Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Kinder Joy Gue?


__ADS_3

Raksa dan Kalin sampai di KUA dengan dokumen yang sudah lengkap. Mereka disana selain foto, juga dapet nasihat pra nikah tentang kehidupan berumah tangga.


Raksa yakin kalau Kalin mah tadi iya iya doang, paham atau nggak nya dia nggak jamin. Dan terakhir ada aja yang kepo perihal Kalin yang masih sangat muda, kenapa harus buru-buru nikah.


"Calon istri saya maunkuliah di luar negeri. Daripada nanti diaana kecantol bule, mending saya nikahin dulu. Gitu, Bu..." Raksa yang nggak biasanya suka ngejelasin hal-hal yang bersifat pribadi, kali ini mengambil alih buat menjawab pertanyaan ibu-ibu yang kepo dengan hubungan mereka berdua.


"Ohhh, gituuuu..."


"Bener juga sih, bule sekarang menghawatirkan! mana ganteng-ganteng lagi! udah bener tuh strategi mas nya, gercep!" ada ibuk lain yang memberi Raksa jempol.


"Kalau begitu, kami permisi, Bu ... Pak?!"


"Semoga samawa ya, Mas ... Mbak?" ucap ibu-ibu yang lain lagi.


"Amin, amiin! permisi," Raksa seketika menggandeng Kalin keluar.


"Sorry ya, Sa?! kebiasaan emak-emak suka pada kepo. Padahal udah gue jelasin, masiiih aja nanya sama elu" ucap Juli, orang kenalan Raksa yang kebetulan kerja di KUA. Bapaknya Juli dulu sering main ke rumah sebelum terpilih jadi pak Lurah.


"Iya Jul. Santai aja. Oh ya? besok pagi tolong pak penghulunya jangan telat ya!" kata Raksa.


"Siap! gue jamin beres!"


"Thank you, ya?!" Raksa menyalami Juli.


"Terima kasih mas, Juli!" ucap Kallin yang jugaenjabat tangan teman Raksa itu.


"Yuk, Jul? duluan?!" ucap Raksa swbwlum mengajak Kalin naik motor lagi.


Hap!


Kalin pun kembali duduk di belakang Raksa. Motor lakik yang bagian belakangnya kebanyakan menukik ini pun membuat Kalin otomatis berpegangan pada pinggang calon suaminya.


"Alhamdulillah urusan kita selesai!" ucap Raksa sembari menyalakan mesin motornya.


"Kita cari minum dulu, ya? lo pasti haus, kan?" lanjut pria itu.


"Banget! gue kayak lagi di gurun pasir!"


"Lebay! gurun pasir panasnya nggak segini, kali!" Raksa mencubit hidung Kalin , dia sengaja menjukurkan tangannya ke belakang. Gemas dengan hidung mancung itu.


"Astagaaa, tangannya tolong yaaaa?" Kalin mengusap hdiungnya yang merah.


"Nih rasain nih rasain!" Kalin gantian mencubit hidung mancung Raksa.

__ADS_1


"Awwww!"


"Makanya jangan rese! sakit, kan? enak, kan?" Kalin dengan bobir yang meledek.


'Astagaaa, pengantin bocil gueeee...' batin Raksa.


"Pegangan! kita pergi sekarang!" ucap pria itu sebelum menarik gas motornya.


Sebelum mengantar Kalin pulang, Raksa membelikannya minum es rasa-rasa yang ada popping bobanya.


Hari yang cukup terik, meskipun baru jam 10 pagi, tapi matahari seakan memancarkan aura panasnya melebihi dari hari biasanya. Membuat seruputan demi seruputan ea, membuat tenggorokannya mendapatkan kenyamanan yang bikin dia enggan untuk beranjak. Namun karena hari ini Raksa akan mengajukan surat pengunduran diri, makanya dia nggak bisa berlama-lama menikmati minuman itu berdua dengan Kalin.


"Mau langsung ke kantor?" tanya Kalin saat dia melepaskan helm dan menyerahkannya pada Raksa. Mereka sudah sampai di kediaman Kalin.


"Iya, kenapa? lo nggak rela kalau gue jauh dari lo? lo pasti masih kangen sama gue? iya, kan?"


"Cih, siapa juga yang kangen?! gue kan cuma tanya. Soalnya pintu gerbang mau gue tutup, sekarang lagi banyak orang iseng yang suka bikin konten ngerjain rumah orang!" kata Kalin beralasan.


"Dih bocil suka nggak ngaku?!"


"Dih, beneran?! gue tuh---"


"Iya iya, gue balik ke kantor ya? soalnya banyak yang harus gue kelarin hari ini," kata Raksa.


"Iyaaaaa...." sahut Kalin.


"Gue jalan dulu!"


Cup!


Raksa mencuri ciuman di pipi Kalin.


Dia memakai helmnya dan pergi meninggalkan Kalin yang masih terpaku di tempat.


"Ya ampuuun! suka banget bikin gue terkejut!" Kalin memegang dadanya yang deg-degan.


Bau parfum Raksa yang maskulin itu pun masih menempel jelas di bajunya, dan itu menjadi bau yang mulai Kalin sukai mulai hari ini.


Sementara Kalin masuk ke dalam rumahnya, Raksa memacu motornya menuju kantor.


Rasanya baru kemarin dia membawa kabar gembira sekaligus membingungkan, soal dia yang naik jabatan sebagai kepala divisi. Belum sebulan jabatan itu diemban, Eaksa sudah mengajuka pengunduran diri.


Raksa baru saja datang, dia langsung menuju ruangannya. Dan hal itu nggak lepas dari pantauan mata Rahmi.

__ADS_1


'Jam 11, dan baru dateng? darimana aja dia?' batin Rahmi saat melihat atasannya baru saja datang.


Sedangkan Raksa sendiri, dia duduk di kursinya mencoba mengatur nafas dan beradaptasi dengan dinginnya suhu pendingin ruangan.


Raksa mengambil beberapa helai tisu, tapi matanya terpaku pada sebuah bingkai foto.


"Kayaknya posisinya berubah?" gumam Raksa.


Dia menggeser bingkai foto itu seperti terakhir kali dia meletakkannya.


"Apakah ada yang menyentuhnya?"


Raksa mengelap wajahnya dengan beberapa helai tisu, wajahnya seketika dingin dan terasa sejuk kembali setelah beberapa saat terpapar sinar matahari dengan Kalin.


Dia lalu mencari sebuah benda yang diberikan Kalin padanya, "Kinder joy gue?"


Raksa mencari dimana benda berbentuk telur kenyal berwarna orange corak putih.


"Dimana kidner joy gue?" Raksa mencari di sekitar mejanya, tapi nggak ada.


Dia lalu melongok di bawah meja, barangkali benda itu nggak sengaja jatuh di bawah. Tapi yang dicarinya tetap nggak ketemu.


Pria itu sampai membuka jasnya, dia mencoba mencari ke segala sudut di ruangannya, "Gue inget banget. Itu barang gue taruh di atas meja. Nggak mungkin kan ngegelinding sampai ke bawah sini?"


Sedangkan Rahmi yang ngeliat Raksa belingsatan di ruangannya pun menarik lacinya.


"Apa mungkin dia mencari ini?" Mata Rahmi mengarah pada benda yang disukai anak kecil ketika ikut belanja di supermarket.


Sementara Raksa yang kelabakan mencari cokelat yang belum dibukanya, Rahmi malah diam dan melihat nanar ke arah Raksa.


"Gue mau kayak benda ini yang lo cari, Sa! harusnya lo jangan berhenti nyari gue, dan pertahanin gue," gumam Rahmi.


Raksa yang menyadari ruangannya terbuka karena tirai yang terangkat, akhirnya dia pun menutup ruangan tembus pandangnya itu dengan tirai. Sekali pencet, ruangan itu pun tertutup.


Raksa sudah mencari benda itu ke segala sudut, tapi karen nggak ketemu juga akhirnya pria itu duduk dengan pasrah.


"Apa dia jatuh dan nggak sengaja dibuang OB pas bersih-bersih kemarin?" Raksa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Raksa sudah mencari di belakang pot tumbuhan yang ada di salah satu pojok di ruangan itu. Rasanya lelah, dia ingin iatirahat sebentar.


Dia pun memikirkan hal lain.


"Apa gue ajuin resign setelah gue sah nikah sama Kalin? gue nggak mau siapapun curiga. Gue harua berhasil jadiin Kalin istri gue, baru gue bakal keluar dari perusahaan ini, meninggalkan impian yang pernah gue bangun dulu..." Raksa memejamkan matanya.

__ADS_1


Sekarang yang diinginkannya hanya Kalin, nggak ada yang lain.


__ADS_2