Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Harusnya Tadi Nggak Dibeli


__ADS_3

Sesuai permintaan sang Nyonya, Raksa nganterin Kalin ke stadion bola. Dengan berbagai cara, akhirnya mereka bisa masuk ke sana.


"Gimana? puasss?" tanya Raksa saat mata Kalin berbinar ngeliat pemandangan rumput hijau dari atas tribun.


Kalin tersenyum senang. Hatinya benar-benar bahagia melihat rumput yang dipotong sangat rapi.


"Fotoin!" Kalin menyodorkan hapenya, lalu dia duduk di salah satu bangku yang kosong.


"Satu, dua..." ucap Raksa.


"Nih udah!" pria itu ngembaliin hape istrinya.


"Kok cepet banget, sih?!!" Kalin kesal dan mencoba ngeliat hasil jepretan suaminya itu.


"MAAMAAAAAANGGGG?!!1" TERIAK WANITA ITU SAAT MELIHAT HASIL FOTO YANG JAUH DARI HARAPAN.


"Shyyyut, jangan berisik, Cil! yang ada kita diusir!" kata Raksa membekap mulut istrinya.


Kalin menepis tangan itu dengan memperlihatkan tatapannya yang sinis, "Ya abisnya rese banget! masa iya yang difoto kaki?" Kalin memperlihatkan layar hapenya.


"Jangan suudzonan dulu napa sih, Cil?" Raksa mengambil lagi hape milik istrinya.


"Nih loh, ada 100 jepretan. Tadi mungkin kepencet pas aku mau kasihin ke kamu!" Raksa memperlihatkan sederet foto yang dia ambil. Jadi Raksa mengatur pengambilan gambar dan dengan sekali tekan langsung banyak foto yang kejepret.


Kalin yang melihat iti ajdi malu sendiri.


"Nah, kan?" giliran Raksa yang naikin audut bibirnya, kesel banget udah dituduh ngambil gambae asal.


Cup!


Kalin mencium Raksa tepat di bibirnya.


"Jangan marah mulu, ntar cepet tua!" ucap Kalin yang turun ke bawah meninggalkan Raksa yang masih melongo.


Raksa menoleh, "Bocil gue tambah agresif aja!"


"Cil tunggu, Cil...!" seru Raksa menyusul Kalin.


Kalin turun sampai bangku penonton yang paling bawah.


Kalin nggak suka bola, tapi nggak tau kenapa setelah tau akan meninggalkan kota itu, Kalin ngrasa harus mengunjungi semua tempat yang ada disana, meskipun sebelumnya nggak pernah terpikirkan buat kesana.


Wanita itu bisa membayangkan bagaimana ramenya saat stadion itu dipenuhi banyak orang yang menonton pertandingan.

__ADS_1


Karena rumput nggak boleh diinjek sembarangan, akhirnya Kalin pun hanya biaa berfoto-foto dari bangku tribun. Dia mengajak suaminya itu buat foto juga. Seakan udah mempersiapkan hari ini, dia sengaja membawa perlengkapan buat foto bukan hanya gopro tapi drone juga ada.


"Segitunya pengen hunting foto!" ucap Raksa.


"Ya gimana ya? aku terlalu sibuk dengan nilai akademis, jadi waktinya liburan aku nggak liburan. Aku fokus ngejar supaya bisa lulus cumlaude! persaingan disini rnyata lebih mengerikan daripada sewaktu SMA. Aku boleh aja jadi bintang di sekolah, tapi disini belum tentu. Karena aku berkumpul dengan para bintang yang lebih bersinar daripada aku!" kata Kalin setelah memasukkan peralatan foto.


"Kata siapa? kata siapa mereka yang lebih bersinar?"


"Kataku kan tadi!"


Raksa menggeleng, dia merapatkan tibuhnya dengan Kalin. Dia menyelipkan jari jemarinya di rambut istrinya itu.


"Menurutku kamu yang paling bersinar bahkan kalau dibandingkan dengan orang yang paling jenius di kampusmu itu, aku yakin kamu yang paling bersinar. Bukan hanya berainar, tapi berkilau!" Raksa memandang Kalin, tatapannya penuh dengan kekaguman pada wanita muda yang berhasil direngkuhnya.


"Gombal!"


"Serius! buktinya kamu lulus duluan dari si Arvin, itu jelas udah buktiin kalau kamu lebih baik dan lebih cepat dari dia..."


"Arvin bukan tolak ukur. Dia jelas lebih hebat, karena dia bisa dapetin beasiswa S2 yang nggak semya orang bisa mendapatkannya!"


"Emangnya kamu pengen lanjyt S2 disini?" tanya Raksa.


Kalin menatap lawan bicaranya, "Nggak. Udah cukup lah, aku pengen kerja dulu..."


"Maksudku bukan bekerja seperti itu! tapi bekerja yang sebenarnyaaa!!!" ucap Kalin saat badannya serasa mengambang di udara karena diangkat suaminya.


Pengennya sih Raksa langsung pulang, tapi apadaya mulut sudah berjanji akan membelikan barang yang Kalin suka. Dan ini dijadikan Kalin buat menghindar dari bekerja sama dalam hal beranak pinak.


Kalin sengaja mengajak Raksa ke departement store, dia memilih apa saja yang sepertinya dia butuhkan.


Kkamu pengen apa, Kalin? kita udah muterin selama satu jam, lho yaaa!" ucap Raksa.


"Ntar deh, Mas! kamu brisik banget, sih? kamu kan udah janji bakalan ngebeliin aku barang yang aku mau!" ucap Kalin saat melihat tas yang lucu, dia lagi mempertimbangkan sesuatu.


'Astagaaa, belanja sama cewek emang sebuah malapetaka! nggak akan kelar ini sampe besok subuh!' batin Raksa.


"Ya udah itu aja, kalin! itu lucu banget loh, apalagi kamu yang pake!" kata Raksa menyudahi acara belanja Kalin yang nggak kelar-kelar.


"Syuuut! bentar deh, Mas! kamu itu ganggu banget tau, nggak?" Kalin menutup bibir Raksa dengan satu jarinya, yang kemudian dia lanjut mengamati brandrol yang ada di tas itu.


"Gila, mahal banget!" kata Kalin.


"Semahal apa sih, Kaliiiin?" Raksa udah mulai capek, kakinya gempor ngikutin istrinya keliling departement store buat meneliti tas mana yang paling pas buatbdia dari segi tampilan dan juga harga.

__ADS_1


"Gila, kayak gini aja udah 400 pounds!" Kalin sambil ngitung.


"Ya udah ambil aja, Yang!" kata Raksa.


"Nggak, nggak bisa! ini mahal banget, Mas! tas sekecil ini loh, kalau di rupiahin lebih dari 7 jutaan," Kalin menaruh lagi tas yang diambilnya.


"Tapi kamu suka?"


"Ya suka sih. Tapi nggak suka harganya!" kata Kalin.


Si penjaga toko udah rautnya nggak enak, dan Raksa udah paham bangt makanya dia segera ambil itu tas.


"She already chosed this one! (Dia sudah pilih yang ini)" ucap Raksa.


"Mas? kita---"


"Syyuuuutttt?!! kalau ngitung jangan dirupiahin! ntar bisa oleng otakmu," ucap Raksa.


Dan seketika Raksa membayar dan membawa tas itu pergi bersama mereka.


"Harusnya kita nyari lagi, di sebelah sana..." ucap Kalin.


"Tiba-tiba aku laper banget! inget nggak dari stadion sampai belanja nih tas, kita belum makan apa-apa," Raksa ngeles.


Padahal Raksa udah tau kalau Kalin pengen banget punya tas itu. Karena ri semua toko, dia paling lama berdiri dan milih di toko ini. Apalagi udah pegang-pegang dan nyoba juga. Kayaknya Raksa bakal malu banget kalau dia harus pergi ke toko lain dan bikin si pegawai toko ini melihat meteka dengan raut wajah yang sengak.


"Harusnya tadi ngak dibeli!"


"Udah, Cil! kaki ini nggak kuat, Cil kalau harus muterin nih gedung berkali--kali!" ucap Raksa.


Raksa yang udah menepati janjinya mengajak Kalin langsung pulang. Perasaan dia kalau belanja ke supermarket nggak gini-gini amat capeknya, tapi nemenin Kalin beli satu barang aja capeknya bukan main.


"Katanya mau makan? kok kita malah keluar?" Kalin saat masuk ke dalam taksi.


"Makan di rumah aja, Cil! aku mendadak kangen banget sama rumah sewa kita itu!"


"Kangen? aneh banget!" gumam Kalin.


Namun sepintas ekor matanya menangkap sosok yang familiar dengan dirinya, sesosok pria yang ada di luar jendela mobil.


Namun ketika Kalin mau ngeliat, si pria itu sudah pergi berbarengan dengan taksi yang perlahan berjalan menuju alamat yang sudah dikasih tau Raksa.


'Kayak kenal...' Kalin bertanya-tanya dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2