
"Maaf, Om!" ucap Kalin yang ngerasa nggak enak banget sama Om bagus perkara Raksa yang posesif.
Melihat seseorang yang masih muda tapi dipanggil Om sama Kalin, Raksa ngerasa kalau nih orang bisa menjadi ancaman berat buatnya. Apalagi Kalin dengan nggak ada canggungnya buat cipika-cipiki dan terkesan sangat manja dengan si Om ini.
"Ini suami kamu, Kalin?" tanya Om Bagus.
"Iya, Om! Ini Raksa suami Kalin," ucap Kalin.
"Kenalin ini Om Bagus,adiknya Bunda..." ucap Kalin.
Raksa baru loading, "Oh ini Om?"
"Hahahhaah, ya ya ya. Kamu suaminya Kalin. Maaf ya? waktu itu acaranya mendadak, jadi saya nggak bisa datang! tapi saya sudah menyiapkan kado juga buat Kalian," kata Om Bagus.
Om Bagus mengeluarkan isi dari kantongnya, "Semoga ini nggak tertukar dengan punya kak Atha ya..." ucap Om Bagus.
Dia mengintip sedikit kotak kecil itu dan memberikannya pada Kalin, "Buat kamu, Kalin..." ucap Om Bagus yang kemudian diterima Kalin.
"Wah cantik banget, Om! makasih ya, Om?1" Kalin meluk Om nya lagi.
'Perasaan kalau gue masakin nggak pernah tuh dia inisiatif meluk gue gemes kayak gitu? masa pesona gue kalah sama OM ini?' Raksa dalam hatinya, ngeliat Om Bagus yang ganteng di usianya yang udah diperkirakan 35 tahun.
"Kamu lanjutkan makannya, Om mau ke sana. Mau ketemu nenek," ucap Om Bagus yang tampak ngeliatin sekitar.
"Mau Kalin anter, Om?" tanya Kalin.
"Nggak usah! kamu lanjutin makan aja. Om nanti nyari sendiri. Ayok duluan, Raksa..." ucap Om Bagus.
"MAri, OM!" ucap Raksa dengan senyuman menahan cemburu.
Kalin pun duduk lagi setelah Om Bagus pergi.
"Kok kamu nggak cerita kalau kamu punya Om?" tanya Raks ayang ikutan duduk.
"Bukannya semua orang punya Om? lagian aku juga nggak tau kamu punya Om berapa, tante berapa? iya kan?" ucap Kalin enteng.
"Iya, sih! tapi kan?!"
Kalin menyumpal mulut Raksa dengan makanan, biar nggak ngoceh mulu.
"Aku nggak suka ya sikap kamu kayak gitu sama Om aku. Dia itu Om Bagus, adeknya Bunda..." ucap Kalin.
__ADS_1
Sedangkan Raks aberusaha menghabiskan makanan di dalam mulutnya dan ketika dia akan menjawab ucapan Kalin mulutnya segera di sumpel makanan lagi.
"Aku kan jadi nggak enak! ngertinya Om ku itu suamiku kok nggak tau sopan santun sama orangtua!" mata istrinya melotot.
Kalin ngomel persis kayak bu Selvy kalau ngomelin anak-anaknya. Sedangkan dia sendiri mulai menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Siapa suruh kamu ngak ngenalin dulu, malah main cipika-cipiki begitu. Suami mana yang nggak cemburu?!!"
"Pasti kamu insecure, ya? Om Bagus emang ganteng banget sih, udah gitu baek lagi. Nggak ada tuh suka marah-marah, makanya awet muda!" sindir Kalin.
Raksa mau ngebales, tapi Kalin keburu melirik sinis, "Apa?"
"Nggak!" ucap Raksa memilih buat nggak nyautin lagi Kalin yang lagi ngomel.
Sementara di tempat lain, dengan nggak mengindahkan pakaiannya yang nggak matching sama tempat makannya, Nova begitu nggak sabaran saat dia mencoba cireng seblak. Pokoknya semenjak ada duta seblak Indonesia, Nova jadi ikutan juga tuh mencoba segala ragam makanan yang dikombinasi dengan bumbu seblak yang raos pisan!
"Silakan," ucap si pengantar makanan. Mereka duduk di salah satu bangku. Masih untung ini tempat pake ber-ac, jadi meskipun nanti akan makan makanan pedas, minimal mereka nggak sampe basah kuyup karena keringet yang keluar dari segala pori-pori yang ada.
Nova meniupkan semangkok cireng banjur kuah seblak dan ada lagi pangsit seblak yang dia pesan dengan level pedas paling tinggi.
"Ini nggak apa-apa?" tanya Farid.
"Kenapa apanya?' tanya Nova.
"Nggak apa-apa. Yang penting abang jangan ngomong-ngomong sama ibuk, ngerti?" ancam Nova. lalu dia menyeruput minumannya sebelum memakan habis apa yang dia pesan.
"Nggak, abang nggak ngomong asal lo mau maafin abang yang sudah merana dan kesepian ini," ucap Farid yang menarik mangkok yang ada di hadapan Nova.
"Maafin atau nggak ada seblak sama sekali!"
"Iya iya ih!" kata Nova.
"Iya apa?"
"Maafin! udah sini," Nova menarik lagi mangkok yang masih panas.
"Beneran ya?"
"Iya, bang iya!" kata Nova.
"Nah gitu dong! kan cantik jadinya," kata Farid.
__ADS_1
Meskpiun dalam hati Nova berkembang-kembang tapi dia masih menahan diri supaya nggak jejingkrakan di situ. Nova mulai menyendokkan seblak cireng yang begitu menyentuh lidahnya, begitu dia jatuh cinta sama nih seblak. Emang dunia perseblakan lagi viral banget, dan Nova salah satu orang yang nggak mau dibilang ketinggalan jaman. jadi dia pasti ngikutin apa yang lagi tren saat itu.
"Gimana? enak kan?" Farid takut kalau pilihannya ini salah.
Nova ngangguk, "Enak!"
Dan tanpa diduga ada seorang wanita yang berhenti saat melihat Farid.
"Farid? lagi sama siapa dia? kayaknya bukan Tania," gumam Siska. Dia yang udah selesai makan lalu pergi dengan rasa penasaran mengenai cewek yang bersama dengan mantan teman satu divisinya.
Farid sebenernya tau kalau tadi ada Sisk, tapi dia cari aman untuk nggak notice dengan nyapa atau pun membuat gerakan yang membuat Siska tau kalau Farid 'ngeh' dia ada disitu. Kan baru baikan sama Nova, masa iya dia nyapa cewek lain, bisa repot lagi urusannya.
Berpindah ke lain tempat, Kalin banyak ngobrol dengan Om Bagus. Raksa beneran ngrasa dicuekin. Raksa beberapa kali ngambil min, spai perutnya berasa kembung.
Om Bagus yang emang humble dan ramah dikerubungi banyak orang, termasuk tante Atha.
"Daripada kamu kembung minum terus, lebih baik kamu duduk sama saya di meja sana!" kata pak Galang.
Seperti dua orang yang senasib dan sepenanggungan, dua pria beda usia itu duduk sembari melihat si bintang utama yang tertawa dengan para wanita.
"Menurutku aku jauh lebih baik dari dia, bukan begitu?!" ucap pak Galang yang iri dengan Om Bagus.
"Nggak tau lah, Pak?! sepertinya pamor kita sedang meredup! bapak nggak usah cburu, kan itu adiknya tante Atha. Berarti dia adik ipar pak Galang juga," Raksa minum moctailnya lagi.
"Adik ipar sih adik ipar. Tapi aku jadi dicuekin begini lho," kata pak Galang.
Dalam hati Raksa, 'Gue tanya nggak ya? ah bodi amat lah!'
"Oh ya, ada hal yangau sya tanyakan, Pak!"
"Tanya saja, nggak usah segan! saya ini Om kamu sekarang!" kata pak Galang, matanya nggak berhenti mengawasi istrinya.
"Bagaimana dengan Tania? apa bapak sudah menyelesaikan hubungan kalian sebelum menikahi tante Atha? bagaimanapun Tania itu teman saya dan tante Atha itu tantenya istri saya. Saya nggak mau dua wanita ini akhirnya tersakiti..." kata Raksa.
"Tentu! tentu saya sudah menyelesaikan semuanya!" kata pak Galang, kurang meyakinkan.
"Kalau belum selesai, lebih baik selesaikan daripada ruwet nantinya, Pak! kalau di kantor bapak boleh lebih berpengalaman, tapi kalau soal mantan? saya lebih berpengalaman dari bapak!" Raksa mengingatkan.
"Lagipula, kira nggak pakai hati!" lanjutnya.
"Mungkin bapak tidak, tapi Tania? bisa saja dia menggunakan hatinya dan berharap lebih. Wanita kalau sudah sakit hati, lebih mengerikan daripada harimau yang sedang kelaparan!"
__ADS_1
"Sok tau kamu!" ucap pak Galang yang kemudian bangkit dan menghampiri istrinya.
"Dibilangin juga! awas aja kalau ruwet dan bikin repot gue sama Kalin!" gumam Raksa yang ikutan berdiri dan nyamperin Kalin.