Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Mengulang


__ADS_3

Dengan Kalin yang digendong di belakang, mereka jadi pusat perhatian. Karena Kalin yang keliatan sehat wal'afiat kok ya digendong seperti koala.


"Mending aku turun," kata Kalin yang malu.


"Mereka nggak kenal kita, ngapain mesti malu. Lagian kamu kan udah berkorban buat aku. Semalaman kamu uh ah uh--" ucap Raksa tanpa tau tempat.


Kalin membekap mulut suaminya itu, "Ck, ngomongnya ih!"


Lalu dia memeluk leher Raksa lagi. Dia menyembunyikan kepalanya.


Ada sepasang muda-mudi yang lagi ikutan nunggu trem dan ngeliat in Raksa, mungkin dia ngerasa kalau Raksa dan Kalin ngapain semesra itu di tempat umum.


"Bini gue lagi cedera!" ucap Raksa yang sekate-kate kalau ngomong. Si bule yang nggak tau Raksa ngomong apaan pun hanya sebyum aja, terus udah nggak urus dengan dua orang yang lagi uji nyali itu.


Sampai akhirnya trem nereka datang. Raksa bawa Kalin masuk dan mendudukkan Kalin di kursi yang kosong.


'Melihat keadaan lo sekarang, gue nggak mungkin ngajak lo balik. Yang ada gue dicecer sama mertua! itu kenapa Kalin jalannya kayal orang habis sunat? kamu apain itu anak saya?!' Raksa yang ngebayangin gimana nanti dia dicecer sama ayah Diki.


"Kenapa? pengen pipis?" tanya Kalin yang bgeliat Raksa geleng-geleng sendiri.


"Jangan mancing deh, Cil! denger suara kamu aja, bikin aku deg-deg ser daritadi," kata Raksa.


"Ntar malem lagi, yuk?" tanya Raksa dengan menaik turunkan alisnya.


"Hiiihhh, mas Raksaaaaaa?!!!" dia menutup mulut suaminya itu.


"Ck, bene-bener nggak liat sikon banget, deh!" ucapnya yang kemudian melepas bekapannya.


"Berarti kalau sikonnya pas, boleh lagi dong?" Kalin jejeritan mulu di trem, sampai mereka harus turun karena dirasa terlalu berisik.


"Gara-gara lo, Cil, kita diturunin disini!" kata Raksa yang ingin melupakan sejenak permasalahan tentang siapa Arvin dan motifnya apa mencelakai Kalin.


"Kok aku yang disalahin?! kan mas Raksa sendiri yang ngomong nggak pakai saringan!"


"Ejak kapan kalau ngomong bawa saring?!!"


Plakkk!!!


Kalin menabok pundak suaminya.


Sekarang dia gendong di belakang, ngrasin gimana hangat dan luasnya pundak Raksa Kamaludin.


'Dalam mimpi pun kayaknya gue nggak pernah. Digendpng senyaman ini,' batin Kalin.


Sedangkan Raksa bebrapa kali membenarkan gendongannya supaya nggak melorot. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah.


Pekerjaan yang seharusnya jadi mata pencaharian Raksa disitu, harus dia lepaskan. Ermsuk menjadi pengantar susu.


"Besok, aku akan mengurus pekerjaanku sebagai jasa pengantar susu," ucap Raksa.


"Kamu nanti di rumah aja. Tapi pastiin emua pintu harus dikunci rapat!" kata Raksa yabg kini mengantar Kalin ke tempat tidur.

__ADS_1


"Aku bawa kunci cadangan, jadi kamu nggak perlu bukain pintu. Cukup di dalam sini. Dan jangan lupa buat dikunci juga. Kalau kamar kita nggak ada kunci ganda, jadi aku akan kasih kode 'Nona Manis'. Kalau tidak ada koe itu, jangan sekali-kali kamu buka pintu. Diam dan bersembuni di balik lemari," kata Raksa.


"Kok jadi nakutin?" Kalin jadi ngeri.


Raksa memeluk istrinya, memberikan ketenangan.


"Jangan nangis! aku ikut kamu kesini, buat jagain kamu. Kamu harus percaya itu, oke? sekarang yang perlu kita lakukan hanya selalu berhati-hati. Aku udah ngomong sama ayah soal ini,"


"Soal ini? terus? termasuk soal obat itu?" tanya Kalin dia melepaskan pelukan Raksa.


"Ya nggak lah! nggak sampe situ aku ceritanya. Apa menurut kamu kita harus crita semua-muanya? termasuk kamu yang bikin punggung aku perih-perih ini?" tanya Raksa.


"Ihhhh, kenapa ujung-ujungnya kesitu-situ lagi! malu tau?" Kalin malu.


Sementara Raksa jadi malah gemas melihat ekspresi Kalin dengan wajah yang merah tomat.


"Ngapain malu? orang aku udah liat semua-muanya---" Raksa diam saat istrinya membungkam dirinya dengan sebuah tiuman.


"Jangan bahas itu lagi! awas kalau bahas! aku kan cuma nolongin," ucap Kalin yang melepaskan Raksa.


"Iya deh, yang nolongin. Makasih, ya? berkat kamu aku jadi tau kenapa penganten baru suka keramas pagi-pagi---"


"Mas Raksaaaaaaaaa!!!" teriak Kalin.


Sementara Arvin yang rencana selalu gagal pun memutar otak.


"Menyebalkan sekali! bisa-bisa gue nggak dibayar kalau kayak gini?!" gumam Arvin yang kini mengirim email, menyuruh Arvin yang asli untuk .mengisi semua tugas yang harus dikirim besok pagi.


"Suruh dia mengerjakan! awas jangan sampai salah!" ucapnya di telepon dengan  seseorang.


"Kenapa Kalin seolah biasa aja? apa dosis itu terlalu rendah buat dia? hmmm, dia bahkan terlalu menggemaskan untuk disakiti!"


"Aiiihhh, biasanya gue nggak penah pakai hati! sadar, Jonas! kamu dibayar untuk menghancurkan gadis itu, bukan untuk membelainya bagaikan anak kucing kesayangan!" pria itu mengusek kepalanya.


Rambut aslinya kini mulai kembali bergelombang.


"Astaga, kenapa rambut ini nyusahin gue banget, sih?!!" gumam Arvin KW itu.


Sedangkan Raksa dan Kalin sedang mengulangi perbuatan yang menguras energi. Mereka saling memberi dan menerima, bagaikan simbiosis mutualisme. Seperti klorofil yang membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis. Raksa pun membutuhkan Kalin untuk menjadi parner bereproduksi. Mengasah kemampuannya sebagai investor satu-satunya dalam rangka memperoleh keturunan. Tapi sayangnya, dia harus mengubur keinginan itu. Karena masa depan Klain masih panjang, dia nggak mau Kalin terbebani harus kuliah dan mengasuh anak. mereka bersepakat akan menundanya dan akan berjuang lagi setelah Kalin selesai kuliah.


"Kamu capek?"


"Emh," Kalin hanya berdehem, dia bersembunyi dibalik selimut.


Rasanya Kalin ingin tidur selama yang dia bisa. Sedangkan Raksa membiarkan istri bocilnya tidur dan dia pergi ke kamar mandi.


Setelah badannya segar, dia mulai menyiapkan makan malam, karena lagi-lagi mereka melewatkan makan siang dua hari berturut-turut.


Nggak banyak bahan makanan, Raksa mau pergi juga nggak tega ninggalin Kalin sendirian. Apalagi dia baru aja tidur, akhirnya dia masak seadanya.


"Ck, nasi goreng sosis pun jadi lah! yang penting bisa dimakan!" ucap Raksa.

__ADS_1


Tapi dia menimbang lagi, Kalin baru aja tidur, dia nggak mungkin langsung makan. Sedangkan nasi goreng paling enak dimakan selagi panas.


"Gue bikin bumbunya aja dulu!"


Setelah meracik bumbu dan menyiapkan sayuran dan sosis, Raksa memasukkannya kembali ke dalam kulkas. Dia lanjut membuka leptop milik Kalin. Dia kembali mencari tau tentang orang yang kini mengincar Kalin.


Tiba-tiba ada telepon dari ayah Kalin.


"Ya, Yah?" sapa Raksa pelan, dia menutup pintu kamar Kalin, takut si putri terbangun karena mendengar suara obrolannya.


"Gimana? ada info baru yang kamu temukan!"


"Jadi begini, yah! ternyata yang namany aArvin teman Kalin itu bukan Arvin yang sebenarnya, secara wajah mereka dua orang yang sangat berbeda, sedangkan di dunia ini nggak mungkin ada orang yang memiliki identitas yang sangat mirip. Kemungkinan, orang itu menggunakan identitas Arvin untuk masuk dan mendekati Kalin..."ucap Raksa.


"Kamu bisa kasih tau ayah, seperti apa wajah orang yang memakai identitas Arvin?"


"Nanti Raks atanya Klain dulu, Yah! kayaknya di apunya foto teman-teman satu kelasnya,"


"Kalin sedang apa? ayah pengen ngomong, Raksa!" kata ayah yang mendadak kangen.


"Ng ... Kalin, ya? ehm, Kalinnya lagi tidur, Yah! Mau Raksa bangunin?" tanya Raksa.


"Tidur? emang disana udah malem banget?" tanya Ayah.


"Baru jam 7 malem, yah!" ucap Raksa.


"Ayah begadang? jam segini masih seger kayaknya," tanya Raksa, seketika dia merasa maling yang  hampir aja kepergok.


"Ayah mendadak nggak bisa tidur, mikirin Kalin. Ayah khawatir," kata ayah Diki.


"Ayah nggak usah khawatir, ada Raks ayang bakal jagain Kalin. Meskipun nyawa Raksa yang menjadi taruhannya. Raksa bakal pastiin kalau Kalin selalu aman,..."


"Jadi kapan kalian akan pulang? ayah sudah nggak sabar ketemu putri ayah!"


"Lusa mungkin, Yah! aku mau pesen tiket dulu, karena besok nggak mungkin ktita berdua terbang karena..." Raksa mikir.


'Nggak mungkin kan gue bilang yang sebenernya...' batin Raksa.


"Karena apa?"


"Karena ada hal yang harus Raksa selesaikan, soal pekerjaan!" Raksa mikir cepat.


"Oh ya sudah. Kabari ayah kalau kamu sudah dapat tiket, Nanti ayah ganti uangnya,"


"Ganti apa sih, yah? nggak usah lah! Raksa masih ada duit kok, tenang aja! Ya udah, raksa tutup dulu telponnya. Ayah jaga kesehatan, ya? kita secepetnya akan pulang!" ucap raksa.


"Baiklah, Raksa. Selamat malam..."


"Malam, Yah! Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"

__ADS_1


Raksa pun akhirnya bisa menghela nafas lega.


"Kenapa gue kayak kucing yang nyolong ikan asin? astaga, jantung gue deg-degan takut ketauan!" ucap Raksa.


__ADS_2