Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Jangan Khawatir


__ADS_3

Raksa bukan nggak tau kalau tatapan laki-laki tadi mengandung sesuatu, karena caranya melihat kalin jelas berbeda. Namun dia nggak mau merusak moment baikan yang lagi enak-enaknya. Mesra dan nggak ada masalah lagi, hidup berasa tenang dan nyaman.


"Kenapa?" tanya Kalin saat mereka sudah sampai rumah.


"Nggak ada apa-apa..."


"Tadi temen gue, satu kelas. Tapi nggak akrab kok," kata Kalin seolah bisa membaca perasaan cemas Raksa.


Raksa yang bantuin Kalin buat nata be;lanjaan mereka pun seketika berhenti.


"Nggak akrab tapi minjem catetan?"


"Ya cuma minjem doang. Mungkin karena emang nggak ada lagi yang bisa dimintain tolong, tau sendiri kan tiap orang punya kepelitan sendiri-sendiri terutama soal buku dan lainnya. Adaorang yang tipenya nggak mau disaingin juga kan?"


"Terus lo?"


"Kalau gue, gue nggak taut persaingan sih. Gue selama ini woles-woles aja. Di Sekolah banyak yang bilang kalau Radit saingan sama gue buat menempati peringkat teratas, tapi gue sama sekali nggak pernah berambisi buat ngalahin dia atau gimana. Gue ngalir aja orangnya, apalagi kelas gue nggak boleh ada yang pelit, soalnya bisa disumpahin kuburannya sempit!" jelas Kalin.


Tangan Raksa dilipat di depan dadanya sambil melihat si bocil yang lagi ngoceh.


"Masih percaya kutukan receh kayak gitu, Cil?" tanya Raksa.


"Percaya nggak percaya, cuma kalau gue pelit kasian sama Nova. Ntar dia nggak dapet contekan, hahah" Kalin tertawa saat mengingat Nova yang bakalan stress banget kalau menjelang ujian.


"Hahahah, iya juga ya?" Raksa manggut-manggut, dia jadi kangen sama adeknya yang otaknya pas-pas an itu.


"Nah kalau gue cuma kasih contekan sama Nova? yang lain bakalan iri, jadi ya udahlah buat gue nilah nggak jadi tolak ukur yang absolut buat mencapai kesuksesan, ada faktor lain selain itu..."


"Apa?" tanya Raksa, dia begitu memperhatikan Kalin berceloteh.


"Hemmm, apa ya? kalau kata ayah sih faktor keberuntungan, meskipun gue sendiri nggak percaya itu. Yang gue percayai, yang namanya hasil nggak akan menghianati usaha. Semua kerja keras gue, bakal gue petik hasilnya nanti, ketika semua itu udah waktunya gue dapetin..." kata Kalin.


"Ck ck ck, bocil gue udah dewasa ternyata," Raksa mengusek rambut Kalin.


"Ehm..." Kalin memandang suaminya yang kini memegang bungkusan kopi yang akan dia masukkan ke dalam wadah.


"Apa? lanjutin aja," ucap Raksa.


"Gue sempet ketemu Reno...."


"Disini? dia disini juga? atau satu kampus sama lo? tuh bocah nggak kapok juga ya? ngintilin lo kemana-mana!" Raksa seketika merepet.


"Bukan, bukan disini. Tapi waktu masih di Indo, waktu gue lagi makan di resto. Gue ketemu dia. Dia jadi pelayan disana,"


"Oh, masa sih? udah tobat tuh anak?"


"Mungkin udah!" ucap Kalin.


"Makanya dunia itu berputar, orang kayak Reno aja bisa berubah..."


"Apalagi aku yang emang suami kamu? aku bakal berubah demi hubungan kita," kata Raksa melanjutkan ucapan Kalin.

__ADS_1


Kalin yang mendengar kata 'Kamu' dari bibir Raksa, mendadak seneng. Ada gelenyar aneh saat melihat kedua pasang mata itu melihatnya dengan bertaburan lope-lope di sekitarnya.


Dia udah memberi ijin Kalin buat ikut summer camp, dan dia nggak bisa menarik hal itu. Dia takut Kalin bakalan ngambek dan mereka berantem lagi.


Malam ini mereka tidur berpelukan, ya hanya berpelukan dengan sesekali mengelus kepala istrinya itu.


'Feeling gue nggak enak, tapi gue bisa apa? ngebuntutin mereka nggak mungkin! gue minggu ini niatnya mau cari kerjaan sampingan lain,' batin Raksa.


Nggak mudah bagi seorang pendatang untuk bekerja seperti di negara sendiri, yang Raksa bisa lakukan hanya mencari pekerjaan yang bisa dikerjakannya sembari menjaga sang istri. tanggung jawab utamanaya adalah Kalin.


'Jangan khawatir, Raksa! Kalin nggak akan kenapa-napa, lo harus percaya sama dia, kasih dia kepercayaan. jangan rusak hubungan ini dengan pertengkaran-pertengkaran kecil yang rutin!' batin raksa. Dia mengecup kepala Kalin, dan sekarang dia ikut memejamkan matanya 


Hari yang dinanti pun tiba.


kalin sudah bersiap sedari subuh. Dia mempersiapkan barang-barang yang dia gendong dalam satu tas besar.


"Udah bawa selimut? tanya raksa.


"Udah kayaknya!"


"Topi? syall??"


"Udaaaahh," jawab Kalin panjang.


"Suami kamu?"


"Ehm?" Kalin naikin alisnya. Dia lagi di meja makan, lagi nyiapin roti buat Raksa.


"Eh!" Kalin memekik saat tangan Raksa menyentuhnya.


Seketika Raksa membalikkan badan kalin dan mengangkat badan ditu supaya duduk di meja saji. Dia mengambil  roti dari tangan Kalin.


"Lo kan mau berangkat, biar gue aja yang nyiapin ini! ntar lo capek!" kata Raksa yang kini mengoles roti dengan butter.


Raksa mematikan alat pemanggang roti.


"Pagi ini gue nggak mau roti panggang soalnya..." ucapnya.


"Mau makan nasi? tapi kita kan belum masak," kata Kalin.


"Gue bilang gue nggak mau makan roti panggang, gue makan roti kayak gini aja!" Dia melipat roti gandum itu.


"Nggak ada rasa lah!" kata Kalin yang ngeliat roti yang dilapisi hanya dengan butter.


"Pakai selai cokelat juga lah, tapi langsung dari sini!" Raksa menunjuk bibir Kalin.


Dengan satu tangannya mengoles selai cokelat ke bibir istrinya, dan dia makan selai itu dari sana. Kalin hanya bisa terpaku, dan nggak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengimbangi apa yang Raksa lakukan.


Sampai akhirnya kegiatan mereka terhenti saat ada telepon masuk dari Nova di hape Raksa.


"Aiishh, ganggu aja nih bocah!" Raksa kesal saat kegiatannya terganggu karena telpon dari Nova.

__ADS_1


Sedangkan Kalin yang mau turun, dicegah oleh Raksa, "Udah diem disitu aja!" ucap Raksa.


"Haaaiiii, abang?!!" sapa Nova di panggilan video.


"Ya? ada apaan?" tanya Raksa.


"Yeee, ketus amat sih jadi orang?!!!" Nova kesel.


"Kalin mana, Bang?" tanya Nova.


"Lo mau nelpon abang apa Kalin sih?" tanya Raksa.


"Ya dua-dua nya lah," kata Nova.


"Nih, orangnya ada di samping gue?!" Raksa mengarahkan kamera pada kalin.


"Kok lo lebih tinggi dari abang gue? kok abang gue mendadak pendek begitu?" tanya Nova yang menyadari perbedaan tinggi yang signifikan.


Raksa menjauhkan tangannya, supaya kamera bisa memuat gambar lebih luas.


"Ngapain lo nangkring di meja? kayak burung tetangga gue aja lo?!"


"Burung tetangga? lo liat burung tetangga?" Raksa mendelik.


"Ya iya! Si pinkan kan suka terbang-terbang gitu! kata si Sesil, burung bapaknya yang warnanya putih itu suka nangkring di meja kompor!" kata Nova polos.


Sedangkan Raksa tepok jidatnya.


"Jadi yang lo maksud burung beneran?" tanya raksa.


"Ya iyalah burung beneran? masa iya burung setan?" Nova jadi ikutan kesel dengan pertanyaan abangnya.


"Oke, jadi kenapa lo sampe vidio call? mau apaan?"


"Gue kangen lah! emang harus ada apa-apaan gitu buat nelpon?" Nova dengan satu sudut naik ke atas.


"Lo mau pergi kemana, Lin? rapi banget!" lanjutnya.


"Mau summer camp gue!"


"Summer camp? waduuuh! enak dong! bang Raksa ditinggal?"


"Iya lah ditinggal. Kan ini acara kelas, nov. Masa iya gue bawa OM-Om?" ucap Kalin yang sengaja ngeledek suaminya.


"Waduuuhhhh!!! seru banget dong?! mana nggak ada yang ngawasin! jangan lupa kalau ada temen lo bule yang ganteng, kenalin gue. Ntar kita video callan pas lo ada disana!" kata Nova.


"Nggak boleh! ntar yang ada dia ngira kalau Kalin yang lagi pedekate lagi! nggak, nggak! nggak boleh! dah sana kuliah aja yang bener jangan mikirin pacaran!" kata Raksa sedangkan bibir Nova mleyat-mleyot niruin abangnya ngomong.


"Gue tutup dulu ya, Nov?" ucap kalin.


"Eh, tunggu? kenapa bibir lo jontoran? abis keantub tawon lo?" tanya Nova yang bikin Raksa seketika gugup.

__ADS_1


"diantub tawon? mana ada disini tawon? udah dulu ya? abang mau nganter Kalin nih? daaah, byeee?!!" Raksa segera menutup panggilan itu.


__ADS_2