
Kalin pergi dengan pakaian casual yang bikin dia keliatan nyantai. Make up tipis yang dipoles di wajahnya yang putih, membuat tampilannya cantik sesuai dengan usianya.
Beda sama Raksa yang dari out fit nya aja udah keliatan, orang kantoran. Dan berarti keliaran juga jarak umur keduanya semakin kentara.
"Udah makan belum?" tanya Raksa saat mereka udah sampai di restoran tempat yang dipilih Raksa buat malam jumat romantisnya pak Tomi bareng istri.
"Kalau belum, kita makan dulu sambil nungguin tuh meja yang mau dihias jam 5 nanti,"
"Jam 5? buseeett, lama bener! tau gitu kan gue bisa tiduran dan mager dulu di rumah," kata Kalin yang lagi ada di restoran sebuah ternama.
"Ya udah kalau lo udah makan, temenin gue makan aja. Lo bisa bengong dan mager sepuasnya!" ajak Raksa.
Sekarang mereka duduk di sebuah bangku yang masih belum di reservasi.
"Sebenernya bisa aja gue kesini jam 5 sore, gue yakin tuh orang resto bakalan nyiapin tanpa gue harus mendelik ngawasin mereka. Cuma gue mafaatin aja privillage gue sehari ini. Kepala gue lagi nyut-nyutan, kerjaan gue makin banyak. sampai gue jarang keluar buat makan siang," Raksa malah curhat.
Dia melambaikan tangan danĀ buat minta menu.
"Gue kira jadi orang dewasa tuh enak. Punya kerjaan yang otomatis membawa mereka pada uang banyak dan kesempatan buat menjadi kaya raya!" Kalin menanggapi keluhan Raksa.
Emang dari wajahnya aja udah keliatan, kalau Raksa capek banget. Mungkin kebanyakan ngeliat sinar dari komputer dan juga angka-angka yang bikin dia tambah liyeur.
Raksa menunjuk menu yang dia pesan, lalu dia ngasih buku itu pada pelayan.
"Ya emang enak. Mau beli apa-apa nggak tergantung duit orangtua, tapi dibalik itu ada banyak penderitaan yang lo harus hadapi. Lo kira kerja itu gampang? nggak sama sekali, Nona manis?!" ucap Raksa yang kayak nya udah meninggalkan label 'bocah setan' pada Kalin dan menggantinya dengan sebutan yang ramah di telinga.
Kalin yang dibilang nona manis pun, mencoba menetralkan perasaannya. Dia menjaga supaya pipinya nggak merona.
Raksa terdiam, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. dia melihat ke sekeliling. Sebenernya dulu yang dia inginkan ya kayak gini, keluar dengan seseorang tanpa harus selalu waspada. Ya, kali aja ada temen kantor mereka yang kebetulan dateng di waktu dan tempat yang sama. Nggak perlu juga main kucing-kucingan, nyembunyiin perasaannya dari semua orang.
"Kenapa, Om? kayak lagi banyak pikiran!"
"Kurang keras Kalin!" mata Raksa memicing, dia kesal dipanggil Om untuk yang ke sekian kalinya. Sedangkan Kalin menahan senyumnya.
Nggak lama pesanan mereka datang.
__ADS_1
"Kok pesennya dua? kan gue nggak mesen?!" Kalin memandang tunangan dadakannya.
"Terus gue makan sendirian? ntar orang yang liat, gue lagi makan sama bibik!" Raksa alesan, padahal dia emang pengen makan ditemenin.
"Apa lo termasuk dalam golongan vegan? nggak kan? lo masih makan daging kan?" tanya Raksa.
"Kalau gue vegan, makin kurus gue yang ada!" Kalin mulai mengambil alat makannya dan mulai memotong steak yang super lembut.
"Bukannya ini restoran mahal?"
"Terus?" Raksa naikin alisnya, nggak ngerti sama pertanyaan gadis yang ada di hadapannya.
"Yaaa maksud gue gimana bayarnya,"
"Bayarnya ya pakai duit, masa iya pakai daun? yang ada ktp lo ditahan sama mereka!" Raksa lanjut masukin daging ke dalam mulutnya.
"Tenang aja gue masih sanggup bayar! sebenernya gue udah lama pengen makan disini, tapi---"
"Tapi apa?"
Sedangkan Kalin motong steaknya dengan bibir yang dimanyun-manyunin. Mungkin karena itu lambung udah terlalu sering diabaikan, jadi jujur aja Raksa nggak begitu bisa menikmati makanannya. Dia ngerasa begah banget.
Dan Kalin bisa menangkap ekspresi itu sampai akhirnya mereka selesai makan.
Beneran beda sama Reno yang apa-apa dibayarin Kalin, Raksa lebih menyamankan Kalin dengan apa-apa yang dia makan tuh bocaha kagak usah mikirin gimana cara bayarnya. Kalin jadi mikir, oh gini ya rasanya dibayarin. Tapi sesaat kemudian dia jadi ngerasa nggak enak, dia takut kalau nanti Raksa bakal mengungkit apa yang udah dikasih.
"Om!" Kalin manggil Raksa yang lagi ngecek dekorasi meja kusus punya pak tomi. dimana terpampang nyata pemandangan pusat kota dari ketinggian. Indah banget pokoknya.
Raksa nengok dengan tatapan menyipitnya.
"Maksud gue mas Raksa!" Kalin mendekat.
Raksa mundur, "Kenapa?"
"Nih..." Kalin membuka dompetnya dan ngasih beberapa lembar uang pada Raksa.
__ADS_1
"Duit? buat apaan?"
"Bayar makanan gue tadi..." Kalin yang mau nyimpen dompetnya segera dicegah Raksa.
"Gue bukan mantan lo yang muka kece dompet kere!" Raksa balikin tuh duit ke tangan Kalin.
"Gue kan bilang, gue nggak pernah ngutangin dan gue yang ngajak lo kesini. Gue nggak biasa dibayarin cewek, apalagi bocah sekolahan kayak lo ini," lanjut pria itu.
"Dekorasinya sudah siap, Pak..." ucap salah satu pelayan yang menghampiri Raksa.
"Oke, makasih ya?" Raksa tersenyum ramah.
Kalin mikir nih orang punya kepribadian ganda, gimana enggak. Lha wong sama dia bawaannya emosian mulu, giliran sama ayah bundanya dan juga orangtua Raksa sendiri, tuh orang bersikap menghormati. bahkan sama pelayan tadi, dia bisa begitu ramah.
Raksa mengajak Kalin buat ngeliat secara dekat meja yang udah dikelilingi lilin dan juga bunga. dengan sentuhan warna pastel sesuai warna favorit istrinya pak Tomi.
"Gimana? menurut penglihatan lo sebagai cewek, dekorasinya udah pas atau masih ada yang kurang?" tanya Raksa. Dia menyentuh kain yang menutupi meja yang cantik dengan hiasan lilin panjang.
Kalin ngeliat bunga yang cantik dan juga sebuah buket bunga yang berwarna merah, kontras dengan meja yang tunangannya sentuh.
"Kayaknya udah pas deh, karena kalau terlalu bunganya rame juga dikira kebon bukan restoran!" jawaban kalin bikin Raksa pengen ngejepret bibir tipis gadis itu.
Namun ketika satu senyuman melayang padanya, Raksa jadi mengundurkan niatnya buat main jepret-jepretan, lagian atut ah ntar KDT (Kekerasan Pada Tunangan), ngeri juga.
"Ya udah, kita sekarang nemuin orangnya buat mastiin menunya semua pas! soalnya istrinya pak Tomi nggak suka lada hitam. Jadi jangan sampai makan malam romantis itu berubah jadi makan malam tragis, gara-gara istrinya pak Tomi yang batuk-batuk sepanjang malam!"
'Kok sama kayak gue? nggak suka lada hitam?' batin Kalin.
Kalin nurut aja kali ini, nggak banyak komen. Mungkin efek habis makan juga, begah kalau kebanyakan komentar. Nah, sekarang dia diajak nemuin orang yang Raksa hubungi buat makan malam romantis ini.
"Jadi semua udah siap ya, dari appetizer, main course dan dessert!" Raksa mastiin menu yang dia pilih.
"Sudah, untuk seratus orang kan?" tanya si pelayan yang belum kena briefing.
"SERATUS???!!!!" Raksa yang seketika kaget mendengar ucapan pelayan tadi.
__ADS_1