
"Basah?" tanya Raksa saat neduh di bawah pohon.
Kalin nepuk beberapa bagian badannya, bersihin air dari bajunya.
"Kayaknya kalau dibawah pohon begininya yang ada kita kesamber petir," Raksa liat kanan kini.
Hujan deras, nggak ada pilihan. Mereka harus menerjang hujaman air yang turun dari langit buat menjangkau mobil milik Kalin yang parkir agak jauh dari tempat awal mereka duduk santuy. Raksa menggenggam tangan Kalin dan ngajak dia lari lari. Beruntung pak Abdul stand by, jadi mereka bisa segera masuk ke dalam.
Brukkk!!
Raksa segera menutup pintu saat udah berhasil masuk ke dalam mobil bersama Kalin.
"Ya ampun Mas Raksa, Mbak Kalin?!! kalian hujan-hujanan?"
"Iya, Pak!" ucap kalin menggigil. Dia mengusap sisa air yang ada di wajahnya, begitu juga dengan Raksa.
"Pak, langsung jalan ke rumah saya! takutnya kalau ke rumahnya kejauhan, dia udah kedinginan!" ucap Raksa.
Pak Abdul pun menurut. Dia langsung tancap gas menuju lokasi yang udah ditentukan. Sementara Klain terus memeluk dirinya, dengan gigi yang gemertak.
Raksa menelpon adiknya. Dia sengaja pake loadspeaker, biar orang yang ada di mobil denger percakapannya.
"Halo? Nov? lo di rumah?" tanya Raksa tanpa basa-basi.
"Ya? kenapeee?"
"Nggak apa-apa! lo keluar ya? bawa payung?! jangan lupa siapin handuk yang gede! ada tuh di lemari abang. Tolong ambilin!" suruh Raksa.
"Oh ya, ibu ada di rumah juga?" Raksa sengaja nanya kayak gitu, supaya pak Abdul nggak berpikiran macam-macam, karena dia menyuruh nganter Kalin ke rumah nya.
"Ada,"
"Minta tolong juga bikinin teh panas! bentar lagi abang ke rumah!" suruh Raksa lagi.
"Iyaaaaaa," jawab Nova males-malesan.
"Thank you, Nov!" Raksa ;lalu menutup teleponnya.
"Dia taruh hape nya di jok, karena kantong celananya yang basah. Sama dengan Raksa, Kalin juga menyelamatkan tas nya. Sengaja dia pinggirin biar nggak kena badannya yang basah.
Tangan Raksa meraih satu tangan Kalin, dia berusaha menggosok-gosokkan telapak tangannya. berharap ada sedikit kehangatan yang bisa Kalin rasakan.
"Masih dingin?" tanya Raksa.
Kalin ngangguk.
Tangan Raksa pun diangkat satu, dia ngusap rambut Kalin yang basah.
"Bentar lagi nyampe!" kata Raksa yang sekarang gosokin kedua telapak tangan Kalin, mentransfer panas yang bisa dia berikan pada tunanagannya itu.
Begitu masuk area kompleks, Raksa nelpon adeknya lagi supaya cepetan keluar dengan bawa handuk. Mobil pun masuk dan parkir di depan rumah.
__ADS_1
Pria itu buka pintu dan manggil Nova, "Ada Kalin di dalem sini?!"
Nova pun berhambur ke mobil itu dengan membawa payung dan handuk.
"Ya ampun? kenapa lo basah kuyup?" tanya Nova. Dia mayungin temennya itu, sedangkan Raksa mengambil handuk di tangan Nova dan menutupi badan Kalin.
"Masuk ke dalem!" suruh Raksa yang kepalanya nggak kebagian payung.
Nova nutup payungnya saat udah sampai di teras, dia taruh benda itu di tempat payung yang ada di pojokan dekat pintu. Sedangkan Raksa menyuruh Kalin buat masuk ke dalam.
"Abang sama Kalin bisa ujan-ujanan kayak gini, sih?" tanya Nova.
"Tanya-tanya nya nanti aja, Nov?! sekarang bawa Kalin ke kamar kamu, kasian tuh udah kmengigil kayak gitu?!!" kata Raksa.
Sebelum naik tangga, mereka ketemu sama bu Selvy.
"Loh loh loh? Kalin? kok kamu basah kuyup begitu? kalian kehujanan?" tanya ibu dari raksa.
"Iya, tante..." ucap Kalin dengan menahan dingin.
"Pantesan Nova minta dibikin teh. Ya udah, kalian ke kamar aja. Nanti Tante bawakan teh nya..." suruh bu Selvy.
"Ke atas dulu, Tante..." ucap Kalin sopan.
Mereka bertiga pun naik ke lantai dua. Nova bawa Kalin ke dalam kamarnya sedangkan Raksa mausk ke kamarnya sendiri. Dia buka bajunya yang basah dan ngambil handuk. Sedangkan Nova nyuruh Kalin buat mandi aja, soalnya kalau nggak mandi malah nanti pusing. Kelar mandi, Kalin keluar dan masuk ke dalam kamar Nova dengan udah pakai baju Nova. Disana udah ada bu Selvy yang nungguin dengan secangkir teh.
"Sini sini, Sayang?!" bu Selvy nepuk pinggir ranjang Nova.
"Makasih, Tante..."
"Kamu habis jalan sama Raksa?" tanya bu Selvy.
Kalin ngangguk malu, dia mulai menyeruput minumannya.
"Minum yang banyak, biar anget badan!" kata bu Selvy.
"Kok abang ngajak lo ujan-ujanan sih? kena sawan film indiahe apa gimana tuh?" Nova giliran nanya.
"Tadi, ehm ... tadi tuh lagi makan siang di taman kota, terus tau-tau ujan!" Kalin ngejawab pertanyaan Nova.
"Bunda nyuruh buat nganterin makan siang buat mas Raksa..." lanjut kalin pada calon mertuanya.
"Ehmmmm, manggilnya aja udah mas?! bagus-bagus,tante seneng dengernya. Berarti kalian berdua udah sedeket itu?!" ucap bu Selvy, sedangkan Kalin udah malu nggak ketulungan.
'Astagaa, harusnya gue tadi manggilnya abang bukan mas!' Kalin dalam hatinya.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Masuk aja?!" seru Nova.
Ceklek!
Ternyata Raksa yang ada di depan pintu, dia udah rapi dengan setelan kerja yang udah diganti.
"Loh? mau berangkat lagi?" tanya bu Selvy.
"Iya lah, Bu. Kan masih jam kantor. Raksa pamit ya?" ucap Raksa, dia meraih tangan ibunya.
"Loh? nggak pamit sama Kalin?" bu Selvy gerakin dagunya, menunjuk Kalin yang duduk di sampingnya.
"Gue berangkat dulu," ucap Raksa pada kalin.
"Ciyeee yang pamit sama calon istri, ciyeee..." Nova ngledekin.
Sebelum Nova yang ngomongnya udah kemna-mana, Raksa pun berbalik menuju pintu, "Berangkat dulu!" seru raks ayang kemudian menutup pintu.
Baru kali ini dicengin tapi bikin Raksa malah seneng, nggak tau kenapa. Pria itu udah pesen taksi online, dan mobilnya udah nunggu di depan.
"Berangkat dulu pak Abdul," kata Raksa yang ngeliat pak Abdul ada di kursi teras depan dengan kopi yang masih ngeluarin asap.
"Mau saya antar, Mas?" tanya pria paruh baya itu.
"Nggak usah, Pak! saya udah pesen mobil. Saya balik ke kantor lagi, mari Pak Abdul...?" ucap Raksa sopan sebelum pergi menuju taksi online nya.
Raksa balik ke kantor, dia masuk ke kamar mandi setelah kalin. Dia cuma semenit dua menit basahin badan, dan cepetan ganti baju. Soalnya Farid udah nelponin mulu, katanya mereka ada meeting dadakan.
"Lo udah sampe mana?" tanya Farid.
"Ya, bentar lagi ini. Ujan, jadi nggak bisa ngebut?!" sahut Raksa di telepon.
"Cepetan?!! udah mau mulai! lo makan siang dimana sih? jam segini masih di luar aja?!" Farid sekedar nanya, dan nggak ngorek juga.
"Iyaaa, berisik lo. Ini juga gue lagi otewe!" kata Raksa sebelum dia menutup telponnya.
Raksa duduk tenang aja di mobil. Mau belingsatan juga nggak guna, kan bukan dia yang bawa mobil. Lagian di luar hujan deres banget, kalau ngebut-ngebut takutnya malah celaka.
Raksa segera bayar setelah sampai di kantor, "Makasih, ya?" ucap nya pada si driver.
Pria itu ngantongin hapenya lalu masuk ke dalam lobby, dia berjalan cepat menuju lift buat naik ke atas. Nggak lama, Raksa udah sampai di ruang meeting. Tumben-tumbenan meeting intern mendadak kayak gini, pikir Raksa.
Udah banyak orang yang ada di ruangan itu dan begitu Raksa duduk, meeting pun dimulai. Beberapa hal disampaikan, semua tentang evaluasi pekerjaan semua staff dibawah pimpinan pak Tomi.
Sampai akhinya pak Tomi bilang kalau, "Sayangnya mulai besok, satu orang team kita akan dipindak ke visisi operasional. Raksa!"
Semua orang pun ngeliat ke arah Raksa.
"Gue?" Raksa menunjuk dirinya sendiri, dia ngeliat ke arah Farid, sedangkan yang ditanya pun hanya angkat kedua bahunya nggak ngerti.
'Kenapa gue?' batin Raksa.
__ADS_1