
Entah angin apa yang membawa kedua makhluk yang selalu cakar-cakaran ini buat berhenti di satu titik yang sama, kedai seblak mercon.
Brukk!!
Raksa bertabrakan dengan sesosok cewek yang kebetulan baru turun dari ojek online.
"Aargh!" Raksa nengok saat badannya nyenggol seseorang.
"Ya ampuuuuuun! bisa nggak sih kalau jalan liat-liat dulu?" keluh si cewek.
"Gue udah liat. Mungkin lo yang nggak!" Raksa ngelepas jaket kulitnya, dia sampirin di tangannya.
"Astagaaa, kenapa juga gue harus ketemu kuyang yang satu ini!" gumam Raksa.
"Dikira gue nggak? gue juga empet kali ngeliat mukanya yang sinis itu!" Kalin balik bergumam, nyindir abang dari temennya.
Raksa nyuekin omongan bocah setan yang bikin dia ditilang dua kali dalam waktu yang berdekatan.
'Tempatnya rame itu berarti makanannya enak, nggak salah emang si Nova doyan makan di tempat ini!' batin Raksa.
Ngeliat tempat yang rame padahal bukan jam makan siang, Raksa dan Kalin masing-masing celingukan nyari bangku yang masing belum ada penghuni nya.
Dan...
Hap!
Kedua orang itu duduk di tempat yang sama. Mata mereka reflek membulat saat Raksa dan Kalin duduk berhadapan.
Ya, hanya ada satu bangku yang tersisa dan kini mereka memperebutkannya.
"Heh, bocah setan! sana cari tempat yang lain!" Raksa ngusir Kalin.
"Gue duluan, jadi Om aja yang pergi,"
"Sembarangan aja kalau ngomong. Kalau gue Om-om lo nggak akan mungkin berani ngaku kalau gue ayangnya lo!" Raksa naikin satu sudut bibirnya.
"Lagian lo kan punya utang sama gue yang belum dibayar, jangan bilang kalau nggak inget?!" lanjut Raksa.
"Ehmm," Kalin mencoba berpikir.
"Ehm, utang apa? nggak ada! gue nggak punya utang, kan lo sendiri yang bilang nggak ngutangin bocil?! hayoo?"
"Kapan? kapan gue bilang kayak gitu?!" Raksa menatap Kalin seratus kali lebih sinis.
Pria itu menumpangkan satu kakinya di atas kakinya yang lain, "Heh, gue nggak bilang utang lo lunas ya?! gue bilang lo bisa menggantinya bukan dengan uang! ngerti?"
"Dan sampai kapan pun gue akan menagih itu!" lanjut Raksa.
"Jangan kurang ajaar ya? nih, gue bayar----" ucapan Kalin berhenti saat nyadar kalau duit yang dia pegang sekarang nggak nyampe 400 ribu.
__ADS_1
"Kenapa? hem?" Raksa naikin satu sudut bibirnya.
"Intinya ntar gue bayar, sini no rekeningnya!"
"Mungkin duit belanjaan bisa lo ganti. Tapi job jadi pacar dadakan tanpa persetujuan gue itu yang nggak bisa lo bayar pakai duit!"
"Permisi, Mas, Mbaaak. Mau pesan apa?" tanya salah satu abang-abang.
Kalin mengok ke arah si abang seblak, "Saya---"
"Bang, ada bangku lain nggak? tolong dong nih bocah di kasih tempat duduk lain..." Raksa sambil nunjuk Kalin.
"Bangku lain?" si abang garuk-garuk kepalanya keder, "Kayaknya nggak ada, Mas. Udah penuh semua..."
"Masa nggak ada kursi atau bangku cadangan?"
"Dih si Om nggak denger? mereka nggak punya bangku lagi, jadi mending Om nya aja yang pindah. Ya kan, Bang?" Kalin minta dukungan si abang seblak.
"Astagaaa ini bocah!" gumam Raksa gregetan.
Kalin senyum seneng ngeliat kalau Raksa udaah kepancing emosi. Sedangkan Raksa yang ngeliat senyum di tengah raut wajah sedih Kalin pun terpaku sejenak, sebelum akhirnya dia gelengin kepala dan mencoba mempertahankan bangku itu.
"Nggak, nggak bisa! gue duluan yang disini. Kalau lo mau, lo aja yang pindah..."
"Jadi gimana ini? jadi pesen nggak?" tanya si abang pelayan yang dapat tatapan tajam dari Kalin dan juga Raksa.
Berhubung nggak ada yang mau ngalah buat pindah atau cari tempat lain, ya udah si abang seblak bawa dan naruh masing-masing pesanan dua orang itu di satu meja yang menjadi perebutan.
Sedangkan Raksa menatap Kalin dengan tatapan sinis, "Apa lo liat-liat?" ucap Raksa.
"Dih siapa juga yang mau liat!" sahut Kalin yang kini meniupkan sendok yang akan dia masukkan ke dalam mulutnya.
"Fiuh, fiuh..." satu sendok seblak dengan kuah panas masuk ke mulut Kalin lagi.
Raksa pun mengikuti, perutnya juga udah laper. Tapi baru juga satu suapan si seblak mendarat mulus di dalam mulutnya, Raksa ngerasain sensasi pedas yang kebangetan.
"Uhukkk!" Raksa terbatuk. mukanya merah, pengen minum.
Raksa yang minumannya belum dateng pun, tangannya terjulur buat ngambil gelas yang isinya es jeruk punya Kalin.
"Enak aja, ini punya gue!" Kalin mencoba mempertahankan gelas itu, dia menyedot minumannya lebih dulu.
"Uhukk! huuuwwhh haaahh," Raksa kepedesan, lidahnya seperti tersengat sesuatu yang nggak bisa dia tahan.
"Gue minta!" ucapnya lagi.
Kalin ngeliat muka Raksa yang udah merah ditambah mata yang berair pun akhirnya merelakan minumannya ubtuk ditenggak pria itu.
'Rasain! makanya jadi orang tuh ngalah sama cewek,' gumam Kalin.
__ADS_1
Raksa terus minum sampai bibirnya keliatan merah dan jontor, "Ya ampun, makanan macam apa kayak gini!" gumamnya.
"Kenapa, Mas?" tanya salah satu pelayan yang kebetulan denger ucapan Raksa.
"Ahh, sshhh ... mas bikin seblaknya kok pedes banget!" keluh Raksa.
"Pedes? levelnya sama semua kok mas, takarannya cabenya sama!"
"Tapi kok punya saya pedesnya nggak karuan?"
"Namanya seblak mercon ya rasanya gini. Kalau nggak mau pedes, ya jangan makan seblak ini, noh masak mie di rumah!" kata Kalin yang perutnya sudah teruji.
"Ini seblak cabenya 50 biji! kaau nggak kuat pedes, mending minggir cari tempat yang laen!" lanjut Kalin ngeliatin kuah merah yang udah nggak bisa dibayangin pedesnya kayak apa.
"Cabe 50 biji?" mata Raksa membulat. Dia minum lagi.
"Es jeruk, bawain saya dua gelas es jeruk lagi!" Raksa nunjuk gelas yang ada di tangannya.
Kalin yang ngeliat Raksa kelabakan kayak cacing kepanasan pun senyam-senyum.
"Nggak bener nih Nova! bisa-bisanya dia bilang seblak disini paling enak!" Raksa mengusap bibirnya dengan tisu, dia ngerasain kalau bibirnya kini tambah jontor.
Sedangkan Kalin santai aja makan, Raksa yang ngeliat itu bergidig ngeri, "Gilaaa, sakti juga nih cewek!"
"Es jeruknya, Mas!" si pelayan nyodorin es jeruk dua gelas.
"Nih, es jeruk lo gue ganti! kalau nggak kuat minum!" Raksa yang secara nggak langsung khawatir dengan keadaan lambung Kalin.
"Lo sering kesini sama adek gue? makan makanan kayak setan begini?" Raksa baru dua suap udah brenti. Dia mendung kelaparan daripada harus menanggung resiko sakit perut.
"Ya sering lah. Mulut kita udah kebal sama pedesnya!" Kalin dengan muka meremehkan.
Tapi sesaat dia keinget juga sama Reno, yang kepedesan juga saat dia ajak kesini. Wajah Kalin langsung suram, Raksa pun menyadari erubahan wajah itu.
"Inget ya? jangan ajak adek gue Nova jajan beginian! akhir-akhir ini dia sering sakit perut, gue nggak mau dia nggak bisa ikutbujian perkara bonjrot lagi perutnya!" Raksa mengultimatum Kalin.
"Buka gue yang ngajak, tapi dia sendiri yang suka makan disini, hiks..." Kalin nangis.
"Heh? Kalin! kok lo nangis sih? heh..." Raksa panik.
Beberapa pasang mata ngeliat ke arah bangku mereka, "Kalin! brenti nggak?"
"Hiksss, lo kalau kesel sama gue kesel aja. Tapi nggak usah nyangkut-nyangkutin sakitnya Nova sama gue, hiksss!" Kalin tambah meraung, air matanya terjun bebas membasahi pipinya.
"Shh, heh diem! Kalin!" Raksa naruh telunjuk di depan bibirnya.
Daripada jadi pusat perhatian, Raksa melambaikan tangan pada si abang dan membayar makanan mereka.
"Nih minum dulu! terus kita pergi! lo itu bikin gue jadi tersangka disini!" Raksa deketin gelas, nyuruh Kalin minum.
__ADS_1