
"Kok abang belum bales sih?" Nova yang daritadi ngeliatin hapenya mulu.
"Tumben nggak bakso?" tanya kalin saat pesanan Nova dateng, bersamaan dengan mangkok punya dirinya.
"Kan udah diultimatum sama ibuk!" kata Nova yang ngantongin hapenya, takut kalau digletakin nanti disamber tangan-tangan nakal.
Kalin, menaruh sambal dan kecap di dalam mie ayamnya, "Laper banget gue! ya ampun,"
lagi enak-enak nyaplok mie yang kini menjelma jadi mie setan versi kalin, si Nova tiba-tiba nyeletuk, "Bang Raksa kok tadi ke sekolah ya?"
"Uhuukkk!!!" kalin terbatuk
"Ciyee, nama tunangan kesebut aja langsung batuk?!! minum, minum!" Nova nyodorin es teh punay kalin, gadis itu menyedot dengan sungguh-sungguh.
Tenggorokannya kerasa panas dan kurang nyaman setelah tersedak. Gadis itu menaruh minumannya lagi.
"Kebiasaan deh kalau lagi makan suka nyeletuk kayak gitu. Bikin orang kaget, tau nggak?!" protes Kalin.
Jadi, pas kebetulan pak Satpam yang bawa setumpuk kertas yang habis difotocopy, dia nggak sengaja ketemu sam aKalin terus nyeletuk gini, 'Eh, mbak Kalin. tadi ada mamang-mamang eh abang-abang. Hem, maksud saya mas-mas yang dateng ke sekolah nanyain mbak Kalin.
'Mamang? abang? mas?' Kalin bingung, dia lempar pandangan pada Nova. sedangkan temennya itu angkat kedua bahu.
'Siapa, Pak?'
"Wah siapa ya? lupa tadi nggak nanya namanya. tapi dari pakaian sih kayak orang kantoran! rapi gitu pakai sepatu super mengkilat sama celana bahan slimpit!"
'Slim fit!' ralat Nova dan Kalin kompak.
'Tah eta," satpam itu pun nggak lupa buat ngasih tau ciri-ciri si akang-akang tadi ayng ditemuinya celingukan di depan sekolah. Takutnya tuh lakik cuma ngaku-ngaku kenal siswa disitu, tapi ternyata dia hanya orang jahat yang lagi memastikan targetnya.
'Ya sudah, saya ke ruang dulu ya? mau nganterin ini!' satpam itu kemudian pergi meninggalkan dua sahabat itu yang berpikir keras.
'Kalau dari ciri-cirinya sih, Bang raksa banget tuh!" ucap Nova.
'Nggak mungkin lah! gila aja, ngapain dia kesini, kayak nggak ada kerjaan!' Kalin menepis pikiran Nova.
Dan mereka pun harus berpisah buat ikut ujian. Dan saat ujian pertama udah dilewati, para siswa disuruh keluar buat nanti nyiapin mental buat ujian tertulis yang kedua. Tapi saat ngambil tas dan ngecek hape, kok ada WA dari tunangannya yang nanya kenapa dia nggak minta doa restu.
Kesempatan itu pun nggak dilewatkan Kalin buat mastiin apakah mamang, akang, abang atau mas yang disebut kang satpam itu Raksa atau bukan. Dia segera bales WA Raksa secepat kilat, namun sayang bel udah berbunyi dan dia harus nitipin tas nya lagi buat lanjut ikut ujian yang kedua.
Sedangkan saat ini Kalin yang lagi makan disinggung soal Raksa pun akhirnya tersedak saking kagetnya, masih untung tenggorokannya bisa terselamatkan dengan minum es teh yang banyak.
"Udah ngelamunnya?" ledek Nova.
"Siapa juga yang ngelamun?"
"Ya elo lah, Lin! masa iya gue?" Nova tersenyum tisipi, dia mau ketawa nggak jadi setelah dapet pelototan dari sahabatnya.
"Gue liat nih, abang gue kayaknya udah mulai tumbuh benih-benih perhatian sama lo. Gue yakin dia itu kesini mau nyemangatin lo dari jauh,"
__ADS_1
"Halah, ngaco!" kalin gelengin kepala. Dia mulai lagi tuh makan mie ayamnya.
Nova juga ikutan menyantap soto ayamnya yang udah dicampur pakai nasi, "Nih ya gue kasih tau..." Nova memamah biakan makanannya sebelum lanjut ngomong lagi.
"Cinta datang karena terbiasa cakar-cakaran!" lanjut Nova.
"Gue nggak cinta yaa..." serobot Kalin.
"Sekarang mungkin belum, tapi sebentar lagi gue yakin lo bakal bucin! lo bisa pegang omongan gue?!" lanjut Nova.
Sementara itu lain tepat, Raksa ngikutin seseorang yang lagi bawa sebuah kotak makanan yang diduga kotak makanan yang sama yang dikirim seseorang padanya.
"Eh, Tan. Gue tadi taruh lipstik pesanan lo di meja. Gue kira lo lagi keluar, sorry ya?" ucap wanita lain setelah cipika cipiki dengan Tania.
"Oke, abis ini gue transfer ya!" kata Tania.
"Ok, thanks ya! ditunggu next order!" kata si wanita tadi
"Nggak mungkin!" gumam Raksa saat tau kalau orang yang diikutinya itu Tania, kecengannya si Farid.
Ngerasa ada orang yang berada beberapa meter darinya, Tania nengok ke belakang sedangkan Raksa yang kaget pun refleks berbalik dan kebetulan ada orang yang lagi bawa dokumen, dan si Raksa ini pura-pura jalan bareng sama orang yang keebetulan lewat aja dan berpapasan sama dia.
Setelah nengok sana sini nggak ada orang yang ngekorin dia, Tania masuk lagi ke ruangan nya.
Sedangkan Raksa yangdiliatin sama cewek yang bawa dokumen itu, langsung jaga jarak nyari lift. Pura-pura nggak nyadar aja, si raksa. Dia pergi nyari lift.
"Huuufhhh!" Raksa nyentuh dadanya, dia buang nafas lega.
Puuffftttt!
Kepala Raksa langsung kliyengan. Karena didetik selanjutnyadia langsung inget Farid dan segala ucapan Farid mengenai Tania yang makin hari makin jauh sama temennya itu.
"Nggak mungkin kan gue yang jadi crush nya si Tania, kan? nggak, nggak ini mungkin sih! ya ampun, apa lagi sih ini," lirih raksa bergumam sambil nungguin pintu lift terbuka.
Ting!
Raksa nyelonong masuk saat pintu besi itu kebuka.
Dan ternyata, di dalem itu ada si mas Pay, OB yang beberapa hari terakhir sering nganterin kopi yang dipesan seseorang.
Dan sekarang tuh orang lagi bawa tentengan yang sama. Yang Raksa yakin itu roti sama soy milk.
"Kebetulan ada mas Raksa! ini loh saya baru mau nganterin kopi!" kata mas Pay mencoba senyum, ditengah kegugupannya karena ditatap Raksa dengan seksama.
"Itu soy milk bukan Kopi!"
"Soy mil? soy mil itu apa, Mas?" mas Pay garuk-garuk kepala.
"Susu dele!" Raksa ngelipet tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
"Oh susu Dele? saya nggak tau, saya taunya kopi, Mas! soalnya mbak Rah----"
"Eh." mas Pay nutup mulutnya sedangkan mata Raksa memicing pada pria dengan seragam biru itu yang hampir keceplosan.
"Siapa? Rah siapa?"
"Eh, nggak mas Raksa! ini ehm, kebetulan saya tadi dipanggil sama orang diatas! saya duluan mas Raksa. Ini kopi nya!" mas pay gugup saat pintu lift tiba-tiba kebuka.
Sedangkan Raksa yang dikasih begitu aja kaget,badannya aja sampai terhuyung ke belakang. Sementara mas Pay udah ngibrit keluar ninggalin Raksa yang mau ngejar tapi nggak njadi karena pintu liftnya udah ketutup lagi.
"Astagaaa!! random banget hari ini!" pria itu bergumam sendiri.
Namun dengan kejadian hari ini, rasa penasarannya akhirnya terjawab, jika kotak makanan dan susu dele itu pengirimnya beda orang.
Pria itu kembali ke mejanya dan bener, itu kotak makanan udah nggak ada.
"Sis? Siska?!!" Raksa manggil temen sebelahnya.
"Apaan?"
"Lo tau nggak ada yang mampir ke meja gue?"
"Meja lo?" Siska mikir.
"Siapa ya?" wanita itu garuk kepalanya pakai ujung pulpen yang tumpul.
"Emang kenapa?" Siska malah balik nanya. Udah mikirnya lama, balik nanya pula.
"Nggak apa-apa, soalnya tadi ada kotak makanan disini. Tapi sekarang nggak ada, berarti kan ada yang ke meja gue nih!"
"Eh bukan gue ya?!! bukan gue yang ngambil!"
"Gue kagak nuduh lo! gue cuma nanya," Raksa negesin.
Siska mikir bentar, "Eh tapi, tapi ... oh ya, tadi ada yang nanyain lo! dari divisi sebelah, yang gue liat sering jalan noh sama temen lo si jangkung!"
"Farid maksud lo?"
"Ya yang sering gue liat sama tuh orang. Gue lupa siapa namanya. Tapi ya nanya doang, gue nggak liat dia bawa kotak lo apa nggak!" jelas Sisca.
'Berarti bener kan, Tania?' batin Raksa.
"Oh gitu ya?" raksa manggut-manggut.
"Lo kayaknya belom makan siang ya?" tanya raksa basa-basi.
"Nggak sempet! bapak lo kasih gue kerjaan banyak banget!" keluh Siska.
"Nih gue punya roti, buat lo aja kalau gitu!" Raksa ngasih roti yang dia dapet dari mas pay, yang sekarang diestafetin ke Siska.
__ADS_1
"Makasih?" Siska dengan wajah bingungnya. Karena tumben-tumbenan tuh cowok ngasih dia makanan.
'Jangan-jangan dia naksir gue? please, gue harus gimana? gue belum siap pacaran!' batin Siska