
Raksa berjalan dan melihat Faid dengan tatapan yang nggak biasa.
"Elah, Sa! kayak lo ngga tau gue aja sih?" ucap Farid yang ngeliat Raksa duduk sambil memperhatikan Nova dan juga sahabatnya secara bergantian.
"Ya karena gue kenal siapa lo, makanya gue bilang gitu! jangan harap lo bisa jadiin Nova jadi pelampiasan cinta nggak terbalaskan antara lo dan Tania,"
"Ini si kadal burik ngomong suka berubah-rubah, deh! kan lo sendiri yang selalu motivasi gue supaya cepet move on?" Farid numpangin sesuatu kakinya di atas kakinya yang lain, dia melipat tangannya di depan dada. Ngeliatin makhluk yang terpantau masih ngantuk dan nyawanya belum kumpul semua.
"Maklum agak ngelantur, orang matanya aja masih kreyep-kreyep begitu!" gumam Farid.
Nova yang kesempatan mau melipir ke kamar Kalin pun bangkit dari kursinya dan tiba-tiba dicegah abangnya.
"Duduk Nova! jangan harap bisa pergi dari sini sebelum abang mengijinkan!" kata Raksa.
Raksa bangkit dan bilang, "Gue cuci muka dulu. Kalian tetap di empat karena gue bakal balik lagi!"
Nova pun harap-harap cemas menunggu abangnya balik lagi.
Dan nggak lama, Raksa kembali ke ruang tengah dengan membawa papper cup yang berisi kopi susu.
"Sorry, gue bikin kopi dulu tadi. Oke, sekarang gue udah seger. Gue udah siap sidang pertama permohonan ijin pacaran dari lo berdua," kata Raksa.
"Bapak gue bukan, main sidang-sidang segala," Nova brgumam, kesal.
"Novaaa, abang denger loh ini. Kuping abang belum budek loh!" Raksa melirik adiknya.
Nova pun kembali duduk, anteng ngeliat abangnya yang kini nyeruput kopi, ala-ala bapak yang lagi nyidang pacar anaknya yang lagi main ke rumah.
"Jadi kapan kalian mulai berhubungan?"
"Berhubungan apaan?" tanya Farid.
"Berhubungan dalam arti kenalan, kenal suka! kok gue nggak tau?! apa kalian sengaja mau backstreet dari gue? karena kalian udah mencium aroma-aroma ketidak setujuan gue dengan pacaran yang beda usia gini?"
"Heh, kadal burik! lo sama bini lo juga beda usia! kita samaaaaaa!" ucap Farid.
"Tunggu! nggak boleh emosi. Oke emang gue sama Klain beda 9 tahun, tapi kan tampang gue masih tampang umur 20 an, maih pantes jadi anak kuliahan,"
__ADS_1
"Maksud lo tampang gue boros? gue gibeng juga nih orang! heh, gini-gini juga gue pertaruhin nyawa gue nih tadi buat nyamar jadi Kalin. Jangan pura-pura lupa amnesia lo ya!" Farid ngegas.
"Rid, kalau nolong tuh jangan pamrih. Ntar pahala lo ilang!"
"Bodo amat?!" Farid udah kepalang kesel sama Raksa.
"Ini posisi gue, abangnya Nova loh yaaa?" gumam Raksa, ngingetin Farid kalau jangan cem-macem deh dia.
"Jadi kapan kalian mulai deket? kenapa gue nggak tau?"
"Gimana lo mau tau? orang lo aja masih ribet sama mantan lo, Rahmi!" ucap Farid yang dibalas pelototan oleh Raksa.
"Jujur aja, gue emang dulu yang berusaha deketin lo sama Rahmi itu juga karena iming- iming pengen jadian sama Tania. Gue tau gue salah banget, mau menyelipkan rasa mantan terindah diantara lo dan Kalin, tapi gue sadar kalau gue cuma dimanfaatin Tania doang," Farid akhirnya ngaku.
"Jadi bang Farid yang mendukung mantan bang Raksa ganggu kehidupan Kalin? tega banget ya?" Nova keluar tanduk, dia nggak nyangka kalau farid ikut andil dalam pemersatu antara kedua orang yang udah berstatus mantan pacar.
"Gue bisa jelasin, Dek..." ucap Farid.
"Bantuin gue napa?!" Farid ngeliatin Raksa.
"Bantuin apa?"
"Mobil merah? kapan?" kali ini Raksa yang kepo.
"Udah lama lah, beberapa bulan yang lalu sebelum abang nikah sama Kalin! jahat banget ternyata bang Farid!" Nova yang udah terlanjur kesal, dia pergi ninggalin Farid yang masih bengong dengan perubahan mood gadis yang udah berhasil memikat hatinya.
"Gara-gara lo sih! marah kan dia! aiiishhh, udah tamat kisah percintaan gue kalau kayak gini!" Farid mengusek rambutnya.
"Dih kok marah sama gue? salah gue apa?!!" Raksa ngeliat ke arah farid.
"Ck!" Farid minum kopinya yang masih panas.
"Udah biarin aja, paling juga ngambek bentar. Nova kan rasa setia kawannya levelnya di atas rata-rata. Jadi wajar lah kalau dia marah, lah lo secara langsung udah mencoba misahion sahabatnya dari gue," ucap Raksa.
"Burik lo!"
"Yang ngungkit-ngungkit Rahmi kan lo sendiri, kenapa jadi gue yang salah? lagian, Nova masih kecil belum boleh pacaran!"
__ADS_1
"Kalin masih kecil tapi udah lo nikahin?!" Farid balik nyerang Raksa.
"Mendingan Nova sama gue, daripada cowok-cowok di luar sana yang nggak lo tau karakternya! bisa rusak adek lo yang ada!" Farid nakut-nakutin Raksa.
"Lo tau sendiri, bocah sekarang muka doang kalem, tapi kelakuan pecicilan udah kayak bocah kremian!" lanjutnya.
"Halah!" Raksa nabok angin.
"Jangan lo siksa adek lo, Sa? jangan egois lo jadi orang! Nova itu udah gede, kasih dia kepercayaan buat nerima cinta dari bang Farid yang bakalan selalu mengasihi dan menyayangi dan kalau perlu negjajanin seblak tiap hari! Duit gue sanggup kok buat nraktir dia makan tiap hari," ucap Farid.
"Ntar gue pikirin dan pertimbangin. Dan selama gue masih belum kasih keputusan, jangan harap lo bisa berduaan sama adek gue! nggak bisa!" ucap Raksa yang kemudian bangkit dan pergi.
"Heh, Raksa! jangan gendeng lo, ya?!!!!" teriak Farid.
Tapi Raksa udah masuk lagi ke kamarnya, dia nggak peduli kalau Farid udah guondok setengah koit.
"Emhhh," Kalin terbangun saat mendengar pintu yang dibuka.
"Dari mana kamu, Mas?" lanjutnya dnegan suara yang masih serak.
"Dari luar, ngobrol sama Farid,"
"Kok bau kopi?" tanya kalin saat Raksa udah masuk lagi ke dalam selimut.
"Iya tadi aku bikin kopi, tadi kirain Farid bakalan ngajak ngobrol lama ternyata cuma bentar," ucap Raksa yang kemudian memeluk istrinya.
"Tidur lagi, maish malem loh ini..." ucap Raksa yang menaikkan selimut mereka dan tangannya melingkar di perut Kalin.
Sementara raksa enak-enakan sama istrinya, Farid setengah mati mencoba buat nelpon Nova. Mau baek-baekin gebetannya.
"Kampret emang si Raksa! kan gue jadi dicuekin!" ucap Farid.
"Suka nggak tau terima kasih nih orang!" Farid ngumpat dia kesela banget sama Raksa.
Dia frustasi karena biasanya dia nggak pernah dicuekin sama Nova. Malahan dia yang lebih sering lama bales atau pun nggak ngangkat telpon pas si Nova nge-calling cuma buat sekedar nanya lagi 'ngapain, Bang?'
Dan sekarang Farid udah ngerasain gimana rasanya dicuekin sama orang yang lagi dia pengenin banget, sama kayak waktu dia ngincer Tania.
__ADS_1
Sedangkan Nova di kamarnya, pengen bales tapi dia masih bad mood sama Farid.
"Sampai jempol kriting juga gue males balesin lo, Bang Far!" ucap Nova yang kemudian menaruh hapenya di atas nakas dan mencoba buat tidur. Dan gara-gara itu Nova jadi berani buat tidur sendirian.