
"Hah, apa? ikut? gue nggak salah denger ini?" Raksa sampe ngelepas helmnya, takut kuping agak-agak konslet.
"Lo liat kan, gue nggak bisa masuk! atau lo sebenernya sengaja mau bales dendam sama gue, terus dibikin sengaja gitu cari jalan mutar-muter katak tadi biar gue telat dan nggak bisa masuk sekolah?! ya ampun, jahat banget sih jadi orang!" Kalin nyerocos aja terus.
"Saking keselnya, Raksa sampe turun dari motornya, "Heh, udah ditolong bukannya terima kasih malah nuduh sembarangan!"
"Udah bagus gue tebengin!"
"Kalau gue nggak punya hati nurani, udah gue tinggalin lo di jalan!" lanjut Raksa, dia nggak terima dituduh yang macem-macem.
"Udah bagus gue anter noh nyampe gerbang sekolah lo! perkara lo nggak bisa masuk ya bukan salah gue, lah!" Raksa masiih aja nyerocos.
Sementara mata Kalin udah berkaca-kaca.
"Kenapaaa? mau nangis?" Raksa naruh satu tangannya dipinggang, dan matanya dibelo-beloin.
"Huaaaaaa...." tangis Kalin pun pecah saat itu juga.
"Heh, Kaliiin! diem!" Raksa menaruh jari di depan bibirnya. Giliran kalin nangis, raksa malah jadi panik. Padahal tadi dia cuma gertak sambel doang, biar kesannya dia ada wibawanya gitu di depan bocil yang satu ini.
"Huuuuuuaaa, hikkkss, hikssss..." Kalin masih aja nangis kejer. Sementara beberapa orang yang lalu lalang ngeliatin mereka berdua.
"Gue bilang diem, Kalin!" perintah Raksa, namun kalin nggak dengerin.
"Hummmpph!" Kalin dibekep sama Raksa.
.
.
.
"Raksa Kamaudin? sekarang kamu ada dimana?" suara pak Tomi yang terdengar alus tapi ada ketegasan disana. kayak macam orang marah tapi ditahan karena situasi tertentu.
"Saya...." Raksa melihat ke arah belakang, ngeliat bocah setan yang lagi makan ketoprak.
"Kamu ada dimana, Raksa? meeting sudah hampir dimulai, file presentasi kita ada sama kamu," pak Tomi kedengeran banget menekan suaranya supaya nggak ngebentak.
"Saya, ehm ... saya lagi momong bocah setan, pak..." Raksa nyeletuk.
"Momong?"
"Ehm, bukan. Maksud saya, saya hari ini ijin tidak berangkat, pak. saudara saya melahirkan dan saya diminta buat jagain bayinya. Karena takut ketuker sama bayi-bayi yang lain, maklum Pak sekarang kejahatan modelnya macem-macem. Kita sebagai keluarga---"
"Shuuuuttt! saya nggak peduli saudara kamu melahirkan atau kamu dinego jadi baby sitter dadakan. yang jelas saya butuh file penilaian kinerja yang saya minta kamu garap kemarin!" kata pak Tomi.
__ADS_1
"File? ada di komputer saya, pak. Minta tolong Farid atau siapa gitu, pak buat ngopy. Nanti saya kasih tau nama foldernya, atau---"
"Loh? kamu nyuruh saya?" serobot pak tomi nadanya udah mulai naik dikit.
"Maaf, pak---"
"Cepat kesini atau kamu saya bikinin SP dua? setelah itu kamu terserah mau ngejagain bayi saudara kamu atau bagaimana. Yang jelas kamu kesini sekarang juga! " pak Tomi nggak mau dibantah.
"Ya, Pak! siap laksanakan!"
Pak Tomi pun menutup teleponnya secara sepihak. Sedangkan Raksa cuma bisa berdecak kesal karena gara-gara angon bocah setan, dia terancam kena SP lagi.
Raksa ngantongin hapenya lagi, dia duduk di kursi plastik.
"Udah selese belom?" tanya Raksa yang ngeliat Kalin masih makan.
"Kenapa?" tanya Kalin yang masih makan lontong dan bihun yang dikasih saus kacang.
"Nggak apa-apa. Selesein dulu, gih..." ucap Raksa, dia buka botol air mineral dan meneguk minuman itu sampai setengah dan menutupnya kembali.
Prinsip dalam keluarga Raksa masih menjunjung kalau kita lagi makan nggak boleh diganggu, karena makan sama dengan lagi menghadapi rezeki. Jadi nggak boleh l;agi makan terus diberhentiin buat disuruh atau ngelakuin hal lain, kata ibu nya Raksa itu namanya pamali.
Meskipun kesel karena nih bocah makannya lelet, tapi disisi lain ada prinsip dan kebiasaan yang udah melekat di keluarganya. Lumayan galau nih Raksa.
"Ini punya Om nggak mau dimakan?" tanya Kalin yang nunjuk piring Raksa yang masih utuh.
"Mubadzir kalau dibuang!"
"Ya udah sok dimakan, gue kenyang duluan liat lo makan!" kata Raksa.
Dengan segera, Kalin nyamber piring milik Raksa yang itu berarti menambah waktu dia buat nyelesein tuh makanan.
'Ck ck ck, nih bocah nggak pernah makan apa gimana? itu perut kecil tapi makan udah kayak kuli makan dua piring nambah...' Raksa dalam hatinya.
Sementara dia berkali-kali ngeliat jam tangannya, Kalin yang menyadari itu pun jadi 'ngeh' kalau Raksa lagi ada urusan lain.
'Lah iya, nih Om galak kan mau ke kantor!' batin Kalin.
'Ah, bodo amat! dia juga bikin gue nggak bisa masuk sekolah, gue juga bakal bikin dia nggak bisa masuk kantor! biar kita impas!' lanjut jiwa devil Kalin.
"Bisa nggak lo makan kecepatannya ditambah?!" Raksa mulai gelisah ngeliat kalin makan dengan santainya. Selain nungguin si keong lagi makan, dia pun mencoba nelpon Farid buat nyalain pc yang ada di kubikelnya, terus ngopy file buat pak Tomi.
Tapi, Farid nggak ngangkat-ngangkat telponnya, "Kemana sih nih bocah? jangan-jangan lagi ngider ke divisi lain?" Raksa bergumam sendiri.
"Udah belooom?" wajah Raksa kusut.
__ADS_1
Drrrrttt!!!
"Waduuhh, pak Tomiiii?!!!" Raksa garuk-garuk kepalanya, frustasi.
"Astagaaaa!" Raksa ngeliat Kalin yang masih sibuk dengan piringnya.
"H-haloo?"
"Iya, Pakkk! saya lagi di jalan!" Raksa sengaja nyalain mesin motornya.
"Astagaaaa, kamu dimana, Raksaaaaaaa?!! cepat kesini atau kamu potong gaji?!" pak Tomi udah mledak.
Raksa yang dapet teriakan pun tutup kuping, "Siap, Pak! iyaa..." Raksa buru-buru nutup telpon dan nyamperin si abang ketoprak.
"Berapa semuanya, Bang?" Raksa cepetan buka dompetnya dan ngeluarin duit.
"Alhamdulillah!" Kalin ngelus perutnya, kemudian dia senyum saking kenyangnya.
Ngeekk, ngeeekk!
Raksa nunjuk sudut bibirnya pakai jarinya, dia ngasih kode buat Kalin.
"Apaaa?" Kalin nautin kedua alisnya.
"Kembaliannya, Mas!" kata si abangnya yang kasuh beberapa lembar uang recehan.
"Ya, makasih!" Raksa ambil kembalian dan ngantongin tuh duit.
"Sini!" kali ini Raksa narik tuh cewek, dan ngarahin kepalanya buat madep ke arah spion.
"Blepotan! noh bersihin cepetan!" lanjut Raksa
Kalin cuma bisa manyun sambil ngebersihin sisa bumbu kacang yang ada di sudut bibirnya. Seumur-umur, Kalin baru pertama kali bolos sekolah. Agak aneh, tali ada rasa senengnya juga.
"Cepetan! ngaca sampe taun depan tuh muka nggak akan berubah kecuali lo oplas!" Raksa narik Kalin supaya jangan bengang-bengong nggak guna di depan spion.
Dan..
Wyuuuuzhhh!
Raksa secepat kilat memacu motornya.
"Whoaaaaaaaaaaa!" teriak Kalin yang kaget saat Raksa ngebut tanpa aba-aba. Keberlangsungan pekerjaan pria itu dipertaruhkan disini.
"Wooyyy, Om!" Kalin teriak, dia sontak meluk perut Raksa dari belakang.
__ADS_1
"Wuooy, jangan pegang-pegang! geli guaaaaaaahhh!" Raksa teriak balik.