Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Lusa!


__ADS_3

Sedangkan di rumah lain.


Kalin sedang mengintip dari balik tirai, "Itu bunda! itu bunda!" seru gadis itu.


Kalin pun mengambil kue ulang tahun dari tangan pembantunya dan menyuruh pak Abdul menyalakan koreknya.


Lilin pun akhirnya menyala, "Nanti ditekan kalau bunda sama ayah sudah masuk ya?" ucap Kalin menyuruh pak Abdul dan istrinya menyalakan popper.


Ceklek!


"Surpriseeee!" seru Kalin.


Dduarrrdd!


kertas-kertas popper pun berhamburan.


Bunda yang dihadapkan pada kue tart pun terkejut, dia nggak menyangka kalau Kalin akan memberikan kejutan ulang tahun untuknya.


"Selamat ulangtahun, Buuun!" ucap Kalin yang disambut pelukan bunda Lia.


"Selamat ulangtahun, Bu..." ucap mbok Sinah dan juga pak Abdul bergantian.


"Selamat ulangtahun bunda tersayang," ayah Diki memberi satu kecupan di kening istrinya.


"Tiup dulu, Bun!" kata Kalin.


Bunda memejamkan matanya sesaat.


Fiuuuhhh!


Bunda meniupkan lilin yang berjejer di atas kue.


"Terima kasih ya, Sayang!" bunda yang menerima kue tart nya.


"Kita potong kue nya dulu ya?" Bunda pun mengajak semuanya ke meja makan. Bunda membagi kue rasa tiramissu itu termasuk pada pak Abdul dan mbok Sinah yang setelah itu mereka pamit pulang.


"Ada kejutan lain, Bun!" ucap Kalin lagi.


Kalin melirik ayahnya dan ayah pun melepas dasinya dan menutup mata bunda Lia.


"Eh, kok pake ditutup segala?" bunda memegang matanya yang ditutup.


"Namanya juga kejutan, Bun!" kata Kalin.


"Udah?" bisik ayah.


Kalin ngangguk, "Udah, yah!"


"Yuk, Bun! kita muter-muter komplek!" canda ayah.


"Udah jam segini masa mau muterin komplek? yang bener aja, Yaaah?!" protes bunda.


"Bunda mau aja diisengin ayah!" kata Kalin.


"Kita jalan pelan-pelan yaaaa?" ucap Kalin yang menyuruh ayah menuntun bundanya.


Kalin sengaja mematikan lampu utama.

__ADS_1


Sreeet!


Ayah melepas dasi yang menutupi mata istrinya, "Kejutan!" ucapnya.


Bunda pun terpana saat melihat kamarnya dihias lilin-lilin kecil dan taburan bunga yang cantik.


"Emmhh!" bunda memeluk suaminya.


"Ini siapa yang bikin?"


"Tuh!" ayah menunjuk Kalin dengan dagunya.


Swmbari bunda menikmati keindahan suasana kamarnya, Kalin pun memberikan bunga dan hadiah yang dia taruh di salah stau sudut kamar itu.


"Ini hadiah dari ayah dan Kalin! selamat bertambah usia, "ucap ayah.


Bunda menvium bunga yang ada di tangannya, "Makasih lagi dan lagi ya Ayah, Kalin! bunda seneng banget. Bunda kira kalian lupa hari ulangtahun bunda!"


"Oh ya, malam ini keluarga Raksa akan datang. Tapi kata Hendra dia bilang nggak usah menyiapkan makan, mereka membawa sesuatu untuk dimakan bersama katanya!" ucap ayah.


"Astagaa! bunda sampai lupa, Yah! kebetulan kalau kayak gitu, soalnya bunda beneran lupa dan nggak masak!" ucap bunda.


"Untung tadi ayah ngajak bunda buat beli jajanan basah. Nggak mungkin kita menjamu tamu dengan kacang atom kan?"


Kalin memberi waktu untuk ayah dan bundanya berdua di dalam kamar. Sedangkan dia naik ke lantai dua buat mandi dan siap-siap.


Akhirnya malam yang dinanti pun tiba...


Raksa dan pak Hendra keluar dari mobil dengab membawa tumpeng super yang dibuat bu Selvy.


"Awas hati-hati, jangan sampai roboh!" bu Selvy menunjuk tumpeng yang dibawa oleh bu Raksa dan Pak Hendra.


Ting tong!


Mbok Sinah yang pulang hanya untuk iahoma pun balik lagi ke rumah Kalin. Dia yang membukakan pintu untuk tamu majikannya.


"Permisi, saya mau ketemu sama pak Diki..." ucapnya.


"Oh iya, Bu! silakan masuk,"mbok Sinah membuka kedua pintu supaya pak hendra dan Raksa bisa masuk secara bersamaan.


"Sudah datang saja, Hen!" sambut ayah Diki yang menemui tamunya dengan sang.


"Wah tumpengnya besar sekali. Ini untuk siapa?" tanya bunda Lia.


"Selamat ulang tahun ya, Jeng? panjang umur seha selalu. Ini tumpeng bukan sembarang tumpeng. Ini tumpeng buatan kami sekeluarga," kata bu Selvy bangga, dia cipika cipiki sama calon besannya.


Raksa dan pak Hendra lantas bisa bernafas lega saat tumpeng bisa mendarat mulus di meja.


"Dik, mending kita lesehan saja di bawah. Daripada ini tumpeng nggak aman di taruh disini," kata pak Hendra.


"Kalau gitu kita lesehan di ruang tengah saja," kata Ayah Diki.


"Aku baru lihat tumpeng sebagus ini!" lanjutnya.


Mbok Sinah dibantu Raksa minggirin sofa dan juga meja.


"Angkut lagi, Pak!" Raksa nunjuk tumpeng super buatan ibunya.

__ADS_1


Pak Hendra yang udah bisa angkat beban pun lanjut angkut nasi kuning berbentuk kerucut itu. Bagaikan memindah sebuah menara, yang pak Hendra takutkan, si kerucut ini bisa doyong atau lebih parahnya lagi bisa roboh kalau nggak ekstra hati-hati.


"Alhamdulillaaaaah," ucap Raksa.


"Selamet kita, Pak!" lanjutnya lagi.


"Iya, Sa! Bapak takut banget kalau sampai nih tumpeng buyar! bisa amyong nasib kita!" pak Hendra menimpali.


"Hahahah, kamu sudah melakukan yang terbaik, Hen!" puji ayah Diki.


"Oh ya terima kasih ya? sudah bikinin saya tumpeng. Saya jadi terharu loh, Jeng!" bunda Lia mengajak tamunya untuk duduk di atas karpet.


Mbok Sinah diminta tolong buat manggil Kalin yang masih ngendon di kamarnya. Nggak lama Kalin turun dan ngeliat orang-orang udah kumpul di bawah termasuk Nova yang mukanya setengah ngantuk. Kan semaleman si Nova telponan sama Farid. Jadi jam 8 aja udah ngantuk dia.


"Sini, Sayang..." Bunda menyuruh Kalin yang cantik dengan dress panjang buat duduk  di sampingnya. Sementara Mbok Sinah riweuh nyediain minuman dingin dan kue-kue.


Cegluk!


Nova udah ngantuk-ngantukan.


Dan gerakan kepala Nova ini terpantau sama ibunya. Bu Selvy pun menyenggol lengan anaknya, "Nova, jangan ngantuk!"


"Iya, Buuuk. Hoaammpphh."


"Maaf ya, Jeng! Nova emang kebiasaan!" kata bu Selvy.


"Kalau ngantuk pindah ke kamar Kalin aja! kasian udah ngantuk juga,"


"Nggak usah! nih bocah emang kalau ngumpul keluarga suka aneh-aneh kelakuannya..."


Sementara Raksa rasanya nggak bisa beralih dari Kalin. Gadis itu sangat cantik dengan rambut yang dibikin bergelombang. Bibirnya yang berwarna pink glossy membuat gadis itu seperti apel yang segar, yang sangat menggoda.


"Sebelumnya, saya ayah dari Raksa, saya dan keluarga datang kemari untuk menanyakan perihal pernikahan kedua anak kita. Mengingat Kalin akan pergi ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan, maka dari itu kami menginginkan pernikahan itu dipercepat. Agar Raksa bisa ikut pergi dengan Kalin..." kata pak Hendra.


"Sebelumnya terima kasih atas kedatangan pak Hendra dan sekeluarga. Saya sangat senang sekali jika perjodohan ini ternyata membuahkan hasil yang baik. Ternyata kedua anak kita sudah saling menyukai, terlebih Raksa ternyata lebih gentle dari yang saya kira. Dia ingin menikah dengan Kalin karena ingin Kalin meraih mimpinya. Ternyata saya tidak salah memilih calon menantu," kata ayah Diki.


"Jadi? kapan kamu akan siap menikah dengan Kalin, Raksa? Lusa?" tanya Om Diki dengan sedikit candaan.


" Siap Lusa, Om!" ucapnya mantap.


"Serius?" ayah Diki memandang istrinya.


"Saya serius!" sahut Raksa


Bukan hanya ayah Diki yang shock, tapi pak Hendra beserta bu Selvy juga nggak kalah kaget, terlebih Kalin yang hanya bisa melongo dengan jawaban Raksa.


"Hahahaha, saya suka gaya kamu, Raksa! baiklah, kita akan urus semuanya,,,"


"Saya sudah mengurusnya, Om! besok tinggal ke KUA untuk mengikuti penataran pra nikah!" kata Raksa.


"Oh? begitu? hahahha, sat set juga anakmu, Hen! sepertinya dia sangat menginginkan anakku melebihi apapun!" kata ayah Diki.


"Anak sekarang lebih berani ambil resiko, Dik! tapi saya yakin, Raksa akan menjaga Kalin dengan baik. Kamu bisa mengandalkannya!" kata pak Hendra.


Sedangkan Kalin nggak percaya kalau dia akan menikah dua hari lagi.


'Ampun si Om! ngebet banget mau nikah!' batin Kalin.

__ADS_1


Sedangkan dalam hatinya Raksa juga bergumam, 'Gue harus secepatnya nikahin lo karen gue nggak mau kehilangan lo, Kalin!' 


__ADS_2