Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Butuh waktu


__ADS_3

Malamnya, Raksa masak seperti biasa. Nggak tau enak apa nggak, yang jelas dia sebisa mungkin menyiapkan makan malam untuk istri kecilnya.


"Makanan sudah siap!" ucapnya, biasa saja.


Kalin yang lagi duduk di sofa ngerasa Raksa berbeda. Nggak se-exited biasanya. Kalin pun mendekat dan mereka makan bersama. Nggak ada obrolan, apalagi menyangkut peperangan mereka tadi pagi.


Kalin merasa kalau situasinya saat ini snagat aneh, biasanya pria yang dia sebut Mamang ini suka nyerocos dan tanya ini itu, tapi kali ini nggak. Raksa cenderung diam, dia pun merasa aneh ketika nggak ditanya soal kuliah dan yang lainnya.


"Gue mulai kuliah minggu depan," ucap Kalin membuka pembicaraan selama mereka menikmati nasi goreng.


"Hem, bagus kalau gitu!" Raksa singkat. Dia menyudahi makannya dan segera bangkit.


"Kalau sudah selesai makan, bereskan meja!" lanjutnya nyuruh.


Kalin melihat badan Raksa dari belakang, pria itu mencuci sendiri bekas makannya. Lalu dia bergerak menuju sofa. Apa yang dilakukan pria itu nggak lepas dari bidikan mata kalin.


'Apa dia marah soal tadi pagi? biarlah, gue juga nggak mau terlalu dikekang! ayah sama bunda aja nggak kayak gitu!' batin kalin yang masih melanjutkan makan. 


Nasi goreng tanpa terasi ini lumayan mengobati rasa rindunya dengan rumah, meskipun mereka baru dua hari berada di negara orang, tapi bagi Kalin rasanya sudah dua abad lamanya. Setelah makan, Kalin membereskan meja seperti yang diperintahkan suaminya. Dia melirik Raksa. kalin membawa satu toples cemilan, dia bawa masuk ke dalam kamar. Sedangkan dia melihat Raksa yang lagi ngotak atik layar hape ditemani tivi yang masih menyala.


"Halo, Rid?" sapa Raksa di telepon.


"Ada apa woy? subuh-subuh telpon gue?" suara serak Farid.


"Astaga, sorry, gue lupa, Rid! Hahhaha," Raksa ketawa, dia lupa perbedaan waktu diantara mereka.


Sementara kalin yang did alam kamar mendadak kepo, mendengar suara tawa suaminya itu. KArena sejak pulang tadi, pria itu menjelma seperti orang lain. Tapi kali ini dia mendengar raks ayang kembali seolah menjadi wujud aslinya.


"Eh, sorry gue nggak bisa nganter ke bandara kemaren!" ucap Farid.


"Selow aja, bahlul! emang gue baperan kayak lo?" ucap Raksa.


"Ya kali lo melabeli gue teman durjana. Temennya pergi ke luar negeri, nyamperin aja kagak! lagian lo kasih taunya dadakan," ucap Farid.

__ADS_1


"Ya gimana, istri gue mintanya kayak gitu. Gue sebagai suami siaga cuma bisa nurutin apa yang dia mau!"


"Ajegileee suami siaga! nglindur lo?"


"Lo kali yang ngelindur, Rid!" ucap Raksa.


"Sumpeh, lo? kapan? kok gue nggak diundang?"


"Baru beberapa hari kemarin kok, sebelum gue berangkat kesini. Gue nggak ngundang soalnya cuma keluarga gue dan dia aja yang hadir!"


"Lo bikin tekdung duluan?"


"Sembarangan!" Raksa menampik tuduhan Farid.


"Lah terus? kenapa coba lo nikah diem-diem begitu. Nggak ngundang siapa-siapa, kalau nggak lo DP in duluan si bocil!"


"Gue nikah emang udah direncanain, sebagai syarat istri gue bisa lanjut kuliah disini. Sebagai orang dewasa kita kan harus mendukung apa yang jadi cita-cita wanita yang kita cintai, kan?" ucap Raksa.


"Udahlah! sekalian gue jelasin semuanya, gue capek diuber mulu!" ucap Raksa.


"Ternyata dia lebih gila dari yang gue kira, Rid! kenapa gue nikah diem-diem ya salah satunya biar nggak direcokin sama dia!"


"Wah gila seeh! gue nggak bisa bayangin gimana terpoteknya hati Rahmi! secara dia cinta banget sama lo, Sa!"


"Ya gimana? kita udah selesai, rid! lagian gue udah punya kehidupan yang baru, gue nggak mau nengok ke belakang! masa depan gue udah jelas,"


"Ck ck, lo baru bikin hati salah satu cewek patah hati, Bray!" ucap Farid.


"Tapi gue salut, lo berani ambil resiko demi nikah sama Kalin. Padahal jabatan lo ini banyak yang ngincer, termasuk gue, hahahhaha!" Farid yang tadinya ngantuk malah ketawa sekarang.


"Oh ya soal jabatan gue, gue udah bilang sama pak Tomi. Gue udah promosiin nama lo di depan dia, tapi sayangnya semua itu nggak bisa segampang yang gue pikirkan..."


"Gue tau! lagian, banyak penjilat di perusahaan. Pasti mereka yang dulu ditawarin. Lah gue siapee? ya kan?" Farid sadar diri.

__ADS_1


"Tapi gue udah berusaha, Rid!"


"Iya gue tau!" sahut Farid.


"Oh iya lo nikah legal?" Farid nanya ke arah yang lain.


"legal lah! sah gue secara agama dan negara, cuma ya gue masih rahasiain pernikahan gue ini smaapai nanti Kalin selesai kuliah. Gue nggak pengen dia dapet rumor yang jelek. Lo aja yang sahabatan sama gue bisa berpikir kalau gue udah DP duluan, apalagi oranglain yang nggak tau soal gue dan Kalin. Pasti mereka berpikiran lebih jauh dari itu, Rid! Gue cuma mau jaga nama baik keluarga, gue nggak mau sesuatu yang baik malah menjadi buruk karena penilaian orang,"


"Widih, dewasa banget lo?!" sindir Farid.


"Lo juga jangan kelamaan galau soal Tania! Lo berhak dapetin yang lebih dari dia, Rid! jangan lo sia-siain waktu lo cuma buat mikirin orang yang sama sekali nggak mikirin lo!" Raksa berpesan pada sahabatnya.


"iya iya gue tau. Sa, gue mau merem bentar lagi, masih ngantuk gue!" ucap Farid.


"Oke, gue tutup! thank you ya?" ucap Raks ayang kemudian menutup dan mengakhiri panggilannya.


Sedangkan Kalin sedikit banyak mencuri dengar apa yang menjadi obrolan raksa dengan orang yang dia tebak, Farid. Kalin kembali duduk di atas ranjangnya.


"Huuffhh, gue masih butuh waktu..." gumam Kalin, dia merebahkan dirinya.


Memang tanpa bantuan Raksa, dia nggak bakal bisa kulaih disini. kalau nggak Raksa yang meminta pada ayahnya supaya ngijinin dia pergi, mungkin saat ini dia masih di negaranya dan mungkin kuliah disana. Tapi kejadian soal Rahmi bikin otak kalin suslit menerima kebaikan Raksa. Dia masih memikirkan apa yang sudah Raksa dan Rahmi perbuat, sampai wanita yang seumuran dengan suaminya itu getol banget ngejar.


Sedangkan Raksa yang lelah, pergi ke kamar mandi sebelum dia mengunci semua pintu dan bersiap untuk tidur. Kalin yang daritadi gelisah di kamarnya karena belum terbiasa dengan suasana kamar baru itu pun akhirnya keluar dengan alasan sikat gigi. Dia ngeliat ke arah raksa yang sepertinya kedinginan.


"Lo boleh tidur di dalam kalau lo mau!" ucap kalin.


Raksa yang sudah terpejam pun membuka kembali matanya.


"Oke!" ucapnya singkat.


Pria itu berjalan mendahului Kalin, dan mereka akhirnya tidur dalam satu tempat yang sama. Kalin bisa melihat punggung lebar itu tidur membelakanginya.


"Ini batasnya!" ucap Kalin yang memberi batas antara dirinya dan Raksa dengan sebuah guling.

__ADS_1


__ADS_2