Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Mengaku


__ADS_3

"Lancang kamu ya?!" Rebecca melepaskan tangannya dari Reno dengan kasar.


"saya tau Melody salah, tapi---"


"Tapi apa hah?" serobot Rebecca.


Sedangkan bibik yang menangis di kaki sang nyonya pun disuruh bangun, "Bangun, Bik! nggak usah nangis-nangis kayak gitu!" Rebecca menyingkirkan kakinya dari bi Marti namanya.


"Hiks, maafkan anak saya, Nyonya! maafkan, saya yang salah, Nyonya..." bi Marti masih menyalahkan dirinya.


Rebecca menunjukkan telapak tangannya, "Diem Bik! nggak usah nangis! karena kepala ku ini tambah sakit dengerin suara tangisan bibik, ngerti?!"


Sedangkan Melody yang dibela cuma diem, tertunduk. Udah ketauan bukan anak horang kaya, sekarang ketauan maling kartu juga. Sial banget hari ini.


"Sekarang, daripada saya laporkan polisi. kamu ngaku nggak kalau kamu yang nyuri kartu saya? hem?" Rebecca menaikkan dagu melody.


"Semua bukti udah ada, bahkan kamu itu sering ketauan masuk ke dalam kamar utama. Padahal bukan tugas kamu buatb bersih-bersih disana!" lanjut Rebecca.


Semua udh terbuka begini, mengelak pun akan menjadi sesuatu yang sia-sia, makin dibeberin semua kesalahan dia yang ada.


"Belum ngaku juga? iya? oke? kita kirimkan bukti cctv nya ke kantor polisi!"


Bik Marti segera bersimpuh di kaki majikannya lagi, "Jangan Nyonya, jangan nyonyaaa?!!! maafkan anak saya, Nyonya, jangan laporkan anak saya... jangan..."


Sedangkan para ART yang lain ngeliatin dan berbisik, "Emang kurang ajar banget si Melody, berani banget dia maling di rumah ini. Sok jadi bos lagi! ketauan kan akhirnya, rasain! belagu sih!"


"Jangan Nyonyaaaaa," tangis bik Marti memenuhi ruangan itu.


"Kenapa diem aja? hem?" Rebecca geram dengan diamnya Melody.


"Bukan saya, bukan saya yang mengambil kartu itu!" lirih Melody.


"BUKAN KAMU? TERUS SETAN? IYA? SETAN YANG BENTUKANNYA MIRIP SAMA KAMU GITU? KAMU PUNYA KEMBARAN ASTRAL GITU?!! KAMU PIKIR SAYA BODOH, HEM?!" Wanita itu meledak dan nggak ragu buat teriak apalagi menoyor kepala Melody.


Rebecca berjalan menyingkirkan bik Marti yang dari tadi pegangin kakinya sambil nangis sesenggukan. Dia mengambil papper bag yang ditaruh Reno di atas lantai, kemudian kembali dan mengeluarkan beberapa baju darisana, "Ini bukan lokal brand! dan kamu tau ini harganya berapa? nggak mungkin anak sekolahan kayak kamu bisa membeli barang mahal seperti ini, kecuali kamu nyolong atau kamu lahir di keluarga kaya raya yang bisa ngasih kamu fasilitas belanja tanpa batas!" Rebecca menggenggam barang ditangannya dengan kesal.


"Kamu Melody?! siapa yang bayarin sekolah kamu kalau bukan aku?! bukannya terima kasih dan bersikap baik, malahan bikin ulah di rumahku sendiri. Suamiku pun nggak akan menyangka dengan apa yang sudah kamu lakukan!" Rebecca  mencibir Melody yang beneran nggak tau diri.


"Sudah cukup anda menghina saya, Nyonya!" Melody mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Ya, memang saya yang mengambil kartu anda, saya yang membelikan barang itu dengan kartu anda. Sekarang anda puas? itu kan yang anda inginkan dari saya?" lanjutnya sembari mengingat dirinya yang waktu itu menemani Rebecca belanja di slah stu mall terbesar, dan sempet ngeliat pin yang ditekan Rebecca di mesin EDC.


Plakkk!!


Rebecca lantas menampar wajah Melody.


"Kurang ajar!"


Melody memgang pipinya sendiri.


"Jangan Nyonyaaa! jangan pukul anak saya lagi, Nyonyaaaa!" bik Marti memohon.


"Sekarang kemasi barang kalian dan pergi dari sini!" Rebecca mengusir ibu dna anak itu.


"Termasuk kamu!" Rebecca menunjuk wajah Reno dan mengarahkan tangannya ke arah pintu.


"Pergi kalian semua!" teriaknya lagi.


"Minta maaf lah Melody!" bi Marti menyuruh anaknya.


"Buat apa minta maaf?"


Namun diluar dugaan, Melody berlari masuk ke dalam. Dia sama sekali nggak mau minta maaf. Reno pun sampai melongo ngeliat gimana keras kepalanya Melody, ya nggak jauh beda sama dia.


Rebecca mencibir apa yang dilakukan anak pembantunya, "Lihatkan anakmu itu? sungguh nggak tau diri!"


Beberapa saat kemudian Melody datang dengan membawa barang-baelanjaan yang belum sempat dia buka.


Brukk!!


Gadis itu meletakkan semua belanjaannya di atas meja, "Ini, saya kembalikan semua yang saya beli dari kartu milik anda!"


"Maaf, dan permisi..." Melody dengan harga diri setinggi gunung pun menunduk dan ngeloyor pergi diikuti dengan ibunya yang memanggil-manggil namanya, menyuruh anaknya buat minta ampun tapi sama sekali nggak digubris.


"Tunggu apa lagi? cepat pergi, dan tinggalan barang itu disana?!" Rebecca menunjuk barang yang dibelikan Melody untuk Reno.


Reno mengangguk sekilas, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan rumah mewah itu menggunakan motornya.


Sementara di rumahnya, Kalin beneran ngelakuin hari tenang. Dimana dia glosoran di rumahnya dan menikmati setiap menitnya dengn menonton tivi dan menikmati cemilan.

__ADS_1


"Kalin?" bunda Lia masuk ke dalam kamar anaknya setelah dua kali mengetok pintu kamar putrinya itu.


"Kamu lagi belajar?" tanya bunda.


"Belajar? tambah puyeng yang ada, Bun! kan bunda tau sendiri kalau Kalin nggak bisa kalau kebanyakan belajar, mata bis apegel!"


"Ya udah kebetulan! nih, anterin makan siang buat Raksa!" bunda ngasih satu kotak makanan.


"Anterin pak Abdulah aja lah, Bun! nggak usah kalin yang nganterin, kan?" Kalin masih mager.


"Yang calon istrinya Raksa kan kamu, bukan pak Abdul. Gimana sih? lagian cuma sebentar, abis nganterin ini kamu balik lagi ke rumah. Tuh pak Abdul udah manasin mobil!" bunda duduk di pinggir ranjang.


Kalin pun bangun dengan rambut panjang lurus yang tergerai.


"Paling dia juga makan siang di kantin, Bun..."


"Belum tentu, Sayang! ayo, bangun dan anterin ini..." suruh bunda nggak mau dinego.


"Yaaa, Buuuuun...." kalin pun akhirnya beranjak dan menuruti keinginann bunda Lia.


Kalin yang masih ABG memakai over all dengan rok selutut dan kaos berwarna putih. Dia dianter pak Abdul yang ternyata ikut kongkalikong dalam pertemuannya dengan Raksa waktu itu.


"Saya nggak nyangka loh, pak Abdul juga ikut-ikutan sama ayah dan bunda buat ngerjain Kalin!" sindir Kalin saat di mobil.


"Maaf, Mbak! saya cuma disuruh..." kata pak Abdul sembari menyetir.


"yakin aja, Mbak! orangtua pasti menginginkan hal yang terbaik buat anaknya, apalagi mbak Kalin ini anak satu-satunya. Pasti bapak dan ibu mengusahakan segala yang terbaik buat mbak Kalin..." pak Abdul malah nyeramahin.


Nggak lama mereka sampai di sebuah kantor dimana Raksa bekerja.


"Tungguin ya, Pak..." kata Kalin.


"Siap, Mbak!"


Gadis cantik dengan jepitan rambut dengan motif bunga itu kemudian menghubungi Raksa.


"Haloooooo, mas Raksa. Gue lagi di kantor, Mas! keluar dong!" ucap Kalin di seberang telepon.


Raksa yang mendengar itu pun seketika terkejut, "Ngapain lo dateng ke kantor gue, bocil?!"

__ADS_1


"Udah jangan banyak tanya dulu, kaya pegawai sensus aja! gue tunggu di lobby!" Kalin pun menutup telponnya, sedangkan Raksa tanpa babibu turun ke bawah menemui gadis yang sudah menjadi tunangannya.


__ADS_2