
Kling!
Ada satu pesan yang masuk di hapenya Raksa.
Kalin pikir, itu suara hapenya yang berbunyi. Dia meraih benda itu di atas nakas, sedangkan Raksa masih terlelap. Dengan mata yang menyipit, Kalin melihat siapa yang mengirim pesan. Mereka berdua pernah sepakat untuk memberi kode hape mereka dengan kode yang sama. Jadi Kalin maupun Raksa bisa membuka hape pasangannya.
Dari luar dia bisa melihat.
Ini aku Rahmi. Aku menginap di hotel ini XXX. Raksa aku mau minta tolong, apakah ada yang menjual tahu gejrot disini? karena aku dan bayiku sepertinya pengen banget makan itu,
Mata Kalin membulat saat melihat isi pesan Rahmi.
"Rahmi? apa iya mereka berhubungan di belakang gue selama ini? di atau kalau Raksa ada disini. Dia bahkan bilang bayi? bayi siapa? bayinya dia sama Raksa?" Kalin dengan tangan yang bergetar, matanya mulai mengembun dan satu tetes demi tets aembun itu akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Apa Raksa menginginkan bayi?" Kalin seketika teringat dengan kehidupan pernikahan mereka yang sama sekali jauh dari hal-hal yang menjurus pada proses pembuatan bayi.
"Apa dia sudah selingkuh dnegan mantan pacarnya?" lirih Kalin yang melihat Raksa masih terbalut selimut, setelah makan malam yang membuat badan mereka lelah.
Kalin tertegun melihat pesan yang ada di tangannya.
Ya, aku akan kesana!
Dengan hati yang perih, Kalin membalas pesan dari Rahmi.
Dan pesan itu segera dibalas mantan suaminya itu dan dia bilang akan menunggu. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, dan si cewek itu langsung membalas pesannya. Itu bnar-benar di luar akal sehat Kalin.
Kalin menutup mulutnya sendiri, dia menyumpal mulutnya dengan selimut yang juga menutupi badannya. Dia nggak mau kalau Raksa tau kalau dia lagi nangis. Kalin merasa dihianati, dia nggak menyangka Raksa yang dia kira sangat mencintainya seketika bisa berbelok dan sampai mempunyai anak dari orang lain.
'Kenapa lo nggak bilang kalau lo pengen punya anak? kenapa lo nggak bilang sama gue? terus kalau kayak gini apa yang harus dipertahanin?' Kalin dalam batinnya.
Bahunya bergetar, lalu naik turun karena dia terus aja nangis. Raks ayang menyadari istrinya itu nggak ada di pelukannya lantas membuka matanya. Dia melihat Kalin yang duduk membelakanginya. Dia mengusap punggung itu.
"Sayang? kamu udah bangun? kenapa?" tanya Raksa saat menyadari kalau ada sesuatu yang disembunyikan Kalin.
Wanita dengan rambut panjang itu pun mengusap air matanya dan tangan Raksa menuntunnya buat kembali tiduran.
"Kenapa? kok nangis?" tanya Raksa dengansuara yang berat, dia masih ngantuk parah.
"Mimpi buruk! dan mimpi itu seperti nyata!" kata Kalin.
__ADS_1
Raksa mendekap istrinya lagi, "Mimpi apa?"
"Mimpi kalau kamu punya bayi!"
"Aku punya bayi?" mata Raksa yang tadinya terpejam kini terbuka lagi.
"Maksudnya kita?" Raka yang melihat wajah Kalin yang basah air mata.
Kalin menggeleng, " Bukan kita tapi kamu sma orang lain!"
"Aku sama orang lain? mana mungkin Sayang...." kata Raksa yang mencium pipi Kalin gemas.
"Ya di mimpiku kayak gitu...."
"Dan seandainya itu menjadi kenyataan?" lanjut Kalin.
"Nggak ada dan nggak akan mungkin. Karena aku maunya punya anak dari kamu dan aku nggak pernah punya pikiran punya anak dari wanita lain. Tidur lagi ya? masih malem ini," Raksa yang mengusap punggung Kalin dengan satu tangannya, berharap istrinya itu bisa mengantuk dan tidur lagi.
Kalin memandang wajah Raksa yang begitu dekat dengannya.
"Sayang tidur..." ucap Raks ayang membuka kembali matanya.
'Pernikahan kita udah hancur Raksa! mimpi gue kuliah disini udah nggak ada artinya lagi. Kalau boleh milih, gue mending kuliah di negara sendiri, dan nggak menjalani pernikahan yang akhirnya membuat gue terluka parah kayak gini,' batin Kalin. Air matanya meleleh dan itu membuat Raksa atau kalau Kalin belum tidur.
Pria itu membuka matanya lagi, "Kamu masih nangis juga?" dia menjarak kepala kalin dan melihat dengan jelas kalau wanitanya sedang menangis karena hal sepele, habis mimpi buruk.
"Apa yang kamu pikirin, hem? mimpi tadi?" Raksa menatap Kalin dalam.
"Itu hanya mimpi dan hanya akan menjadi bunga tidur, Kalin. Karena aku hanya cinta sama kamu. Kalau nggak, aku nggak mungkin ngejagain kamu disini selama hampir 4 tahun. Aku lebih mencintai kamu lebih dari yang kamu kira, Kalin..." kata Raksa dengan suara yang sangat lembut.
"Kamu nggak percaya? aku udah buktiin loh, bukan hanya kamu tapi sama ayah dan bunda kamu kalau aku bisa nemenin kamu ngewujudin mimpi kamu kuliah di luar negeri, dan sekarang kamu udah lulus tanpa penghalang suatu apapun,"
"Iya," ucap Kalin.
Dia melihat keseriusan di wajah laki-laki yang semakin matang.
"Kamu masih belum percaya juga?"
Kalin diam.
__ADS_1
"Aku bahkan rela tersiksa setiap hari saat tidur dengan istriku sendiri,"
"Tersiksa?"
"Iya. Gimana nggak tersiksa kalau kita berdekatan seperti ini tapi aku nggak bisa berbuat lebih," ucap Raksa.
"Kita udah dewasa, kamu pasti tau arah pembicaraan kita. Selama kamu masih kuliah, aku nggak bisa memperlakukanmu bagaimana mestinya. Nggak bisa kayak gini," ucap Raksa.
"Dan itu jadi alasan kamu buat ----"
"Buat apa? aku ngelakuin apa? aku nggak ngelakuin apa-apa, Kalin. Kamu percaya sama aku. Aku cuma cinta sama kamu, kan aku juga nggak pernah maksa kamu buat melakukan kewajiban kamu sebagai istri,"
"Makanya kamu meminta pada yang lain?"
"Minta apa ya Allah?" Raksa nggak tau apa yang dipikirkan istrinya.
"Kenapa kita jadi ngebahas hal kayak gini sih, Kalin? bukannya kamu nggak siap punya bayi? kamu pengen kuliah?" Raksa menatap Kalin lagi lebih dalam, mencari tau apa yang membuat istrinya ini gelisah.
Tapi Kalin nggak ngomong apa-apa, dia cuma nangis.
"Loh kok nangis? apa aku salah ngomong? atau kamu menyesali apa yang kita lakukan tadi?"
Kalin menggeleng.
"Aku cuma kecewa sama diriku sendiri, karena aku terlalu egois. Sampai kamu harus mendapatkan hak kamu dari oranglain. Dan sekarang kamu punya bayi dari wanita lain..."
"kalin, Kalin. Aku nggak tau kamu ngomong apa. Itu kan cuma mimpi Kalin..."
"Itu bukan mimpi tapi sebuah kenyataan yang berusaha kamu tutupi!" tatapan Kalin nyalang.
"Aku kira pernikahan kita baik-baik aja. Aku kira nggak ada wanita yang bisa ngerebut kamu dari aku. Tapi ternyata aku salah, kamu ternyata punya wanita lain,"
"Suwer aku nggak mudeng! kok situasinya jadi kayak gini sih? kita tidur lagi deh, kamu makin ngelantur ngomongnya..."
Kalin menepis tangan Raksa, "Buktinya ada di hape kamu! dan kamu nggak bisa mengelak!" Kalin membuka kan hape Raksa dan menunjukkan pesan dari seseorang.
Raksa mengambil hapenya dan membaca pesan itu. Kalin berusaha mau pergi tapi dicegah oleh Raksa.
"Jadi kamu nangis gara-gara ini? maafin aku, Sayang! aku bisa jelaskan..." kata Raksa.
__ADS_1