Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Omnya Kalin


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Raksa saat Kalin begitu keluar dari taksi langsung masuk gitu aja ke dalam rumah. Dia duduk di meja makan.


"Nggak apa-apa. Aku cuma nggak enak badan!" kata Kalin.


Dia melepaskan outer-nya dibantu juga sama Raksa karena diliat-liat si Kalin ini kayak orang yang kecapean banget.


"Istirahat dulu aja. kelamaan jalan-jalan ini mah paling!"


"Aku mandi dulu, nggak enak tiduran di kamar kalau belum mandi..."


Raksa memijat bahu Kalin, bukannya malah pegelnya ilang, Kalin malah kegelian.


"Kamu kenapa sih? dipijit malah uget-uget kayak gitu,"


"Nggak apa-apa, cuma geli aja..."


"Ah, nggak biasanya gelian. Kenapa, sih?" Raksa merasa janggal dengan istrinya.


"Nggak apa-apa, Mas..."


"Eh, enak tau kalau kamu panggil, Mas! apalagi dengan suara lembut kayak gitu, aku berasa dapet angin surga,. beuuh bikin nyaman dan tenang banget!" kata Raksa.


"Gombal aja bisanya. Aku mandi duluan, ya?"


"Ya udah mandi dulu aja. Nanti aku bikinin air jahe. kayaknya aku masih punya jahe di kulkas!" kata Raksa.


"Kayak emak-emak aja,"


"Ibuk suka ngajarin bikin ramuan dari bahan-bahan kayak gini. Dan ini lebih bagus daripada minum obat..."


"Iya deh iya. Mandi dulu ya, Mas..." kata Kalin dia mengambil tas miliknya.


"Oh ya makasih ya tasnya!"


Cup!


Kalin mengecup pipi Raksa sekilas.


"Heyyy! harusnya bukan disini! tapi disini nih..." Raksa yang menunjuk bibirnya, sedangkan Kalin langsung kabur dengan belanjaan di tangannya yang ikut dibawa masuk.


"Haiishhh, harusnya dia bisa berterima kasih dengan cara yang bener! Dasar bocil!" gumam Raksa.


Lagi sibuk nunggu air mateng jahe mateng dengan sempurna, tiba-tiba pak Galang telpon.


"Mau apa lagi nih bapak-bapak?!!" gumamnya saat ngeliat nama pak Galang tertera di layar.


Raksa kecilin kompor dan angkat tuh telpon.


"Assalamualaikum!"


'Waalaikumsalam! Raksa, kapan kalian akan pulanng?" tanpa basa-basi pak Galang menodong Raksa dengan pertanyaan.


"Ya sesuai dengan jadwal, Pak!"


"Yang bener kamu!" pak Galang kali ini ngotot.

__ADS_1


"Ya iya lah, Pak bener masa iya nggak bener?"


"Awas kamu ya kalay gonta ganti tanggal lagi!" ancam pak Galang.


"Ya elah, Pak! yang gonta ganti tanggal itu keponakan Bapak! bukan saya! saya mah ngikut doaaaanggg?! kita ini kaum suami yang nggak bisa lawan rengekan istri, Pak!"


"Lagi ngobrol sama siapa, Mas?" tanya suara lain.


"Sama Raksa, Sayang!"


"Wah, pak Galang lagi sama siapa tuh? saya laporin sama tante Atha!"


"Heh? jangan aneh-aneh kamu! ini saya lagi sama istri saya!" pak Galang emosi, padahal niat Raksa cuma bercanda.


"Kok pake marah-marah, Mas?" tanya suara itu lagi lembut.


"Nggak kok, Sayang! ini emang sinyalnya kurang bagus. Maklum kita antar negara jadi ngomongnya harus pakai tenaga, biar omongannya nyampe sampe kesana!" ucap pak Galang lembut.


'Sekate-kate lo, Pak? lo aja yang emosian! Ck ck ck, bucin juga ternyataaa nih orang!' batin Raksa ketika mendengar percakapan antara pak Galang dan tante Atha.


"Kopinya ya? aku mau lihat mama dulu," kata tante Atha.


"Makasih, Sayang?!" ucap pak Galang yang berusaha semanis mungkin.


Sedangkan Raksa yang masih mode nyimak cuma bisa 'Owak oweek' nahan gumoh karena mendengar pak Galang yang galak bisa berubah menjadi lembut dan penuh perhatian pada tante Atha.


"Jadi gitu ya, Raksa! jangan gonta-ganti tanggal! soalnya Oma kalian pengen ketemu! kalian jangan php-in orangtua!" pak Galang suaranya keras lagi


"Siap! saya mah ngikutin Kalin doang!"


"Iya tapi kan kamu bisa nasehatin! kamu ini jangan apa-apa nurut istri! kamu itu kan suami, kamu yang harus memimpin!"


"Iya, Sayang! nanti aku panasin, yaaa...." jawab pak Galang.


"Ya sudah, Raksa! inget jangan ganti tanggal!" pak Galang sebelum akhirnya dia menutup panggilan teleponnya.


"Beuuuhhh! sangar nya sama gue doang! giliran sama tante Atha langsung kayak kucing meong-meong!" gumam Raksa, dia ngomentarin kelakuan Om dari Kalin yang juga mantan bosnya di kantor.


"Nggak enak nya kalau bos jadi keluarga nih kayak gini nih, vibes nyuruh-nyuruh nya kuat banget!" Raks amatiin kompor dan nyari mug.


Karena kayaknya si Kalin udah selesai mandi, dia lihat sekilas ngeliat tuh bocah masuk ke kamar mandi terus sekarang udah masuk lagi ke kamar.


Raksa dengan hati-hati membawa masuk mug, dn beneran si Kalin udah mandi dengan rambut yang basah, mana rambutnya Kalin ini panjang.


"Loh kok keramas? kan kita belum ngapa-ngapain?"


"Emangnya kalau keramas harus ngapa-ngapain?" Kalin dengan sinis.


"Ya nggak sih, cuma kan kasian kamunya kalau keramas dua kali!" Raksa naikin turunin salah satu alisnya.


"Nih jahenya udah jadi, kamu minum dulu!" Raksa membantu Kalin buat ngeringin rambutnya pakai handuk.


"Kalau lagi nggak enak badan itu jangan basahi kepala, yang ada kamu tambah meriyang!" kata Raksa.


"Aku meriyang bukan karena basahin kepala, tapi karena tangan kamu yang suka kemana-mana!" ucap Kalin.

__ADS_1


"Emang tanganku kenapa? tanganku cuma disini?" ucap Raksa menunjukkan tangannya sendiri.


Kalin nggak mau nanggepin raksa, dia mencoba menyerupus minuman jahenya dan beneran enak banget.


"Tadi siapa yang telfon?" lanjut Klain nanya, dia menghentikan tangan raksa yang lagi mijitin kepalanya dengan pakai handul sekalian ngeringin rambut Klain.


"Om kamu!"


"Om Galang?" Kalin mastiin.


"Iya. Dia bilang kalau Oma pengen banget ketemu sama kita. Kayaknya kondisi Oma lagi nggak baik deh, Kalin..." kata Raksa.


"Emang Om galang bilang kayak gitu?" Kalin menaruh mug nya dan melihat Raksa dengan dari pantulan cermin.


"Nggak bilang tapi feelingku sih begitu. Karena tumben-tumbennya dia male-malem sampe nelfon aku buat bilang kita nggak boleh gonta-ganti tanggal kepulangan! ya aku bilang aku mah nurut sama kamu,"


"Kok aku sih?" Kalin menatap suaminya, dia nengok dengan muka yang kesel.


"ya kan kamu yang minta jalan-jaln dulu, sayang!"


"ya tapi kan jangan ngomong gitu, dong!"


"Ya kan emang alasannya itu!"


"Ya cari alasan apa kek! Mamng kan bisa nyari alesan lain1" Klain mulai manggil mamang lagi.


Srrrruupp!


Kalin menyeruput jahenya lagi dan berdiri, dia menyingkir dari Raksa dan ngambek. Dia  bawa mug itu ke pinggir ranjang.


"Rambut kamu, Kalin!" ucap Raksa dengan masih memegang handuk berwarna putih.


"Tauk ah!"


'Astaga, nih bocah merong-merong bae! salah ngomong nih gue?' batin Raksa.


"Sayang? Kaliiiin..." Raksa bawa handuk itu lagi buat nyamperin istrinya yang lagi minum jahe anget.


Kalin menaruh mug nya di nakas dan masuk ke dalam selimut!"


"Kalin? main, yuk?" ucap Raksa, suaranya dimirip-miripin bocil.


"Ogah! main aja sendiri! wleeee..." Kalin menjulurkan lidahnya sementara dia menutup setengah badannya dengan selimut tebal.


"Kok main sendiri, sih?" Raksa kecewa.


"Ya udah deh, aku mandi ya?" ucap Raksa yang menyampirkan handuk itu ke pundaknya.


"Hem!"


Raksa berbalik dan keluar kamar.


Ceklek!


"Nggak mau ikut?" tanya Raksa.

__ADS_1


"Nggak mauuuu!" seru kalin.


Raksa menutup pintunya lagi, "Haiishh, kenapa si bocil hawanya bad mood mulu! heran gue! nasiiib nasiiiiiib nikah sama bocah ya kayak gini, nih! kudu sabaaaarrrrrrr," ucapnya gemas sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2