Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Urusan Orangtua


__ADS_3

"Kamu jangan bercanda, Galang!"


"Aku nggak bercanda, Athalia! aku serius! kalau aku mikirin anak, aku nggak mungkin masih melajang diusiaku yang sudah menapaki kepala 4!" ucap pak Galang.


"Aku cinta dan nggak bisa lupain kamu! Dan gilanya aku nggak pernah menyangka kalau kanu itu punya saudara kembar, dan yabg memutuskan aku itu Lia bukan kamu. Itu berarti kita nggak pernah putus,"


"Apa?"


"Iya, yang mutusin aku waktu itu kan Lia, bukan kamu! jadi kita masih pacaran untuk saat ini. Dan aku mau kita menikah dalam waktu dekat!"


"Kamu gila, ya? menikah?"


"Iya aku memang Gila. Dan itu karena kamu!" ucap pak Galang.


"Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan ibu kamu, Athalia. Aku sekarang sudah punya uang yang banyak, aku bisa mengurus kalian! Bahkan aku sudah mulai merintis perusahaanku sendiri. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi," pak Galang dengan mata yang mengembun.


"Aku mohon, kamu jangan lari lagi. Jangan bersembunyi lagi," lanjutnya.


"Tapi---"


"Aku nggak menerima penolakan, Athalia.Aku yakin kamu juga masih mencintai aku. Iya, kan?" tanya pak Galang.


Tante Athalia nggak bisa mengelak. Dia yang hampir kehilangan semangatnya, lantas diberi keajaiban untuk bisa bertahan sampai sekarang.


"Tapi aku..."


Pak Galang menggenggam kedua tangan wanita yang seumuran dengannya.


"Jangan bilang tapi. Jangan beri sekat antara realita dan harapan yang hampir bersatu. Kita cuma butuh satu alasan, Thalia. Yaitu cinta!"


"Kamu mau kan, Thalia? menikmati sisa umur yang singkat ini denganku?"


Tante Athalia pun mengangguk. Pak Galang sontak mengecupi punggung tangan wanita yang sudah dia kira lenyap dari muka bumi ini.


Sedangkan di apartemen, bunda Lia dan ayah Dikin menelepon Kalin setelah bisa berbicara dengan mama nya yang kini sudah beranjak lanjut usia. Bunda mengenalkan Kalin dan juga Raksa. Oma Nilam pun senang ernyata dia bisa melihat anak cucu nya. Apalagi tante Athalia dan juga Bunda Lia kembar identik, Oma Nilam nggak bisa menahan rasa kangen yang sangat luar biasa. Apalagi setelah mengetahui kalau Emelia sudah memiliki anak yang sudah dewasa. Oma Nilam terbersit keinginan untuk menyambangi cucunya yang berada di negara yang berbeda dengannya.


"Cantik sekali cucu ku..." ucap oma Nilam.


Kalin tersenyum dan melambaikan tangannya pada ibu kandung bunda Lia. Disitu Bunda menjelaskan semuanya, tanpa ada yang dikurangi.


"Itu siapa yang ada di sampingmu, Sayang?"


"saya Raksa, Oma! saya suami, Kalin..."


"Cucuku sudah menikah?" Oma memandang anak dan menantunya.


"Apakah Kalin?" Oma menggantungkan ucapannya.


"Nggak, Mah! Kalin nggak kenapa-napa. Kalin menikah karena dia kuliah jauh dari kami, jadi ada Raksa yang menjaganya disana..." ucap bunda Lia.


Oma pun manggut-manggut, "Kalian cepat-cepatlah membuatkan aku cicit! aku sudah tua, ingin melihat kamu menimang bayi!" ucap Oma.


Sedangkan Kalin dan Raksa hanya ketawa canggung.

__ADS_1


'Deuuh, Omanya si Kalin kayaknya setengah dukun! apa iya dia tau kalau gue dan Kalin sudah, arghhh...' batin Raksa


"Kalin sedang pendidikan, Oma! Kalin menunda untuk mempunyai anak!" sahut


"Tidak ada itu menunda punya anak! dulu Oma 20 tahun juga sudah punya anak kembar. Yang berhak menentukan ada atau tidak ada anak hanya Tuhan. kalau sudah menikah berarti Kalin harus siap kapan saja punya anak, Diki!" kata Oma yang langsung bikin ayah kicep.


Sedangkan dalam hati Raksa entah kenapa bersorak gembira, dia pikir si Oma akan mengubah malam-malam dinginnya bersama Kalin, aturan baru akan diberlakukan.


"Yang namanya anak tidak boleh ditunda. Jika diberi alhamdulillah, jika belum harus banyak berdoa dan bersabar. Bisa goyah rumah tangga anakmu nanti," kata Oma Nilam.


"Iya, Oma!"


"Kalin, Sayang! apa kamu menggunakan alat kontrasepsi?"


Gubbrakkkk!!


Pertanyaan itu membuat kalin dan Raksa saking pandang.


"Jangan bilang kamu menggunakan alat kontrasepsi?"


"Mamah? Kalin mungkin nggak ngerti apa yang mamah bilang tadi..." ucap bunda lIa.


"Jangan bilang kalau Kalin belum melakukan---"


"Ehm, Sayang?! nanti kita telpon-telpon lagi ya? bunda mau masak sulu ya? bye, sayang?!!" ucap Bunda yang kemudian mengakhiri video call itu.


Sedangkan Kalin sendiri langsung canggung saat ditanyakan hal yang seperti itu.


"Kenapa?" tanya Raksa saat Kalin menyimpan kembali hapenya.


"Nggak usah malu. Kan Oma kamu bilang nggak apa-apa,"


"Ih, siapa? lagian buat apa malu?" ucap Kalin yang menyangga punggungnya dengan bantal, dia setengah duduk.


"Berarti kamu siap, dong?"


"Siap apa?"


"Main ular tangga!"


"Ihhh, apaan sih? masih sore ngomongnya udah ngelantur!" kata Kalin yang udah tau nih kemana arah pembicaraan Raksa.


"Kok ngelantur sih? kamu mikirnya apa sih, Cil?" tanya Raksa yang menaikkan dagu Kalin dengan jarinya.


"Kamu mesti mikir yang itu ya?" lanjutnya.


"Diiih!" bibir Kalin mleyot.


"Dahdih dah dih, nih aku tuh emang mau ngajak kamu main ular tangga. Kemarin aku liat ada bocah di kompleks main ginian, terus kayaknya seru! aku jadi pengen ikutan main kemarin, tapi gengsi. Masa iya aku mau gabung main sama bocah-bocah itu?" ucap Raksa yang kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam laci nakasnya.


Dan beneran itu kertas dan dadu yang merupakan perlengkapan permainan ular tangga.


"Main yuk, Cil?" ucap Raksa yang pengen nostalgia dengan permainann yang berjam-jam dimainanin tapi nggak ajan bosen-bosen.

__ADS_1


Bu Selvy yang kebetulan mau nyuruh Raksa pergi ke supermarket pun mendadak diam di depan pintu saat mendengar anaknya mengajak Kalin main.


"Ya ampun! Raksa jam segini..." ucap bu Selvy ngusap dadanya sendiri, dan kemudian menempelkan telinganya ke daun pintu.


"Kamu duluan apa aku duluan?" tanya Raksa.


"Kamu!" sahut Kalin.


"Satu dua tiga empat lima...." ucap Raksa.


Bu Selvy masih kepo, dia belum pergi juga.


"Wah, anakku emang gercep! bakal cepet punya cucu nih kalau kayak gini!" ucapnya.


"Nih giliran kamu," ucap Raksa.


"Satu, dua. Kena ular!"


"Kamu turun dong! kan kamu kena ular tadi!" protes Raksa.


Bu Selvy masih menguping, sedangkan dari kamar sebelah ada Nova yang kebetulan ngeliat ibunya yang ada di depan pintu kamar abangnya.


"Ibuk? ibuk lagi ngapain?" tanya Nova.


Sontak bu Selvy yang kaget langsung menoleh ke arah sumber suara, "Eh, nggak! nggak lagi apa-apa! ibu cuma pusing!"


"Pusing? emang kalau pusing harus banget gitu ya nyender di pintu kamar---" Bu Selvy langsung ngebekep mulut Nova yang suaranya nggak bisa dikontrol, "Huuushhh, kalau ngomong itu loh! suaranya kayak bledeg!" ucap bu Selvy.


Nova pun melepaskan tangan yang menutup mulutnya itu.


"Lagian ibu aneh banget? ngapain juga ibu di depan kamar abang? lagi nguping ya? hayo? ketauan!" Nova ngledekin ibunya.


"Huusshhh! ini mulut pengen ibu pelintir?"


Nova menggeleng, bu Selvy pun melepaskan tangannya lagi.


"Wah aku jadi penasaran!"


"Ini urusan orangtua! udah jangan ikut-ikutan!" ucap bu Selvy.


tapi makin dilarang, Nova makin penasaran.


"Urusan orangtua apa?"


Ceklek!


Tangan Nova meraih handle pintu tapi seketika Nova digeret keluar sama ibunya, "Novaaaaaa!!!!" bu Selvy yang kemudian menjauhkan anaknya, dia mengajak Nova buat turun ke bawah.


"mata kamu bisa ternodai tau, nggak?" ucap bu Selvy yang seketika reflek menjauhkan anaknya dari sesuatu yang nggak pantas untuk dilihat.


Raksa dan Kalin yang ngeliat kegaduhan did epan kamar mereka pun kompak ngeliat ke arah pintu, kemudian saling pandang.


"Ada apaan?" tanya Raksa pada istrinya.

__ADS_1


Kalin hanya mengangkat kedua bahunya, "Nggak tau!"


"Sampe mana tadi kita?" tanya Raksa ngeliat kertas yang dia taruh di atas meja kecil lipat yang biasa buat alas kalau dia lagi kerja pakai leptop di atas kasur.


__ADS_2