
Karena udah dicari sama orang kantor, Raksa pun sedikit ragu buat ngelepas dua perempuan yang baru lulus ini.
"Kenapa, bang?" tanya Nova pada Raksa karena beberapa saat yang lalu abangnya ditelpon orang yang dia nggak tau itu siapa.
Selesai bayar, Raksa pun bilang sama adiknya, "Lo anterin Kalin sampai rumahnya. Jangan tinggalin di tengah jalan, ntar kayak waktu itu lagi pake acara ilang segala, gue lagi nanti yang puyeng!"
Sementara Kalin merasa tersindir dengan ucapan Raksa tadi, "Itu kan udah lewat, masih aja diungkit!" gumamnya kesal.
"Udah pada kenyang, kan? jadi sekarang waktunya kalian berdua pulang, lanjut bobok siang!" kata Raksa, dia masukin dompet ke saku celana bagian belakang.
"iya iya khawatir banget! ntar gue anterin Kalin sampai ke rumah kalau perlu gue pastiin ini bocah masuk ke kamarnya!"
"Yeuuh ngatain gue bocah, lebih bocahan juga lo, Nov! gue lebih tua sebulan ya dari lo!" Kalin dengan satu sudut bibir ditarik ke atas.
"Ya udah, abang lanjut kerja dulu! tunggu apa lagi? ayo pulang?!" Raksa menyuruh kedua gadis itu keluar dan naik motornya masing-masing, kecuali Kalin. Dia ngebonceng Nova.
"Duluan, Bang!" Nova nyalain mesin dan gas ngueng meninggalkan resto.
Udah ditinggal Nova, Raksa pun pergi menuju kantornya lagi lagian emang udah melebihi jam makan siang juga. Ya bener, samapai di kantor dia langsung dipanggil buat rapat intern antar kepala divisi. Raksa yang baru juga nempatin jabatannya baru bebepa jam yang lalu pun ngikutin rapat itu tanpa adanya sanggahan yang berarti. Ikutin alur dulu aja.
Raksa baru tau kenapa, perusahaan kayaknya goyah banget berasa mau roboh gitu. Ternyata usut punya usut perusahaan mengalami kerugian karena ditipu karyawan sendiri yang memanipulasi data keuangan kantor. Untungnya orang itu udah ditangkep dan udah dikasuskan juga. Makanya untuk bertahan, perusahaan harus mengeluarkan setengah dari karyawan yang mereka miliki. Kalau bagian produksi nggak mungkin, jadi yang bisa di cut ya para staff biasa yang kinerjanya kurang.
Tanpa Raksa sadari ada rasa bangga menjadi salah satu orang terpilih buat ikut andil merombak sistem yang ada di perusahaan itu. Dalam hatinya juga bangga karena sekarang dia bisa sederet duduk sama pak Tomi, power mereka sekarang sama.
Kelar rapat, semua orang keluar termasuk juga dengan Raksa.
"Astaga, kemarin juga udah buang karyawan, masa iya sekarang harus nge-cut lagi?!! lama-lama abis nih orang dibuangin!" gumam pak Tomi dengan wajha yang udah stress parah.
Keliatan beberapa orang keluar dengan muka yang tegang. Ya mungkin takut juga posisi mereka terancam dengan kondisi yang seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Pak tomi..." sapa Raksa yang kebetulan jalan beriringan dengan mantan atasannya itu.
"Eh, Raksa?"
"Ehm, bisa ngobrol sebentar, Pak?!!" ucap Raksa.
Pak Tomi ngangguk, mereka pun keluar lebih tepatnya ke rooftop. Ada taman disana buat duduk-duduk, ya lumayan buat ngilangin penat kalau suntuk ngadepin kerjaan.
"Bagaimana perasaan kamu menempati posisi yang baru?" tanya pak Tomi.
"Biasa aja, Pak. Nggak gimana-gimana juga..." sahut Raksa.
"Semakin tinggi gedung, semakin besar angin yang bisa kamu rasakan..." pak Tomi ngeliat ke arah langit.
"Tapi berdiri di tempat yang tinggi, kepalamu akan otomatis ngeliat ke atas terus. Karena kalau ngeliat ke bawah pasti ngeri. jadi jangan heran kalau akan timbul ambisi untuk terus naik ke atas, itu hal yang lumrah. Apalagi anak muda kayak kamu, ambisinya pasti akan berapi-api..." lanjut pria yang galak tapi ternyata punya sisi kebapak-an. Raksa berasa lagi diceramahin sama bapaknya sendiri.
"Sebenernya perusahaan lagi kenapa sih, Pak? kenapa baru menyadari setelah kecolongan segitu banyaknya?" Raksa nanya serius.
"Kalau sudah begini, yang kasihan karyawan kelas bawah. Dipecat tanpa sebab! mereka yang kerja nggak sedikit yang jadi tulang punggung keluarga, bisa dibayangkan gimana terkoyaknya hati mereka. Pulang dengan membawa surat pemecatan dan pesangon yang nggak seberapa!" lanjutnya.
Raksa baru kali ini bicara secara mendalam dengan pria yang jauh di atasnya. Raksa cuma taunya pak Tomi itu bos yang suka ngider ngecek kerjaan staff sekaligus marah-marah kalau ada yang ketauan lagi ngegosip ria, ternyata dibalik sifatnya yang suka nyuruh dan ngomel itu, ada satu perhatian mengenai kesejahteraan orang yang sama sekali nggak dia kenal.
"Nanti kamu bakal merasakan jika berada di posisi saya sekarang. Di tempat yang menentukan siapa yang harus dibuang siapa yang harus bertahan. Kalau bukan perintah dari atas, saya juga nggak mau mutusin rezeki orang, takut kena karma!" pak Tomi sambil mengantongi tangannya di saku jasnya.
"Lah bapak suka kasih saya surat peringatan, bapak nggak takut kena karma?!"
"Itu karena kamu yang males-malesan! saya kasih SP itu supaya kamu berubah, bukannya mau mecat kamu! karena kalau boleh dibandingkan, pekerjaanmu lebih rapi daripada yang lainnya," kata pak Tomi dengan muka yang berubah menjadi menyebalkan.
"Makanya saya nggak mau kalau kamu akan menjadi target pemecatan berikutnya," jawaban pak Tomi bikin Raksa kaget.
__ADS_1
Ternyata sebegitu potensialnya dia, makanya pak Tomi berusaha mempertahankan Raksa padahal waktu itu dia absennya ancur-ancuran.
"Terus? tadi kemana saja kamu? saya dengar kamu nggak ada di kantor?"
"Oh itu? saya ada urusan mendadak!" Raksa beralasan.
"Bekerjalah dengan baik, kalau kamu nggak pengen posisimu digeser orang lain! saya duluan," pak Tomi pun meninggalkan Raksa di rooftop sendiri.
Sementara Raksa ngerasa kalau ya udahlah dia nggak peduli buat siapapun yang merekomendasikan dia buat naik di jabatannya saat ini. Suatu saat nanti dia pasti bakal tau, cepat atau lambat. Dan semoga itu karena prestasi kerjanya bukan karena jalur orang dalam.
Disisi lain, ada seorang anak yang ragu buat masuk ke dalam rumahnya sendiri.
'Ayah udah pulang belum, yah?' batin Reno perlahan masuk ke dalam pelataran rumahnya dengan motor yang sengaja dimatikan dan dituntun.
Biasanya dia akan cuek masuk ke dalam bahkan tanpa mengucapkan salam. Tapi kali ini beda, Reno hampir nggak kuasa buat pulang ke rumahnya sendiri. Dilihatnya nggak ada motor yang biasa ayahnya pakai.
Ceklek!
Tiba-tiba seseorang membuka pintu dari dalam dengan wajah yang cemas.
"Ibu?" gumam Reno.
"Reno? akhirnya kamu pulang juga!" Ibunya dengan langkah tergesa-gesa mendekati anaknya.
"Reno tolong jaga Nadila! ibu mau ke kantor ayah, katanya ayah pingsan saat sampai di kantornya. Tolong bantu ibu jaga Nadila, ya?" Ibu Rini memegangbtangan anaknya.
Reno pun mengikuti ibunya buat masuk ke dalam rumah. Ibunya ternyata masuk hanya untuk mengambil tas yang ketinggalan.
"Nad ikut, Buuuk?!" rengek Nadila.
__ADS_1
"Jangan, kamu di rumah saja dengan bang Reno. Ibu cuma sebentar, pulangnya ibu belikan es krim," kata bu Rini.
"Ibu pergi dulu, Reno..." bu Rini pergi dengan berjalan kaki sampai ke depan rumah sebelum tukang ojek menjemputnya dan segera membawa ibunya ke tempat tujuan.