Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Tamparan Dari ayah


__ADS_3

"Reno?" satu nama yang muncul dari mulut kalin. Dia masih pakai baju sekolahnya, yang berarti dia ngelayab dari sepulang sekolah.


Reno yang ngeliat dua orang yang begitu familiar dengannya pun membelalakkan matanya, 'Shiit!! kenapa Kalin sampai ke rumah gue?!'


Raksa yang jaga-jaga  si target bakalan kabur pun segera bergerak dengan cepat, mumpung yang lagi diburu orangnya lagi melongo kaget ngeliat kehadiran mantan pacar di rumahnya.


'Gue, gue harus pergi! sebelum dia bikin gaduh!' batin Reno.


Klek!


Klek!


Raksa mencabut kunci motor milik Reno. Pemuda yang berniat kabur itu pun kaget saat ngeliat kunci motornya berpindah tangan.


"Balikin kunci gue!"


satu ilmu baru yang diajarkan kalin beberapa saat lalu ternyata berguna saat ini, "kalin mau ngomong sama lo," raksa menyembunyikan kunci motor milik Reno ke dalam sakunya, kemudian mundur beberapa langkah.


Sedangkan Reno yang kalah 'set' pun segera turun dari motornya dan berusaha kabur. tapi segera tangan Raksa mencengkram kerah belakang seragam sekolah milik reno, "Mau kemana lo? yang gentle dong jadi cowok!"


Reno segera menepis tangan Raksa, "Dasar Om-Om doyan brondong! lepasin baju gue!" Tangan reno mencoba melepaskan tangan raksa, namun sayang cengkraman itu kuat banget.


"Heh, bocah tengik! gue belum Om-Om dan gue nggak ada hubungan apa-apa sama Kalin, jadi jaga mulut lo yang kotor itu!" raksa menjaga intonasinya.


Kalin yang ngeliat ada keributan antara Raksa dan Reno pun segera menengahi, "Please jangan ribut, disini. malu kalau diliatin orang..."


"Gue disini bukan mau bikin ribut, gue disini bantuin lo, Kalin!" Raksa ngeliat tajam ke arah cewek yang kini wajahnya cemas, mungkin karena Raksa yang terkesan menarik paksa reno.


"Bisa aja gue lepasin cengkraman tangan gue, dan saat itu terjadi lo jangan nyesel kalau cecunguk ini kabur dan lo nggak bisa dapetin duit lo balik," lanjut Raksa.


Dan apa yang dikatakan Raksa emang bener, Kalin jadi inget tujuan utamanya mencari Reno, setelah terpaku beberapa saat.


"Lepasin gue!" Reno berusaha melepaskan, tenggorokannya sakit saat dia berusaha buat melepaskan diri.


"Gue nggak akan lepasin lo, sebelum lo kembaliin semua duit yang udah lo pinjem dari kalin, ngerti?!" raksa menunjukkan taringnya, dia menarik kerah itu, sampai otot tangannya tercetak jelas.


"Uhukk! minjem apa? gue nggak minjem apa-apa. Pergi kalian dari rumah gue!"


dan Lo Kalin, bisa-bisanya lo dateng kesini dengan membawa karangan cerita yang ngerusak image gue?!!" Reno dengan tatapan nggak terima.


Kalin ketawa mengejek, "Apa? ngerusak image? apa gue nggak salah denger? hem?" Kalin geram dengan tuduhan Reno padanya.


"Lo nggak terima gue putusin? lo dendam sama gue? iya? hahah, gue nggak sangka hati lo sebusuk itu Kalin," tuduh Reno nggak berperasaan.

__ADS_1


"Kebalik! harusnya gue, Ren yang ngomong kayak gitu, bukan lo!" meskipun Kalin sangat marah dengan segala yang terlontar dari mulut reno, tapi gadis itu berusaha terus menekan suaranya, dia nggak mau kalau orangtua Reno denger apa aja yang mereka ributkan saat ini.


"Kalau nggak dendam, ngapain lo ke rumah gue? mau bikin masalah lo di rumah gue?"


"Reno? lo sadar nggak sih dengan apa yang lo katakan barusan? gue kesini, cuma mau nagih duit yang pernah lo pinjem sama gue. Buat bayar jaket, jenguk temen, servis motor dan alasan lainnya yang gue nggak bisa sebutin satu persatu," Kalin dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kapan gue utang sama lo? kapan? hem? nggak usah ngarang cerita!"


Raksa melonggarkan cengkraman tangannya saat dirasa nggak ada perlawanan dari Reno. Langit udah mau gelap, senja membuat rona jingga di awan menuju malam.


"Harusnya gue nggak percaya gitu aja dengan alasan yang lo buat." Kalin ngerasa bodoh karena udah punya rasa nggak tega sama Reno.


Kalin buka tas nya dan nyerahin beberapa lembar kertas pada cowok yang nggak tau malu itu, "Gue nggak ngarang cerita, ini buktinya!"


"Baca dan hitung sendiri!"


Raksa pun ngelepasin tangannya dari kerah seragam baju Reno.


'Niat nagih utang banget nih bocil, good job!' Raksa memuji persiapan Kalin.


"Lo udah baca sendiri kan? itu bukti screenshoot-an chat an lo, dan disitu jelas lo minjem duit dan bukan minta.  Belum lagi yang lewat telfon, yang katanya buat servis motor padahal motor lo nggak kenapa-napa!" pipi Kalin udah banjir air mata.


"Sekarang tepatin janji lo buat balikin duit gue! dan gue nggak akan ganggu hidup lo lagi!"


Dan...


Bughhh!


Bughhh!


Raksa menarik baju Reno dan memukul Reno dengan tangannya, terakhir dia cengkram seragam Reno, "Jaga mulut lo breng-sek!"


"Akkkh!" Kalin pun refleks menjerit saat Raksa menghajar mantan pacarnya.


"Gue nggak nyangka selera lo om-om emosian kayak gini, Lin!" Reno menyeringai.


Bughhhh!


"Apa lo bilang? om-om emosian? dasar bocah matre?!!!" Raksa pengen banget jejelin mulut Reno pakai seblak mercon yang nggak bisa dia habiskan tadi.


"Mas, udah mas jangan dipukul lagi! Mas raksa udah Mas," teriak Kalin saat Raksa nonjok muka Reno. Dia nangis saat ngeliat ada darah yang keluar dari sudut bibir mantan pacarnya.


"APA-APAAN KALIAN?!!!" teriak pak Hakim dari ambang pintu.

__ADS_1


Raksa pun melepaskan cengkramannya dengan kasar, membuat Reno terhuyung ke belakang.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA ANAK SAYA?" teriak pak Hakim, membuat tetangga kanan dan kirinya keluar, ngeliat keributan apa yang terjadi.


"Kami datang kemari dengan niat yang baik, mau menagih hutang anak bapak pada Kalin, tapi anak bapak ini yang memutar balikkan fakta, dia malah menuduh dan melontarkan kata kasar pada Kalin," Raksa kemudian mungutin kertas-kertas yang tergeletak di atas tanah.


"Ini buktinya, bapak bisa baca sendiri!"


Sedangkan para tetangga pun berbisik.


"Astaga, aku nggak nyangka loh kalau Reno tukang pengeret?!!" bisikan ibu-ibu yang bikin kuping pak Hakim panas.


"Pantesan gayanya selangit, ternyata hasil dari ngutang ke temennya?!! ck ck ck, anak jaman sekarang susah diprediksi," sahut ibu yang lain.


"Kami nggak mengada-ada, bapak bisa lihat sendiri bukti transferan dan chat WA anytara kalin dan Reno...!" Raksa kesempatan buat ngaduin kelakuan Reno pada orangtuanya, biar nyaho sekalian tuh bocah digamparin bapaknya.


Pak Hakim ngangkat tangannya, Reno pun reflek menyembunyikan wajahnya dengan tangan.


Dan..


PLAKK!!


PLAKK!!


PLAKK!!


Tamparan bolak balik dilayangkan Pak hakim pada Raksa, "Pergi kalian dari rumah saya! dan jangan pernah datang lagi dengan membawa berita bohong seperti ini lagi!"


Reno yang ngeliat kalau bukan dirinya yang ditampar melainkan Raksa pun kaget. Suara motor datang dari arah jalan menuju pelataran rumah itu.


"Ada apa ini, Paak?" Arkan turun dari motornya dengan tergesa-gesa.


"Suruh mereka pulang, dan bilang pada mereka kalau kita bukan orang kaya, tapi kita masih punya harga diri. Kita bukan penipu ataupun pengeret!" kata pak Hakim.


"Dan kalian? bubar kalian semua! ini bukan tontonan!"  bentak pak hakim pada para tetangga yang bsisik-bisik nggak jelas.


Pak Hakim pun masuk ke dalam rumah, diikuti Reno dengan wajah teraniaya, "Hati-hati dengan penipuan berkedok peminjaman seperti ini! cukup saya yang mengalami ini," kata Reno yang nuduh Raksa dan Kalin penipu.


"Astagaa, gue nggak nyangka lo bisa ngomong sejahat itu, Reno..." Kalin menggeleng nggak percaya.


Sedangkan Raksa narik tangan Kalin, "KIta pergi dari sini. Nggak ada gunanya ngomong sama bocah pembohong macam dia!"


"Urusan lo sama gue belum selesai, ngerti?!!" Raksa natap reno tajam, sebelum akhirnya mengajak Kalin buat naik ke atas motornya dan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2