Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Disamperin Arkan


__ADS_3

"Udah nggak usah nangi! cowok cemen kayak gitu nggak perlu lo tangisi!" ucap Rksa yang nyetir motornya di bawah langit maghrib.


Dia mencoba membawa motornya sepelan mungkin, karena pada saat seperti ini ada banyak setan yang berkeliaran. Jadi mungkin itu yang jadi alasan raksa buat nggak selap-selip ataupun ngebut di jalanan.


Sementara aku masih nangis sesenggukan, sakit hati dengan semua tuduhan Reno yang sama sekali nggak bener.


Dan nggak tau apampertimbangannya, raksa melanin laju motornyta dan belok di sebuah minimarket.


"Gue beliin minum, biar lo agak tenangan dikit! kuping gue pengeng denger bocil nangis mulu! bentar, lo jangan kabur kemana-mana, ngerti?!!!" Raksa memperingatkan Kalin, gadis itu cuma bisa turun dari motor dan ngangguk dengan mata yang sembab.


Raksa pun masuk ke dalam dan mencari showcase super gede yang disana berjejer aneka macam minuman. raksa mengambil air mineral dan juga minuman jelly yang pengen dia seruput buat ngilangin rasa lapernya saat ini.


"Sudah semua, Kak? mau nambah sekalian isi pulsanya?" si pegawai minimarket nawarin produk yang lain.


Raksa menggeleng, "Udah itu aja..."


Sedangkan di luar, tiba-tiba ada sesosok makhluk tuhan yang ganteng yang nyamperin Kalin.


"Maaf, kamu yang namanya Kalin?" ucap si cowok setelah turun dari motornya dan ngelepas helmnya.


Aku ngusap air mata dan ngekliatin nih orang dengan seksama, Kalin takut kalau nih orang bermaksud jahat.


"Ngeliat kecemasan di wajah kalin, sosok ini pun mencoba menennagngkan, "tenang aja, gue bukan orang jahat. Gue Arkan, gue abangnya Reno. tadi kan kita ketemu di halaman rumah gue, lo nggak inget?" Arekan mencoba memperkenalkan siapa dirinya.


"Mau apa lo kesini?" serobot Raksa dengan belanjaan di tangan kirinya. Dia ngambil salah satu minuman dan membukakaknnya buat Kalin, "Minum dulu, biar lo tenang!"


Setelah Kalin meneguk minumannya, barulah Raksa nanyain Arka lagi, "Ada perlu apa? sampai lo ngikutin kita kesini?"


"Mungkin kita bisa ngobrol sambil duduk?" ucap Arkan yang usianya dibawah Raksa.


"Oke!"


Raksa gandeng Kalin buat ngikut ke tempat duduk yang ada di depan minimarket itu. Raksa duduk disamping Kalin menghadap pada Arkan.


"Gini, sebelumnya gue minta maaf atas apa yang udah ayah lakuin sama lo. Gue yakin ayah terpaksa ngelakuin itu buat mempertahankan nama baik keluarga di depan tetangga..."


"Tapi gimana dengan Kalin? dia malah jadi difitnah kan jatohnya?" Raksa menyentuh sudut bibirnya yang luka.


"Iya gue tau, ayah gue emang salah. Maka dari itu gue kesini buat minta maaf atas nama keluarga gue..."ucap Arkan yang pembawaannya tenang.


"Selain gue pengen tau permasalahan yang sebenernya, karena jujur gue juga sedikit aneh dengan sikap adek gue akhir-akhir ini..." lanjut Arkan.

__ADS_1


"Lo jelasin, mumpung ada salah satu keluarga FReno yang mau dengerin lo!" kata Raksa.


Kalin pun akhirnya memperkenalkan dirinya dan hubungannya dengan Reno, nggak ada yang Kalin tutupi. Gadis itu juga nggak segan-segan menunjukkan beberapa chat Reno di hapenya dan Arkan sempet ngecek juga itu nomor si Reno atau bukan dan emang bener. Itu nomor Reno, dari situ aja Arkan udah bisa menilai kalau adeknya itu emang mencoba memutar balikkan fakta yang ada.


"Berapa uang yang udah dipinjem adek saya?" tanya Arkan.


Kalin menatap Raksa.


"Kasih tau ajah," Raksa ngangguk. Lah iya mumpung ditanyain kan? sekalian aja beberin semua pinjaman baik yang tertulis di WA ataupun yang lewat by phone.


"Mungkin nggak banyak buat mas Arkan, tapi nilai segini cukup banyak buat gue yang masih sekolah..." kata Kalin.


'Giliran abangnya si Reno aja lo panggil mas, dasar bocah setan!' batin Raksa.


"Udah sebut aja!" ucap Raksa yang keburu kesel.


"6 juta, itu yang gue inget, kalau yang lain biarin aja," kata Kalin.


"Itu yang dia minta dalam beberapa waktu terakhir," lanjutnya.


Arkan mengangguk, "Maaf ya Kalin atas apa yang dilakuin Reno sama lo. Dan biar semuanya clear, gue akan transfer sejumlah uang yang Reno udah pinjam. Sekarang gue minta nomor rekening lo," kata Arkan dengan mencoba bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan adiknya.


"Udah kasih aja!" kata Raksa.


Kalin pun ngasih nomor rekening yang diminta Arkan, lalu abang dari Reno Vadela itu mentransfer sejumlah uang lewat smart phonenya, "Udah selesai. Gue lebihin ya, Kalin meskipun nggak banyak..."


"Maksih, Mas! harusnya nggak usah..."


"Nggak apa-apa. Sekali lagi gue minta maaf buat lo Kalin dan buat lo raksa yang udah kena tamparan ayah. Sekali lagi gue minta maaf..."Arkan sopan banget.


Mungkin ini yang menjadi perbedaan antara reno dan Arkan di keluarganya, dan mungkin ini yang menjadi alasan cewek masa kecil reno lebih kepincut sama Arkan.


"Udah selesai, kan?" tanya Raksa.


"Kalau gitu kita pamit, udah malem. gue harus balikin nih bocah ke rumahnya!" ucap Raksa nunjuk Kalin dengan dagunya.


"Makasih ya mas Arkan..." ucap Kalin sebelum pergi dan boncengan sama Raksa ninggalin Arkan di minimarket itu sendirian.


Sedangkan Reno lagi disidang di ruang tamu. Jangan dianggap kalau dia dibelain di depan umum lalu dia akan selamat dari amarah sang ayah, oh tentu tidak pergusooh!


Ayah hakim nyuruh Reno duduk saat anak itu masuk ke dalam rumah, "Duduk kamu!"

__ADS_1


"Ada apa ini, Yah?" tanya ibu yang baru aja keluar.


"Loh temen kamu mana? udah pulang?" tanya ibu pada Reno.


"Wajah kamu kenapa Reno?" tanya bu Rini lagi.


Seketika adzan berkumandang, ayah yang udah marah banget sama Reno harus bersabar, menunggu adzan selesai.


"Reno tidak kenapa-napa. Lebih baik, Ibu duluan saja sholat ke masjid!" suruh ayah.


Bu Rini yang udah puluhan tau mendampingi suaminya, jelas udah paham kalau suaminya ini lagi menyimpan sesuatu.


Dan tanpa ada bantahan bu Rini mengajak anak bungsunya, pergi ke masjid terdekat.


Greppp!


Dan setelah pintu itu tertutup, Reno beranjak berniat mau pergi ke kamarnya.


"SIAPA YANG MENYURUH KAMU UNTUK PERGI? KEMBALI, DAN DUDUK?!" bentak ayah.


Reno menengok, dengan seringai di wajahnya.


Dia duduk dan menunggu apa yang ayahnya katakan padanya.


"AYAH KECEWA SAMA KAMU RENO!"


"Apa maksud ayah? ayah percaya dengan mereka dibanding dengan anak ayah sendiri?!" Reno playing victim lagi.


Ayah menunjukkan telapak tangannya dengan nada yang bergetar menahan amarah yang sudah memuncak, "Seandainya, ayah tidak pernah berjanji pada ibumu. Jika dalam keadaan apapun, ayah tidak akan melayangkan tangan ini ke tubuh anak-anak ayah, terutama padamu. Pasti sejak saat tadi, sudah ayah pukul kamu, Reno!"


"Ayah menampar laki-laki itu bukan karena ayah marah dengan dia. Tapi ayah berusaha menjaga nama baik keluarga yang sudah kamu hancurkan. Ayah berusaha mempertahankan nama baik keluarga kita di depan orang-orang itu!" mata ayah memerah.


"Ayah tidak pernah mengajarkan anak ayah untuk berbohong. Ayah tau apa yang mereka katakan itu benar, tapi ayah berusaha untuk membelamu di depan orang-orang yang melihat keluarga kita dengan tatapan merendahkan. Sampai disini kamu mengerti Reno?!"


"Tapi Reno tidak meminta untuk ayah bela!"


"DASAR ANAK TIDAK TAU DIRI!" ayah sudah mengangkat tangannya, dia terpancing emosi.


Ceklek!


"Ayahhhh?!!" ucap Arkan yang baru datang, dia kaget ayahnya yang diliputi rasa amarah.

__ADS_1


__ADS_2