
Sepanjang malam, Raksa menjaga istrinya. Banyak yang bilang kalau penerbangan malam itu bisa membuat kita merasakan sensasi di ganggu hantu. Karena bisa saja, ada hantu yang ikut ke dalam pesawat dan mengganggu para penumpang. Tapi Raksa nggak mau berpikiran konyol seperti itu. Sosok yang berdiri di dekatnya itu Raksa yakin manusia.
Dan setelah matahari mulai menampakkan sinarnya, dan langit perlahan mulai terang. Kalin pun bangun dan melihat raksa dengan kopi yang ada di tangannya.
"Mang?"
"Mamang lagi mamang lagi! kita udah tinggal di Inggris hampir 4 tahun, masih aja panggilannya nggak berubah?!" protes Raksa.
"Hehehe," Kalin nyengir dengan muka bantalnya.
"Aku mau ke toilet!"
"Aku anterin!"
"Anterin?" kening Kalin mengerut.
"Iya aku antrin ajah, aku juga mau cuci muka!" kata Raksa yang belum tidur sama sekali.
"Oh ya udah,"
Selama di pesawat Raksa selalu berada di dekat istrinya sampai akhirnya pesawat mereka berhasil landing dengan selamat.
"Ayo, Sayang!" ucap Raksa yang menggandeng Kalin untuk turun.
'Kenapa lagi si Mamang? apa ada sesuatu yang berbahaya?' batin Kalin.
Raksa selalu membawa Kalin dengan langkah tang tenang tapi penuh dengan pengawasan. Dia menelepon ayah Diki, dia memberi tau dimana mereka harus menjemput Kalin.
Setelah mengambil bagasi Raksa mendorong trolley dengan 4 koper yang ditumpuk, dia mengajak Kalin secepatnya keluar dari Bandara.
Kalin merasa de javu dengan situasi ini, dimana dirinya akhirnya harus terpisah dengan Raksa karena mereka menjadi target penculikan yang direncakan pak Galang, sebelum dia akhirnya mengetahui kebenaran soal Atha dan Lia.
"Apa ada yang ngikutin kita?" tanya Kalin.
"Seperti..."
"Kita harus secepatnya keluar dari sini!" bisik Raksa.
Sementara ada orang yang kemudian menjaga jaraknya saat Raksa dan Kalin bergabung dengan penumpang-penumpang yang lain, yang rame-rame menuju pintu keluar.
"Sial!" gumam laki-laki itu.
Banyak orang yang menyambutnya, terutama keluarga Raksa dan Kalin yang sudah menunggu 15 menit yang lalu.
__ADS_1
"Alhamduillah, akhirnyaaa kalian keluar juga! kaki ibuk sudah capek ini berdiri terus!" bu Selvy memelyk anaknya, sedangkan Kalin langsung berhambur kepelukan bunda Lia.
"Sudah, sudah! peluk-pelukannya nanti di rumah saja!" ucap pak Hendra yang kemudian memluk anaknya yang sudah beberapa tahun nggak pulang.
"Ck! dkatanya pelykannya di rumah, tapi dia sendiri meluk anaknya!" gerutu bu Selvy.
Setelah puas saling menumpahkan rasa kangen, mereka semua membawa Kalin dan Raksa pulang ke rumah bu Selvy.
Ternyata dua keluarga itu sudah melakukan suit, untuk menentukan kemana Raksa dan Kalin akan tinggal ketika perrama kali mendarat di Indonesia. Dan ya, pemenangnya bu Selvy, jadi selama seminggu anak dan menantunya akan tinggal bersamanya.
Tadinya Nova juga ingin ikut menjemput abang dan juga sahabatnya, tapi dia ada panggilan kerja. Jadi ya nggak mungkin dia melewatkan kesempatan itu. Dia mengirim permintaaan maafnya pada Kalin lewat chatting.
"Raksa dan Kalin pakai mobil itu saja dan koper-kopernya biar di taruh di mobil pak Hendra!" kata pak Galang yang muncul bersama dengan tante Atha.
Semua orang menoleh.
"Biar adil!" ucap pak Galang.
Dan mereka semua tertawa ermasuk ayah Diki dan pak Hendra yang udah tau jalan pikiran istrinya yang pasti akan rebutan satu mobil dengan anak-anak mereka.
"Lagi pula, takutnya Raksa dan Kalin jetlag! biar relaks dulu mereka, nanti kita ketemu di rumah saya. Karena Oma Nilam sudah nggak sabar ketemu sama cucu-cucunya," kata pak Galang.
Akhirnya, Kalin dan Raksa masuk ke dalams alah satu mobil milik pak Galang yang akan membawanya menuju rumah yang ditinggali Oma Nilam bersama dengan pak Galang dan tante Atha.
"Kamu istirahat aja, Sayang!" Raksa memeluk Kalin.
"Kita beruntung banget ya?"
"Beruntung kenapa?" tanya Raksa saat wajah Kalin bersandar di dadanya.
"Orangtua kita akur, jadi berasa dapet orangtua kombo!" ucap Klain.
"Ya memang harusnya seperti itu kan? nanti kamu juga harus kayak gitu kalau jadi mertua..." kata Raksa.
"Ehm, maksudnya.Sudahlah jangan dibahas!" lanjut Raksa.
Sebenarnya dia sangat lelah, dia bahkan belum tidur, karena harus selalu menjaga Kalin. Begitu sampai di Indonesia dia masih belum tenang, karena dia merasa ada orang yang selalu mengikutinya sampai mereka bertemu dengan keluarga di terminal kedatangan dari luar negeri.
Singkatnya Kalin dan Raksa dibawa ke rumah pak Galang, disana mereka ketemu sama oma Nilam. Dan sudah bisa dipastikan Oma sangat bahagia bertemu dengan cucunya. Kondisi Oma Nilam sedang nggak begitu baik. Makanya pak Galang minta pada bu Selvy dan Bunda lia supaya mengijinkan Kalin dan raksa untuk beberapa hari menginap di rumah mereka.
Udah dipastikan nggak akan ada yang bisa menolak keinginan Oma Nilam.
"Akhirnya kalian pulang juga! dasar anak nakal!" Oma Nilam meneouk sedikit bahu Kalin, sekan dia sedang memarahi cucunya itu.
__ADS_1
"Oma kira Oma nggak akan pernah ketemu lagi dengan cucu ku..." lanjutnya ketika Kalin duduk memeluknya yang sedang duduk di tepi ranjang.
Kalin melepaskan pelukannya, "Kata bunda pamali bicara yang buruk-buruk, Oma..."
Raksa langsung menyalami Oma Nilam, "Maaf ya Oma..." ucap Raksa.
"Kamu laki-laki hebat! kamu bisa menjaga Kalin dengan baik!" Oma mengusap pundak Raksa sekilas.
"Akan lebih hebat lagi, kalau kamu bisa membuat Kalin hamil anak kalian! karena Oma ini ingin sekali menimang cicit!"
"Omaaaa, mereka baru saja pulang, masa sudah ditagih yang macam-macam!" celetuk tante Atha.
"Nggak apa-apa! biar memotivasi Kalin dan Raksa! mereka ini kan sudah bertahun-tahun menikah. Jangan hanya menuruti keinginan Diki yang konyol itu. Masa anak sudah menikah disuruh menunda momongan?! nggak bener itu!" Oma Nilam terbawa emosi.
"Iya, Oma! nanti Kalin juga punya anak. Lagian kita sudah berusaha terus, Oma. Tapi mungkin belum rezekinya..." ucap Kalin yang nggak mau ada pertengkaran di hari pertamanya pulang ke Indonesia.
"Oh bagus itu! kalian berusaha setiap hari? bagus-bagus! nanti oma kasih ramuan yang pasti akan membuat kalian subur!" kata Oma Nilam.
Sedangkan Raksa kaget dengan pernyataan Kalin yang bilang mereka sudah berusaha terus, Raksa benar-benar nggak bisa berkata apa-apa. Mungkin ini jalan Tuhan menggerakkan hati Kalin supaya bisa menerima kodratnya sebgaai wanita. Raksa hanya bisa berdoa dalam hatinya semoga keinginan itu memangbenar adanya dari Kalin.
"Sudah, kalian istirahat dulu. Kalian pasti capek. Nanti Oma suruh Rusmi membeli bahan-bahan herbal buat Oma bikin ramuan mujarab!" ucap Oma Nilam.
Sedangkan Kalin hanya nyengir salah tingkah mendengar ucapan Oma Nilam yang terkesan blak-blakan.
"Tante anterin kalian ke kamar..." kata Tante Atha.
"Kami ijin istirahat dulu, Oma.." ucap Raksa.
"Iya iya iya, istirahatlah! kalian kan harus punya tenaga untuk membuatkan cicit buat Oma! semangat!" ucap Oma Nilam yang sangat senang.
Sedangkan wajah Kalin memerah karena menahan malu atas permintaan Oma nya itu. Mereka semua keluar dari kamar Oma mengikuti tante Atha
"Ini kamar kalian..." ucap tante Atha saat membuka sebuah pintu kamar yang terletak di lantai dua.
"Beristiratlah, semoga kalian nyaman..." lanjutnya.
"Terima kasih, Tan..." kata Kalin.
"Kalau begitu tante tinggal ya?" tante Atha kemudian berjalan menjauh.
Raksa dan Kalin pun masuk ke dalam kamar, dan ternyata koper-koper mereka sudah ada di kamar itu.
"Kapan mindahinnya?" gumam Raksa.
__ADS_1