
"Jadi gue liat Tania jalan sama pak Galang. Mereka mesra banget, Sa! masa iya mata gue yang indah ini bisa salah liat? jelas baget gue mergokin mereka berdua masuk restoran.
Raksa sih nggak begitu terkejut kalau hanya berjalan mesra, karena Raksa sudah melihat yang jauh lebih menyeramkan dari itu.
"Kalau itu nggak ada apa-apanya dari yang gue liat hari ini..." ucap Farid.
Raksa masih diem, masih menyimak dia.
"Mungkin pikiran gue lagi nggak kondusif, jadi pagi ini gue tuh sampai salah parkir. Harusnya gue di lantai para rakyat jelata, nih mobil gue nggak tau diri, naik sampai lantainya para bos. Dan disitu mata gue menangkap pak Galang mencium Tania di dalam mobilnya yang nggak sengaja dinyalain lampunya," Farid dengan mata yang kosong.
"Hati gue hancur, Sa! mungkin mereka pikir itu masih pagi dan nggak akan ada mobil yang bakal lewat atau gimana? tapi yang jelas disitu gue udah nggak bisa apa-apalagi selain pergi dari sana secepatnya. Hati gue belum sembuh, dan sekarang Tania naburin garam hati gue yang terluka lagi dan lagi.."
Dan baru ini Raksa paham, kenapa temannya ini begitu kecewa.
"Kenapa? kenapa lo nggak kaget? apa lo udah tau ini sebelumnya?" tanya Farid.
Raksa udah nggak bisa mengelak, "Ya sebenernya gue pernah mergokin mereka dan berakhir gue dapet ancaman dari pak Galang!"
"Kenapa lo nggak cetita sama gue?!"
"Heh, bahlul! kalau gue cerita sama lo, yang ada lo merana! gue nggak cerita karema gue nggak mau lo yang udah semangat lagi, malah putus asa karena gue ngungkit masalah Tania!" Raksa nggak mau disalahin.
"Tania kan udah bilang kalau dia nggak bisa sama lo, nggak bisa balas cinta lo, Rid! meskipun ini berat buat lo, tapi lo nggak bisa berbuat apa-apa lagi, kalau emang Tania milihnya pak Galang!" lanjutnya.
"Tapi dia udah Om-om, Sa! masa iya gue kalah sama dia..."
"Duit lo yang kalah, Rid!" celetuk Raksa.
"Meskipun nggak semuanya memandang materi, tapi itu bisa jadi salah satu faktor kenapa Tania milih pak Galang!"
"Kok lo malah jatohin gue?" Farid nggak terima.
"Bukannya jatohin, kan itu gue bilang mungkin. Terlepas dari istilah cinta itu buta, ya!" kata Raksa.
"Kan gue udah pernah bilang. Mungkin Tuhan udah kasih jodoh yang terbaik buat lo. Dan itu bukan Tania, jadi mending lo sekarang fokus sama diri lo sendiri, Rid!" kata Raksa.
Dia ngerasa kalau sebentar lagi dia nggak bakal bisa menenangkan sahabatnya itu saat dia udah bener-bener pergi.
__ADS_1
"Karena muka lo jelek kalau pas merana gini, dan nyari jodoh juga butuh aura yang bagus, mending lo sekarang makan. Sebelum pizza kita dingin!" kata Raksa.
'Ucapan lo itu emang bener, tapi gue nggak bisa munafik kalau hati gue sekarang sakit banget. Dan gue harus merelakan orang yang gue cintai untuk bersama dengan yang lain.
Sementara itu dia melakukan panggilan vidio dengan Kalin yang sedang maskeran.
"Ada apaan?"
"Astaghfirullah! muka kamu dicet tembok?!" Raksa menjauhkan kepalanya dari hapenya.
"Ini lagi masykeran!" kata Kalin dengan susah payah.
"Udah dulu, ntar maskernya rusyaak kata mbak-mbaknya!" ucap Kalin yang sengaja bikin tampilan layar hape Raksa penuh dengan wajahnya.
Dan panggilan pun diakhiri sepihak oleh Kalin. Raksa hanya bisa ketawa ngeliat bentukan wajah Kalin tadi.
"Nggak ada empatinya banget lo, Sa! temen lagi patah hati juga, masih aja video call calon istri di depan gue!" Farid nyeletuk.
"Ampun, sensi amat si, Rid! udah ah, lanjut makan. Ntar keburu abis lagi jam makan siang kita," kata Raksa.
Sementara di kantor, ketika orang oada makan siang. Rahmi daritadi memgetuk pintu ruangan Raksa, dan pas dilihat ternyata ruangan itu kosong.
"Astagaaa, kemana lagi dia? tadi berangkat siang. Sekarang udah pergi lagi?!" Rahmi pun keluar dari ruangan itu dan duduk kembali di tempat duduknya.
Dia melihat dua paket sushi yang dia pesan take away. Dengan perasaan kecewa, dia pun membuka makanan itu dan memasukan satu potong sushi ke dalam mulutnya.
Sementara Tania lagi makan enak bareng pak Galang di ruangan yang aengaja di kunci.
"Sebentar lagi ja makan siang sudah selesai, saya takut ada yang memergoki saya datang kemari," kata Tania.
"Kalaupun kamu dipecat, saya bisa memberi kamu uang. Jadi kamu tenang saja!" kata pak Galang.
"Jafi bagaimana? apakah Raksa akan tutup mulut menurutmu?"
"Mungkin. Karena dia nggak bilang apa-apa..." kata Tania.
"Bagus! oh ya, jangan lupa dengan perjanjian kita! kalau sampai kamu mengingkarinya, kamu akan tau akibatnya!" pak Galang sembari mencium Tania begitu saja.
__ADS_1
Raksa kembali ke kantornya.
"Nih!" Raksa menyerahkan kunci milik Farid.
"Udah jangan merana terus, kasihan samacalon jodoh lo, takutnya dia malah berubah pikiran setelah liat lo jadi kayak gini," kata Raksa.
"Ya..." ucap Farid.
"Thanks!" lanjutnya.
"Kalau langsung ke atas?" tanya Raksa.
"Iya, kerjaan gue banyak!" sahut Farid.
Mereka berdua masuk ke dalam lift. Kedua pintu besi itu terbuka saat Raksa sudah sampai di lantai yang ditujunya.
"Gue duluan, inget jangan aneh-aneh lo!" kata Raksa.
"Iyaa," sahut Farid lemes, padahal dia udah makan banyak tadi.
Sedangka Raksa kembali lagi masuk ke dalam divisinya. Dan itu terpantau oleh kedua mata Rahmi yang langaung ngikutin atasannya itu debgan membawa dokumen yang dia ambil sembarangan di mejanya. Nggak lupa dengan sekotak sushi yang masih utuh.
"Pak Raksa, ini dokumen yang anda minta!" ucap Rahmi yang mengijuti Raksa masuk.
Raksa menoleh, "Dokumen? saya tidak minta dokumen apapun,"
Rahmi segera menutup pintu dan menyerahkan sekotak sushi.
"Aku sengaja beli buat kamu!"
"Ini jam kantor, Rahmi. Jadi, lebih baik kita bicara soal pekerjaan saja," kata Raksa.
"Ya, anggap saja ini perhatian seoarang staff terhadap atasannya. Anda pasti menyukainya. saya memesan sushi dengan saus mentai kesukaan anda," kata Rahmi.
"Tapi saya sudah kenyang. Terima kasih, dan sebenarnya tidak perlu repot-repot membawakan saya makanan. Kalau tidak ada hal lain yang ingin kamu sampaikan kmu boleh keluar," kata Raksa yang memakai lagi kacamatanya.
Sedangkan Rahmi nggak mau bawa balik makanan yang udah dia siapkan buat mantan pacarnya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi," Rahmi pun keluar.
Sedangkan wanita itu berpikir, 'Mungkin kamu sedang menghukumku, karena waktu itu aku mutusin kamu, padahal kamu udah berencana buat ngajak aku nikah. Nggak apa-apa, aku nggak akan menyerah. Aku aka bikin semuanya kembali seperti semula. Aku cinta sama kamu, Sa..." batin Rahmi, sesangkan tangannya segera menyeka air mata yabg hpir jatuh dari pelupuk matanya.