
"Kaliiiiin..." Nova menggenggam erat saat ibunya semakin mendekat.
Puk!!
Sebuah amplop menyentuh tangan Nova, sedangkan air wajah bu Selvy nggak berubah, "Nih, baca!" bu Selvy geleng-geleng kepala.
Sementara bunda Lia yang emang kalem hanya bilang, "Selamat ya Sayang kamu lulus..." ucapnya dengan penuh bangga dan memeluk putrinya.
"Lulus, Bun? beneran?" ucap Kalin yang kemudian membuka amplop yang diberikan bunda Lia.
'Astaga Kalin, pake adegan nggak percaya segala. Kan dia mah pinter, jadi udah sepantesnya lulus! nah gue? apa kabar dengan kertas ini? jangan-jangan gue nggak lulus?! tau gini, gue bakal les tambahan di luar. Ya ampun, gimana nih?' Nova deg-degan buat ngebaca sebuah kertas yang mungkin akan membuat malu satu keluarga.
"Buka!" suruh bu Selvy pada anaknya.
"Iya, Buk! Iya, ini juga lagi dibuka...." Nova dengan adegan ngeri-ngeri sedap.
Sedangkan sudah mulai terdengar riuh suara temen-temennya yang seneng karena dinyatakan lulus. Sedangakan sekarang Nova mulai ngeluari kertas dari wadahnya, dia memejam sesaat sebelum membaca isi dari surat pemberitahuan itu.
"Dinyatakan---" Nova dengan ragu.
"Lulus?" ucapnya kemudian.
Nova mendongak ngeliat ibunya, "Lulus? Nova lulus, Buk?!" gadis itu melongo.
"Ck, iyalah! Memangnya kamu pengen nggak lulus, Hem?" bu Selvy berdecak.
Sementara Nova malah berhambur memeluk ibunya, "Ibuuuuukkkkk, Novaa lulus, Buuuukkk!!!!" Nova dengan hati yang bergemuruh hebat. Dia yang awalnya pesimis, sekarang begitu senang tanpa memikirkan berapa nilai yang dia dapatkan dari hasil nilai ujian.
__ADS_1
Tiba-tiba teman-temannya itu ribut-ribut dan bergerak ke salah satu tempat, "Pengumuman nikaii?!!" salah satu cowok berteriak.
Nova dan Kalin yang mendengar itu pun lantas penasaran juga, pengen ikutan juga kemana teman-temannya itu berlarian.
"Bunda ... Tante ... Kalin kesana dulu, ya?" Kalin menarik Nova buat ikut lari bersama teman-temannya yang lain. Dan itu hanya diajwab anggukan bunda Lia dan juga bu Selvy ngeliat anaknya yang udah pergi menjauh.
Kalin bergandengan tangan dengan Nova, mereka berhenti di sebuah papan besar yang disitu ditempel kertas berikut nama-nama siswa.
"Woyyy?!! gue juga pengen liat dooooooong?!!" teriak Nova, tapi nggak ada yang menggubrisnya.
"Ini loh ada Kalin?!! dia pengen liat nilainyaaaa! kasih jalan, kasih jalan!" teriak gadis itu lagi yang seketika semua siswa minggir dan ngasih Kalin jalan seperti mempersilakan seorang ratu untuk lewat.
"Berlebihan nggak, sih?" bisik Kalin pada Nova.
"Udah nggak apa-apa, ayo cepet cari nama kita!" sahut Nova yang tersenyum ramah pada teman-temannya.
Kalin yang sangat dikenal sebagai siswa pintar yang juga populer karena sifatnya yang menyenangkan dan nggak sombong itu pun mendongak. Dia lantas tersenyum saat melihat namanya masih setia menduduki peringkat pertama.
"Gue cari nama Nova dulu, boleh kan?" tanya Kalin yang dijawab serempak oleh teman-temannya.
"Boleh, Kalin...." ucap mereka berbarengan bak paduan suara.
Satu lemparan senyuman membuat temen-temen mereka meleleh, senyuman dari seorang siswa paling pintar di sekolah mereka yang nggak pelit buat ngasih jawaban saat ujian beberapa waktu yang lalu.
Mata Kalin mulai menelisik satu persatu nama, begitu juga dengan Nova.
"Gue disebelah sana!" kata kalin menunjuk sisi kiri dari papan, sedangkan Nova di sisi kanan.
__ADS_1
"Kalin, Kalin gue udah nemuuuuuuuu?!!" teriak Nova.
Dia menunjuk namanya di urutan 100, "Iniiiiiii?!!" matanya berbinar.
Seketika yang lain ikut ikut bersorak, "Horeeee udah ketemu?!!"
Tanpa aba-aba- temen yang lain pun mulai berhambur menuju papan. Mereka mencari nama mereka sendiri. Ternyata motto mereka 'Masuk bersana-sama, keluar pun bersama-sama' akhirnya menjadi kenyataaan. Karena sekolah mereka dinilai 100% lulus semua. dan itu menjadi sebuah kelegaan yang luar biasa.
dan udah bisa ditebak, buat merayakan kelulusan mereka nggak lengkap kalau nggak corat-coret baju. Bagaikan kanvas berjalan, satu persatu murid pun mengeluarkan spidol nya dan membubuhkan tanda tangan mereka disana, di baju seragam temannya. Bahkan ada yang nulis pesan singkat seperti 'Jangan lupain gue! gue yang selalu duduk dibelakang buat nyuri jawaban di kertas ulangan lo!' atau pesan-pesan aneh yang bikin ngekek yang baca 'Kita lulus, dan kita udah gede!' ada juga yang seketika inget dengan nadzarnya 'Karena gue lulus, gue bakal bayar utang gorengan gue sama bu Kantin selama setahun ini!'
Mungkin penganut makan gorengan tiga, bayar cuma dua ini tersentuh hatinya buat bernadzar. Seandainya dia lulus, maka dia akan bayar semua gorengan yang udah dia makan selama ini. Dengan kalkulasi yang akurat, siswa tadi pun lari ke arah kantin dan kasihin duit sama bu Kantin dengan wajah yang bingung, "Duit apaan nih?"
"Bayar gorengan gue, Maak Nyaakkkkk!!" siswa itu pun kabur lagi setelah ngasih duit yang udah dia simpen-simpen dari dulu.
Berbeda dengan Kalin yang masih mempertahankan singgasananya buat nangkring di urutan pertama,di sekolah yang lain Reno malah menghadapi kekecewaan kalau dia harus berada di peringkat ke-5.
Padahal selama ini, dia selalu menjadi yang pertama, tapi kali ini dia harus menelan kekecewaannya karena dia bakalan gagal mendapatkan beasiswa yang sudah menjadi impannya. Karena dia gagal mempertahankan prestasi di sekolahnya.
Dan lebih nggak nyangkanya lagi, urutan 1 sampai dengan 4 itu diisi oleh teman satu gengnya. Ya, nama Mattew diurutan teratas disusul dengan Antony, Wendy dan Jerome. Nggak tau kebetulan atau nggak yang jelas nama Reno persis di bawah mereka. Banyak yang menyangka kalau ujian kali ini disabotase oleh Mattew yang dikenal dengan anak orang paling tajir di sekolah mereka.
"Ayah pulang!" kata ayah dengan wajah yang sedikit kecewa, dia berharap anaknya akan menempati ranking pertama. namun nyatanya setelah diumumkan, bukan anaknya melainkan anak yang lain yang mendapat penghargaan sebagai siswa paling pintar tahun ini.
Sedangkan Reno hanya berdiri mematung ngeliat namanya yang tertera di papan pengumuman. Dan seseorang pun menepuk pundaknya.
"Shh, dunia ini emang kejam bagi mereka yang terlena dan juga lalai! daridulu, itu posisi gue. tapi sayangnya dengan nggak tau dirinya lo yang miskin ini berani mengambil tempat gue dan menjadi pusat perhatian siswa disini..." ucap Mattew yang berdiri di samping Renoo dengan senyum sarkasnya.
"Pusat perhatian mereka harusnya tertuju pada gue, bukan lo! sampah?!!" lanjutnya dengan nada mengejek dan ditimpali dengan tawa dari ketiga teman nya yang lain.
__ADS_1
"Jadi lo---" Reno dengan rahang yang mengeras.
"Lo kira gue mau temenan sama bocah kere macam lo? meskipun lo poles diri lo dengan barang yang bagus, dan lo asah otak lo sampai sepinter apapun, lo itu tetep nggak selevel sama kita! lo akan tetap berada di bawah kita, ngerti?!!" ucap Mattew yang kemudian mengajak temannya yang lain buat ninggalin Reno sendirian.