Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Syarat dan Ketentuan Berlaku


__ADS_3

Emang bunda sengaja nungguin Kalin, makanya pas pintu diketok, bunda langsung buka pintu.


"Akhirnya anak bunda pulang juga. Gimana? seneng?" tanya bunda yang dengan lembut nyuruh Kalin buat masuk.


"Terima kasih ya, Raksa. Udah nganterin kalin pulang..."


"Sama-sam, tante. Maaf, Om udah tidur belum ya, Tan?" tanya Raksa. Sedangkan bibir Kalin udah mleyat-mleyot kayak paci di rumah lu yang udah uzur.


"Om? ada kok, tadi lagi ke dapur, lagi ngambil minum. Bentar, Tante panggilin, ya? duduk dulu, Raksa!"


"Kamu temenin Raksa dulu," pesan bunda pada anaknya.


Begitu bunda masuk ke dalam, raksa menempatkan diri di salah satu sofa.


"Mang!" panggil Kalin.


"Gue tau lo sayang!" ucap Raksa, sengaja nggak mau terpancing dengan ledekan Kalin.


"Mamang?!! ya ampuuun!" Kalin gregetan banget sama Raks ayang duduk nyante sambil seseklai liat hape.


"Nih ada yang fotoin kita!" Raksa nunjukin salah satu foto di hapenya.


"Mas? abang? akak? aa? udel eh udaaa!!" Kalin manggil dengan berbagai macam sebutan.


"Ngomongnya besok aja, sekarang udah malem! mas pulang aja ya?" Kalin dengan tangan nunjuk ke arah pintu, dia senyum manis kaya gula rendah kalori, manisnya nggak bikin enek.


Raksa gelengin kepala, seakan panttatnya lengket sama jok sofa, "Udah lo tenang aja!"


Sedangkan Kalin yang sedari tadi berdiri di sampingnya, tiba-tiba menekuk kakinya lesehan di lantai, sambil pijit-pijit kaki Raksa, "Den Aden pulang dulu ya? besok lagi aja dateng kesini, oke? udah malam ikan bobo..."


"Eh, eh, ngapain lo?" Raksa nyingkirin tangan Kalin, dia geli.


Tapi ngeliat gelagat Raksa yang dipegang kakinya malah geli, tercetuslah sebuah ide jahil supaya ini orang bisa pulang dengan cepat. Dia terus mijitin kaki Raksa dengan gerakan super lambat. Ini lebih tepatnya ngelus bukannya mijit.


"Awas, awas, Lin! ntar anakonda gue bangun! singkirin tangan lo!"


"Mana? mana? mana? ularnya?!!!" Kalin panik, sedangkan Raksa melongo ngeliat Kalin yang naik di sofa yang sama dengan dirinya dengan posisi jongkok. Dia liat ke arah bawah kali aja ada uler yang siap matok.


"Ana-konda...!" ucap Raksa iseng.


"Harrrghhh...!"


"Disana..." ucap Raksa.


Kalin mepet, "Dimana?"

__ADS_1


Nggak kuat liat ekspresi takut Kalin, Raksa pun nggak kuat nahan ketawa, "Hahhahahhaha,"


Sedangkan Kalin yang ngeliat Raksa ketawa baru nyadar kalau dia lagi dikerjain, "Dasar Om-Om gendeng!" gumamnya.


"Astagaaa, Kalin?!! kamu kenapa naik sofa begitu?" tanya bunda yang datang membawa minuman buat Raksa, sedangkan Om Diki sengaja bawa mug nya sendiri.


"Emh, Kalin--" Kalin segera turun dan duduk dengan benar, dia kikuk sekarang.


"Tadi ada kecoa lewat, Tan! terus Kalin kaget dan manjat sofa," Raksa melanjutkan ucapan Kalin yang tersendat.


"Kecoa? sejak kapan kamu takut sama kecoa?" tanya ayah Diki yang kemudian duduk menghadap kedua pasangan muda itu.


"Tadi agak gede, yah! disekolah ada yang main-mainin kecoa, jadi Kalin sejak itu agak jijik kalau liat kecoa lewat..." Kalin menyambung alasan yang udah diucapkan Raksa.


"Oh, gitu..."Ayah manggut-manggut.


"Oh ya tumben ngajak Kalin makan malam? ngerayain kelulusan Kalin?" tanya ayah Diki yang belum tau apa-apa.


"Bukan, Om! sebenernya ini ide dari teman satu divisi yang minta ditarktir karena saya baru dapat promosi jabatan," jelas Raksa singkat.


"Oh? baru dapat promosi jabatan, wah selamat yah! Om juga waktu seumuran kamu udah mulai naik jabatan. Biasanya kalau udah sekali naik, nggak menutup kemungkinan kamu bakal naik lagi dan lagi," ayah Diki dengan ekspresi kaget.


Dalam hati Raksa pun bingung, 'Kok Om Diki kaget? apa mungkin Om Diki pura-pura kaget supaya aku nggak curiga kalau aku naik jabatan ini karena ikut campur tangan Om Diki, tapi kok ekspresinya natural banget..."


"Oh ya? katanya ada yang mau kamu bicarakan?" lanjut ayah Diki setelah menyeruput minumannya dan menaruhnya di meja.


Ngek!


Ngek!


"Nggak mau!"


Raksa pun membenarkan posisi duduknya dengan lebih baik, "Maaf Om, bisa bicara berdua?"


"Oh? gitu?"


"Ya barangkali Kalin capek, ngantuk udah malam juga..." Raksa dengan senyumnya yang sopan.


"Bun?" Om Diki ngeliat ke arah istrinya.


"Iya, Yah!" sahut bunda paham.


"Tante sama Kalin istirahat duluan ya, Raksa. Jangan lupa diminum teh nya..." bunda yang kemudian mendatangi Kalin dan menyuruh anaknya itu buat bangun dan ikut menajuh dari ruang tamu.


"Tapi, Bun?"

__ADS_1


"Udaahhh, ikut bunda!" bunda mengajak Kalin buat masuk ke lantai dua, tepatnya ke kamar anaknya itu.


Sedangkan Raksa di bawah mengambil satu cangkir yang berisi teh yang masih panas, dia menyeruput perlahan.


"Bagaimana, Om? sudah keliatan hasilnya?" tanya Raksa.


"Oh? ini?" Om Diki menepuk perutnya.


Raksa ngangguk.


Ayah Diki pun celingukan, memastikan istrinya udah pergi dari sana, "lumayan, udah ngebentuk! tapi kayaknya kurang sedikit lagi supaya seperti punya mu!"


Om Diki lalu memperlihatkan hasil latihan bebannya.


"Wooooh! itu udah lebih dari yang diharapkan, Om! berhasil itu,"


"Tapi bapakmu lebih ngebentuk! iisshh, dia nggak mau kasih tau gimana caranya," ayah Diki menurunkan lagi kaosnya.


"Oh ya? tiap orang memang sedikit berbeda! makanya saya sarankan Om pakai personal trainer, itu saja udah bagus banget loh, Om!" kata Raksa.


"Tapi saya mau lebih bagus sedikit lagi! ini masih disembunyikan dari bundanya Kalin..."


"Biar surprise ya, Om!"


"Oh ya, sebenernya apa yang mau kamu bicarakan?" tanya ayah Diki.


"Begini, Om! sebenarnya ini tenrang hubungan saya dengan Kalin..." Raksa mencoba tenang dalam menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Ya..?"


"Kita sudah bertunangan, dan sepertinya saya ingin melanjutkan ini ke tahap berikutnya! saya ingin menjadikan Kalin istri saya, Om!" Raksa mantap mengatakan ini pada ayah Diki.


"Astaagaaaa! Om kira kamu mau ngomong apa? ternyata soal pernikahan?" Om Diki jawab sambil ketawa kecil.


"Kamu sudah bisa menerima Kalin berarti ya?" lanjutnya.


"Tentu, Om!"


"Ya memang, lebih cepat lebih bagus! sebentar lagi juga kalin 19 tahin, dan dia sudah lulus SMA nya. Jujur Om sedikit khawatir dengan pergaulan anak sekarang, kamu ngomong begini malah membuat Om sedikit merasa lega..." kata ayah Diki.


"Tapi kamu yakin? bisa menahan itu selama beberapa tahun? karena untuk menghasilkan keturunan lebih baik ketika Kalin berusia 20 tahun," lanjut ayah Diki.


"Jadi syarat dan ketentuan berlaku, Om?" tanya Raksa.


"Iya, kalau kamu mau jadi mantu Om! hahaha, udah bucin, kan?" ayahnya Kalin malah ketawa.

__ADS_1


'Astagaaa, gue kira jalan gue bakal mulus kayak jalan tol! ternyataaa, ck ck ck!' Raksa dalam hatinya.


"Oke deh, Om! apapun syaratnya bakal saya terima dengan sebuah tanggung jawab!" Raksa dengan mantap.


__ADS_2