
Raksa yang melihat kalin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia nggak bisa menolak saat Klain mendekatinya. Sedangkan Kalin tau apa yang menjadi penawar obat itu. Dia nggak mau egois dan melihat suaminya yang begitu menjaganya kesakitan sendirian 'Berbagilah kesakitan itu denganku, Mas...' adalah sebuah kalimat yang mampu menghipnotis Raksa untuk menatapnya dan medapatkan haknya sebagai seorang suami.
Meskipun Kalin harus merasakan sakit, tapi dia tau kalau akan sangat dzolim jika dia membiarkan suaminya merasakan bara yang nggak tau kapan akan redanya.
Raksa segera merengkuh badan Kalin dan menuntaskan apa yang sudah mereka sepakati. Sekarang Raksa memeluk Kalin di bawah selimut yang tebal, dia menaruh kepalanya di perpotongan leher istrinya. Selama ini dia menahannya, namun apadaya hari ini dia kalah.
"Maafin gue, Kalin..." gumamnya, saat melihat Kalin yang sudah tertidur. Bahkan mereka melupakan makan siang dan makan malamnya.
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Dan reaksi obat itu baru selesai.
Raksa sudah kembali seperti sebelumnya. Kalin berbalik dan memeluknya, seakan dia takut kehilangan suaminya.
"Gue harus cari tau, siapa Arvin sebenarnya! dia begitu nekat. Dan gue yakin dia bukan orang biasa!" ucap Raksa sambil mengelus kepala Kalin.
Paginya, kedua manusia itu seperti orang yang berbeda. Masing-masing salah tingkah saat menatap lawan bicaranya. Apalagi Kalin, dia rasanya menjadi canggung ketika satu meja sama Raksa.
"Biar aku yang cuci piring..." kata Kalin saat Raksa mau ngangkut bekas makan mereka berdua.
"Nggak! kan aku kemarin melanggar peraturan. Lagian, kamu juga masih susah buat jalan kan? biar aku aja...." kata Raksa yang dengan senyum manisnya menaruh piring di wastafel dapur.
Kalin dan Raksa yang udah mandi pun keliatan lebih segar, meskipun kemarin mereka melakukan olahraga terus-menerus dan kurang tidur, nyatanya alarm tubuh mereka nggak bisa diajak kompromi. Karena pagi-pagi mereka udah bangun dan nggak bisa tidur lagi.
Kalin memandangi sosok suaminya dari belakang, pria itu dengan entengnya melakukan tugas yang seharusnya dilakukan perempuan. Sarapan aja tadi Raksa yang nyiapin, Kalin hanya duduk di meja saji sambil liat Raksa yang bikin nasi goreng. Raksa yang judes sekarang bisa manjain dia, apalagi rasa bersalah yang karena membuat Kalin saat ini nggak bisa ngampus karena sakit.
"Kamu mau ke kampus jam berapa? biar aku anter?" tanya Raksa.
"Nggak usahlah!"
"Nggak usah apa?" tanya Raksa.
"Nggak usah ngampus!"
"Emang nggak apa-apa suka bolos begitu?" tanay Raksa.
"Nggak bolos. Hari ini tuh udah libur," kata kalin.
"Ohhh, ngomong dong! kan aku nggak perlu mandiin kamu pagi-pagi kalau gitu," ucap Raksa.
"Kucing kali dimandiin," celetukan Kalin justru membuat Raksa ketawa.
__ADS_1
"Kalau kamu hamil, aku yang tanggung jawab!" kata Raksa.
"Ya iyalah!" Kalin mendelik dan membuat Raksa semakin gemas.
Dia menaruh piring di tempat penyimpanan setelah mengelapnya, kemudian lanjut membersihkan dapur milik mereka.
"Aku udah melanggar janjiku, Kalin..." Raksa dengan suara yang lain.
"Nggak apa-apa, kan dalam keadaan terdesak. Aku juga nggak mungkin biarin kamu tersiksa sendirian, kamu kayak gitu kan gara-gara aku," kata Kalin.
"Terus nggak apa-apa kalau kamu hamil? kamu masih kecil,"
"Aku udah kuliah dan menikah kalau kamu lupa...." kata Kalin menunjukkan cincin di jari tangannya.
Raksa mencuci tangannya lalu mendekati Kalin, dia menarik satu kursi di dekat istrinya.
"Bukannya kamu takut punya anak?"
"Aku lebih takut kehilangan kamu, kayaknya. Ngeliat kamu yang tersiksa kayak gitu, aku juga nggak tega..." ucap Kalin.
"Berarti kamu udah cinta sama aku, dong?" tanya Raksa.
Kalin ngangguk.
"Foto siapa?"
"Nggak tau! cowok ya seumuran sama aku mungkin," ucap Kalin.
"Ambil leptop kamu!" suruh Raksa.
Raksa tepok jidat saat melihat Kalin meringis kesakitan ketika berdiri.
"Udah duduk aja, biar aku yang ambil!" kata Raksa.
Kalin pun duduk lagi, sementara Raksa ke dalem ngambil leptop Kalin.
Disamping leptop yang ada di meja, dia ngeliat dompet berwarna maroon. Iseng dia ngintipin isi dompet Kalin. Dan pas dibuka, yang dia lihat adalah foto dirinya dan Kalin, beberapa jepretan yang mereka lakukan saat Kalin datang ke kantornya dengan dandanan mirip tante girang.
Dan hal itu pun semakin mengobarkan api cinta Raksa untuk Kalin. Dia bertekad akan melindungi istrinya dan nggak akan membiarkan seorang Arvin menyakiti Kalin.
__ADS_1
Raksa taruh lagi dompet ke tempat dan posisi semula, lalu dia keluar dengan membawa leptop.
"Kita cari tau sebenernya Arvin itu siapa?! soalnya dari tampangnya aku kok nggak yakin dia seumuran sama kamu. Kecuali dia emang muka boros!"
Raksa mengetikkan nama Arvin Rajendra, dan nggak sulit menemukan seorang anak dengan segudang prestasinya namun sayangnya dia bukan dari keluarga yang cukup kaya. Dan seketika Raksa mengecek info di universitas, dan alangkah mengejutkannya saat melihat wajah yang tertera bukan wajah Arvin.
"Nggak mungkin kan ada dua Arvin? dengan tanggal lahir dan alamat yang smaa? tapi wajah yang berbeda?" ucap Raksa.
"Maksud mas, dia yang bersamaku itu bukan Arvin yang sebenarnya?"
Raksa pun mengiyakan, "Bisa jadi. Semuanya masih menjadi teka-teki. Aku cuma berpesan, kalau untuk sementara waktu kita harus terus bersama. Ngerti?"
Kalin ngangguk.
"Ya udah, kalau gitu aku ikut aku kerja hari ini. Karena ini hari pertama dan aku nggak mungkin bolos!" kata Raks yang ngeliat sekarang udah jam 7 pagi.
Kalin pun ngangguk, lebih baik dia gendong kalin jalan dari rumah naik trem lalu sampai di retoran cepat sajinya, daripada ninggalin Kalin sendirian di rumah dengan perasaan yang was-was.
pagi itu mereka bersiap, dengan segala pertanyaan tentang siapa sebenarnya Arvin dan untuk apa dia menjahati Klain. Raksa hanya mengenal satu sosok yang mungkin menyimpan dendam pada Kalin yaitu Rahmi. Tapi untuk sekarang dia nggak bisa membuktikan apa-apa, dia hanya bis aikutin alur sembari terus mencari info.
"Gue harus bilang sama ayah!" ucap Raksa.
Tanpa sepengetahuan Kalin, raksa menceritakan keadaannya disini. Ayah Kalin marah dan langsung was-was.
"Dimana Kalin?" tanya ayah di telepon.
"Ada sama Raksa, yah. Sekarang kita lagi di resto tempat aku kerja," kata Raksa.
"Apa sebaiknya kalian pulang?" tanya ayah.
"ya, mungkin untuk smentara waktu, itu yang bisa lakukan!" kata Raksa dengan berbagai pertimbangan.
Akhirnya hari itu, terpaksa Raksa membuat masalah di resto. Dia melakukan banyak kecerobohan sehingga dia dipecat padahal baru 2 jam bekerja.
"Kita pulang!" ucap Raksa pada Kalin yang masih diam duduk dengan memesan eskrim.
"Loh, bukannya mas lagi kerja? kenapa kita pulang?"
"Aku dipecat!" sahut Raksa yang kemudian menggendong Kalin lagi untuk pulang ke rumah sewaannya mereka.
__ADS_1