Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Disidang Orangtua


__ADS_3

Raksa minta melipir ke mushola dulu, sebelum lanjut nganterin Kalin ke rumahnya. Makanya tuh bocah telat nyampe rumah.


Kalin ngetok pintu sekali, tapi ternyata handle pintu secepat itu ditarik oleh seseorang.


"Kalin?" ucap bunda saat membuka pintu dan anaknya keliatan di depan mata.


"Assalamualaikum," Raksa menyela Kalin.


"Waalaikumsalam, loh kamu dianter abangnya Nova lagi?" tanya bunda.


"Ehm iya, Bun!"


"Ehm sebenernya---" Kalin bingung harus kasih jawaban apa.


"Ayo masuk dulu, Nak!" Bunda nyerobot, dia lebarin pintunya supaya kedua anak itu bisa masuk.


Dam mata Kalin terbuka lebar saat ngeliat ayahnya udah duduk di ruang tamu, "Assalamualaikum, ayah!" Kalin dengan nada ragu.


"Waalaikumsalam!" sahut Ayah.


Raksa pun merasa aneh, 'Kenapa ayahnya Kalin udah duduk disitu? apa sebenernya mereka nungguin Kalin pulang?' batin pria yang kini ikut menyalami ayah dari Kalin dan nggak lupa ngucapin salam.


"Assalamualaikum, Om..." Raksa sopan.


"Waalaikumsalam. Silakan duduk , Nak!" Ayah Diki mempersilakan Raksa untuk duduk.


"Bunda tinggal dulu ya, mau buatin minum buat Nak Raksa!" kata bunda.


"Ayah kopi aja ya, Bun!"


"Kamu ngopi juga nggak, Nak Raksa?"


"Saya? ehm, apa saja boleh, Om!"


"Berarti kopinya dua ya, Bun?!" Ayah nunjukin jarinya pada bunda diiringi kerlingan mata genit.


Raksa geleng-geleng kepala, ternyata bukan di rumah nya aja yang ibu dan bapaknya mesra. Tapi orangtua Kalin juga sama, dan harusnya Kalin bisa tumbuh dengan baik karena mempunyai orangtua yang rukun.


Kalin yang ngeliat ayahnya ngedipin mata bun ikutan malu.


'Astaga Ayah! nggak biasanya ayah begitu di depan tamu!' batin Kalin.


"Gimana?" tanya Ayah ambigu.


"Ayah nanya sama siapa?" Kalin jadi bingung.


"Kalian berdua," Ayah nunjuk Raksa dan Kalin bergantian.


Kedua insan yang hobinya cakar-cakaran pun ngeliatin satu sama lain.


"Maksudnya gimana? Kalin nggak ngerti, Yah?" Kalin keder.


"Bagaimana urusan kamu? sudah selesai, Kalin?" tanya ayah makin bikin Kalin bingung.


Raksa sih masih memperhatikan ayah Kalin ini arahnya mau kemana, beneran nggak ketebak.

__ADS_1


"Urusan?" Kalin melirik ke arah Raksa, sevelum kembali melihat ke arah ayahnya.


"Ya urusan!" ayah menegaskan kembali.


"Udah sih, Yah! udah selesai,"


Lalu Bunda keluar dengan membawa dua cangkir kopi dan satu minuman dingin kesukaan Kalin.


"Loh kok mukanya pada pucet? kenapa?" tanya bunda Lia.


"Ayah nanyain apa aja? kok muka mereka jadi kayak gitu semua?!" Bunda Lia menyuguhkan minuman di atas meja.


"Nggak ada, Bun! cuma nanya biasa aja,"


Raksa hanya bisa senyum tanpa menjawab apa-apa, sesangkan Kalin udah ngerasa horor dengan tatapan sang ayah.


"Minum dulu, Raksa! biar nggak tegang!" sindir Ayah, dia ngangkat cangkirnya di temenin bunda yang duduk di samping pria yang belum beruban sama sekali.


"Iya, Om..." Raksa ikutan ngangkat cangkir dan menyeruput minuman berwarna hitam yang menyimpan sejuta rasa penasaran yang bisa dia pendam di dalam hatinya sendiri.


'Astaga, kenapa berasa lagi ngadepin calon mertua? jangan-jangan gue sama Kalin mau disidang? karena gue nganterin anak gadisnya di luar batas jam les nya?' tebak Raksa.


'Kenapa ayah ngeliatinnya gitu banget? ayah pasti marah aku pulang jam segini,' Kalin ikut bersuara di dalam hatinya.


Kalin minum nggak tanggung-tanggung, dia teguk minuman itu sampai setegah gelas. Selain emang haus, dia juga gugup diliatin ayah.


"Loh, Kalin? cincin kamu belum dipakai juga?" pertanyaan bunda bikin Kalin yang lagi minum pun seketika teraedak.


"Uhukkk!!! uhukk!"


Sedangkan Raksa cuma ngelirik cewek yang duduk di sampingnya.


"Iya, Bun?! uhukk," Kalin ngusap bibirnya pakai tisu, sesangkan dia taruh lagi gelasnya.


"Jadi, kamu kerja dimana Raksa?!"


"Oh saya? kalau saya di perusahaan plastik, cuma saya di kantor utama, bukan di pabriknya," ucap Raksa.


"Masih staff Om..." lanjut Raksa.


"Masih muda, masih banyak kesempatan buat naik ke atas. Yang penting selalu semangat dan kasih yang terbaik buat perusahaan. Pelan-pelan pasti naik kok," kata ayah Diki.


"Iya, Om..." Raksa manggut-manggut aja.


Sedangkan dalam hati, Kalin lega karena dengan obrolan ayah, memutus pertanyaan bunda mengenai cincin.


'Gue harus secepatnya ke toko mas itu! dan beli lagi tuh cincin," Kalin dalam hatinya.


"Oh ya, terima kasih ya, Raksa. Kamu sudah menemani Kalin," ucapan ayah bikin Raksa dan Kalin kaget.


"Menemani?" Raksa kali ini yang ngerurin keningnya.


"Iya, nggak mungkin kan kamu pulang dengan Kalin secara kebetulan? atau Kalin nggak les dan pergi ke rumah Nova? atau mungkin ke rumah yang lain?" Kali ini wajah ayah begitu serius.


'Mampus gue! jangan-jangan ayah tau kalau gue hari ini bolos les?!' astagaaa, gue harus jawab apa iniiii??' Kalin bergumam, dia bingung.

__ADS_1


Susah payah Kalin menelan salivanya, dia berusaha buat menjawab,"Ahm, emang kebetulan---"


Raksa nyerobot ucapan Kalin, "Kebetulan memang Kalin hari ini nggak berangkat les, Om! dia----"


"Dia bolos buat ngedapetin duitnya balik? iya?" potong ayah.


Dan ucapan ayah itu bikin Kalin susah napas, sedangkan Raksa pun kaget dengan apa yang didengarnya barusan.


"Iya, Om!" sahut Raksa. Karena menurutnya udah dipepet gini, udah nggak bisa mengelak lagi


Mata Kalin terbelalak mendengar jawaban Raksa, pria itu pun membalas tatapan Kalin dan bilang, "Lebih baik lo jujur," ucapnya lirih.


Sedangkan Kalin tertunduk, sembari jari jemarinya yang saling bertautan menyiratkan kecemasan dan ketakutan yang dia berusaha dia sembunyikan.


"Jadi, kamu sudah membereskan urusanmu dengan laki-laki bernama Reno itu, Kalin? jawab pertanyaan ayah, Kalin..."


Sedangkan Kalin nggak berani ngangkat wajahnya.


"Kalin, lo lagi ditanya. Lo jangan diem aja..." ucap Raksa yang tau si Kalin lagi ketakutan banget.


"Kalin, Sayang?" bunda Lia dengan lembut.


"Ayah sama bunda nggak marah. Kamu nggak usah takut," lanjut bunda Lia.


Kalin tetap tertunduk, dia tau ucapan bunda yang bilang ayah nggak marah itu merupakan sebuah kebohongan. Karena nggak mungkin ayah nggak marah ketika Kalin udah ngelanggar aturan yang dibuat ayah dan bundanya.


"Jawab saja pertanyaan ayah, Kalin..." kata Ayah.


"Kalin, lo jangan diem aja!" bisik Raksa.


Kalin menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan,"Iya ayah. Kalin udah bereskan semuanurusan dengan Reno..." lirih Kalin.


"Ayah nggak begitu denger apa yang kamu ucapkan Kalin. Angkat wajah kamu, liat ayah, dan katakan dengan jelas..."


Kalin berusaha mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, "Iya, Ayah. Kalin udah bereskan semuanya..."


"Jadi sekarang, kamu dan Reno udah nggak ada hubungan apa-apa lagi?" tanya ayah.


"Iya, ayah. Udah nggak ada..." Kalin rasanya nggak kuat menatap mata ayahnya.


"Harusnya kamu lakukan itu sejak dulu, Kalin! shhh, bikin ayah gregetan saja kamu!" ucap Ayah yang menepuk sofa di sampingnya. Ayah mirip suporter bola yang ngeliat jagoannya kalah nge-goal in gawang lawan


"Laki-laki matre seperti itu, nggak pantas mendapatkan anak ayah! haiissshhhh, bikin emosi orangtua saja!" lanjut ayah.


Sedangkan Kalin maupun Raksa melongo, ekspresi ayah di luar dugaan mereka.


"Jadi? beneran ayah udah tau semuanya? tapi sejak kapan?" Kalin nggak bisa mengekang rasa penasarannya.


"Kamu mau tau aja atau mau banget?" tanya ayah.


Dan....


Puufffttt!


Ayah lagi kesambet apaan, Kalin lagi-lagi dibuat melongo dengan kelakuan ayahnya yang random banget saat ini.

__ADS_1


__ADS_2