Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Terbang Sekarang


__ADS_3

Tepat satu minggu setelahnya.


Kalin dan Raksa keluar dari hotel. Jadi kemarin mereka sengaja selesein urusan rumah sewa. Kembaliin kunci pada pemiliknya yang sebenernya dan menginap di salah satu hotel. Mereka sengaja tinggalin barang-barang yang nggak bisa dibawa kayak cofee maker dan barang-barang rumah tangga yang lainnya.


Kalin dan Raksa hanya bisa membawa 4 koper yang memuat dokumen, buku-buku milik Kalin dan juga baju-baju mereka berdua serta beberapa barang lainnya yang udah melekat dengan diri Kalin kayak tas dan beberapa pernak-pernik pajangan kamar yang punya memori tersendiri buat Kalin.


Mereka juga sengaja beli Marchindise sewaktu jalan-jalan ke beberapa tempat wisata yang ada disana. Yang Raksa kira awalnya Kalin lagi ngidam jalan-jalan, ternyata semua itu hanya fatamorgana. Karena keinginan jalan-jalan Kalin nggak ada hubungannya dengan kehamilan. Wanita itu terbukti nggak hamil, dia habis kedatangan tamu bulanan. Tapi nggak apa-apa, buat Raksa itu nggak jadi masalah. Karena mereka masih punya banyak waktu untuk memproses itu semua, sembari menunggu Kalin siap secara lahir dan batin untuk menjadi seorang ibu.


Sekarang, sepasang suami istri ini sedang naik mobil dari hotel menuju bandara internasional. Kalin melihat keluar jendela, seakan dia merasakan suasana sendu ketika harus meninggalkan kota yang udah beberapa tahun dia tinggali.


Kalin juga dadah-dadah nggak tau sama siapa, "Aku balik, ya? semoga kapan-kapan aku bisa mampir dan datang kesini lagi..." ucapnya seolah mengucapkan salam perpisahan pasa teman atau kerabat.


'Beuuuhhh galau lagi dia! selamat datang Raksa di dunia serba salah! salah ngomong dikit aja, abisss lo Raksa!' Raksa dalam hatinya.


Sampai mereka di bandara juga Kalin masih aja nggak rela kalau mereka bakalan balik lagi.


'Jiwa-jiwa kompeni nih si Kalin! masa dia sedih banget ninggalin negara orang! ada-ada aja nih si Bocil!' Raksa masih ngomentarin Kalin.


"Kayaknya nggak rela banget pulang ke Indo?" tanya Raksa saat mereka udah duuduk manis di dalam pesawat.


"Bukannya nggak rela. Tapi aku pikir ini cepet banget, kayaknya baru kemarin aku dateng kesini dan berkali-kali home sick. Tapi ternyata sekarang udah harus balik ke negeri sendiri. Kuliah bikin aku lupa gimana caranya menikmati waktu yang sesungguhnya..."


"Makannya jangan terlalu mendorong diri kamu terlalu keras! dan ternyata kamu baru menyadari kan? kalau kamu udah melewatkan banyak hal dalam hidup, salah satunya memebiarkan waktu pergi begitu saja!" ucap Raksa.


"Tapi ya udah lah. Suatu saat kita pasti bisa kesini lagi. Okey?"

__ADS_1


Kalin mengangguk.


Dan Kalin menyamankan dirinya buat duduk dan bersandar pada Raksa yang dengan suka rela memberi kehangatan bagi hati Kalin yang sedang menggalau.


Tentu kepulangan mereka udah diketahui dua keluarga besar, dan mereka nggak sabar untuk menjemput Klain dan Raksa. Tangan keduanya saling bertautan, rasanya deg-degan mau balik lagi ke tanah kelahiran. Ya nggak jauh beda kalau mau ketemu pacar atau gebetan, pasti ada rasa nggak sabar tapi juga deg-degan yang nggak karuan. Semalaman Kalin nggak bisa tidur.


"Kok belum tidur sih?" tanya Raksa saat lampu kabin di redupkan supaya penumpang yang lain juga bisa tidur dan beristirahat dengan nyaman.


"Kenapa?" bisik Raksa. Mereka posisinya tiduran dan samping-sampingan, hanya dibatasi sekat.


"Nggak apa-apa. Cuma di hati rasanya nggak enak..."


"Ini kita pakai airbuss loh? apanya yang bikin kamu nggak nyaman?" tanya Raksa.


"Sini tangan kamu...." Raksa menyuruh Kalin buat ulurin tangannya.


Dia usap-usapin telapak tangan Kalin dengan tangannya, lalu dia mulai menceritakan sebuah kisah yang udah ngarangnya pol-polan. Mungkin Kalin juga mulai nggak nyaman kalau tidur harus berjauhan dengan Raksa, meskipun dekat, nyatanya mereka dihalangi satu sekat yang sangat menyebalkan. MAu satu tempat berdua sempit susah bergerak, jadi ya udah. Raksa pindah dan mencoba buat ngedongeng sambil dia elus tangan dan juga kening Kalin.


Dan saat mata kalin mulai terpejam, Raksa pun berhenti mengoceh.


"Gue udah mirip punya anak gede! Ck ck ck, gimana nanti kalau gue punya anak beneran? yang ada nagih dongeng sama gue bukan cuma anak gue aja tapi emaknya juga. Klain, Klain ... lagi tidur aja lo gemesin banget!" gumam Raksa.


Dia perlahan kembali ke tempat tidurnya. Tadi sempet ngantuk, tapi karena kebanyakan ngoceh akhirnya dia juga nggak bisa tidur.


"Nah, jadi gue yang melek ini, mah!" ucap Raksa.

__ADS_1


Tapi dia senang melihat istrinya akhirnya bisa tidur dengan pulas. Padahal dulu, Kalin gampang banget buat tidur dan kualitas tidurnya juga bagus, tapi semenjak kuliah rasanya Kalin susah banget buat tidur. Dia dikejar tugas-tugas yang harus dikerjakan. nggak sedikit mahasiswa yang seperti Kalin, yang rela mengorbankan waktu istirahat demi mencapai gelar lulus duluan dengan predikat cumlaude.


Dan beberapa hari terakhir memang Kalin sulit banget buat tidur, dia jadi biasa begadang dan bingung harus ngapain setelah nggak ada kegiatan kuliah. Makanya kalin ngajak raksa buat jalan-jalan, karena dia mau mengusir kebosanan dan juga rasa galau karena bakal ninggalin kota dimana dia tinggal bersama suaminya. Kota penuh kenangan.


Raksa sekarang mencoba nonton film, dan saat ada pramugari yang lewat dia meminta bantuan, "I wanna some coffee, (Aku minta kopi)"


Dan si pramugari meminta Raksa untuk menunggu sebentar, matanya beneran nggak ngantuk sam asekali. Seakan rasa ngantuknya udah ditukar sama Kalin. Kopi hitam pun datang, Raksa nggak lupa mengucapkan terima kasih dan minta maaf karena udah ngerepotin.


Dalan situasi yang temaram dan muka bantal, Raksa masih keliatan ganteng. Si pramuf\=gari aja sempet kesengsem kalau nggak liat kalau di sebelah Raksa tidur macan betina yang bisa mencakarnya kapan saja kalau dia sampai kegenitan sama suaminya.


Raksa menyeruput kopinya pelan-pelan, dan merasakan kehangatan yang meluncur ke lambungnya. Sesekali Raksa melirik ke arah kalin. Posisinya masih sama, merem dan nggak ada pergerakan yang berarti.


Setelah selesai menonton film action dan papper cup yang isinya kopinya juga udah kosong, Raksa mulai merebahkan diri dan mulai memejamkan matanya. Namun ada hal aneh yang dia rasakan.


Meskipun matanya tertutup, tapi entah kenapa dia merasa kalau ada orang yang berdiri di samping tempat dia rebahan. Jadi terkadang mata kita memang tertutup, tapi insting kita terbuka dan merasakan hal lain meskipun kita nggak melihatnya secara langsung.


'Kenapa gue ngerasa ada orang ya? apa itu pramugari? tapi kenapa dia berdiri begitu lama? apa ada masalah?' Raksa terus saja bertanya-tanya dalam hatinya.


Takut kalau ada masalah di kabin, Raksa pun membuka mata dan nggak ada siapa-siapa. Tapi satu hal yang tertinggal, bau parfum seseorang.


"Berarti feelingku bener! ada orang yang berdiri disini tadi" gumam Raksa.


Raksa yang tadinya ingin tidur akhirnya nggak jadi. Dia bahkan meminta kopi lagi supaya matanya tetap terbuka dan selalu melihat ke arah istrinya.


"Kenapa feeling-ku nggak enak ya, Kalin?" lirihnya sambil memperhatikan wajah Kalin yang masih tertidur dengan pulas.

__ADS_1


__ADS_2