
Niat hati mau marathon nonton lah jam setengah 9 udah molor tuh si Nova. Mungkin kecapean juga habis ngemall, makanya tuh bocah baru nonton drama setengah jalan aja udah tidur duluan.
Namun nggak disangka, Kalin yang masih ngikutin jalan cerita drama tentang pembalasan dendam seseorang pada mantan pacarnya itu pun, harus mengangkat telepon dari Raksa.
"Tumben-tumbenan si Mamang nelpon jam segini? padahal udah waktunya adek cuci tangan cuci kaki terus bobok cantik lho padahal!' batin Kalin.
Tapi barangkali ada sesuatu hal yang penting, jadilah Kalin ngecilin volume tivi dan mulai nanggepin Raksa yang basa-basi nanyain Nova.
"Lagi ngapain?" tanya Raksa.
"Lagi nonton," Kalin melirik Nova yang udah ngorok.
Lampu sengaja dibuat redup, mereka pakai lampu tidur yang sedikit temaram.
"Nova juga?" tanya Raksa.
"He'em, tapi udah tidur!"
"Tadi jalan sampai jam berapa?" pertanyaan yang simple tapi berasa lagi diinterogasi.
"Jam berapa ya?"
"Sore banget?" tebak Raksa.
"Kok nggak ngabarin kalau udah sampai di rumah?"
"Emang harus lapor ya?" ucap Kalin.
Dia ngerasa kalau Raksa nggak kayak biasanya. Ada kesan dingin, marah, kesel yang berada dalam satu tarikan nafas orang itu. Jadi pas ngomong keluar nadanya tuh nggak enak di kuping.
"Gue nggak suka cowok posesif!" lanjut Kalin yang cenderung blak-blakan.
"Sorry, gue cuma khawatir karena lo nggak ngabarin! gue nggak maksud buat posesif atau mengekang lo, Kalin!"
"Tapi tadi udah hampir!" Kalin nggak mau kalah.
Tapi sesaat dia keinget sama cewek yang ngakunya masih memiliki hubungan cinta dengan Raksa. Jadi ketika ngobrol sama tunangannya itu, Kalin juga nggak bisa mengontrol emosinya. Dia meragukan soal keseriusan Raksa kali ini.
"Kok diem?" suara Raksa tiba-tiba terdengar begitu lembut.
"Nggak apa-apa,"
"Huuughhhh," suara helaan nafas dari mulut Raksa terdengar oleh Kalin.
Raksa pun bingung, apa yang akan dia bicarakan lagi. Dalam hati dia pengen banget nelpon Kalin. Pengen denger suara gadis yang tadi siang mampir ke kantornya. Tapi bukannya merasa tenamh, Raksa malah merasa bersalah karena kejadian tadi siang dengan Rahmi.
"Kalau udah selesai, gue matiin---"
"Jangan!" serobot Raksa.
"Jangan ditutup! gue masih pengen denger suara lo!"
__ADS_1
"Tapi gue nggak ngomong! apa yang lo pengen denger? aneh!" kata Kalin.
"Emang gue jadi aneh semenjak kenal sama lo!" Raksa menimpali, sampai Kalin terdiam sendiri.
"Gue yang dewasa ini mendadak ketularan jadi bocil sejak kenal sama lo! jadi lo harus tanggung jawab!"
"Dih, kok gue yang tanggung jawab? apa nggak kebalik?" Kalin emosi.
Sedangkan Raksa yang mendengar tunangannya itu misuh-misuh nggak jelas, malah senang, karena dia mulai bisa mendamaikan hatinya.
Raksa ketawa sendiri saat Kalin selalu emosi saat terpancing oleh kata-katanya.
"Lusa gue dan keluarga mau dateng ke rumah lo! gue akan minta Om Diki mempercepat pernikahan kita,"
Mendengar kata pernikahan, pikiran Kalin lagi-lagi tertuju pada perempuan yang di temuinya di toilet mall. Dia bisa menemui Kalin disana, berarti dia sudah mengenal Kalin atau lebih parahnya sengaja mengikuti supaya bisa kasih ultimatum.
"Kok diem lagi? lo udah ngantuk?" tanya Raksa.
"Kenapa harus dipercepat?"
"Nggak apa-apa! biar kita bisa adaptasi buat tinggal bareng, kalau terlalu mendadak, gue takut semuanya nggak sesuai rencana!" kata Raksa.
"Ehm..." Kalin ragu buat ngomong.
"Kenapa?"
"Emang lo seserius itu? lo nggak lagi mainin gue? secara lo kan udah dewasa, dan gue masih anak kecil..." ucap Kalin, yang perlahan mulai tertarik dengan pria yang biasa dia panggil Mamang.
Wajah Kalin memerah seketika.
"Gue mau kita menikah! lo nggak usah khawatir, gue udah urus semuanya, gue juga ada kenalan orang KUA. Dijamin semuanya nggak bakal dipersulit," kata Raksa.
"Berarti lo emang nikah sama gue bukan karena paksaan orangtua?" Kalin mau mastiin sekali lagi.
"Apa gue harus kasih pengumuman lewat toa masjid? kalau gue serius sama lo, gue pengen nikah sama lo, dan bisa bareng berangkat buat ngikut lo kuliah!"
"Ngikut gue kuliah?" Kalin naikin alisnya.
"Maksud gue bukan ngikut yang sebenernya! tapi jagain lo disana. Biar lo nggak bandel!"
"Lo kali yang bandel?!" Kalin balik nuduh.
"Gue? nggak lah! masa gue bandel," suara Raksa agak lain. Dia ngerasa jadi tersangka disini, padahal Kalin nggam tau sama sekali perihal rujak lambe tadi siang. Lagian Raksa juga nggak sengaja.
'Gue harus secepetnya pergi, sebelum Rahmi bertindak yang diluar nalar dan otak gue!' batin Raksa.
Malam itu, kedua pasangan beda usia itu ngobrol cekikikan sampai malam. Raksa enggan menutup telepon sampai akhirnya keduanya tertidur dengan hape yang masih menempel di telinga.
"Astagaa, kresek-kresek apaan sih?" Nova yang masih setengah tidur pun bangun dan mendapati tivi yang masih menyala. Dia gelatakan nyari remote dan mematikan tivi. Namun suara kresek-kresek itu tetnyata masih kedengeran. Dan ternyata bersumber dari hape Kalin.
Nova menyipitkan matanya saat membaca na di layar hape temannya itu.
__ADS_1
"Mamang?" gumam Nova.
Dilihat gambarnya itu gambar wajah abangnya.
"Jadi? dia save nama abang gue dengan nama Mamang? hahahah," Nova nggak bisa menahan tawanya.
Kalin pun menggeliat.
"Ups!" Nova menutup bibirnya sendiri dengan tangan. Dia ketawa dalam hatinya.
"Aneh banget panggilan sayangnya!" gumam Nova.
Nova menutup panggilan Raksa di hape Kalin, "Brisik lu, Bang!" ucapnya lalu menyimpan hape Kalin ke tempat semula, tepatnya di samping bantal yang ditiduri sahabatnya itu.
Namun, niat hati pengen tidur lagi, apadaya mata Nova nggak mau terpejam lagi. Dia mencoba nonton youtube tapi malah matanya semakin terbuka lebar.
Nova melirik jam yang sudah menunjukkan pukul dua pagi.Dia inget sama Farid, lantas Nova pun menghubungi pria itu.
Tapi sesaat kemudian, dia mengurungkan niatnya untuk menelepon dan memilih untuk mengirim chat what's up.
Malam, Bang...
Nova baru mengetik satu kalimat, ternyata dia mendapat balasan dari Farid.
Malam juga, Nov! ada apaan? bocil jam segini belum tidur?
Nova pun manyun, ketika membaca balasan dari teman abangnya itu. Tapi demi menuntaskan rasa penasarannya, Nova mengesampingkan panggilan yang sama sekali nggak disukainya.
Belum! maksudnya, belum tidur lagi. Oh ya, ada yang pengen gue tanyain,
Farid pun membalas lagi.
Apa?
Nova mengetik sesuatu lalu menghapusnya lagi. Dia mikir, apakah perlu menanyakan ini. Tapi karena udah kepalang tanggung, Nova akhirnya membalas pertanyaan itu. Dia memijit layar hapenya.
Bang Farid tau nggak mantan terakhirnya bang Raksa?
Secepat kilat Farid membalas dengan sebuah panggilan telepon.
"Halo? Nov?" sapa Farid yang suaranya bikin hati Nova meleleh.
"Halo juga..."
"Kenapa lo nanyain itu? emangnya ada apa?" tanya Farid.
"Nggak apa-apa. Soalnya sejak di mall, Kalin kelakuannya aneh, dia nanya-nanya soal seandainya ada orang di masa lalu abang gue yang tiba-tiba muncul. Gue jadi penasaran, apa bang Raksa masih menjalin hubungan dengan seseorang? atau ada hubungan yang belum dikelarin saat ini?" tanya Nova macam orang yang berpengalaman dalam hal pacaran.
Farid pun terdiam. Dia merasa bingung harus menjawab apa. Tapi berhubung dia nggak ada perjanjian lagi dengan Tania, akhirnya Farid memilih buat cerita yang sejujurnya dengan Nova.
"Jadi sebenernya gini..." Farid pun mulai menceritakan bagaimana kisah cinta temannya itu. Farid ceritain semuanya, termasuk tentang promosi jabatan Raksa beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
'Jadi abang gue sebucin itu? sampai dia rela melepaskan pekerjaannya, padahal baru aja naik jabatan? gue jadi tau semuanya! gue nggak akan biarin siapapun ngerusak hubungan Kalin sama abang gue! Meskipun itu mantan yang iri dengki sekalipun! gue bakal bantuin lo, Kalin!' batin Nova.