
Selama tidur kurang lebih dari dua jam, Raksa merasakan kalau tempat tidur itu terasa begitu luas.
Tangannya menepuk sisi ranjang di depannya.
"Kalin? dimana Kalin?" mata Raksa sontak terbuka, dia terbangun.
Srettt!
Raksa menyibak selimutnya, dia segera mencari keberadaan Kalin.
Tok tok tok!
"Kalin? kamu di dalam, Kalin?" tanya Raksa, setengah panik. Dia mengetuk pintu kamar mandi sambil terus memanggil nama istrinya, tapi nggak ada jawaban sama sekali.
Raksa buka kamar mandi dan ngecek nggak ada siapa-siapa disana.
"Kan aku udah bilang jangan kemnaa-mana, Kalin!" gumamnya, dia takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Kenapa gue juga pake ketiduran segala!" lanjutnya misuh-misuh.
Raksa keluar kamar mandi dan bersiap ngambil hape dan juga dompet, kali aja dia butuh buat ngider nyari istrinya. Lagi siap-siap tiba-tiba pintu kamar dibuka seseorang...
Ceklek!
Raksa menoleh, disana nongol orang yang dia cari.
"Mau kemana?" tanya Kalin dengan polosnya dengan membawa apel di tangannya.
Seketika Raksa pun memeluk Kalin, "Ya ampuuuun! kamu tuh bikin aku khawatir banget tau nggak, Klain!"
Kalin yang dipeluk seerat itu juga keder, "Khawatir kenapa? kita kan lagi di rumah tante Atha..."
Raksa pun melepaskan pelukannya, " Bukan berarti kita di tempat yang kita anggap aman, sepenuhnya kita aman, Kalin..." ucapnya.
"Emangnya ada yang mau jahatin kita lagi?" tanya Kalin.
Raksa menggeleng, "Bukan kayak gitu, aku ... aku cuma masih kebawa situasi kita sewaktu di Manchester. Kita nggak pernah terpisah iya, kan?"
Kalin ngangguk, "Iya sih. Maaf ya, tadi aku laper makanya aku keluar..."
Kalin dipeluk lagi, dia ngerasain kekhawatiran Raksa yang berlebih. Tapi mereka baru aja sampai di negara sendiri, jadi wajar kalau Raksa masih suka protect terhadap dirinya. Karena selama bertahun-tahun, temen Kalin itu ya Raksa. Kalin berteman dengan yang lain, tapi hanya sekedar saat di kampus. dia nggak pernah hang out bareng temen di luar jam kampus. Dia sadar kalau tujuannya ke Manchester itu ya buat kuliah, bukan buat main. Makanya Kalin fokus belajar dan malah bisa menyalip teman-temannya yang bisa dibilang lebih pinter dari dia.
"Maaf ya? aku terlalu cemas. Aku belum terbiasa..." kata Raksa.
"Iya nggak apa-apa, Mas..." sahut Kalin.
Raksa melepaskan pelukannya dan duduk di pinggir ranjang. Dia membawa Kalin juga, mereka sekarang duduk berhadapan.
"Selama di pesawat, aku belum tidur. Makanya habis mandi, terus rebahan dikit malah jadi ngantuk. Apalagi dipeluk sama kamu, aku jadi malah kebablasan tidur..."
"Ya emang kenapa kalau tidur? lagian kenapa di pesawat nggak bisa tidur? mas nyuruh aku tidur ternyata dirinya sendiri malah nggak tidur. Gimana sih?"
"Aku kan jagain kamu, Kalin..."
Raksa menceritakan awalnya yang dia tidur tapi Kalin gelisah nggak bisa meremin mata, nah giliran dia dongenging malah dia nggak bisa tidur lagi. Akhirnya pesen kopi dan udah nggak bisa tidur lagi. Namun, Raksa nggak bilang kalau dia sempat mencurigai ada orang yang mengawasi mereka. Dia nggak mau bikin hati Kalin cemas.
"Sepertinya kita selalu berdua dulu, sambil pelan-pelan kita mulai bisa beraktivitas seperti biasanya. Kamu mau, kan?" tanya Raksa.
"Iya..."
__ADS_1
"Di bawah ada ayah bunda, terus juga ada bapak sama ibuk..." kata Kalin.
"Ya udah kita ke bawah..." kata Raksa.
"Aku belum mandi, aku mau mandi dulu..." ucap Kalin.
"Ya udah aku tungguin..."
Cup!
Kalin mengecup sekilas suaminya sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi di kamar itu.
Raksa duduk di tepi ranjang sambil nyenderin punggungnya dengan bantal, dia mainin hape telfonan sama Farid, dia bilang kalau udah nyampe di negara tercinta. Farid bilang nanti jenguknya kkarena sekarang dia lagi riweuh mau ada audit jadi begitu semua kelar, dia bakal hubungin Raksa lagi.
Dan seperti biasa, kalau Kalin mandi itu ya lama, paling cepet satu jam. Apel yang dititipin sama dia, ahirnya ya dimakan sama Raksa. Bukan perut Kalin aja yang laper, ternyata perut Raksa juga.
Dia makan apel itu sampai habis.
"Bisa ketiduran lagi nih gue!" ucap Raksa.
Dia taruh sampah apel di meja dan dia mulai peregangan, dan yang ditunggu akhirnya keluar juga dengan handuk yang melilit di badannya.
Raksa yang melihat itu sontak melotot, "Ada yang ketinggalan!" Kalin mengambil baju yang udah disiapin lalu masuk lagi ke dalam kamar mandi.
"Huyyfffh, selameeeettt!" gumam Kalin, dia ngerasa lega karena selamat dari terkaman suaminya.
Beberapa menit Kalin butuhkan untuk memakai bajunya, dia keluar dengan wajah yang segar.
"Kenapa mesti di dalam sana sih gantinya?" tanya Raksa.
"Nggak apa-apa, demi keamanan bersama," sahut Kalin.
"Maka dari itu kita sudah suami istri," ucap Kalin yang kini memoles wajahnya.
"Aku laper, Kalin!"
"Aku juga! di bawah udah nyiapin makanan dari siang, aku mau makan tapi inget kamu, mang belum makan siang..." Kalin sembari membuat alis.
Raksa melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 4 sore, pantesan aja dia udah kelaperan.
"Kita udah ditunggu, yuk?" Kalin bangkit dan mengajak suaminya keluar kamar.
Rambut yang segar habis keramas, membuat orang memandangi kedua pasangan pasutri itu.
"Belum juga minum ramuan. Sepertinya usaha kita akan cepat membuahkan hasil," bisik Oma Nilam pada bu Selvy, mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah.
"Kalian sudah turun?" ucap tante Atha.
"Suruh mereka makan, Atha! pasti mereka sangat kelaparan!" ucap Oma Nilam dengan senyum penuh arti.
"Oma," ucap kalin.
"Kalian makan dulu. Kami semua sudah makan," kata Oma Nilam lagi.
"Makan dulu, sayang..." kata bunda Lia.
"Kita permisi kalau begitu," kata Kalin yang membawa suaminya ikut bersama.
"Manis sekali mereka..." komentar Oma Nilam saat melihat cucunya yang bergandengan seperti pengantin baru.
__ADS_1
Bu Selvy mengikuti anaknya yang duduk di meja makan, melihat disitu ada ibu mertua, udah pasti Kalin nggak boleh diladeni sama Raksa.
"Biar aku yang ambilin!" Kalin mengambil piring yang Raksa pegang.
Raksa hanya bisa melongo melihat apa yang Kalin perbuat.
Dengan hati-hati, Kalin mengambilkan nasi beserta lauknya, tentu bu Selvy senang melihat anaknya sangat diperhatikan oleh istrinya.
Melihat bu Selvy yang senyam-senyum, Raksa pun bergumam dalam hatinya, 'Pinter banget nih si bocil, ngambil hati ibuk gue!'
"Kalin, Raksa. Malam ini kalian menginap disini. Oma masih kangen sama kalian. Dan besok paginya baru ibu sama bapak akan jemput kalian," ucap bu Selvy.
Bu Selvy menganggukkan kepalanya pada bik Rusmi yang membawakan dua cangkir berisi ramuan mujarab.
"Kalian makan dulu, habis itu minum teh itu..." ucap Bu selvy.
Tapi kalau diliat, liat itu lebih mirip sebuah ramuan jamu daripada teh.
"Teh?" Raksa mengerutkan keningnya.
"Iya teh ya ehm minuman herbal. Kalian ini kan hanis dari luar negeri. Kita nggak tau kalian bawa virus atau apa gitu. Jadi dengan minum teh herbal itu, tubuh kalian di detoks, biar racun dalam tubuh psa ilang, pada minggat!" kata bu Selvy.
Raksa dan Kalin saling pandang.
"Ayo, makan!" kata bu Selvy, sedangkan tante Atha sendiri nggak mau ikut campur.
Dia tau itu ramuan yang dibuat oleh mamanya sendiri buat Raksa dan Kalin agar cepat memiliki momongan.
Bu Selvy sama sekali nggak beranjak dari duduknya, bikin pasangan suami istri itu agak salting karena diliatin terus.
"Buk, kalau diliatin terus, yang ada dia susah nelennya!" protes Raksa.
"Ya nggak apa-apa. Masa ibuk nggak boleh liatin menantu sendiri?"
"Kalian sudah selesai makannya, kan? Sekarang minum tehnya!" suruh bu selvy
Tante Atha sudah bisa membayangkan betapa getirnya rasa ramuan itu. Karena dia sendiri sudah pernah minum ramuan itu, tapi saking getirnya. Semua ramuan yang diberikan padanya diwakilkan pak Galang, menurutnya dia udah nggak mungkin punya anak. Jadi ngapain minum ramuan seperti itu.
Dan melihat kedua pasangan ini, dia seperti dejavu, 'Yang sabar ya kalian...'
"Ayo minum!" ucap bu Selvy.
Mau nggak mau Kalin dan Raksa mengangkat cangkirnya dan mulai menyesap minuman itu perlahan.
Baru sedikit air yang menempel di bibir, rsa pahitnya udah nggak karu-karuan.
"Pwwwi!" Kalin yang hampir melepeh minuman itu tapi saat melihat wajah ibu mertuanya, akhirnya nggak jadi.
"Diminum, Sayang! iya pinter!" ucap bu Selvy dengan senyuman yang membuat Kalin terhipnotis untuk meminum seluruh air di dalam cangkir.
Glek!
Glek!
Glek!
Kalin melihat ke arah Raksa yang sama-sama tersiksanya.
Sampai akhirnya ramuan itu tandas tak tersisa.
__ADS_1
"Minum! minum, aku mau minum!" Kalin meminta air pada bik Rusmi, dengan mengibaskan tangan di depan lidahnya yang terjulur.