Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Bincang Keluarga


__ADS_3

Kalin pun memalingkan wajahnya terus ke kaca selama mereka di dalam mobil. Suka nggak bisa diprediksi nih si Mamang, suka banget banget tium sembarangan. Tingkah Kalin itu malah bikin Raksa makin gemes.


Nggak apa-apa lah dipanggil mamang juga, yang penting itu pipi dia yang punya.


"Tempelin lagi tuh jidat ke kaca!" Raksa nyeletuk.


"Liat jalan segitunya? kenapa?"


"Kalau kata Nova mah, nggilani!" ucap Kalin.


Raksa malah ketawa, dia nyentuh bibirnya tanpa rasa bersalah.


"Jadi, mau sarapan apa kita?" tanya pria itu sambil nyetir.


"Apa aja,"


"Berarti lo termasuk golongan Omnivora ya?!" celetuk Raksa.


"Maksudnyaaa?"


"Ya, pemakan segalanya! ditanya mau makan apa kok ya dijawab apa aja! dasar bocil!""Raksa memutar stirnya. Dia berbelok.


"YA apa? paling kalau buat sarapan ya segala macam bubur, ketoprak, nasi pecel, nasi uduk!" Kalin jengkel.


"Nah itu! kita makan nasi uduk aja!" kata Raksa.


Akhirnya mereka berhenti di warung nasi uduk yang ada di sekitar situ. Berhubung Kalin udah laper ya udah mau nasi uduk kek, nasi kuning kek, sikat aja semua.


"Nasi uduknya dua, komplit!" ucap Raksa. Nggak lupa dia juga pesen minuman buat mereka.


"Waktu kelulusan kemarin, pulang ke rumah jam berapa?" tanya Raksa, random banget.


"Astagaaa, suka banget sih ngadain kuis dadakan?!"


"Feeling gue mengatakan, lo itu pulang sore. Padahal kan kita selesai makan itu siang!" ucap Raksa mengingat saat dirinya minta ijin sama bunda Lia buat ngajak Kalin makan malem bareng temen-temennya.


"Emang!"


"Emang apa?" Raksa naikin satu alisnya.


"Emang gue balik sore!" sahut Kalin.


"Kemana aja? ikut konvoi?" Raksa dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Boro-boro ikut konvoi! nih, tangan gue, capek ngedorong motornya si Nova yang mogok! tuh orang lupa isi bensin. Jadi gue sama dia jalan kaki sambil ngedorong motor sepanjang jalan,"


Pufffttt!


Raksa menutup mulutnya dengan punggung tangan, dia menyembunyikan tawanya.


"Udah? seneng? iya?" Kalin dengan tatapan sinis.


"Betis gue pegel! pulang sekolah pengen istirahat, malah disuruh ikut mamang makan malem sama temennya!" Klain jadi inget gimana capeknya dia waktu itu.


Tak berselang lama, makanan mereka pun datang. Raksa yang sempat mencurigai Kalin ikut konvoi bareng temen-temennya pun menyodorkan sepiring nasi uduk yang masih panas.


"Makan dulu!" ucapnya.


Tanpa basa-basi diembatlah itu nasi dengan lahapnya. Beda sama cewek yang suka jaim, ini bocah makan dengan enak aja. Santai tanpa beban.


'Ternyata punya pasangan bocil nggak jele-jelek amat! minimal gue bisa bebas ngajak dia kemana pun tanpa harus takut ketemu sama temen satu kantor!' batin Raksa.


"Oh ya? ambil salah satu universitas yang lo mau! ntar kita urus visa nya bareng-bareng!" ucap Raksa.


Seketika Kalin berhenti makan. Dia menatap pria yang super menyebalkan itu.


"Terus kerjaan lo?"


Kalin mengangguk. Matanya nggak lepas dari sosok yang ada di depannya itu.


Sebagai calon menantu yang baik, Raksa nganterin Kalin lagi sampai ke rumahnya. Dia juga ketemu sama bunda dan ayahnya Kalin. Sekalian mau nanya, kapan orangtuanya bisa berkunjung kesana buat ngobrolin masalah pernikahan. Ayah Diki mah oke-oke aja. Nanti malam pun dia siap, kalau emang orangtua dari Raksa akan datang.


Raksa pikir, dia harus gerak cepat karena waktu yang udah sangat mepet. Banyak hal yang harus diurusnya setelah itu. Pulang ke rumahnya Raksa bilang sama pak Hendra buat siap-siap ntar malem mereka sekeluarga bakal bertandang ke rumah Kalin.


"Memangnya benar apa kata bapak? kalau setelah menikah kamu akan ikut Kalin buat nerusin kuliahnya di luar negeri?" tanya ibuk saat mereka semua berkumpul di ruang tengah, termasuk Nova dan pak Hendra.


"Iya, Buk!"


"Wiiihhhh, gentle banget abang gueee?!!" Nova tepok tangan, dia girang banget akhirnya Kalin bisa mewujudkan impiannya.


Raksa naikin satu sudutnya pada Nova, "Woyaaa jelas itu!"


"Berarti kamu akan ninggalin ibuk, ya Raksa?" bu Selvy mendadak melow.


"Lah, bukannya ini yang ibuk sama bapak mau? jodohin Raksa dengan Kalin, dan menginginkan kita berdua menikah? kok sekarang ibu yang nggak rela gitu?" tanya Raksa.


"Ya ibuk kan taunya kamu nikah ya nikah, tapi masih bisa tinggal disini. Di rumah ini..." bu Selvy yang sendu.

__ADS_1


"Ya nggak mungkin lah, Buk! kalaupun aku menikah, aku pasti akan bawa istriku tinggal di rumah lain. Kan ibuk pernah bilang, tinggal sama mertua itu seperti siksaan?"


*Plakkkk*!


"Kapan ibu bilang kayak gitu!" bu Selvy menabok lengan anaknya yang keras.


"Apa benar itu, Bu? jadi selama ibuk tinggal di rumah bapak yang dulu ibu merasa tersiksa?" tanya pak Hendra.


Bu Selvy menggeleng, dia mengusap air matanya, "Nggak, Pak! ini Raksa aja yang ngawur ngomongnya! ibuk nggak pernah bilang kayak gitu, loh! iya kan Nov?" ibu mencari dukungan anaknya yang lain.


"Emmhh?" Nova mikir.


Plakkk!


"Ini lagi pakai mikir segala!" kali ini bu Selvy menabok lengan putrinya.


"Ibu kurangi uang jajan kamu nanti!" lanjutnya mengancam Nova.


"Nggak kok, Pak! ibu nggak pernah tuh bilang kayak gitu, nggak pernah. Iya kan, Bu?" Nova membela ibunya.


"Jadi gimana, Pak? Buk?" Raksa nanya sambil ngeliatin ibu dan bapaknya.


"Bapak sih terserah kamu. Kamu sudah besar. Tugas bapak membimbing kamu sudah selesai. Nggak sia-sia bapak mendidik kamu dengan keras, setelah dewasa akhirnya kamu nggak takut menghadapi tantangan dalam hidup. Dulu bapak sama ibuk juga hidup susah dulu, kamu nggak usah ragu. Rezeki sudah diatur, bapak yakin kamu pasti bisa bertahan disana!" ucap bapak.


"Ibu gimana, Bu?" tanya Raksa pada ibunya.


"Ya sudah, kalau itu keputusan kamu. Ibu bisa berbuat apa? tapi begitu Kalin sudah lulus, kalian berdua harus segera pulang ke sini! jangan keenakan tinggal disana, ngerti?" ucap bu Selvy.


"Abang nggak nanya pendapat Nova?" adik Raksa nyeletuk.


"Haiishhh, bocil mah nggak usah ditanya! nggak penting?!"


"Bocil-bocil gini juga mantan agen air minum galon! eh, agen mata-mata kalian loh!" ucap Nova.


Dan semua orang pun ketawa dengan banyolan Nova. Apalagi ibuk, beliau mencubit pipi Nova yang semakin menggemaskan.


"Jadi? kapan kita menemui Om Diki?" tanya anak tertua di keluarga itu.


"Minggu depan!" sahut pak Hendra, mantap.


"Nggak malam ini aja, Pak?"


"bapak nggak enak badan. Minggu depan saja kita atur, dan ibu juga kan harus beli hantaran buat ke rumah calon besan. Nggak mungkin kita datang dengan tangan kosong. Cepat boleh, tapi jangan terburu-buru!" ucap pak Hendra yang diangguki anaknya.

__ADS_1


__ADS_2