Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Di depan Rumah


__ADS_3

"JANGAN NELPON-NELPONIN GUE LAGI. AWAAS LO YA?!" Karin ngebentak pacarnya, Reno yang udah nge-chat dan miskolin dia berkali-kali.


"Maafin gue, Lin. Lo harus denger dulu penjelasan gue---"


"Hussshh, nggak perlu. Gue nggak perlu itu! sekarang, jangan nelponin gue lagi. Karena mulai hari ini ---"


"Gue ada di depan rumah lo!" kali ini gantian Reno yang gantian nyerobot.


"Apa? di depan rumah gue? halaaaahh, nggak usah ngelindur! boong banget sih, lo!" Kalin nggak mudah percaya dengan ucapan Reno.


"I swear! kalau lo nggak percaya, buka jendela kamar lo dan liat ada gue disini yang nungguin lo udah lebih dari sejam yang lalu!" kata Reno.


"Cih, kalau mau ngebohong tuh---" ucapan Kalin terhenti saat ngeliat kalau beneran ada Reno yang berdiri di balik pagar yang untungnyannggak tembus pandang. Tapi Kalin yang keluar dari balkon pun bisa bgeliat tuh mankhluk yang bikin gedeg seharian ini bisa dengan nggak bersalahnya dadah-dadah ke arahnya.


"Gue pencet belnya ya," kata Reno.


"JANGAN, JANGAN! JANGAN PENCET APAPUN, NGERTI?"


"Gue cuma mau jelasin apa yang terjadi, Lin!" Reno maksa.


"Makanya gue mau datengin lo, gue seserius itu. Bahkan gue mau kalau misalnya gue harus ketemu sama bokap nyokap lo, Lin!"


"DIEM DISITU DAN JANGAAAAN BERGERAK SATU SENTI PUN! ATAU GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU KETEMU SAMA ELO LAGI!" Kalin mengancam.


"Oke, okee..."


Kalin yang tadi sempet kelyar ke balkom pun sekarang menutup pintu dan turun ke bawah dengan cara mengendap-endap.


"Mau kemana kamu, Kalin?" tanya bunda yang tiba-tiba nongol aja saat Kalin turun dari tangga.


"Mau ke depan, Bun..."


"Ke depan? mau apa?" tanya bunda.


"Mau liat ada tukang nasgor apa nggak. Soalnya mendadak Kalin pengen nasi goreng gerobakan gitu..." Kalin mencari alasan.


"Kalau pengen nasi goreng biar bunda buatin. Kamu itu mau ujian bulan depan, jangan sampai sakit gara-gara jajan sembarangan!" bunda ngelarang Kalin.


"Bunda mau buatin?" Kalin jadi mikir, alasab apalagi yang bisa digunain supaya dia bisa keluar.


Drrrttttt!


Drrrrrttt!


Ada panggilan masuk.


'Reno? astagaaa, nggak tau sikon banget, sih? !' Kalin kesel sendiri.


"Kenapa, Sayang?" tanya bunda.

__ADS_1


"Bentar, Bun! Kalin ke depan, mau ambil paketan. Ehm, biasa bun COD-an..." Kalin masukin hape ke dlaam sakunya.


"Kalin ke depan dulu ya, Bun..."


Baru juga bunda mau ngomong, Kalin udah ngibror duluan ke twras depan. Dia celingak-celinguk, takut ketauan ayah.


Sedangkan bunda cuma bisa angkat bahu sambil bergumam, "Sejak kapan Kalin suka COD-an?"


Balik sama Kalin, mukanya mendadak asem saat ngeliat Reno dadah-dadah sambil bilang 'hay' saat Kalin muncul dari balik gerbang.


"Ngapain, sih?" Kalin mendelik saat dengan nggak tau malunya Reno dateng ke rumahnya.


"Ngapel sekaligus ngejelasin kenapa gue nggak nepatin janji buat dateng nemuin lo tadi siang," ucap Reno dengan wajah memelasnya.


"Kayaknya gue nggak butuh penjelasan lo deh," Kalin buang muka.


"Gue tau gue salah. Gue minta maaf, gue nggak dateng bukan tanpa alasan, Lin---"


"Udah deh, mending lo pulang sekarang..." mata Kalin melirik kesana kemari.


"Gue itu---"


"Reno, lo dengerin gue nggak sih?! kita nggak bisa ketemu dan ngomong disini?!" serobot Kalin.


"Lagian gue masih kesel, mending lo pulang dan gue sa sekali nggak tertarik sama penjelasan lo!" ucap Kalin lagi sebelum dia melihat sebuah cahaya dari arah luar.


Matanya membulat, saat ngeliat mobil ayahnya kedengeran dari dalam, kayaknya mau ke luar lagi ayahnya, "Reno mending sekarang lo pulang! atau gue sama sekali nggak mau ketemu sama lo?!!"


"Nolongin apalagi? gue ini masih kesel.lo ya sama lo, Reno..." Kalin nggak habis pikir sama pacarnya ini.


"Ya udah gue mau disini aja. Lagian gue nggak takut kok kalau ketauan sama bokap atau nyokap lo. Malah gue akan memperkenalkan diri gue," ucap Reno dengan pedenya.


Kalin segera membekap mulut Reno, dan mendorongnya, "Jangan ngomong sembarangan!"


Reno melepaskan tangan Kalin, "Gue serius! lagian sampai kapan kita mau bakcstreet kayak gini?"


"Sampai waktunya tepat!" Kalin tegas.


"Sekarang lo pulang sekarang!"


"Nggak sebelum lo janji lo bakal bantuin gue!" Reno tetep mekso.


Suara meain mobil yang lagi dinyalain semakin nyaring, Kalin jadi cmtambah panik


"Ya udah iya! sekarang mending lo pulang!"


"Bener ya?" mata Reno berbinar.


"Iya tadi gue bilang iya ya iya! dah sana pulang!" Kalin ngusir, dia ngedorong Reno biar cepetan pergi.

__ADS_1


"Dan lo maafin gue, kan?"


"Kalau itu belum tentu!" Kalin sesekali.ngeliat ke belakang, dia deg-degan takut ketauan.


"Ya udah gue disini aja!"


"Nggak boleh


"Ya udah kalau gitu, gue disini aja!" Reno yang tadinya mau pergi mendadak nggak jadi dan itu sukses bikin Kalin tambah dongkol.


"Bandel banget sih jadi pacar! iya iya gue maafin!" Kalin makin dag dig dug saat mobil ayahnya udah mulai menyoroti pagar.


"Dah, dah sana pergi!"


"I love youuuuhhh!" kata Reno.


"You tooo," jawab Kalin yang ngibasin tangannya ngusir Reno.


Dia segera menggeser pagar, yang membatasi antara dirinya dan sebuah mobil yang lagi dinyalakan mesinnya.


"Loh Kalin? ayah kira tadi pak Abdulnyang di luar, makanya ayah sorotin lampunya!" ayah yang turun dari mobil dan berniat buat buka gerbang sendiri.


"Oh, pak Abdul? pak Abdul bukannya udah pulang kalau jam segini, Yah?" Kalin mencoba menetralkan suaranya, supaya nggak kayak orang yang lagi panik.


"Iya juga ya? terus? ngapain kamu dinmluar malam-malam begini?" ayah menatap Kalin.


"Aku, aku cuma abis COD-an..."


"COD? mana kurirnya?" ayah mencoba ngelongok ke luar pagar.


"Udah barusan aja pergi!" sahut Kalin cepat.


"Tapi? kok paket COD nya kamu ada?" ayah nunjuk tangan anaknya utu dengan dagunya.


"Oh, iya tadi. Kurirnya salah bawa, terus Kalin suruh tuker. Ya udah, Kalin masuk dulu ya, Yah?" Kalin yang udahastijn Reno udah out dari rumahnya pun segera masuk, ninggalin pagar yang dibiarin terbuka. Dia nggak sempet nanya ayahnya mau kemana jam segini. Pokoknya dia mau nyelametin diri dulu aja.


Brakkk!


Kalin nutup pintu depan kekencengan.


"Ya ampuiuun, Kalin! bikin bunda kaget aja!" kata bunda.


"Maaf, Bun nggak sengaja..."


"Tuh nasgornya udah jadi!" kata bunda yang kemudian balik ke kamarnya.


"Iya, Bun..."


Kalin lalu mengambil piring yang berisi makanan kesukaannya, dan nggak lupa buat nyangking sekalian botol minuman, lalu naik ke lantai atas.

__ADS_1


Brukkk!


Kalin menutup kamarmya perlahan, "Astagaaa, hampir aja!" Kalin menghela nafas lega. Dia menaruh piring di atas meja belajar, dan ngelempar hapenya ke atas ranjang.


__ADS_2