
Pagi itu Kalin minta dianterin, mungkin efek dari baru aja baikan dan jadi pengen menebus hari-hari kemarin yang sempet dingin karena diem-dieman. Raksa juga sedikit banyak mulai bisa mengontrol egonya, dia nggak mungkin mengekang Kalin. Meskipun dalam hati, dia selalu was-was karena gimanapun yang namanya Kalin ini bukan cuma pinter tapi juga cantik, nggak mungkin orang bisa berpaling dari pesonanya, kecuali tuh orang udah tau kalau Kalin udah nikah dan tukang ngeribetin hidup, pastilah mungkin dia mikir dan mundur alon-alon. Lah kalau orangnya nekat kayak Rahmi? Nggak tau deh gimana jadinya hidup Raksa ke depannya.
Hari ini ada kelas umum, jadi mereka semua dikumpulin di ruangan auditorium yang super gede.
'Tumben dia senyum? Apa dia lagi bahagia banget hari ini? Nggak senyum aja udah cantik, apalagi senyum kayak gini, gue jadi nggak bosen liatinnya,' batin Arvin yang kebetulan duduk di samping Kalin.
Emang dari pagi, tuh orang udah ngincer tempat duduk di samping salah satu murid yang berasal dari negara yang sama dengan dia, karena satu kelasnya itu campuran dari berbagai negara. Dan Arvin udah kepincut dari awal dia ngeliat Kalin.
Ngerasa dari tadi ada merhatiin, Kalin pun nggak sengaja ngeliat dengan ekor matanya orang yang ada disampingnya.
'Ngapain dia cengar-cengir? kesambet setan bule apa gimana?' batin Kalin.
Sedangkan Arvin sendiri, tersenyum dengan sesekali mengetukkan pulpennya di atas buku yang sama sekali belum ada noda sejak pagi tadi, jadi apa yang disampein di depan sama dosen, nggak didengerin. Dia sibuk memandangi salah satu keajaiban Tuhan.
2 jam yang sangat menjemukan akhirnya berakhir juga, selesai kuliah umum para mahasiswa pada bubar. Ada yang ke perpus, ada yang ngantin ada juga yang pacaran di bawah pohon beringin, eh canda beringin. Ada yang duduk di taman sambil melepas penat gitu ya maksudnya.
Nggak jauh berbeda dengan Kalin, dia pengen segera menemui suaminya yang daritadi ngejogrog nungguin dia di bangku taman. Sewaktu Kalin memasukkan bukunya tiba-tiba tangan Arvin memengang lengannya.
"Ehm sorry, gue bisa pinjem catetan lo, nggak? gue lupa bawa kacamata, jadi gue nggak begitu jelas ngeliat layar. Gue liat lo daritadi nyatet, kan?" tanya Arvin, basa-basi.
"Punya gue nggak terlalu lengkap, lo bisa pinjem sama yang lain," karena satu negara, Kalin menjawab Arvin dengan bahasa sehari-hari.
"Ehm, sejujurnya gue belum begitu kenal sama yang lain, jadi gue nggak nyaman mau pinjem-pinjem,"
"Kita juga nggak begitu kenal," serobot Kalin.
"Ya, tapi kan kita satu negara, mungkin juga satu kota. Jadi sesama orang Indonesia, bisa lah kita saling membantu. Ntar kalau lo butuh bantuan apa gitu, lo bilang aja sama gue. Nanti gue bantu," ucap Arvin.
Kalin melihat ke arah Arvin yang daritadi keukeuh, nggak mau pergi sampai dia mendapatkan apa yang dia mau. pantesan bisa diterima di Universitas ini, lha wong orangnya pantang menyerah begini, pikir Kalin.
Drrrttt!!!
Raksa kirim chat, dia nanya Kalin udah selesai apa belum. Kalin pun yang ditungguin suami jadi ikutan gugup, daripada bikin Raksa nunggu lama karena perdebatan ini, akhirnya Kalin mereklakan bukunya buat dipin jem sama Arvin.
lalu pemuda itu menyodorkan hapenya, "Nomor lo?!"
"Maksudnya biar kalau gue udah selesai, gue bisa ngehubungin lo, atau misal ada tulisan yang kurang jelas misalnya," kata Arvin, alasan bae nih bocah.
Kalin yang dikirim chat Raksa yang bilang bakalan nunggu dia sampai keluar pun akhirnya ya ngasih lagi nomor hape. Dia lupa kalau mereka kan satu kelas, besok juga ketemu lagi. Nggak perlu tukeran nomor hape juga nggak apa-apa, tapi ya udah Kalin udah masukin kontaknya dan ngasih hape itu pada Arvion lagi.
"Oke thanks, ya?" ucap Arvin yang nggak dibalas oleh Kalin.
Dia membaca sebuah nama dengan kontak yang barus saja dimasukkan. "Kalin? nama yang cantik, secantik orangnya," gumam Arvin.
Dengan hati yang senang pemuda itu pun pergi dari ruangan itu.
Sementara Kalin, dengan langkah yang terburu-buru, dia menemui suaminya di bangku taman yang ada di bawah pohon. Karena bingung mau nunggu dimana, ya udah raksa pikir sambil menikmati orang berlalu lalang, dia lebih enak nongkrong disitu.
"Maaf, gue tadi desek-desekan keluarnya!" ucap Kalin dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Nggak apa-apa lagi, kan gue nungguin. Gue nggak nyuruh lo buru-buru juga, jadi keringetan gini, kan?" Raks amengusap keringat di pelipis istrinya.
__ADS_1
Kruuukkkk!
"Laper?" tanya Raksa yang menndengar suara perut Kalin.
"Banget!"
"Pasti kebanyakan mikir, makanya perut sampe berontak kayak gitu. Ya udah kita makan dis ekitar sini, masih ada mata kuliah lagi, kan?"
Kalin menagngguk dengan wajah imutnya, bikin Raksa gemas. Pria itu merangkul pundak kalin dan mengajak gadis itu untuk pergi dari sana.
Dari sekian banyak restoran, raksa mengajak kalin buat makan makanan italia. HArganya juga alhamdulillah nggak bikin kejang-kejang. Sampai akhirnya pasta yang mereka tunggu akhirnya datang juga.
"Wohoooo?!! bikin ngiler!" ucap Kalin yang makin nggak sabar menyantap makanannya.
Raksa senang akhirnya bisa melihat wajah ceria kalin lagi.
"Gimana tadi? nggak telat, kan?" tanya pria itu yang hanya mendapat anggukan dari kalin.
"Awas nanti kena sauce nya," Raksa marapikan rambut kalin yang tadi sempet hampir mau nyentuh makanan.
"Enak? tanya Raksa saat gadi itu menyibakkan rambutnya, sekarang dia mengikat rambut panjangnya biar nggak ganggu.
"Enak banget! mungkin karena gue udah laper," sahut Kalin.
Dia terdiam sesaat dan memandang Raksa.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Kenapa? apa ada yang mau lo tanyain sama gue? tanya aja," ucap Raksa yang udah paham melihat raut wajah Kalin.
"Ehm, sebenernya lo, maksudnya ... selain vidio yang lo dicium Rahmi---" Kalin gugup.
"Maksudnya, selain dicium Rahmi, lo pernah ngapain lagi sama dia?" tanya Kalin.
Raksa melipat tangannya di depan dada, "Kita baru aja baikan loh, Kalin.."
"Iya, gue ngerti. Lo nggak usah jawab kalau lo nggak mau!" ucap kalin, dia pun meneguk minumannya, dia ngerasa mendadak seret.
"Tapi gue bakalan jawab, setelah lo jawab pertanyaan gue. Emang apa yang Rahmi bilang sama lo?" Dan kalin pun menceritakan bagaimana dia ketemu Rahmi dan apa aja yang wanita itu bilang, termasuk saat dia mengatakan kalau dia punya vidio lain yang mungkin akan sulit diterima Kalin.
"Terus dia nunjukin?" tanya Raksa.
"Nggak. Katanya takut ngerusak mental gue!" jawab Kalin.
"Bukan mental lo yang rusak, tapi mental dia. Dia nggak nunjukin ya karena vidio itu smaa sekali nggak pernah ada. Gue nih ya, sebandel-bandelnya gue jadi laki, gue nggak pernah berbuat hal di luar batas sama pacar gue. Apalagi sama Rahmi, kita aja pacaran ngumpet-ngumpet karena nggak mau ketauan perusahaan. Jadi intensitas ketemunya juga jarang. Meskipun gue akui kalau bibir gue emang udah nggak suci, tapi gue jamin yang dibawah sana masih suci. Gue nggak pernah aneh-aneh, percaya sama gue..." ucap Raksa.
"Kalau ada tes keperjakaan, gue bersedia tes kok! kalau lo menghendaki itu, gue nggak masalah," lanjutnya.
Dan seketika Kalin merasa bersalah, akrena dia udah suudzon sama suaminya. ternyata Rahmi nggak jauh dari seorang pembohong.
"Tapi kenapa dia bohong sama gue?" tanya Kalin.
__ADS_1
"Ya buat memperebutkan suami kamu yang ganteng ini," ucap Raksa dengan pedenya.
"Lagian lo bocil! mau-mau aja dikibulin sama Rahmi," ledek Raksa.
"Gue juga nggaka kaan negatif thingking kalau nggak ada vidio itu,"
"Iya, gue minta maaf. Gue janji nggak bakal kayak gitu lagi..." Raksa menggenggam tangan Kalin.
"Oh ya, gue ada kabar baik," lanjutnya.
"Kabar baik apa?"
"Mulai hari ini gue jadi kurir jasa antar susu!" ucap Raksa.
"Susu?"
"Iya susu!" ucap Raksa.
Kalin berkedip, dia muterin bola matanya, mikir.
"Susu apaan?"
"Ya susu sapi! masa iya susu yang lain?!" sahut Raksa.
"Susu kambing maksudnya, atau susu kuda. Intinya gue cuma nganterin susu sapi, bukan susu yang lain" lanjutnya melanjutkan ucapannya yang belum selesai.
"Tadi pagi? tadi pagi kapan? perasaan tadi pagi, lo udah nyiapin sarapan pagi-pagi buta,"
"La lo la lo, panggilnya yang lain dong! kita kan udah suami istri lho!" protes Raksa.
"Ya terus apa? abang? aa? udel?" Kalin dengan bercanda.
"Ya Sayang kek atau apa..."
"Ntar gue pikirin!" ucap Kalin yang sengaja memancing emosi Raksa.
"Balik lagi soal tadi. Gue pergi setiap subuh, jadi jangan heran kalau gue bakalan hilang dari pelukan lo setiap jam 4 pagi,"
"Kenapa harus jadi pengantar susu?"
"Ya karena itu kerjaan yang gue dapet, kenapa? lo malu?"
"Bukan malu, tapi lebih kasian!" ucap kalin.
Ternyata usaha Raksa begitu gigih dia yang tadinya pekerja kantoran rela jadi kurir buat menopang kehidupan mereka selama disana. Apalagi, pagi tadi dia sama sekali nggak bantuin Raksa buat masak.
"Harusnya nggak usah sampai kayak gitu. kalau emang duit kita kurang, gue bisa minta sama ayah,"
Raksa menggeleng, "Ini rumah tangga kita, Klain! gue nekat bawa lo kesini, bukan mau nyusahin orangtua lo maupun orangtua gue. Orang tua lo cukup bayarin kuliah lo aj, karena jujur gue belum mampu soal itu. Tapi buat kebutuhan kita disini, gue bakal usahain buat menuhin itu..." ucap Raksa.
Kalin pun memandang suaminya penuh harus, "so sweeet..."
__ADS_1
"Woya, jelas!" timpal Raksa yang membuat Kalin tertawa.