
Kalin yang dianterin pak Abdul pun nggak berani buat masuk ke dalam kantor Raksa, meskipun hanya duduk anteng di lobby. Dia udah kasih tau tunangannya itu kalau sekarang dia udah sampai di parkiran depan.
Rahmi dan Tania yang baru dari lobby ngeliat Raksa yang keluar dengan sedikit terburu-buru.
'Kemana dia?' batin Rahmi.
"Lo duluan aja!" Rahmi pada Tania yang udah paham.
Rahmi pun mengikuti Raksa yang berjalan keluar. Sampai akhirnya Raksa berhenti tepat di samping sebuah mobil.
"Kenapa nggak masuk?" tabya Raksa pada Kalin.
"Gue pake baju pendek, nggak enak..." kata Kalin.
"Ini dari bunda, katanya suruh dihabisin!" kata Kalin.
Namun setelah menerima rantang kotak dari Kalin, bukannya pergi Raksa malah buka pitru dan masuk ke dalam mobil yang bikin Kalin otomatis geser badannya ke samping, ngasih ruang pada tunangannya itu buat duduk.
Kalin jadi gugup sendiri, "Mamang, eh sayang kok nggak masuk lagi, ke kantor?"
"Kan lo yang bilang ngirimin gue makan siang? jadi kita cari tempat aja buat makan siang bareng," kata raksa.
"Pak? boleh sekalian anterin kita ke taman deket sini nggak?" tanya raksa.
"Siap, Mas?!!" pak Abdul bersemangat.
Niat Raksa buat mempererat hubungan batin antara dirinya dan Kalin emang nggak main-main. Karena makin kesini, dia sering denger ibu sama bapaknya ngomong-ngomong soal pernikahan. Kalau diliat-liat, kalau si Kalin kagak bandel, sebenernya anaknya ya mudah untuk dicintai karena wajahnya ya selain cantik juga bikin adem hati. Ditambah, Kalin ini selalu paralel 1 di sekolahnya, jadi menambah value yang ada dalam diri gadis itu.
"Disini aja, Mas?" tanya pak Abdul.
"Disini aja, Pak! oh ya, ini barangkali bapak mau cari kopi di sekitar sini," kata Raksa yangngasih pak Abdul selembar duit seratus ribuan. Kebetulan kalau Raksa sendiri tadi sempet minta mampir buat beli es cokelat. Kayaknya umur yang makin dewasa nggak menghentikan kesukaan pria itu buat minum es kesukaannya, apapun yang penting rasa coklat.
"Makasih, Mas?!" kata pak Abdul.
Raksa pun buka pintu dan ngajak Kalin buat keluar. Langit nggak secerah biasanya.
Wiiiiiiwww!!
__ADS_1
Angin berhembus, memainkan rambut Kalin yang dijepit setengah ke bagian belakang. Raksa menggandeng tangan itu sampai menemukan sebuah bangku kosong.
Raksa pun duduk diikuti Kalin, dia tau kalau sedari tadi dia diikuti tapi dia sengaja pura-pura nggak liat.
'Mau ngapain lagi sih lo, Mi? kita udah selesai, dan itu yang lo mau kan? kenapa sekarang lo seakan ngejar gue lagi?' batin raksa. Dia ngeliat rahmi dengan ekor matanya.
"Jadi? sebenernya lo atau bunda yang ngirimin gue makanan?" tanya Raksa yang ngeliat tampilan makanannya agak beda.
"Kenapa emang?" tanya Kalin.
"Ya nggak apa-apa, harusnya kan lo yang punya inisiatif bukannya bunda. Iya, kan?" Raksa menatap lawan bicaranya. Sedangkan Kalin yang sibuk mengatur ritme jantungnya pun hanya bisa senyum doang. karena dia mendadak nggak bisa ngomong di depan si Mamang, eh Sayang.
Raksa memejamkan matanya dan berdoa sebelum mengambil sendok.
"Tunggu dulu?!!" seru Kalin. Dia mengambil tisu basah antiseptik yang ada di tas kecilnya. Dia ambil kotak makanan yang ada di tangan raksa dan ditaruhnya di atas paha nya.
"Sebelum makan, bersihin tangan dulu," Kalin pun mengelap kedua telapak tangan tunangannya itu dengan wajah yang malu.
Sedangkan Rahmi yang ngeliat Raksa nyentuh kepala Kalin dengan salah satu tangannya pun ngerasa panas. Tangan yang biasa mengelus kepalanya, sekarang mengelus kepala perempuan yang lain. Mata yang biasanya memancarkan cinta, sekarang hanya tatapan datar yang dia dapatkan.
"Gue bakal bikin lo balik lagi sama gue, sa! gue yakin cinta lo cuma buat gue," kata Rahmi yang kemudian pergi.
Sementara raksa juga menyadari itu, dia ngelirik ke arah mantannya yang kini pergi menjauh. Kalin yang ngerasa Raksa lagi memperhatikan sesuatu pun ikutan ngeliat ke raha yang sama dengan Raksa.
'Siapa?' batin Kalin.
"Ehm, lo mau nggak? kayaknya nasinya cuma satu kotak dan kotak satunya isinya malah lauk," Raksa yang menunjukkan kotak makanannya.
"Gue udah makan di rumah, udah kenyang nyicipin malah!" kata Kalin.
'Semoga rasanya tertolong dengan micin segambreng!' batin Kalin lagi.
Kalin emang nggak bohong kok. Budna nya emang yang nyruh Kalin kirimin hasil belajar masak nya buat makan siang Raksa. Katanya jadi cewek itu harus bisa masak, nggak usah yang ribet. Cukup bisa dimakan dan rasanya nyaman dimulut. Meskipun udah tergolong telat belajarnya tapi itu lebih baik daripada nggak sama sekali. Ya yang namanya peraturan tiap rumah kan beda-beda ya.
"Kok agak beda ya?" ucap raksa yang jago icip di rumahnya. Dia ngerasa kalau masakan kali ini nggak ada mirip-mirip nya sama makanan yang waktu itu dimakannya bareng kalin.
Cewek yang cantik dengan rok selutut dan juga kaos pendek warna putih kesukaannya itu pun pura-pura nggak ngeh. Padahal dia tau semua keanehan di lidah Raksa melalui pancaran aura di jidat pria yang digadang-gadang jadi calon suaminya itu.
__ADS_1
Dududuudududu!
Kalin nyeruput minumannya saat ngeliat raksa yang sepertinya gaka kepedesan.
'Emang gue kasih cabe berapa sih? kayaknya nggak deh...." Kalin ngomong dalam hati sembari menikmati es yang dibeli oleh Raksa.
"Masakan bunda nggak enak, ya?" tanya kalin memberanikan diri.
"Enak, shhh ... tapi agak pedes di tenggorokan. Kenapa ya?" ucap Raksa.
"Nggak tau. Kalau pedes, jangan dimakan lagi..." kata Kalin.
Raksa menggeleng, "Kalau makan kalau bisa jangan disisain," kata Raksa yang keliatan berusaha dengan penuh perjuangan.
"Ya udah kalau gitu, semangat, ya?!" kata Kalin.
'Gue nggak tau gimana nasib gue, kalau si mamang tau, yang masak itu bukan bunda tapi gue..." Kalin ngeri sendiri ngebayangin bakalan di uwes-uwes dia sama Raksa.
"Kenapa lo kayak gitu? pengen pipis?" tanya Raksa saat ngeliat kalin yang bergidig.
"Nggak?! udah lanjutin aja makannya, tinggal dikit lagi tuh?!" Kalin nunjuk kotak makanan dengan dagunya, dia pun nyodorin minuman yang abis dia seruput.
Raksa pun menerimanya tanpa adanya kecurigaan dibalik sikap baik Kalin padanya saat itu, "Nah gitu, dong! itu namanya perhatian sama calon suami," kata Raksa setelah minum.
Akhirnya suapan terakhir pun masuk dan dia menutup kotak makanan yang bikin dia keringetan padahal langit mendung dan angin pun kayak bawa hawa mau hujan.
"Kayaknya kita harus pindah kalau nggak mau kehujanan?!!" kata Raksa.
Kalin [pun membereskan kotak makanan dan menata kembali supaya bisa ditenteng.
Namun apadaya...
BRRRRRRREES?!!
Hujan deras mengguyur mereka yang masih ada di bangku taman.
"Kita cari tempat berteduh?!!" ucap Raksa yang ngajak Kalin menyingkir dari sana
__ADS_1