Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Oh ya?


__ADS_3

Jelas, Raksa nggak ke toilet. Melainkan ngejar Reno yang kebetulan ketemu dia lagi. Tapi setelah dicari, tuh bocah tengil ngilang.


"Bahlul! kemana lagi tuh bocah? perasaaan tadi disini," mata Raksa mencari.


Sebenernya juga urusan dia apa, kalaupun ketemu tuh bocah juga mau apa. Raksa nggak tau pasti apa yang ada di pikirannya, yang jelas ngeliat sekelebat bayangan Reno tadi membuat dia pengen ngikutin dan ngasih tuh bocah tengil pelajaran.


Tapi sayangnya, dia kehilangan jejak bocah yang berhasil mutusin Kalin itu.


"Saaa?" suara Rahmi.


Raksa pun memutar badannya, dia ngeliat sang mantan terindah berdiri di belakangnya.


"Loh, Rahmi?" gumam Raksa.


"Lo ngapain disini? lo nyari apaan?" tanya Rahmi.


"Gue? gue lagi nyari toilet! cuma daritadi nyari kok nggak ketemu!"


"Toilet? dibelakang lo..." Rahmi nunjuk sebuah pojokan.


"Oh ya?! ehm, nggak keliatan! gue kesana dulu," Raksa pun memutar badannya dan masuk menuju toilet yang ternyata ada di belakang badannya sendrii.


'Alamaaak, bikin malu aja!' batin Raksa saat sudah sampai di dalam.


Setelah beberapa saat, Raksa keluar lagi dari toilet. Dan nggak ada Rahmi, mungkin tuh cewek udah pergi.


Raksa pun mencari keberadaan Farid, dia kembali ke toko yang terakhir mereka datangi.


"Seabad kita nungguin lo!" Farid nyeletuk saaat ngeliat Raksa yang dateng dengan muka fresh, abis cuci muka.


"Lo mandi di toilet? apa gimana?" lanjut Farid nunjuk wajah temannya dengan dagu.


"Mandi? gue cuma cuci muka, biar auranya cerah nggak kaya lo!"


"Kita nonton yuk? mumpung kita kumpul, belum tentu kan besok-besok ada waktu," usul Tania.


"Boleh tuh!" Farid main setuju aja.


"Kalian aja ya? gue lagi ada urusan!" Raksa yang liat jam tangannya sekilas.


"Loh kok gitu? nggak seru lah!" kata Tania.


"Lain kali ya, sementara kalian bertiga aja! sorry loh," Raksa main pergi aja.


Dia sekilas ngeliat ke arah Rahmi sebelum meninggalkan tiga orang yang beberapa waktu ini sering meluangkan waktu buat ngumpul bareng.


Raksa jalan cepat menuju parkiran, dia pergi dengan motornya.


Sementara di rumah Nova, Kalin udah ditelponin bunda. Kalin sih bilang kalau dia lagi main ke rumah Nova buat ngerjain tugas bareng.

__ADS_1


"Soalnya pak Abdul kan nggak berangkat, lagi sakit. Makanya bunda khawatir, kamu nanti pulang naik apa..." bunda dari seberang telepon.


"Nggak usah khawatir, Bun. nanti Kalin bisa naik ojek atau naik taksi, tenang aja..."


"Udah sore, Kalin! tetep aja bunda khawatir,"


"Iya Bunda, Kalin pulang sekarang..."


"Hati-hati, sayang, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam," jawab Kalin.


Dia bangun dan ngeliat ke arah kaca, "Kayaknya udah mendingan..."


Kalin ngerasa kalau wajahnya nggak semenyedihkan sebelumnya, mungkin karena dia udah numpahin semua unek-uneknya. Udah berhenti nangis juga, cuma mata doang yang agak merah.


Gadis itu keluar dari kamar Nova, dia turun ke bawah mencari keberadaan temannya itu yang katanya lagiu nemuin seseorang di depan.


"Tante..." Kalin menunduk sebentar, ketika berpapasan dengan bu Selvy.


"Loh, mau kemana?" tanya bu Selvy.


"Mau pamit pulang, Tante...."


"Loh kok cepet banget? ini tante habis masak loh, makan dulu baru pulang ya?" bu Selvy yang narik tangan kalin buat duduk di meja makan.


"Nanti tante panggilkan Nova. Tadi ada tamu, katanya temen Nova dulu waktu SMP. Tapi tante coba liat ke depan dulu, kamu duduk disini aja, jangan kemana-mana..."bu Selvy maksa Kalin buat mencicipi makanan yang baru aja dia buat.


Bu Selvy jalan ke depan buat manggil Nova, dan ternyata tamunya itu udah pulang.


"Gimana? udah pulang temen kamu itu?" tanya bu Selvy.


"Udah, dia cuma mau ngasih tau kalau dia mau pindah ke luar kota. Dia kesini buat balikin komik punyaku yang ternyata dia pinjem tapi belum sempet dibalikin," Nova nunjukin sebuah komik dengan genre detective.


"Kirain mau ngapain. Oh ya, ibuk habis masak capcay goreng, sana ajak Kalin makan. Ibu tadi habis makan ketoprak, jadi udah kenyang...." bu selvy nutup pintu dan nyuruh Nova buat masuk ke dalam.


"Kok lo udah nyangking tas?" tanya nova saat ngeliat Nova udah nyangklongin tas di bahunya.


"Gue mau pamit, udah sore, Nov..."


"Makan dulu baru pulang. Udara sore nggak baik buat badan, apalagi kalau perut kosong. Nanti malah jadi sakit," bu Selvy bikin teh anget.


Dibalik sifatnya yang cerewet, ibu Nova ini sangat perhatian terutama soal kesehatan anaknya.


"Jangan kayak Nova, tiap hari makannya bakso terus...." sindir bu selvy.


"Nggak setiap hari juga kali, Buuuk!" ralat Nova.


"Nggak setiap hari, tapi terlalu sering. Kalau kamu suka bakso, mbok bikin sendiri, lebih sehat..." bu Selvy mulai ceramah.

__ADS_1


"Hemmm, kayaknya enak capcay gorengnya! Kalin pasti suka ini..." Nova mengalihkan pembicaraan.


"Ambil sendiri ya, Kalin. Anggap rumah sendiri, makan yang banyak nggak usah malu-malu," kata bu Selvy yang bikin tiga cangkir teh. Nova dan Kalin pun masing-masing dikasih, dan bu Selvy pun ikutan duduk dan mulai menyeruput minumannya.


Ngeliat bu Selvy yang udah repot-repot bikin minuman, Kalin jadi nggak enak kalau menolak tawaran ibu dari temannya itu. Dan untuk menghargai bu Selvy yang udah capek masak pun, Kalin mengambil piring yang ada di meja dan mulai menyendokkan nasi dan capcay beserta lauk yang lainnya.


"Tante nggak ikutan makan?" tanya kalin.


"Tante sudah makan ketoprak, lumayan banyak porsinya, jadi tante sudah kenyang. Tambah lagi, Kalin! makan yang banyak!"


"Kalin itu diet, Buuuk..." ucap Nova yang tau kalau Kalin jarang jajan yang mengira Kalin sengaja diet, padahal temennya itu jarang ke kantin karena duitnya digondol Reno.


"Diet? diet apa? badan sudah bagus kayak gitu, nggak usah diet kalin. Apalagi kamu dan Nova kan sebentar lagi ujian, kalian butuh asupan gizi supaya jangan sakit..." bu Selvy mengangkat lagi cangkirnya dan nyeruput teh yang masih berasap.


"Iya, Tante..." Kalin yang nggak pernah ngebantah apa kata orangtuya pun manggut-manggut aja sambil menikmati masakan bu Selvy yang ternyata enak banget, nggak kalah sama masakan bunda, cuma bedanya masakan bu Selvy ini rasanya muantep dan sedep banget. Kalin yang sebenernya udah makan spagetti dua porsi pun sekarang melahap makanannya dengan sangat semangat.


"Lo pengen air putih nggak?" Nova nawarin air dingin yang baru dia keluarin dari kulkas.


"Ibu udah bikinin teh loh!" samber bu Selvy.


"Tehnya masih panas, Bu. Bisa mlepuh lidah kita..." Nova pun ngasih kalin satu gelas air putih.


Glek!


Glek!


Glek!


"Assalamualaikum," suara sesosok pria yang khas banget.


Kalin tertegun sesaat, karena dia tau benar suara siapa itu.


"Waalaikumsalam, di meja makan, Sa!" suara bu Selvy setengah berteriak.


Dan sesosok pria itu pun datang dan mencium tangan ibunya, "Loh tumben jam segini pulangnya? nggak lembur lagi?" tanya bu Selvy.


"Nggak bu!"


"Loh, abang? tadi perasaan udah pulang? kenapa keluar lagi?" tanya Nova.


"Memangnya kamu udah pulang tadi?" tanya bu selvy dengan tatapan menyelidik, sementara Kalin dia pura-pura nggak denger dan fokus aja sama makanannya.


Raksa narik kursi, "Oh iya, tadi ijin pulang lebih awal..."


"Oh yaa?" BU Selvy ngerutin dahinya.


Buat ngusir rasa gugup, Raksa pun dia nyerobot satu minuman teh yang ada di meja.


"Itu kan minumannya Kalin, main serobot aja!" bu Selvy neplak tangan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2