
Raksa kembali ke kamarnya dengan perasaan yang dongkol.
Sedangkan kalin hanya ngelirik Nova bingung, "Siapa, Nov?"
"Abang gue!"
"Abang lo?" Kalin masih nggak ngerti.
"Iya suami lo, Kalin! nggak tau tuh dia tadi nggak jelas!"
"Nggak jelas gimana? emang mau apa dia kesini? apa ada yang dia butuhin?" tanya Kalin.
"Katanya dia mau tidur! ya gue bilang aja, ya udah tidur ya tidur aja, repot amat! yuk ah lanjut nonton. Orang kayak gitu nggak usah dipikirin. Gue tau lo tersiksa kan berbulan-bulan ngeliat muka tuh orang mulu. Nah sekarang kita cari suasana yang lain, liat oppa-oppa ganteng!" kata Nova.
Nova dan Klain pun larut dalam haru drama yang mereka tonton, kira-kira jam 11 malam mata Nova udah mulai ngantuk. Rencana yang katanya mau marathon nonton satu drama sampe selese, ternyata cuma berakhir sebagai wacana doang. Nova udah keburu molor. Berikut dengan Kalin.
Sementara di kamar lain, mata Raksa udah ngantuk tapi dia gelisah di kamarnya sendiri.
"Ya ampuuun!" Raksa gulang guling, berubah berbagai posisi.
"Ihhh!!" dia mencoba memeluk guling, namun nyatanya seempuk apapun gulingnya yang dia butuhkan hanya Kalin.
"Nggak bisa tidur gue yang ada! nggak mungkin kan di kamar gue ini ada setan?" raksa kebangun dan meraih hapenya, dia mencoba menghubungi Kalin. Tapi sesaat dia mikir lagi, kalau kalau si Nopel malah kebangun, jadi ambyar nanti ceritanya.
Raksa bangun dan mondar mandir, tempelin hape ke kening mencoba mencari wangsit.
"Nggak bisa. Masa istri gue dimonopoli si Nova disuruh nemenin dia nonton?" ucap Raksa yang sempat ngelirik Kalin yang fokus ngeliat ke arah leptop. Karena di kamar Nova belum ada tivi, terakhir dia mau gotong tivi di kamar Raksa susah bongkar bracketnya dan keburu ketauan sama bu Selvy dan otomatis, tivi bis adipindah kagak yang ada seharian kena omel. 'Bagus ya? mau nonton tivi terus iya? bagus ya?'
Karena tingkat kenyamanan kamar tergantung dari ketebalan dompet masing-masing, jadilah kamar Nova yang paling seadanya. Ya untung aja udah dipasang ac, karena tuh bocah bolak-balik masuk angin kalau pakai kipas angin. Sedangkan di kamar Raksa udah pasti nyaman, apalagi dia orangnya rapi dan nggak suka nggelatkin barang seenak jidat.
"Nyamanan juga di kamar gue, kenapa si Kalin nggak pindah kesini, sih?" gumam raksa.
Lalu dia mengirim pesan pada Kalin tapi seketika dihapusnya lagi.
Tapi akhirnya jari-jarinya menari dan memijit layar hapenya kembali.
Udah tidur belum? Aku belum bisa tidur daritadi! cepetan kesini!
Hanya centang dua tapi masih abu-abu, tandanya pesannya itu belum dibaca sama Kalin.
Nggak mau tersiksa dengan rasa nggak nyamannya itu, dengan hati yang mantap, raks akeluar kamar dan mencoba menghampiri kamar Nova yang kebetulan nggak dikunci.
"Ck, udah tidur! pantesan nggak buka Wa gue!" lirih Raksa saat sudah berada di dekat Kalin.
Raksa mematikan leptop yang masih menyala, sedangkan dua sahabat itu udah terbang ke alam mimpi.
"Soryy, Nov! gue ambil paksa istri gue!" gumamnya yang kemudian dengan perlahan menggendong Kalin. dan dengan langkah yang mengendap-endap Raksa keluar dari kamar Nova dan berpindah ke kamarnya sendiri.
Dengan perlahan Raksa menaruh Kalin dan segera mengunci kamarnya, "Akhirnya gue bisa tidur!"
__ADS_1
Pria itu mematikan lampu utama dan hanya memakai lampu tidur yang membuatnya kini nyaman memeluk bantal hidupnya.
Raksa tersenyum penuh kemenangan, dia merasa kalau malam ini akan bermimpi dengan sangat indah.
Niat hati ingin tidur, tapi nyatanya dia malah belingsatan sendiri saat memeluk Kalin.
Bersentuhan dengan kulit perempuan yang kini menjadi istri nya itu malah membangkitkan hal lain di dalam diri Raksa.
Sedangkan Kalin ngerasa kalau tempat tidurnya makin sempit.
"Minggirrrrr, Nov!!!!" Kalin mendorong Raksa sampai pria itu terguling di lantai.
"Aaaaawwwkkkk!" pekiknya.
Mendengar ada yang mengaduh Kalin pun mengerjapkan matanya, dia melihat ke sekeliling.
"Astaga, gue dimana?!!!" ucapnya yang belum liading, dia seketika melihat bajunya yang masih utuh.
"Hah?" matanya melongo saat melihat Raksa yang bangun dari bawah dengan memegang pinggangnya.
"Loh? kok Mamang?"
"Mamang mamang?! Sayang?!!!" Raksa pundung.
"Kok aku bisa disini? kok kamu muncul dari situ?" Kalin minta penjelasan.
"Ketendang kamu!"
"Aku yang mindahin!" ucap Raksa yang masuk lagi ke dalam selimut.
"Tidur! udh malem!" lanjutnya yang menyuruh Kalin buat rebahan.
Raksa seketika memeluk istrinya dengan sangat posesif.
"Hapenya singkirin, Mas!"
"Hape apa?" tanya Raksa yang mencoba merem.
"Dibelakangku! ganggu banget!" kata Kalin mengusap pinggangnya di belakang.
"Anteng aja, Lin! lagi susah jinakinnya ini! dah, merem!" kata Raksa.
"Abaikan aja. Kecuali kamu mau kejadian yang waktu di sana terulang lagi! itu mah hayok!" lanjutnya.
Mendengar ucapan suaminya, bulu kuduk Kalin pun meremang, sar ser nggak jelas. Dia tau apa yang dimaksud 'waktu itu' oleh suaminya.
"Aku mau tidur!" ucap Kalin buru-buru memejamkan matanya kuat-kuat, sedangkan Raksa memeluknya dari belakang dan sesekali mengusap keningnya.
"Kalin?" panggil Raksa berbisik.
__ADS_1
"Mau tidur,"
"Belum juga ngomong!" protesnya.
"Apaan?"
"Madep sini!" ucap Raksa.
Tapi badan Kalin yang mau diubah posisinya, kaku kaya kayu.
"Udah pewe!" ucapnya.
"Liat sini dulu. Mataku kayaknya kelilipan rambut kamu!" ucap Raksa.
Kalin pun berbalik dan ngeliat mata Raksa emang beneran merah.
"Merah beneran, aku kira cuma becandaan!"
"Coba tiupin!" minta Raksa pada istrinya.
Kalin mengarahkan bibirnya pada mata Raksa yang sengaja dibuka, "Huuufhhh!"
"Udah?" tanya Kalin setelah menyebul mata kanan Raksa.
"Posisinya, Lin!"
"Udah bener kan? ini yang merah kok!"
"Bukan itu!" ucap Raksa.
"Tapi ini!" Raksa menunduk dan meluhat badan Kalin yang mepet semepet-mepetnya.
Kalin yang menyadari posisinya dalam keadaan membahayakan pun segera bergeser, tapi punggungnya kini di tahan tangan Raksa yang bikin dia semakin mepet.
Raksa membelai pipi Kalin, dia memandang kedua mata indah itu.
"Mang?"
"Shhh! jangan berisik! di kamar ini nggak ada peredam suaranya!" ucap Raksa.
'Apa hubungannya dengan peredam suara?" batin Kalin.
Raksa menyandarkan kepala Kalin pada lengan kirinya sehingga dengan mudah dia menelusuri wajah indah yang membuatnya terhanyut dan mulai mengecupnya perlahan.
"Tenang aja, aku nggak akan minta lebih!" ucap Raksa saat merengkuh Kalin dan membuatnya terbuai dengan sentuhan dan perlakuannya yang lembut.
"Walaupun kamu milikku, tapi aku nggak akan melakukan hal yang nggak kamu setujui," ucapnya lagi.
Kalin tau apa yang sedang Raksa tahan, dia hanya mengimbangi apa yang Raksa lakukan padanya.
__ADS_1
"Sekarang waktunya kita tidur, sebelum aku hilaf dan lupa segalanya!" ucap Raksa yang kemudian mendekap Kalin dan menaikkan selimut mereka.