
Pesawat mereka akhirnya landing keesokan paginya.
Raksa membasuh mukanya dengan air di toilet pesawat dan menyemprotkan parfum, walaupun jadinya baunya agak nyaru sama Kalin ya. Karena yang dia pake itu parfum pouch milik istrinya. Tai nggak apa-apa, yang penting wangi dan seger. Kalin pun sama, sebelum meninggalkan pesawat, diq rapi-rai dulu biar nggak keliatan muka bantal banget.
"Pakai kacamata!" ucap Raksa.
"Nggak ada,"
"Kita beli di store!" ucap Raksa.
"Tapi buat apa?"
"Nanti kamu juga tau!" kata Raksa singkat saat mengambil tas Kalin dari bagasi
Dibilang begitu Kalin lagi-lagi hanya bisa manut, dia tau itu pasti demi kebaikan dia, karena keselamatannya sekarang terancam, nggak ada waktu buat banyak bertanya apa dan kenapa.
Turun dari pesawat, Raksa langsung ke bagian imigrasi sebelum keluar dari pintu kedatangan dari luar negeri. Raksa udah dapetin kacamata untuk istrinya laku dia bawa Kalin ke toilet.
"Masuk, Sayang!"
"Tapi aku nggak pengen ke toilet," kata Kalin.
"Tapi ku harus! disana ada seseorang yang nunggu kamu," kata Raksa.
Kalin sama sekali nggak tau apa yang direncanain suaminya tapi ya udah Kalin nurut.
Cup!
Raksa mengecup kening Kalin sesaat.
"Kamu jaga diri ya?" bisik Raksa saat sudah mengantar Kaim di depan pintu toilet.
'Maksudnya apa jaga diri? kenapa? astagaaa, kenapa firasatku nggak enak!' batin Kalin.
Raksa menyuruh Kalin masuk sedangkan dirinya menunggu di luar.
Nggak berapa lama, Raksa mendapati seseorang keluar dari toilet.
"Ayo, Kalin! kita harus cepat pergi!" ucap Raksa, dia meramgkul bahu wanita dengan rambut panjang yang memakai kacamata.
Baku yang sama yang mereka pakai saat turun dari pesawat.
Dan benar saja, orang suruhan Arvin sudah menunggu di pintu kedatangan.
__ADS_1
Raksa bisa mencium aroma-aroma dikuntit.
"Peecepat jalanmu, Kalin!" kata Raksa, dia menyuruh wanita yang bersamanya untuk jalan dengan lebih cepat.
Mereka menaiki taksi.
"Jalan, Pak!" ucap Raksa.
Di dalam mobil, Raksa mengirim sebuah pesan pada ayah mertuanya.
Raksa udah pergi.
Dan dibalas sebuah emoticon jempol dari sang mertua.
Sampai di sebuah jalan tol.menuju luar kota, mobil mereka dikejar.
"Nggak sabaran bangt jadi orang!" gumam Raksa.
"Mereka ingin menangkap mangsanya lebih cepat, buat disetorkan pada bos besar!" ucap si supir taksi itu.
"Begitu, ya?" Raksa melihat ke arah luar jendela. Ada dua mobil yang mebgejar dan bahkan mobil mereka diapit di kanan dan di kiri
Sreeeeeet!
"Kebut lagi, dong?!!" ucap Raksa pada si supir.
"Gundulmu dikebut! beraninya nyuruh bapak sendiri!" ucap pak Hendra yang kini membuka topinya.
"Ya elah, Pak! gitu aja marah. Jangan cepet sewot, ntar cepet tua, lhoooo!" ucap Raksa.
"Dasar bocah gendeng! baru berapa bulan tinggal di luar negeri, udah lupa daratan nih bocah!" ucap Pak Hendra sinis.
"Mending Raksa aja yang nyetir, Pak!"
"Udah, duduk diem! kamu masih jetlag! yang ada nanti kita bisa wassalam semuanya!" kata pak Hendra.
Sreeeeettt!!!
Saru mobil ketinggalan, mobil yang lain mengejar.
"Mau keana kita?" tanya pak Hendra.
"Sesuai rencana awal aja, Pak!"
__ADS_1
"Ck, sok nggaya kamu!" sindir bapaknya lagi.
'Lah dia yang nanya, dia yang protes sama jawaban gue? gimana si?' batin Raksa.
Pak Hendra denfan lihai memainkan stir, meskipun sedikit mengaduk perut karena suka ngerem mendadak.
"Sorry! anggap aja tes keguncangan perut!" ucap pak Hendra ketika dia merasakan kalau dia sudah membuat penumpangnya mabok darat.
"Pak! biar Raksa aja---"
"Kamu jangan meremehkan bapak! gini-gini bapak dulu suka balapan mobil!" serobot pak Hendra.
"Dulunya itu kapan, Pak? 30 tahun yang lalu? jalanan masih banyak yang belum diaspal, Pak!" ucap Raksa yang pegangan dengan kenceng.
Sedangkanada satu mobil jenis sedan hitam yang mendekat dan mensejajarkan mobilnya dengan mobil yang ditumpangi Raksa.
Dor dor dor!!!"
Tiga kali timah panas dilepaskan,menuju kaca belakang.
"Awas!" Raksa menyuruh wanita yang bersamanya untuk menunduk.
"Miggiiiir!!!" seru orang yang mengejar mereka, dia menurunkan kaca mobil sambil menodongkan senjata api
"Ampun, Pak! saya hanya supir taksi. Tolong jangan sakiti saya!" kata pak Hendra tanpa mengurangi kecepatan.
Dia menaikkan kbali kaca mobil dan ambil jalur kiri. Mereka kini masuk ke pusat kota.
"Good job, Paaak!" seru Raksa yang demen banget ketika bapaknya udah berhasil membawa mereka ke luar kota.
"Tapi mereka masih ngejar kita, Pak!" lanjut Raksa saat ngeluat ke belakang.
"Mereka nggak berani ngelakuin apa-apa dengan senjata mereka. Kita di dalam kota, yang ada mereka diringkus sama pihak yang berwajib," kata pak Hendra.
"Pokoknya kita harus bergerak sejauh mungkin, Pak! Mereka nggak boleh sampai mendapatkan Kalin! nggak boleh!" ucap Raksa.
Sreeettt!
Pak Hendra memainkan pedal gasnya saay salah satu mobil komplotan itu berhasil memotong jalan mereka.
Cyiiiiiiitttt!
Pak Hendra pun ngerem mendadak.
__ADS_1