
Sedangkan Raksa duduk di ruangannya dengan perasaan yang campur aduk Bukan karena dia punya rasa yang lain terhadap Tania. Tapi dia lebih mikirin perasaannya Farid.
"Apa ini alasannya Tania nolak cintanya Farid? tapi kenapa harus pak Galang? terus kenapa dia pakek promosiin gue? supaya bisa duduk enak di kursi ini? kenapa?" Raksa bergumam.
Mendadak kepalanya puyeng seketika.
"Kalau kayak gini gue mending milih kalau Om Diki yang dengan kekuasaannya pakai jalur orang dalam buat ngasih jabatan sama gue, daripada gue harus menerima ini dari Tania..." Raksa duduk dengan gelisah.
Tok!
Tok!
Tok!
Ada yang mengetuk pintu ruangannya yang sekotakan dikelilingi dinding kaca. Jadi, Raksa bisa ngeliat suasana kerja staff nya. Itu kaca ada tirainya, ketika Raksa pusing liat orang mondar mandir, si tirai bisa ditutup.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu diketuk lagi.
"Ya, masuk!" ucap Raksa yang mijitin kepalanya.
Bukan Tania, melainkan sang mantan yang jauh dari kata Indah, karena yang Indah cuma Kalin seorang, cmiwiw!
"Permisi, Pak!" ucap Rahmi yang masuk ke dalam dengan membawa dokumen di tangannya.
"Ada apa?" tanya Raksa tanpa basa-basi.
"Ini laporan bulan lalu, barangkali untuk pertimbangan bapak untuk---"
Taruh saja di meja. Nanti saya baca sendiri," ucap Raksa yang mengusir Rahmi secara halus. Dia tersenyum tipis dan menunjuk pintu.
"Sebenarnya saya---"
"Ada apa lagi?" tanya Raksa yang memandang kedua bola mata wanita yang berdiri di hadapannya, hanya terhalang satu meja kerja yang masih bersih dari barang-barang.
"Maaf, kepala saya lagi pusing banget, Rahmi. Nanti saya coba pahami sendiri," lanjut Raksa.
"Bapak lagi pusing? ehm, kalau begitu saya buatkan teh..."
"Tidak perlu, saya---"
"Tidak apa-apa, Pak! saya tidak merasa direpotkan. Nanti saya akan kembali lagi," Rahmi menaruh dokumen di meja Raksa lalu segera pergi menuju pantry.
Tapi ya udahlah, Raksa juga nggak mau keras bilang 'nggak usah' yang ujung-ujungnya si wanita tetep keukeuh, mau bikinin dia teh.
"Farid udah tau belom, ya?" gumam Raksa, dia buka hapenya dan nggak sengaja nemu chat dari Tania.
Suwer ini bukan seperti yang lo pikirin, Sa! gue punya alasan untuk ini, dan kalau lo mau tau. Kita bisa bicara empat mata dan gue bakal ceritain semua.
Tapi Raksa cuma ngebaca tanpa berniat buat balas. Ya bayangin aja, siapa juga yang nggak shock, ngeliat temen sendiri lagi berduaan sama atasan, yang setau Raksa pak galang itu sudah berkeluarga.
"Gue tau cinta itu buta, tapi nggak sebuta cintanya Tania sama pak Galang! udah ngawur banget, sih!" Raksa masih aja keinget kejadian tadi pagi.
__ADS_1
Lanjut, setelah baca Wa dari Tania, Raksa nelpon Farid. Dia pengen tau juga konsisi temennya itu kayak gimana.
"Haloo, ada apa, Sa?" suara Farid yang serak-serak bechek.
"Gue denger dari Febrian, lo lagi sakit, ya? sakit ape loo?" Raksa berusaha biasa aja.
"Diare nih gue! mungkin gue enter wind!"
"Enter wind apaan?"
"Masuk angin, Bray!" sahut Farid yang dia agak ngeden.
"Lo dimana, sih?" Raksa curiga.
"Dhi tho-i-leet, rrghh!" Farid ngeden lagi.
"Jorok banget lo jadi orang! kelarin dulu dah, ntar gue telpon lagi!" Raksa main nutup aja.
"Dasar bahlul! ngapain dia ngangkat telpon gue sambil boker?!!" Raksa geli sendiri, dia taruh hapenya dia atas meja.
Raksa pun mengetik sesuatu di chat WA nya.
Rid, kalau lo udah kelar, kasih tau gue!
Farid pun membalas dengan singkat.
Ya!
Dan bener, beberapa menit kemudian Farid nelpon balik.
"Lo yang kenape. Kok sampe masuk angin?" Raksa balik nanya.
"Gue, lembur sampe malem dan lupa nggak makan. Sampe rumah langsung tidur. Eh bangun-bangun kok badan nggak enak. Gue kira cuma capek biasa, perut gue juga begah banget rasanya! gue bawa istirahat, tapi bukannya sembuh, gue malah diare..." jelas Farid.
"Tapi cuma diare doang, kan?
"Bonjrot neh gue, lo bilang pake kata cuma!" Farid kesel.
"Maksud gue lo nggak sakit yang aneh-aneh, soalnya kata Febrian katanya lo ketempelan setan kantor!" Raksa mencoba buat ngledekin Farid.
"Sialan lo!"
"Oh ya, Rid! Lo kan dulu pernah bikin Visa kan ya?" ucapan raksa terhenti saat ada ketokan pintu.
"Ya, masuk aja!" ucap Raksa.
Ternyata Rahmi itu yang bawa secangkir teh penuh harapan balikan, cmiwiw!
"Gimana, sa?" Farid nanya ulang.
"Lo pernah bikin visa, kan? kayaknya lo waktu itu bilang kalau lo dibantuin sama orang, lo bisa bantu gue kan?" Raksa setengah berbisik.
"Lo mau bikin visa? mau kemane lo? buju buneng, baru jadi bos mau jalan-jalan ke luar negeri, yak? ajak-ajak, dong!" Farid nyerocos bae.
"Bukan buat jalan-jalan," bisik Raksa.
Sementara Rahmi masih berdiri, setengah menguping pembicaraan atasannya itu.
__ADS_1
'Visa? telpon siapa dia? Farid bukan, sih?' Rahmi bertanya-tanya.
"Ya udah deh, ntar pulang kantor gue ke rumah lo. Kita ngomong di darat biar gampang!" ucap Raksa.
"Sehat-sehat lo, minum obat jangan lupa!" lanjutnya sebelum menutup telponnya.
Raksa pun mengantongi kembvali hapenya dan setengah mendongak menatap rahmi.
"Apa kebiasaanmu begini?" tanya Raksa.
"Ehm, saya tadi mau bialng kalau tehnya sudah jadi..." kata Rahmi.
"Kan bapak bilang kalau bapak lagi pusing, iya kan? saya cuma mau memastikan kalau teh yang saya buat sudah pas takaran gulanya," lanjut Rahmi, dia memegang nampang berwarna cokelat.
"Bukankah kamu bisa menyuruh OB? lain kali, tidak perlu repot-repot.." Raksa mengambil cangkir itu dan menyesap teh yang rasanya manis itu.
'Rasanya selalu sama...' batin Raksa saat meminum teh yang dibuatkan mantan pacarnya.
'Gue tau apa yang lo suka, Sa!' Rahmi pun bicara dalam hatinya.
"Ehm, sudah selesai, kan? nanti saya baca laporannya sendiri. dan silakan tutup pintu dari luar," ucap Raksa.
Sementara Rahmi yang udah dua kali disuruh keluar pun kali ini nggak bisa apa-apa. Dia pun akhirnya berbalik menuju pintu keluar dan menutup ruangan yang baru dimasukinya itu.
'Astaga, kenapa lo jadi dingin banget sama gue, sa? padahal dulu kita pernah punya hubungan spesial. Atau lo balas dendam sama gue? karena dulu gue mutusin lo duluan?' batin Rahmi.
Sementara Raksa yang lagi mumet, tiba-tiba dapet satu chat dari tunangannya, Kalin caya-caya.
dia mengirimkan sebuah gambar hasil jepretannya sendiri.
"Capcay goreng?" gumam raksa.
Kalin mengetik....
Kata bunda, gue disuruh nanya. Lo suka capcay nggak?
Raksa pun segera memencet layar hapenya, dia membalas.
Suka! apalagi kalau brokolinya dibanyakin!
Sedetik kemudian Kalin membalas chat itu.
Kagak ada! adanya kembang kol!
Raksa yang gemes akhirnya mengetik lagi.
Lah itu ijo ijo apaan kalau bukan brokoli, Oneeeeng?!!"
Awalnya seneng karena dapet chat dari Kalin, berujung pada perdebatan kecil di chat Wa, sungguh hubungan yang membingungkan.
Kalin pun membalas Raksa sampai capsloknya jebol semua.
ITU FOTO DARI MBAH GOOGLE, GUE KIRIM CUMA BUAT VISUAL DOANG. MAMANG OH MAMANG...!
Raksa yang membaca huruf ditulis dengan huruf kapital semua pun hanya bisa mengucap, 'Astaghfirullah, anak siapa sih iniii? pengen gue cubit ya pipinyaaaaaa' saking gemesnya ngebaca jawaban dari tunangannya itu.
Alih-alih dapet pesan yang romantis, Raksa maupun Kalin dua-duanya sama-sama saling melempar balasan yang membuat kesal satu sama lain. Tapi tanpa Raksa sadari, hal itu membantu hatinya yang semula nggak enak perihal mengetahui hubungan Tania dan pak Galang, sekarang bisa lebih tenang dan bisa fokus terhadap hal lain, termasuk pekerjaan barunya.
__ADS_1