
Rahmi nggak ngajak Kalin kemana-mana, dia hanya menyuruh anak itu untuk duduk di salah satu bangku di kantin. Kalau ada yang memergokinya, dia bisa beralasan kalau si bocah ini sedang sakit dan hampir pingsan. Beruntung dia menemukannya, dan hanya membantunya untuk minum supaya ada tenaga. Ya begitulah, alasan yang udah Rahmi susun di dalam otaknya.
"Jus melon dua," ucap Rahmi yang menunjukkan jarinya pada seseorang.
"Mau ngapain? mau ngomong apa?" kalin bertanya dengan tatapan seriusnya.
"Wow? lo orangnya to the point juga, ya? mending kita nungguin minuman lo dateng dulu, soalnya gue takut lo nanti pingsan karena shock melihat apa yang akan gue tunjukkan!" ucap Rahmi dengan raut wajah seperti malaikat.
"Gue kebetulan nggak suka terima minuman dari orang yang nggak gue kenal. So? lo mau ngomong apa cepetan karena gue nggak punya banyak waktu," tegas Kalin.
"Oke," ucap Rahmi santai.
Dia pun membuka hapenya dan memperlihatkan sesuatu pada Kalin.
"Gue rasa lo menjadi penghalang buat gue dan Raksa bersatu," ucapnya saat mata bening kalin melihat dimana Rahmi membelai lembut wajah suaminya.
Dia ingat betul soal ruangan serba kaca yang raksa tempati sekarang karena dia naik jabatan. Dan kalau vidio itu diambil di ruangan itu berarti kejadian itu nggak lama. Hati Kalin hancur saat melihat orang yang dia cintai dicium oleh orang lain, apalagi terlihat pria itu nggak ada tanda-tanda menolak.
Rahmi sengaja memotong bagian saat Raksa melepaskan diri darinya dan pergi dari ruangan itu.
'Ayo dong nangis!' batin Rahmi mengharapkan kehancuran Kalin.
Namun seketika wajah Kalin yang awalnya kaget, mendadak tenang kembali.
"Jadi ini yang mau lo tunjukin sama gue?" tanya Kalin tegar.
"Atau lo mau lebih dari ini? gue nggak mau ngerusak mental lo!" Rahmi membual.
"Oke, terus? apa yang lo mau dari gue?" tanya Kalin.
"Lo tinggalin Raksa. Lo nggak akan bahagia bersama orang yang masih mencintai masa lalunya, gue sama Raksa udah balikan. Jadi saatnya lo pergi, gue yakin di luar sana lo bis adapet orang yang lebih baik dari raksa, yang seumuran sama lo..." ucap rahmi.
"Kenapa nggak lo aja?" tanya Kalin.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Maksud gue, ya lo aja yang pergi. Karena gue sama Raksa---"
"Maksud gue, gue sama mas Raksa udah dijodohin, dan mas Raksa setuju dengan itu..." lanjut kalin, dia hampir saja nggak bisa menguasai emosinya.
"Tapi kehadiran lo memperkeruh suasana! gue sama Raksa nggak bisa bersatu selama ada lo!" kata Rahmi gregetan, ternyata menggertak bocah ini nggak semudah yang dia kira.
"Kok jadi gue yang repot? kalau mas Raksa cinta sama lo ya udah, dia bakal perjuangin lo. Tapi kalau nggak? berarti cintanya nggak cukup kuat buat lo!" kalin nggak mau berlama-lama berurusan dengan orang satu ini.
"Gue mau pulang, gue ada urusan lain!" ucap kalin yang menyambar tas nya dan pergi meninggalkan Rahmi yang bahkan suara teriakannya dicuekin Kalin.
"Heyyy?!!" seru Rahmi.
"Jus melonnya, Mbak?!" ucap seorang wanita dengan nampan di tangannya.
Meskipun di depan wanita itu Kalin begitu berani dan tegar, nyatanya apa yang dilihatnya sungguh menyakitkan. Dengan langkah terburu-buru, kalin berjalan ke luar menuju lobby. Dia menghapus air matanya yang sempat meluncur bebas ke pipinya. Dan Raksa yang tadi dapat telepon kalau ada seseorang yang mencarinya pun sekilas melihat bayangan kalin di kantornya, namun ketika dia memanggil nama Kaliin. Gadis itu keburu pergi.
"Dipanggil kok malah pergi, sih?" gumama Raksa.
namun tiba-tiba Farid meneleponnya.
"Woy?!! ada yang kurang nih? ke atas lagi dong, lengkapin dulu datanya!" suruh Farid yang pusing dengan kerjaan yang menumpuk.
"Mungkin gue salah liat orang. Nggak mungkin juga Kalin kesini," gumam Raksa yang mengantongi lagi hapenya.
Namun akrena merasa sangat penasaran, Raksa pun mendatangi satpam.
"Tadi ada tamu yang mencari saya?" tanya Raksa.
"Oh iya ada, Pak! tunangan bapak, tapi sepertinya tadi keluar lagi, saya tadi tanya tapi didak dihiraukan..."
Drrrtttt!
Hapenya berdering lagi.
"cepetan bro kesini! katanya sebentar? ini gue tungguin kok nggak nongol juga?" Farid merepet.
__ADS_1
"Iya gue l;agi otewe ke sana! sabar dulu napa, Rid!" Raksa pun menutup panggilannya sepihak.
Sementara Raksa kembali ke ruangan Farid, Kalin menaiki sebuah taksi yang dia stop di pinggir jalan dan pergi tanpa tujuan.
"Hiks..." air matanya keluar begitu saja.
Sekarang sudah terlanjur, dia sudah menikah dengan Raksa. Dan apa yang dilihatnya tadi, membuatnya sangat kecewa dengan pria yang katanya mencintainya dan ingin mewujudkan impiannya.
Seperti yang dulu-dulu, Kalin selalu membenamkan kesedihannya sendirian. Dia nggak mau kalau bunda atau ayahnya tau tentang hal ini.
"Gue kecewa sama lo!" ucap kalin dengan sesenggukan.
"Saya? saya salah apa, Mbak? ini rutenya ke mall, kan? atau saya salah denger?" tanya si supir taksi.
"Saya bukan ngomong sama mas nya!" kata Kalin yang masih nangis.
Gadis itu turun di tempat tujuannya, dia mau nonton bioskop sampai dia puas.Film apa aja ditonton demi menuntaskan perasaannya yang merana.
Di tengah film action dar dor dar dor, Kalin malah nangis, bikin orang yang disebelahnya ikutan mikir.
"Ini gue yang salah apa gimana, Yang? kok disebelah nangis?" tanya seorang cewekk yang ngeliat ke arah Kalin yang udah banjir air mata.
"Mungkin dia nggak tega ngeliat pemeran utamanya lagi perang kali, Yang!" sahut si cowokk yang masa bodo dengan orang lain. dia fokus dengan film yang sedang menjadi tontonannya.
kalin matanya melihat ke layar, dengan popcorn yang sesekali ia jejalkan ke dalam mulutnya, namun air matanya nggak kunjung mereda. Rasanya putaran adegan raksa dengan wanita itu terbayang-bayang di pikiran Kalin.
"J-jahat b-anget sih lo, Mang!" Kalin dengan sesenggukan.
Matanya sembab.
beberapa kali dia usap jejak air matanya, namun seakan hal itu menjadi sesuatu yang sia-sia, karena air matanya kembali turun dari pelupuk mata menuju pipi hingga dagunya.
"Emang pemeran utamanya namanya Tomang?" tanya si cewek yang duduk dis ebelah Kalin, dia nanya sama cowoknya.
"Jin kali, Tomang! udah deh, Yang! kalau kamu ngomong terus, aku jadi nggak konsen nih nontonnya!" ucap si cowok yang kemudian membawa si cewek ke dalam pelukannya, supaya nggak banyak ngurusin urusan orang.
__ADS_1
"Mau dia nangis, mau dia kayang, yang penting dia nggak ganggu acara nonton kita!" ucap si cowok yang sepertinya anak kuliahan.
Sedangkan kalin masih bertahan di tempat itu, rencananya dia mau nonton lagi film yang sama dua kali. Karena dia udah beli dua tiket buat duduk 4 jam kedepan di kursi itu juga.