
Singkatnya, setelah menemukan jalan yang rame. Raksa mencoba menyetop taksi dan membiarkan sepeda itu begitu aja tergeletak di jalan.
"Masuk, Sayang!" ucap Raksa.
Kalin duduk disamping Raksa dia mgemegang kuat lengan pria nya.
"Take us to the airport, please! (Tolong antar kami ke bandara!)" ucap Raksa.
"Yes, Sir! (Ya, Tuan!)" sahut si supir.
"Thanks, God! (Terima kasih, Tuhan!)" ucap si supir yang bersyukur.
Raksa pun mencoba untuk tenang dengan mulai bertanya, kenapa si supir mengucapkan syukur.
Dia bilang kalau dia telah memecahkan rekor untuk mengantar 100 orang hari ini. Dia sangat bahagia, karena akhirnya dia bisa membelikan hadiah untuk merayakan hari pernikahannya yang ke-25.
Raksa iya iyain aja, dia bisa melihat raut kebahagiaan di wajah si supir tadi.
Sementara dirinya, boro-boro seneng, ini dia lagi diburu orang. Padahal bukan maling bukan penjahat, tapi dia berasa kayal buronan yang kapan aja bisa ditangkap.
Raksa terus menggenggam tangan Kalin, dia mengecup punggung tangan itu, "Yakin kita bisa pulang dengan selamat!"
"Iya, Mas!"
'Apa jadinya kalau tadi gue nggak sama Mamang, pasti gue udah di dor sama Arvin!' Kalin dalam hatinya.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka pun sampai di bandara. Pertama yang dilakikan Raksa adalah bayar taksi, dan yang kedua mencari toilet.
"Kita harus mengganti pakain kita Kalin, supaya nggak dikenali," ucap Raksa.
Kalin lagi lagi manut aja semua keputusan Raksa, dia masuk ke sebuah toilet. Masih untung Raksa bawa tas hitam yang tadinya dia bawa Summer Camp. Jadi di tas itu ya cuma ada baju Kalin.
"Kamu nggak ganti?" tanya Kalin saat keluar dari toilet yang sepi.
"Nggak usah, yang penting kamu, Kalin!" Raksa.
Malam itu, Raksa bersikap senatural.mungkin di bandara. Semua toko tutup, tanpa terkecuali.
"Kita pesan tiket penerbangan malam ini juga!" kata Raksa.
Mau nggak mau, Raksa harus menurunkan egonya buat pakai duit Kalin dulu supaya mereka bisa pulang.
Raksa langsung pesan di tempat, go show. Mungkin dewi fortuna emang lagi nempel mulu sama Raksa. Di waktu 30 menit terakhir sebelum take off, dia bisa dapat dua tiket untuk dirinya dan juga Kalin. Kevetulan ada dua orang yang men-cancel tiketnya, karema jadwal kebrangkatan mereka ditunda karena anak mereka yang sakit.
__ADS_1
Cakeup bener, nggak pake mikir. Udah dua tiket itu dia beli langsung. Bagian Imigrasi semua berjalan lancar, sampai situ Raksa bersyukur, meskipun dia lagi dalam kesulitan, tapi ada aja pertolongan yang dia dapatkan.
Raksa langsung bawa Kalin ke dalam. pesawat. Matanya ngeliat ke arah arah sebelum akhirnya dia masuk dan duduk di kursi yang dipesannya.
Sementara Jonas, masih nyari kedua pasangan itu di dalam Bandara.
"Halo? ya? ehm..." Jonas mendadak bingung saat bos nya menelepon dan bertanya apakah dia sudah melancarkan aksinya.
"Mereka kabur ke bandara, Tuan!"
"Sepertinya, dia akan pulang ke Indoneaia," lanjut Jonas.
"DASAR BODOH! PERSETAN DENGAN BANDARA! SEKARANG REMUKAN MEREKA ATAU KAMU TIDAK AKAN MENDAPATKAN UANG MU SEPESER PUN?!? MENGERTI?!!" bentakan dari seorang pria di telepon.
"Aisshhh, dikira mudah apa mengejar orang? dasar bos nggak sabaran!" umpat Jonas.
Sedangkan Raksa berdoa supaya orang itu nggak ada di dalam pesawat yang sama dengan dirinya.
Dia menaruh tas di bagasi, dan perlahan pesawat pun mulai take off.
"Ya ampun, aku belum kasih kabar sama ayah kamu, Kalin?" Raksa dengan duduk dan memasang seatbelt.
"Aku kepikiran aja, nggak!" ucap Kalin.
Pesawat pun mulai naik. Lampu kabin sengaja di temaramkan.
"Makan ya? kamu belum makan kan?" tanya Raksa.
"Udah makan! kan kamu yang masak Mas!"
"Oh iya yah! apa karena kecapean, aku jadi pelupa gini ya?" Raksa geleng-geleng jepala sendiri.
"Ya udah aku aja kalau gitu,"
Dia melambaikan tangan pada salah satu pramugari yang mendekat padanya, "Give me some food and drink, please! (Berikan saya bebrapa makanan dan minuman.
"Wait a minute, Sir! (Tungg sebentar, Tuan!)"
Pramugari dengan pakaian yang prebody itu mengundang kecemburuan Kalin. "Matanya oy, mata dikondisikan! Kesempatan banget, sih?!
"Kesempatan apaan ya Allah?" ucap Rakaa yang menowel pipi Kalin.
Emang ada gila-gilanya si Kalin. Disituasi yang gaswat kayak gini, masih aja bisa insecure karena body pramugari yang masih lajang itu.
__ADS_1
"Please, (Silakan...)" ucap si pramugari itu dengan sedikit menunduk.
Dua membawakan beberapa makanan yang baru aja keluar dari microwave.
"Enak! kamu mau, nggak?" tanya Raksa.
Kalin nggak mau jawab, dia hanya buka mulut. Tandanya dia mau.
Tengah malam mereka makan di pesawat, sesangkan yang lain tidur menggapai mimpi-mimpi mereka.
"Kita harus punya cukup tenaga! mungkin kita akan selamat karena sudah terlanjur masuk ke dalam pesawat. Tapi belum tentu saat kita tiba nanti..."
"Sebelum turun kamu harus mengganti penampilan kamu lagi, Kalin!" ucap Raksa.
"Kenapa cuma aku?"
"Karena kamu target utamanya!" sahut Raksa.
Dan seketika Kalin ingat kembali bagaimana perjuangan mereka untuk sampai di bandara.
"Terus gimana? aku harus apa?" tanya Kalin.
"Jangan gegabah. Dia pasti udah merencanakan banyak kemungkinan, tasuk akan mengirimkan orang untuk menangkap kita saat tiba di Indonesia," ucap Raksa.
Setelah makan, Kalin pun ketiduran
Mungkin karena kecapean, gadis itu tertidur di bahu Raksa.
Sementara Raksa sendiri, dia berpikir gimana caranya bisa lolos lagi dari kejaran orang yang dia yakin audahenunggu kedatangan mereka di bandara.
"Astaga, kenapa lagi ini? nggak bisa banget ngeliat orang bahagia. Baru juga gue mengecap manisnya pernikahan, lah ini udah dikejar-kejar kayak gini aja?!" Raksa sambil bergumam lirih.
Dia memijat pangkal hidungnya, dia merasa sangat lelah.
"Emh," Kalin memeluk tangan Raksa.
"Sabar ya, Sayang! aku akan cari tau siapa dia, dan suruhan siapa dia!" ucap Raksa.
Raksa mencium sekilas kepala Kalin. Entah apa yang terjadi kalau dia nggak ikut Kalin kuliah. Ternyata apa yang ditakutkannya terjadi, termasuk ketakutan ayah Kalin juga.
Tuhan mungkin sudah mengatur. Yang jelas, aku nggak akan biarkan orang itu menyentuh Kalin ku barang sedikitpun!" ucap Raksa. Dia membuka matanya, dia memperbaiki posisi kepala Kalin supaya tidurnya lebih nyenyak.
"Semoga semua mimpi buruk ini segera berakhir, Sayang! Sebentar lagi kita akan pulang, banyak orang yang akan menjaga kamu. Kita akan aman di rumah, kita akan pulang ke rumah. Jadi kamu jangan takut," Raksa pun seketika ikut memejamkan matanya dan kali ini dia tidur untuk mengistirahatkan badannya, karena besok dia pasti membutuhkan tenaga lebih untuk kembali melindungi Kalin.
__ADS_1