Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Kecewanya Reno


__ADS_3

Mungkin udah jadi nasib Kalin yang salah menegenal seseorang. Cowok yang dia anggap sebagai cowok keren yang nggak cuma ganteng tapi juga pinter, nayatanya hanya morotin duit Kalin. Meskipun semuanya udah diganti sama Arkan ya. Tapi tetep aja, rasa kecewa Kalin nggak bisa terobati semudah itu juga. Sementara Kalin yang lagi siap-siap memakai kebaya terbaiknya.


Di tempat Lain.


Reno yang udah pakai baju rumahan pun, duduk di meja belajarnya dengan penerangan yang dimatikan.


Tok!


Tok!


Tok!


Ceklek!


"Ren, makan malem udah siap. Kita semua udah nunggu lo di meja makan!" ucap Arkan yang hanya ngeliat siluet adiknya yang menghadap ke jendela luar.


"Ren," Arkan mencoba buat nyalain lampu.


"Jangan coba-coba mendekat, atau lo bakal nyesel!" ancam Reno.


Brakk!


Arkan menutup pintu.


"Lo kenapa, Ren? kenapa lo benci banget sama gue?"


"Emang lo pantas dibenci!" Reno sinis.


"Gue salah apa? lo ngomong biar gue ngerti dan bisa perbaiki diri!" Arkan masih di tempatnya. Dia pengen banget ngajak adeknya ini ngomong.


"Cih, perbaiki diri! sok baik banget jadi orang, dan itu yang bikin gue tambah muak sama lo!" Reno dengan nada penuh penekanan.


"Terus gue harus gimana? kita ini saudara, Ren! mau lo benci sama gue, nyatanya kita ini sedarah. Kita lahir dari ibu yang sama, sebenci apapun lo sama gue. Lo tetep adek gue yang gue sayang dan gue pengwn lindungi," Arkan miris dengan hubungannya dengan Reno.


Dia perlahan maju satu langkah dengan sangat pelan.


"Berhenti peduliin gue, karena gue nggak suka," kata Reno.


"Meskipun lo nggak suka, gue akan tetep peduli,"


"Lo kira, dengan lo bayarin utang gue sama Kalin, terus lo kura bakal jadi pahlawan buat gue?! nggak, nggak sama sekali!' Reno masih dengan kemarahannya.


"Lo kalau mau marah sini marah sama gue. Pukul gue kalau perlu. Keluarin semua amarah lo, gue bakal terima dan gue nggak akan ngelawan,"


Sreeettttt!


Reno mendorong kursi belajarnya yang memiliki roda.


"Jangan salahin gue, karena lo sendiri yang nantangin!" ucap Reno yang kini secepat kilat


Brakk!


Kursi itu menengenai ranjangnya.


Bughhh!

__ADS_1


Bughh!


Bughhh!


Reno melayangkan jotosannya, bolak balik pada Arkan yang sama sekali nggak bersuara.


Bughh!


Bughh!


Reno memukuli wajah dan perut Arkan, dan abangnya itu tetep nggak bersuara. Sama sekali nggak mengaduh sedikitpun.


"Gue benci sama lo! karena lo udah ngerebut seseorang yang berarti banget buat gue!" Reno mencengkram kaos Arkan.


Meskipun dalam kegelapan dia bisa ngerasain darah yang menetes di lengannya, udah pasti itu darah milik abangnya.


Bughh!


Reno memukul lagi dan mendorong badan Arkan, sampai nggak sengaja kepala Arkan menekan stop kontak.


Klek!


Byarrr!


Lampu seketika menerangi seluruh penjuru ruangan. Mata Reno yang kaget pun seketika menutup kemudian menyipit mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang membuatnya silau.


Dia mengangkat wajahnya dan ngeliat Arkan yang udah babak belur. Reno dengan nafas yang terengah-engah melihat Arkan dengan nyalang.


Dia melepaskan Arkan dengan kasar, "Lo yang minta bukan gue!"


"Gue harap ini bisa melebur rasa benci di hati lo, Ren! karena gue, nggak ngerebut apa-apa dari lo!"


Arkan menggeleng, "Gue sama Vela nggak ada apa-apa, Ren!" lirih pria yang mengusap bibirnya dengan punggung tangan.


Sreettt!


Brakk!


Punggung Arkan ditekan ke tembok sementara lengan Reno menahan leher abangnya.


"Lo mau mainin perasaan Vela? hah?"


"Gue nggak bisa, karena gue tau lo suka sama dia. Gue nerima ajakan jalan Vela, karena dia putus asa. Gue cuma nemenin dia, Ren. Vela terlalu stress dengan orangtuanya yang nggak pernah akur," kata Arkan.


"Gue nemuin Vela, karena gadis itu butuh sosok orang yang dengerin dia, Ren! gue nggak mau dia berbuat hal yang nekat, karena gue yang jauhin dia..."


"Kalau lo suka, lo bisa deketin Vela..." lanjut Arkan yang ngeliat wajah adiknya dengan mata yang sayu.


"Percuma karena yang dia suka itu lo bukan gue!" Reno melepaskan Arkan. Dia berbalik.


"Lo belum nyoba, gimana lo tau?"


"Gue bisa liat tatapan dia, ketika natap lo. Dan tatapan itu beda ketika sama gue!" Reno sabgat sakit mengatakan itu.


"Gue nggak akan ngerebut apapun yang lo suka, Ren! lo bisa percaya itu!" kata Arkan.

__ADS_1


"Sini lo!" Reno membawa Arkan keluar.


Dia ngeluarin motor dan ngeboncengin Arkan.


"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Arkan.


"Udah diem aja! gue lagi nggak suka lo tanya-tanya!" Reno ketus.


Sementara Arkan mencoba menahan rasa sakit, ketika angin malam menghantam wajahnya yang terasa perih.


RmSepanjang perjalanan Reno sama sekali nggak ngomong sepatah katapun.


Sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah klinik.


"Mau ngapain?"


"Benerin muka lo yang menyebalkan itu!" jawab Reno.


Berbeda dengan Reno yang udah puas meluapkan amarahnya, Kalin masih ketar-ketir dengan apa yang akan terjadi malam ini.


Di hadapan keluarga, Kalin duduk di samping Raksa.


'Ternyata bukan cuma ada kerja paksa, tapi ada juga nikah paksa! astaga, bapak gue kira gue ini nggak laku apa gimana dah?!' bapak gue kura ini masih jaman kolonial apa gimana ya ampuuuun?!' Raksa ngedumel mulu dalam hatinya.


'Apa kata dunia, gue tunangan sama orang yang 9 tahun diatas gueeeeee?!' Kalin juga nggak kalah berontak dalam batinnya.


Bapaknya Raksa mulai mengambil langkah pertama, "Jadi, pak Diki. Malam ini, kami sekeluarga datang kesini untuk meminang putri bapak untuk anak saya Raksa Kamaludin. Sekiranya bapak mau menerima pinangan kami,"


'Astagaa bapak gue, ngkmongnya formal amaaatttt?! deuh, kepala gue cekot-cekot!' Raksa hanya bisa ngebatin.


Ayah Diki mengangguk, "Baik, setelah penyelidikan dan penilaian cukup lama, ternyata anak bapak memenuhi kualifikasi sebagai calon suami dari anak kami Kalin Arsila Cayapata. Jadi, dengan ini kami berdua menyetujui pinangan keluarga pak Hendra. Tapi mengingat anak saya masih sekolah, ehm jadi untuk sementara ini kita ikat mereka berdua dalam tali pertunangan. Sampai dinilai mereka berdua udah sama-sama siap melangkah ke tahap pernikahan. Bagaimana, Pak?" tanya ayah Diki.


Pak Hendra berdehem dengan wibawanya, sedangkan Raksa udah mcuma bisa geleng-geleng kepala, mau nyerobot nggak mau takut dikatain anak durhaka. Jadi ya udahlah apa kata bapak sama ibuk bae, kita mah kagak punya power buat ngelawan ceunah.


"Kamu  masih bisa sabar kan. Raksa?" tanya pak Hendra.


Sedangkan Raksa melongo ngeliat bapaknya.


'Ini lagi main nikah-nikahan apa gimana sih? absurd banget bapak gue! bukan cuma bapak gue tapi ayahnya Kalin juga nggak kalah aneh!' Raksa ngedumel mulu.


Ya kan awal-awal ayahnya Kalin kayaknya tegas, serius gitu. Nah kok hari ini malah gacor banget, nggak kayak pertama kali ketemu.


"Raksa? jawab pertanyaan bapak!" bu Selvy lirih dengan nada gregetan, pengen nggetok kepala anaknya pakai centong nasi.


Raksa yang daritadi sibuk sama isi pikirannya sendiri pun nanya balik, "Tadi apa, Pak?"


"Kamu masih bisa sabar kan?"


Raksa pun yang pikirannya lagi entah kemana, ngeliat mata bapaknya melotot sambil bibir menyon kanan menyon kiri, pun akhirnya ngangguk, "Ya...?"


"Alhamdulillah..." ucap semua orang kecuali Kalin dan Raksa yamg dibikin mumet sama keluarga mereka sendiri.


Malam itu akhirnya, terjadilah pemasangan cincin. Entah kapan belinya, satu kotak perhiasan beludru warna buru tua itu pun keluar dari balik tubuh bu Selvy.


"Waktunya bertukar cincin," ucap ibu Selvy sembangat.

__ADS_1


Sedangkan Raksa cuma bisa bergumam dalam hatinya, 'Astagaaa, opo maneh iki? (astaga, apa lagi ini?)'


Dan ya, sudah bisa ditebak, mereka berdua Kalin dan Raksa kemudian bertukar cincin. Bukan dengan pandangan mesra dan penuh kasih, tapi mereka saling melempar pandangan yang ngenes.


__ADS_2