
Raksa menemui pak Tomi, dia mengetuk pintu mantan atasannya itu
"Ya, silakan..." ucap pak Romi yang kepalanya lagi nyut-nyutan.
Ceklek!
"Permisi, Pak..." ucap Raksa sopan seperti biasanya.
"Raksa? ada apa?" tanya pak Tomi menaikkan alisnya.
"Silakan duduk," ucapnya datar.
Raksa duduk dan menaruh dokumen di atas meja beserta satu surat yang sudah dia persiapkan.
"Ada perlu apa kamu kesini? bagaimana? kerjaan aman, kan?" tanya pak Tomi.
"Kerjaan aman, kok, Pak! cuma saya kesini mau minta bantuan pak Tomi," ucap Raksa.
"Bantuan apa?"
"Ini, Pak..." Raksa menyerahkan satu surat yang dia masukkan ke dalam amplop berwarna coklat.
Pak Tomi menerimanya dan mulai mengeluarkan sebuah kertas darisana.
"Pengunduran diri?" gumam pak Tomi.
"Kamu serius atau sedang mengerjai saya, Raksa?" lanjut pria itu bertanya.
"Buat apa saya nge-prank bapak? bapak nggak lagi ultah dan saya juga tidak ada kepentingan untuk itu. Saya serius pak Tomi. Saya ingin mengundurkan diri," ucap Raksa.
"Kamu tidak bisa main mengundurkan diri begitu saja, Raksa!"
"Bisa, Pak! Karena sayaengundurkam diri dengam alasan , tidak ingin memperpanjang kontrak kerja. Karena kebetulan kontrak saya berakhir di akhir bulan inj, dan itu tepat dua minggu lagi, dan saya belumenerima surat keputisan mengenai jabatan saya sekarang," ucap Raksa.
"Tapi itu sedang dalam proses!" bentak pak Tomi.
"Tapi saya pikir, saya tidak ingin melanjutkannya!"
"Tapi kenapa?"
"Lebih mudah dipecat atau mengundurkan diri, Pak?"
"Kepala saya pusing! kamu ini datang-dqtang malah bikin kepala saya nyut-nyutan!" katapak Tomi.
"Untuk perusahaan, lebih menguntungkan kalau saya mengundurkan diri. Iya, kan?" ucap Raksa.
"Ada hal yang tidak bisa saya jelaskan, Pak! saya mohon bapak mau mengerti!" ucap Raksa, dia masih bersikap sopan pada mantan atasannya itu.
"Kamu tau keputusan kamu ini keputisan yang sembrono?"
"Tidak, Pak! Saya sudah memikirkan hal ini dengan baik,"
"Perusahaan mana yang sudah menerima kamu?!" tuduh pam Tomi.
"Perusahaan apa? saya tidak melamar kerja dimana pun..." Raksa berkata jujur.
"Lalu kenapa kamu memilih untuk berhenti? Kalau alasannya tidak jelas, aku pun tidak bisa apa-apa!" ucap pak Tomi.
__ADS_1
"Saat ini saya sudah menikah. Saya dan iayri akan pindah ke luar negeri," kata Eaksa sembari memperlihatkan cincinnya.
"T-tapi? kapan kamu menikah? kok nggak undang saya?"
Raksa menunjukkan sebuah foto di hapenya yang memperlihatkan dirinya saat ijab qobul.
"Saya tidak bohong. Jadi mohon diterima surat pengunduran diri saya," ucap Raksa.
Pak Tomi hanya menghela nafas, "Baiklah. Kalau itu mau kamu..."
"Dan satu hal lagi, Pak. Kalau bapak berkenan, promosikan Farid untuk menduduki posisi saya sekarang! Dia orangnya bisa bwkerja dengan team, dan terbukti pekerjaannya pun selama ini beres," kata Raksa.
"Kalau itu bukan kewenangan saya, Sa! untuk promosi jabatan, semuanya saling sijut menyijut. Dan jika mereka tau kalau posisi jabatan kepala divisi operasional kosong, sudah pasri akan menjadi rebutan para penjilat di perusahaan ini," ucap pak Tomi.
"Ya sudah, kalau begitu. Kamu bisa ambil formulir exit clearance pada Farid. Dia yang akan mengurus semuanya, termasuk paklaring. Nanti semuanya minta saja pada Farid, dia menghandle beberapa jobdesk sekaligus..." kata pak Tomi.
"Terima kasih, Pak! Senang bekerja dengan bapak, dan maafkan kalau selama menjadi karyawan, saya sering mbolosan!" ucap Raksa.
"Ya, terima kasih sudah pernah bergabung dan membesarkan perusahaan ini," kata pak Tomi.
"Saya permisi," kata Raksa yang kemudian melangkah pergi.
"Oh ya, selamat atas pernikahanmu!" kata pak Tomi.
"Terima kasih, Pak!" ucap Raksa yang melanjutkan langkahnya dan menutup pintu dari luar.
Dia segera mendekati Farid.
"Rid, gue mau minta form full and final!" kata Raksa.
"Ya!"
"Seriusan? sekarang?!" Farid nggak percaya.
"Biasanya nggak segampang iti..." Farid menatap Raksa bingung.
"Lu punya pelet apa sih, Sa? pak Tomi aja bisa luluh sama lo!" kata Farid.
"Udah jangan banyak tanya, sini kasih formnya. Gue mau isi. Oh ya tolong urusin asuransi ketenagakerjaan gue, lumayan buat hidup disana!" ucap Raksa.
"Kok semua-muanya gue?"
"Ya kan lo temen gue, Rid!" ucap Raksa.
"Gue nggak punya banyak waktu, Rid!" lanjutnya.
"Iya iya, deh! Ntar gue urusin," ucap Farid yang masih kurang bersemangat.
"Nih!" Farid memberikan sebuah form yang harus Raksa isi.
"Thanks!" Raksa pun nggak buang waktu, dia ambil kurai nganggur, lalu dia duduk bersebelahan dengan Farid, sambil mengisi kolom-kolom yang ada di sebuah lembaran kertas.
"Tangan lo kenapa?" tanya Farid.
"Digigit zombie gue!"
"Dih, berarti lo juga jadi zombie dong?!" Farid dengan muka yang takut.
__ADS_1
Raksa hanya geleng-geleng kepala dan menertawakan temannya yang sangat mudah dibohongi itu.
'Gue nggak boleh berlama-lama disini, karema gue harus bawa Kalin pergi, Rid! feeling gue nggak enak!' batin Raksa.
Dan karena ngurus pengunduran diri, seharian Raksa nggak ada di ruangannya dan itu bikin Rahmi kepo tingkat dewa.
Dia melihat ke arah ruang kaca yang sedari pagi dianggurin sama Raksa.
Sementara Kalin yang ngerasa bersalah, datang ke kantor tanpa memberitahu suaminya terlebih dahulu.
"Astaga, kenapa gue nyamperin dia kesini?" Kalin merutuki kebodohannya.
"Mau ketemu pak Raksa?" tanya satpam yang udah kenal wajah Kalin.
Kalin hanya meringis.
"Saya boleh tinggu di lobby saja, Pak?" tanya gadis itu.
"Oh ya, boleh!" kata satpam yang kemudian menunjukkan kw arah sofa empuk di salah satu sudut.
Sedangkan Kalin masuknke dalam dengan perasaan yang ragu.
"Ini belum jam makan siang, apa gue boleh masuk ke ruangannya? atau gue tinggu disini aja? tapi gue risih diliatin orang!" Gumam Kalin yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Huuufhhh!" Dia mengusap kedua tangannya.
Dam tiba-tiba...
Rahmi yang kebetulan habis beli makanan yang dia tujukan buat sang mantan pacar pun matanya membulat saat melihat ada Kalin ada di kantor yang sama dengannya.
"Kebetulan!" ucapnya.
Dengan langkah yag percaya diri, Rahmi mendekati Kalin yang duduk dengan wajah yang bingung.
"Maaf, anda mencari siapa ya? ada yang mungkin bisa saya bantu?" Rahmi dengan suara yang lembut.
"Ah, ternyata lo?" Rahmi pura-pura kaget melihat Kalin.
Sedangkan Kalin menaikkan satu alisnya, dia mencoba mengingat.
'Kenapa dia nggak kaget ngeliat gue? apa dia lupa dengan pertemuan hari itu?' batin Rahmi.
"Ini bukan sekolahan, jadi ada apa lo dateng kemari?" tanya Rahmi yang semula ramah nada suaranya menjadi sangat datar.
"Iya, lagi pula siapa yang bilang ini sekolahan? gue dateng kemari untuk menemui su--" Kalin menghentikan ucapannya, hampir saja dia keceplosan.
"Gue datang untuk menemui mas Raksa!" ucap Kalin meralat ucapannya.
"Raksa sedang ada urusan penting. Jadi lebih baik lo pulang aja, ini kantor. Bukan tpat untuk main..." kata Rahmi.
"Ya siapa juga yang mau main? main tuh di mall bukan disini!" Kalin kesel.
'Nyolot juga nih bocah! kenapa Raksa bisa dijodohin sama kreditan panci? astaga, pasti Raksa tersiksa ngadepin anak yang satu ini!' batin Rahmi.
"Kebetulan lo disini, sekalian aja kita ngomong berdua sebagai orang yang menyumai pria yang sama!" Rahmi menatap serius.
"Ikut gue!" Rahmi menggandeng bocah yang umurnya kauh dibawahnya itu.
__ADS_1