluarin hapenya, dia chat Kalin buat nanyain urusannya udah kelar apa belum.


Tapi Kalin yang tadinya lagi duduk enak, saking enaknya dia ketiduran dan baru bangun setelah dapet chat WA Raksa sejam yang lalu.


"ASTAGAAAAAA?!!! GUE KETIDURAN!!!" Kalin yang sontak menegakkan duduknya dan pergi ke toilet yang ada disitu buat cuci muka.


"Gilaaaakkk, kenapa gue bisa-bisanya molor di jam kerja?" Kalin ngerasa badannya lagi eror, karena seumur-umur dia nggak pernah ngantukan kayak gini.


Kalin langsung jawab WA suaminya itu, dia bilng udah selesai. Tapi waktu sekarang udah menunjukkan pukul 1 siang, itu artinya Raksa udah diphp in sama dia selama satu jam.


Kalin terburu-buru keluar dari ruangan yang berada satu lantai dengan ruangan ayahnya, yang merupakan CEo dari perusahaan yang bergerak dibidang soft skill. Jadi perusahaan yang fokusnya pada kualitas sumber daya manusia, biar di dunia ini nggak ada manusia yang passion nya rebahan macam lo!


Kalin meluncur ke lobby, dan disana Raksa lagi duduk nunggu. Kalau lagi diem kayak gitu, tuh orang kegantengannya naik jadi beratus-ratus kali lipat, sampe nggak bisa kesebut nominalnya saking ganteng banget.


Raksa langsung bangkit, dia menjaga jarak dengan kalin, "Kita makan!" ucapnya  yang jalan duluan.


Kalin ngerasa ditinggal sama suaminya, dia berusaha mengejar Raksa dengan susah payah. Ternyata nih orang jalan menuju parkiran khusus tamu, dia nyodorin helm dan tanpa kata.Klain mau minta maaf, tapi sikonnya kayaknya kurang tepat, jadi dia pikir nanti aja lah sekalian makan jadi kan suasananya lebih enak gitu buat ngomong berdua.


Dulu Raksa suka makan siang di tempat makan yang menyediakan makanan yang berkuah dan panas, tapi berhubung ada tujuan lain, makanya Raksa memacu kendaraannya menuju sebuah mall.


"Katanya kita mau makan?" tanya Kalin, dia keder kenapa Raksa ngajak dia ke mall bukan ke restoran.


"Disini juga kan banyak makanan. Ini mall bukan hutan!" ucap Raksa, dia balik jadi ketus seperti dulu.


"Jutek amat!" keluh Kalin lirih melihat tuh orang minta helm Kalin buat disimpen lagi


"Tungguin dulu kenapa, sih?" Kalin menyamai langkah suaminya.


"Makanya pakek pakean itu yang jangan nyiksa sendiri!"


"Ya mana gue tau!"

__ADS_1


Raksa berhenti dan menoleh ke arah Kalin, "Denda urusan dapur!" ucapnya.


Ucapan Raksa bikin Kalin melongo, "Dapur?" gumamnya sembari mengikuti Raksa lagi.


Sampai akhirnya mereka duduk di sebuah restoran dan pesen makanan. Biasa lah ramen-ramenan, soalnya Raks alagi pengen nyeruput mie. Di luar panas, dia butuh sesuatu yang segar dan berkuah. Berhubung perut juga udah laper, Raksa nggak punya banyak waktu buat menjelajahi mall itu. APalagi setelah lebih dari 3 tahun dia nggak pernah kesitu, banyak perubahan tempat pastinya, jadi mereka duduk di restoran yang udah ada di depan mata yang kebetulan udah bersertifikat halal juga.


Maklum lama hidup di luar negeri, jadi disana Raksa selektif dalam memilih restoran mana yang muslim fiendly, salah satunya ya adanya sertifikat halal itu. Jadi kebiasaan nanya ini retoran halal apa nggak ya udah jadi kebiasaan Raksa yang belum bisa diubah. Meskipun pegawai ramen itu ya agak keder di tanyain begitu, secara ini Indonesia dan jarang orang yang menanyakan itu. Paling longak-longok aja dari luar sambil liat menu di luar. Sambil liat menu, sambil liat logo halal.


Raksa mengajak Kalin duduk di salah satu meja yang masih kosong, sembari menunggu pesanan mereka datang.


"Mas..." panggil Kalin, dia mengganggu Raksa yang lagi ngeliatin hapenya.


Raksa masukin hape dan ngeliat ke arah orang yang memanggilnya.


"Mas, aku minta maaf!"


"Kita udah sepakat kalau ada yang ngomong gue lo, urusan dapur tiga hari jadi hukuman!"


"Bukan soal itu tapi buat semalam. Aku tau aku salah, nggak seharusnya nadaku langsung tinggi kayak gitu..." kata Kalin.


Raksa diem, dia kasih Kalin kesempatan buat ngomong.


"Aku tau aku udah nggak sopan, dan menghargai Mas sebagai suami. Aku minta maaf, aku masih muda perlu banyak bimbingan..." lanjut Kalin.


Raksa kemudian meraih tangan Kalin, "Iya, aku maafin. Aku juga salah, aku main kasih CV kamu. Karena ya ayah nggak mau nunggu. Aku yang udah tau kamu nyimpen CV dimana ya udah kasih ayah lewat email. Aku juga salah..." kata Raksa.


Kalin sontak nangis.


"Loh kok nangis?" Raks apindah tempat duduk, dia menarik satu kursi di samping Kalin.


"Kita di mall bukan di rumah, aku nggak mungkin meluk kamu disini! ntar kita kena sidak," kata raksa yang menghapus lelehan air mata Kalin.


"Ya nggak apa-apa. disidak juga, hiks..." Kalin dengan air mata yang terus keluar.


"Udah dong, jangan nangis lagi. Aku minta maaf ya?" Raksa mengusap punggung tangan istrinya sambil terus mencoba menghentikan tangisan Kalin.


"Permisi..." ucap salah satu pelayan yang mulai menghidangkan makanan mereka.


Dan ketika semua tersaji di meja, raksa pun bilang, "Kita makan ya? aku udah laper banget!"


Kalin ngangguk, meskipun dengan hidung merah karena habis nangis, Kalin berusaha buat makan dan menyudahi tangisannya itu.

__ADS_1


dan dengan ekor matanya yang tajam, raksa merasakan kehadiran seseorang...


__ADS_2